Only you

Only you
ACARA SYUKURAN



Pagi itu menjadi sedikit ramai. Orang orang berlalu lalang mempersiapkan acara yang akan di mulai sebentar lagi. Acara syukuran atas usia kandungan Kanaya yang menginjak bulan ke tujuh atau singkatnya_tujuh bulanan.


Acara itu di adakan di rumah dengan sederhana. Sederhana ala ayah Martin yang tetap saja menggunakan jasa EO untuk menyempurnakan acaranya.


Orang orang sudah berkumpul, mulai dari para tetangga sekitar komplek dan juga anak anak yatim piatu. Ayah Martin juga turut mengundang para santri dari pondok pesantren di kota asalnya, karena pemilik pesantren tersebut adalah guru ayah Martin saat ia masih menjadi seorang santri.


Petugas catering, dan para asisten di rumah turut sibuk mempersiapkan hidangan untuk para tamu yang datang.


Ayah Martin, dan Raka sudah duduk manis di deretan para santri dan para guru besar dari pondok pesantren. Ada juga para pemain Hadroh dengan alat musik di depan mereka, sembari mendiskusikan sholawat apa dulu yang akan di bawakan.


"Pelan pelan sayang"


Ray berjalan pelan sembari menuntun Kanaya, berjalan beriringan menuju ruangan dimana acara itu di adakan.


"Iya, kan ada kamu yang jagain aku."


Perhatian orang orang di ruangan itu teralihkan, begitu melihat sosok cantik dengan perut besar berjalan memasuki ruangan sambil tersenyum.


Ini yang Ray tidak suka dengan keramaian, mereka semua memandang ke arah istrinya dengan jenis pandangan yang berbeda. Ada yang memandang kagum, iri, ada juga yang memuja. Ray sangat benci istrinya menjadi pusat perhatian mata lelaki, yang menatap memuja. Sedangkan mereka semua berilmu dan berpengetahuan luas tentang agama serta terkesan adem. Tidak seperti dirinya yang kasar dan...ya kalian tau lah.


Kali ini, mau tidak mau Ray harus mengalah. Karena ini untuk mendoakan si kembar, hasil permainannya dengan Kanaya. Ray terkekeh sendiri dengan ucapannya.


Ray dan Kanaya di persilahkan duduk di tempat yang di sediakan. Ray terus memegang tangan istrinya, serta menatap sinis pada laki laki yang menatap istrinya.


Seseorang berdiri, seorang pria dengan memegang selembar kertas dan mic tangannya. Pria dengan baju Koko berwarna putih itu mulai berbicara dengan mengucap salam dan basmallah.


"Bismillahirrohmannirrohim." Pria itu berdehem sambil tersenyum.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Para bapak, ibu dan hadirin sekalian yang kami hormati. Serta para santri dan ulama besar yang telah hadir disini kami ucapkan terimakasih.


Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah, kiranya sangat patut kita bersyukur pada Allah yang Maha Pemurah dengan rahmat dan karunia-Nya kita semua yang ada di dalam ruangan ini masih bisa berkumpul di hari ini. Dan semoga kita semua senantiasa sehat jasmani dan rohani khususnya dalam rangka memenuhi undangan Sohibul haja, selamatan tasyakuran atas kehamilan anak pertama yang memasuki usia tujuh bulan. Putra dan putri dari Bapak Rayhan Febriano.


Selanjutnya marilah kita panjatkan doa dan sholawat kepada junjungan nabi besar kita Muhammad SAW."


Ucapan pembuka di tutup dengan membacakan doa dan sholawat yang di pimpin oleh Al habib dan para santri yang menabuh alat Hadroh di tangan mereka.


Kanaya terharu, tidak pernah ia bermimpi akan mendapat kejutan seperti ini. Wanita cantik itu meneteskan bulir bening tanpa di minta, sembari tangannya mengusap lembut perut besarnya.


"Hei, kok kamu nangis? Sakit lagi?" Tanya Ray berbisik begitu menyadari istrinya menangis.


Kanaya menggelengkan kepalanya, menandakan bahwa ia baik baik saja. Lalu Ray mengecup pelan punggung tangan Kanaya.


"Aku cuma terharu Ray."


Acara berlanjut dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, mulai dari surah Luqman, Yusuf dan Maryam. Karena yang di kandung Kanaya itu anak kembar. Serta doa khusus untuk si jabang bayi agar sehat dan menjadi anak yang Sholeh dan Soleha.


Kemudian, acara di lanjutkan dengan sambutan dari ayah Martin, karena Ray tidak mau berbasa-basi. Lalu ceramah dari guru besar pondok pesantren, dan setelah itu istirahat sejenak untuk menikmati hidangan yang ada sambil berbincang.


Ray sudah merasa bosan berada di tengah keramaian ini, berbeda dengan Kanaya yang nampak menikmati acara ini dengan senyum yang tak luput dari bibirnya.


