
Martin memijat pelipisnya kuat, ia masih belum percaya dengan apa yang di lihatnya pagi tadi. Bahkan urusan kantor, ia dan Ray yang menghandle, mengadakan rapat dadakan sekaligus memperkenalkan Ray sebagai direktur keuangan yang baru.
Martin mendudukkan dirinya di kursi kebesaran sembari menyandarkan punggungnya, gadis mana yang Raka bawa ke dalam rumah Ray? kenapa kelakuan anaknya seperti itu sekarang? Benar-benar tidak bermoral.
Ray bangkit berdiri dari sofa berwarna hitam yang ia duduki, berjalan menghampiri sang ayah yang terlihat pusing.
"Gak usah terlalu di pikirin yah, bang Raka udah dewasa."
Martin menoleh, menatap Ray yang berdiri di sampingnya "Ayah cuma gak habis fikir sama caranya, dia tidur bersama wanita sebelum menikah."
Ray menggelengkan kepala dengan tersenyum samar, kenapa ayahnya mengambil kesimpulan dari satu sisi tanpa mendengar penjelasan dari Raka terlebih dahulu. Ia yakin jika abangnya bukan tipe pria seperti itu. Dan lagi, kalau soal tidur bersama wanita sebelum menikah, ia juga pernah bersama Kanaya. Ray jadi malu sendiri, untung saat itu ayahnya tidak memergoki dirinya.
"Ya udah, nikahin aja yah, kasian juga bang Raka kelamaan jomblo." Ray terkekeh geli mengatakan itu. Bukan tidak tau, Ray diam diam memperhatikan hubungan kakanya dengan Thita.
"Ayah tidak masalah, asal dia wanita baik baik."
"Ray yakin, wanita pilihan Abang pasti wanita baik baik."
Martin mengangguk paham dengan penjelasan Ray, meskipun ia percaya jika anak sulungnya tidak mungkin melakukan hal itu, tapi tetap saja yang namanya manusia pasti bisa hilaf. Bahkan orang yang memiliki iman yang kuat sekalipun bisa terjerumus.
***
Setelah kepergian Ray, diam diam Kanaya pergi ke sebuah rumah sakit besar yang tidak jauh dari rumah sang ayah mertua.
Di antar oleh supir pribadi keluarga ayah Martin, Kanaya berangkat seorang diri tanpa Ray menemaninya, ia ingin memeriksakan diri ke dokter kandungan untuk mengetahui hasilnya. Apakah ia benar benar hamil atau tidak, Meskipun hasil test pack menunjukkan bukti yang akurat.
Kanaya sengaja berangkat sendiri tanpa sepengetahuan Ray, karena ia ingin memberikan kejutan pada suami tercintanya itu. Ah, rasanya Kanaya jadi rindu kalau ingat suaminya yang mesum itu.
Meskipun Ray cuek dan terkesan kasar di luar, tapi Ray adalah suami yang baik, lembut dan romantis saat bersamanya. Sungguh Kanaya merasa beruntung mendapatkan suami seperti Ray.
Sepanjang perjalanan bibir tipis itu tak hentinya tersenyum, mungkin ia seperti orang yang baru saja gila. Masa bodoh, saat ini hatinya benar benar sedang bahagia.
Setibanya di rumah sakit, Kanaya langsung turun dari mobil, dan meminta untuk pak supir itu menunggunya di mobil saja, ia bisa melakukan-nya sendiri.
Kanaya berdiri di depan meja resepsionis, mendaftarkan diri di poli kandungan. Selesai mendaftar Kanaya di arahkan untuk menunggu di depan ruang praktek dokter spesialis kandungan.
Selama menunggu namanya di panggil, seorang perawat memeriksa tekanan darah dan lain lain serta menanyakan keluhan yang Kanaya rasakan.
Beberapa menit berlalu, Kanaya duduk dengan gelisah di kursi antrian, rasa cemas dan takut menggelayuti Kanaya. Gadis itu takut jika ternyata hasil alat tes kehamilan ternyata tidak sama_yang berarti ia tidak hamil.
Ia sengaja tidak menyebutkan nama keluarga suaminya, hingga membuatnya mengantri seperti ibu ibu yang lain. Sebenarnya bisa saja ia mengatakan jika ia adalah menantu keluarga Febriano, dan langsung mendapat jalur yang mudah tanpa harus mengantri.
Ya, meskipun dari mereka mungkin tidak akan percaya, bahkan walaupun wajahnya sempat terpampang di stasiun televisi saat acara resepsi pernikahannya dengan Rayhan di gelar di pulau Dewata Bali. Siapa sih yang tidak kenal klan Febriano, bahkan nama perusahaan itu selalu muncul di berita dan media bisnis baik online maupun cetak.
"Ibu Kanaya."
Suara lembut seorang wanita di iringi sosok cantik yang keluar dari balik pintu membuyarkan lamunannya.
Kanaya menoleh, kemudian bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu yang sedikit terbuka itu.
"Ibu Kanaya?"
