
Pagi ini ayah Martin sedikit heboh. Ya, bagaimana tidak heboh, jika Raka tiba tiba menghilang dari rumah tanpa pamit, dan juga tidak memberikan kabar.
Martin mengetuk pintu kamar Ray, mungkin saja anak bungsunya itu tau dimana keberadaan Raka.
"Ray, buka pintunya. Ayah mau bicara sebentar."
Panggil Martin setelah beberapa kali ketukan di pintu tidak mendapat respon, jika bukan karena ada urusan pekerjaan, mungkin ia tidak mencari anak sulungnya itu pagi pagi.
"Iya yah, sebentar." Sahut Ray dari dalam kamar, tidak lama kemudian pintu itu terbuka lebar.
Memperlihatkan sosok Ray yang sudah rapih dengan pakaiannya. Jas dengan motif garis garis senada dengan warna celananya. Ya, hari ini adalah awal Ray bergabung di perusahaan sang Ayah, yang selama ini di timpakan pada Raka.
"Kamu yakin hari ini mau mulai bergabung di perusahaan?"
Ray mengangguk mantap, lalu menutup pintu kamarnya rapat "aku udah siap yah, lagian udah waktunya juga aku gabung di perusahaan."
Martin mengangguk-anggukan kepala, ia tidak menyangka jika sekarang Ray sudah bisa mengambil sikap dan bertanggung jawab. Tidak seperti Ray yang dulu, yang selalu membangkang dan menentang semua kata katanya. Ah, lupakan! Itu semua sudah berlalu. Bahkan sekarang Martin mulai sedikit melupakan kejadian beberapa tahun lalu dan_yah, salah satunya melupakan mantan istrinya_Marissa.
"Ayah bangga sama kamu." Martin menepuk bahu Ray, lalu kemudian tersadar dengan niat awalnya "oh iya, kamu liat Abang kamu dimana? Ayah cari dia di kamar gak ada. Gak bisa di hubungi juga."
"Ray gak tau yah, emang Abang kemana?"
"Kalo ayah tau, ayah gak bakal nanya sama kamu Ray."
Ray tertawa pelan, benar juga kata ayah. Kalau sudah tau, mana mungkin bertanya padanya.
Martin terdiam sembari mengingat ingat saat menghilang-nya Raka tiba tiba, dan ternyata di sekap oleh Bastian. Tapi, pria brengsek itu kan sudah meninggal, jadi tidak mungkin Raka di sekap lagi. Lalu kemana anak itu?
"Hemm, mungkin udah berangkat ke kantor yah." Kata Ray menebak.
"Belum, tadi ayah udah telfon ke kantor. Dan kakak kamu gak ada disana."
Ketika kedua pria nyaris mirip itu sedang bergelut dengan fikirannya masing masing, menerka-nerka kemana perginya Raka. Tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiri anak dan ayah yang berdiri di depan kamar, menyampaikan pesan dari Raka yang baru saja menghubungi beberapa saat lalu, mengatakan jika Raka berada di rumah Ray yang dulu.
Raka tidak mengatakan hal lain, atau sebab kenapa pria tinggi itu berada di rumah Ray. Raka hanya mengatakan jika hari ini ia tidak masuk kantor karena ada urusan lain.
Martin mengerutkan kening dalam, untuk apa Raka disana? Dan urusan apa yang mambuat anak sulungnya itu mangkir dari kantor?
Bukan hanya Martin, bahkan Ray-pun tak kalah terkejutnya. Bagaimana bisa, sang Kaka nyasar ke tempat tinggalnya yang dulu?
Beribu pertanyaan menggelayuti kedua pria itu. Alhasil, karena Martin membutuhkan Raka dan di tambah rasa penasaran, jadilah mereka berdua pergi ke kediaman Ray yang dulu.
Lalu, terdengar suara pintu kamar terbuka. Seorang wanita cantik dengan senyum merekahnya sedang berdiri di ambang pintu.
Ray mengurungkan niatnya untuk melangkahkan kaki, dan berdiri di tempat.
"Kamu udah selesai sayang?"
Ray menoleh ke arah sang ayah meminta persetujuan, dan hanya mendapat anggukan singkat, kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.
Ray berdehem pelan sembari menyentuh tangan sang istri. "Bukan ke kantor sih, tapi...mau ke rumah aku yang dulu."
"Ngapain?" Tanya Kanaya cepat.
"Hem, ada urusan sebentar." Ray mengusap rambut Kanaya lalu mengecup keningnya pelan.
"Urusan apa Ray?"
"Nanti aku ceritain, Aku pergi dulu ya." Ray melangkahkan kakinya setelah mencuri cium di bibir tipis sang istri, menuruni anak tangga, menyusul ayahnya yang sudah menunggunya di bawah.
"hati hati Ray."
Setelah mengucapkan itu, Kanaya kembali masuk ke dalam kamar, senyum merekah di bibirnya tidak luntur sejak ia keluar dari dalam kamar mandi. Kanaya duduk di tepi ranjang seraya mengusap perutnya yang masih rata.
Well, bagaimana ia bisa berhenti tersenyum? Ok, katakan saja Kanaya sedang bahagia. Ya, bagaimana tidak bahagia? jika hasil dari ke empat alat tes kehamilan itu menunjukkan dua garis merah yang berarti_positif. Ah, Kanaya senang sekali rasanya dan sudah tidak sabar untuk memberitahukan pada suaminya itu. Mungkin nanti malam? Yah, nanti malam.
***
Di sepanjang perjalanan Martin terus bergelut dengan fikiranya, alasan kuat apa yang membuat Raka sampai mangkir dari kantor dan pergi diam diam?
Tidak lama mobil hitam yang di naiki Martin dan Ray sudah memasuki area komplek perumahan elit tempat tinggal Ray dulu , dari kejauhan Aston Martin berwarna putih itu terlihat di pelataran rumah Ray. Ternyata memang benar jika Raka bermalam disana.
Ray langsung memarkirkan mobilnya tepat di belakang mobil Raka, lalu mereka berdua segera turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama.
Karena Ray juga memegang kunci rumah itu, jadi ia tak perlu repot repot untuk mengetuk pintu atau menekan bel. Meskipun Ray sudah menyewa asisten rumah tangga untuk menjaga rumahnya setelah Ray pindah ke rumah sang ayah. Rasanya ia tidak sabaran kalau harus menunggu kakanya atau asisten untuk membukakan pintu.
Jadi, dengan santai Ray dan Martin membuka pintu lalu berjalan perlahan memasuki ruang tengah. Namun, suasana rumah itu terasa sepi, lalu kemana Raka dan asistennya?
Ray dan Martin menoleh bersamaan begitu mendengar suara keributan dari lantai atas. Dan....well, reaksi yang di berikan kedua pria yang nyaris mirip itu sungguh di luar dugaan.
Ayah dan anak itu saling pandang, sementara Davina terdiam mematung di tempat. Bahkan dalam keadaan di peluk oleh Raka dari belakang.
"Ayah... Ray." Raka segera melepaskan tangannya dari tubuh Davina begitu menyadari kehadiran ayah dan adiknya.
Martin menggelengkan kepalanya melihat penampilan gadis yang bersama Raka, yang hanya memakai kemeja kebesaran tanpa bawahan, seperti habis_ bercinta.
"Kamu harus nikahi gadis itu secepatnya."
"Menikah?" Seru Davina dan Raka bersamaan.
🍁🍁🍁
Maaf lama, aku bingung atur alur 😂