Satu pria dengan penampilan nyentrik turut hadir dengan mengikuti pakaian yang seharusnya. Aldrich turut hadir, meskipun ia tidak paham dengan semua ini. Al hanya butuh melihat Kanaya, itu saja.


Edo dan Ayrin juga hadir. Sepasang manusia absurd itu yang baru beberapa hari yang lalu sah menjadi suami istri sampai menunda haneymoon-nya demi menghadiri acara ini.


Kanaya merasa sudah lengkap hidupnya, tidak ada lagi yang ia inginkan. Semuanya sudah cukup. Ayah yang baik, Kaka yang sayang, suami yang pengertian dan sahabat yang lucu.


Saat acara hampir selesai, dengan pembacaan doa penutup serta sholawat yang diiringi pemain Hadroh. Tiba-tiba perut Kanaya merasakan sakit, amat sakit. Namun, Kanaya tidak ingin merusak suasana menjadi panik jika ia mengeluh. Kanaya mengatur nafasnya, menghembuskan perlahan untuk mengurangi rasa sakit itu.


Ray menyadari ekspresi Kanaya yang sedang menahan nyeri. "Perut kamu sakit lagi?"


Ray permisi lebih dulu bersama Kanaya, setelah pembacaan doa penutup itu selesai di bacakan.


"Kaki kamu masih sanggup jalan?" Ray bertanya dengan raut panik, ia merasa iba dengan keadaan kaki Kanaya yang membengkak.


"Aku masih sanggup jalan kok Ray, tapi aku mau duduk dulu di sofa itu sebentar."


Ray menuruti permintaan Kanaya, membawa istrinya duduk di sofa berwarna putih itu. Ray memberikan segelas air mineral ke arah Kanaya, dan Kanaya menerima gelas itu lalu meminumnya hingga tandas.


"Mau istirahat di kamar?" Tawar Ray, sembari menggenggam tangan Kanaya.


Kanaya menggeleng, ia bosan selalu berada di kamar. Rasanya seperti tawanan saja.


"Aku masih mau disini Ray, sebentar."


Ray menghela nafas panjang, ia harus mengalah lagi kali ini dan mungkin untuk seterusnya. Bukan karena lemah, tapi karena ia terlalu menyayangi Kanaya.


"Sebentar aja ya."


Kanaya mengangguk dengan senyum mengembang, lalu Kanaya merubah posisinya sedikit bersandar. Pinggang dan punggungnya terasa sakit.


Kanaya meminta pada Ray untuk di ambilkan kue dan juga buah, ia merasa sedikit lapar.


Ray memerintahkan pelayan untuk menyediakan apa yang Kanaya minta, dalam hitungan menit pesanan yang Kanaya minta sudah berada di hadapannya.


Ray menggelengkan kepala saat Kanaya menolak untuk di suapi, ia hanya melihat istrinya yang lahap memakan semua yang ada di depannya.


"Pelan pelan sayang."


Kanaya tersenyum malu dengan mulut terisi makanan. Saat tengah asik memandangi istrinya tiba-tiba ponselnya Ray berdering, Ray mengerutkan dahinya dalam.


Sebuah nomor tidak di kenal menghubungi Ray, namun Ray mengabaikan panggilan itu.


"Kok gak di angkat?" Kanaya bertanya seraya menoleh ke arah Ray.


"Aku gak kenal."


Ponselnya itu kembali berdering, dan masih seperti awal_Ray mengabaikan. Namun, si pemilik nomor sepertinya tidak menyerah begitu saja. Hingga akhirnya Ray mengangkat panggilan itu.


Ray terlihat geram, raut wajahnya mengatakan jika Ray sedang marah_bahkan lebih dari itu.


Ray terpancing emosi dengan si penelepon, pria di sebrang sana mengatakan tentang Kanaya dan itu membuat Ray kesal, ah ralat! Sangat kesal.


Akhirnya Ray bangkit berdiri, ia berjalan mengikuti instruksi dari si penelpon tanpa berpamitan pada Kanaya karena terlalu emosi. Tidak terlalu jauh, ia masih bisa menjangkau Kanaya dari ekor matanya.


Namun detik kemudian saat ia menoleh ke arah kursi tempat Kanaya duduk dengan memakan buah, wanita hamil itu sudah tidak ada disana.


Ray berlari dengan cepat, bertanya pada pelayan yang ia temui disana. Ray juga naik ke lantai atas setelah melihat ke ruangan acara ternyata Kanaya juga tidak ada disana.


Kemana Kanaya? Kalau ayahnya tau maka habislah Ray. Karena ia sudah ceroboh menjaga istrinya.


🍁🍁🍁


Kamu dimana? Dengan siapa? Dan sedang berbuat apa? Hahahaha


To be continued...