"Iya"
"Mari silahkan masuk."
Kanaya berjalan memasuki ruangan dengan dominan warna putih itu, setelah seorang perawat mempersilahkan dirinya untuk masuk. Jantung Kanaya berdegup tidak beraturan saat duduk di kursi berhadapan dengan dokter wanita setengah baya yang tersenyum ramah padanya.
Dokter kandungan itu membaca selembaran yang ada di depannya, berisi data Kanaya serta keluhan yang di rasakan oleh Kanaya.
"Kapan ibu terakhir menstruasi?" Tanya dokter itu dengan ramah.
"Sekitar pertengahan bulan kemarin dok" jawab Kanaya, ia lupa persis tanggalnya.
"Sudah cek di rumah belum?"
"Sudah, dan hasilnya positif." Ujar Kanaya antusias.
Dokter setengah baya yang masih terlihat cantik itu mengangguk anggukan kepala mendengar penjelasan Kanaya, seraya melihat kalender di tangannya.
Lalu meminta Kanaya untuk naik ke atas ranjang pasien, sementara sang dokter memeriksa perut Kanaya dengan sedikit menekan di bagian bawah pusar.
Karena usia kandungan Kanaya baru memasuki Minggu keempat, dokter kandungan itu menyarankan Kanaya untuk berhati-hati dalam beraktivitas, dan menjaga pola makan. Karena kehamilan pertama dan di minggu-minggu pertama sangatlah rentan.
Kanaya mendengarkan dengan hikmat, apa saja yang dokter itu katakan, mulai dari makanan yang boleh di makan dan tidak boleh di konsumsi terlalu banyak atau sering. Juga makanan yang baik untuk pertumbuhan janin di dalam rahimnya, serta meminum susu hamil.
Dokter ramah itu memberikan selembar kertas resep, bertuliskan beberapa jenis vitamin yang harus Kanaya konsumsi selama hamil. Serta rutin memeriksakan kandungannya setiap satu bulan sekali.
Kanaya mengangguk paham, kemudian keluar dari ruangan itu setelah bersalaman dengan dokter kandungan itu. Kali ini senyum Kanaya lebih merekah daripada saat di dalam mobil.
Setelah menyerahkan selembar resep itu, Kanaya mendapatkan vitamin yang lumayan banyak. Meskipun ia tidak terlalu menyukai obat, tapi demi anak yang ada di dalam perutnya, Kanaya rela meminumnya.
Kanaya bergegas menaiki mobil yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kanaya"
Kanaya menghentikan langkahnya begitu mendengar namanya di panggil, menoleh ke samping, seorang pria bule sedang berjalan ke arahnya.
"Kamu sedang apa disini?" Tanya Aldrich yang kini sudah berdiri tepat di depan Kanaya dengan senyum ramahnya.
"Aku abis belanja bulanan." Jawab Kanaya asal, pria bule di depannya ini berlaku tidak sopan tempo hari, ia harus berhati-hati.
Al tertawa mendengar jawaban Kanaya, gadis itu memang beda. Membuatnya semakin tertarik untuk merebut gadis itu dari tangan adik Raka.
"Mau aku antar pulang?"
"Terimakasih, tapi aku udah di jemput sama__suami aku." Celetuknya asal, biar sajalah mang Dadang ia bilang suaminya. Kanaya geli sendiri menyebutnya, jika saja Ray tahu, pasti suaminya itu merasa jatuh harga dirinya di bandingkan dengan supir sang ayah.
Al melirik Audi hitam yang terparkir tidak jauh darinya, dan ia tau mobil itu memang milik keluarga Febriano. Terlihat dari plat nomornya.
"Its ok, lain kali aku pastikan kamu pulang sama aku." Ujar Al dengan percaya dirinya di tambah nada suara yang terdengar horor.
Kanaya segera berlalu dari hadapan pria gila itu, bergegas menuju mobil dan bersembunyi di dalamnya. Meminta supir itu untuk segera pergi dari sana dengan cepat.
***
Setibanya di rumah, Kanaya justru di sambut oleh dua makhluk absurd yang menunggu di teras belakang.
Edo dan Ayrin sudah menunggunya beberapa menit lalu, sepasang kekasih itu berniat memberikan selembar undangan pernikahan yang akan di gelar Minggu depan.
Kanaya menyembunyikan kabar gembira itu dari dua makhluk rese yang tidak bisa menjaga mulutnya. Kanaya tidak ingin rencana kejutan untuk Ray menjadi berantakan. Meletakan tas serta kotak kejutan untuk Ray di dalam kamarnya di lantai atas.
Mereka bertiga berbincang-bincang tidak jelas sembari menunggu Ray dan ayah mertuanya pulang dari kantor. Hingga tidak terasa waktu bergulir berganti malam, dan yang di tunggu akhirnya datang.
Ray pulang dengan wajah lelahnya, dan langsung menghambur memeluk tubuh Kanaya tanpa malu malu. Lalu mengecup kening Kanaya sekilas.
🍁🍁🍁
To be continued...