
Kanaya menangis dalam diam menatap gundukan tanah di depannya, ia tidak pernah menyangka Yuni akan pergi secepat ini, bahkan dengan cara yang mengenaskan. Tidak pernah terlintas sedikitpun untuk bersorak atas meninggalnya gadis yang sudah menipu dan nyaris membunuhnya, ia justru merasa iba, belum lagi bayi yang sedang di kandungnya ikut serta menjadi korban.
Hikss hikss...
Kanaya terisak, mengingat awal persaudaraan mereka terjalin, saat pertama menginjakkan kakinya ke dalam rumah ibu kandung Yuni. Gadis cantik berkulit putih itu begitu menyayangi Kanaya yang hanya terpaut beberapa bulan, karena Yuni anak tunggal gadis itu merasa sangat senang dengan kehadirannya. Namun, siapa sangka seiring berjalannya waktu Yuni justru diam diam membenci Kanaya.
Edo dan Ayrin menepuk nepuk bahu Kanaya untuk memenangkan gadis itu. Edo-pun tak kalah sedihnya dari Kanaya, calon istri dan calon bayinya meninggal satu hari sebelum hari pernikahannya, seharusnya hari ini adalah hari pernikahannya dengan Yuni, namun Tuhan berkehendak lain, ibu dari anaknya yang sedang di kandung justru meninggal karena ambisi sang ibu.
Edo sama sekali tidak mengetahui jika anak yang di kandung Yuni bukanlah anaknya, hingga ia merasa begitu sangat kehilangan calon anaknya.
Awan di langit-pun menggelap, terlihat mendung seakan mewakili perasaan Kanaya saat ini yang sedang berkabung. Suasana pemakan tidak terlalu ramai, karena Yuni dan Kanaya tidak memiliki sanak saudara, hanya tetangga terdekat saja, dan itu hanya beberapa orang di tambah orang-orang bawahan Edo yang membantu prosesi pemakaman.
"Nay"
Kanaya, Edo dan Ayrin menoleh bersamaan ke arah sumber suara.
"Ka-kamu?" Kanaya mengusap air matanya dan sedikit bergeser ke arah Ayrin.
Evan terlihat berjalan mendekat ke arah mereka bertiga, dan berdiri tepat di samping gundukan tanah tersebut.
"Aku mau minta Maaf soal kemarin, dan soal Yuni aku terpaksa melakukan itu." ucap Evan datar, namun tidak ada tanda penyesalan disana. Justru ia senang dan tenang karena tidak ada yang berniat mencelakai Kanaya lagi.
"Bangs***t!!"
Edo yang mendengar hal itu reflek memukul Evan tepat di wajahnya, jadi kematian Yuni itu karena bule nyasar ini.
"****!!"
Evan membalas pukulan Edo telak, baku hantam-pun tak terelakkan. Hingga Kanaya dan Ayrin menjerit histeris, bahkan bawahan Edo-pun kualahan memisahkan kedua manusia yang sedang emosi, pukulan di iringi umpatan terus di layangkan keduanya hingga Kanaya berdiri di tengah tengah Evan dan Edo sebagai pemisah. "Stop!"
"Shit!!" Evan mengepalkan tangannya kuat nyaris saja ia memukul wajah Kanaya dengan tangannya. " why are you standing there dear? "
"Ini indo bro, gak usah sok sokan pake bahasa asing" Edo berdecih mendengar perkataan Evan, belum lagi panggilan cowo bule itu pada Kanaya, apa katanya? Dear? Cih! Kalau saja Ray disini sudah pasti tuh bule mati di tangan Ray.
"Gak usah ngimpi lo bisa sama Kanaya, dia udah cinta mati sama temen gue." Ejek Edo lagi, kadang kadang cowo satu ini mulutnya melebihi emak emak yang sedang ghibah.
"Shut up !!" Tunjuk Evan pada Edo. Sementata yang di tunjuk malah cengengesan.
"Yank. Udah!" Sergah Ayrin sebelum Edo menghina teman Kanaya lagi.
"Please, tolong tinggalin aku Evan. Jangan ganggu aku lagi, kita udah sepakat bukan?!" Jelas Kanaya memberi pengertian pada Evan agar cowo bule itu tidak menemuinya lagi. Terus terang Kanaya takut dengan sisi lain Evan, belum lagi hukuman yang Ray janjikan padanya. Ahhh, rasanya Kanaya ingin lari saja yang jauh.
"Sebentar saja, setelah ini aku pamit. Aku akan pergi ke Spain." Evan mendekat dan mencoba meraih tangan Kanaya.
Kanaya menjauhkan tangannya, mundur selangkah. Edo dan Ayrin diam memperhatikan interaksi kedua manusia itu, begitu juga para bawahan Edo yang kelelahan karena memisahkan perkelahian tadi.
"Ok, fine. Aku pergi. Hubungi aku jika kekasih mu itu berani menyakiti mu."
"Ngarep bro!"
Evan melangkahkan kakinya meninggalkan area pemakaman itu dan mengabaikan ejekan Edo. Jika bukan karena Kanaya sudah ia pastikan cowo idiot itu mati di tangannya. Evan menendang kerikil yang ada di depannya sebagai pelampiasan kekesalannya.
****
"Wah, lo mesti denger nih cerita men. Gila emang tuh si bule nyasar."
"Dia nyamperin Kanaya sampe ke makam?" Ray menegakkan tubuhnya yang tengah bersandar di punggung ranjang.
"Hu'um, dan Lo tau apa ? Dia manggil Kanaya dear. Sok romantis anj**ing!"
"Terus kenapa Lo yang kesel? Kanaya aja gak masalah. Yakan Nay?" Raka ikut menimpali dengan tersenyum tipis, pria yang satu ini memang jarang bicara, tapi sekalinya berucap langsung menampar dengan kata katanya.
Yang di tanya langsung pucat, Kanaya blingsatan setengah mati. Ia harus menjawab apa coba? Lagian kenapa kak Raka jadi bawa bawa namanya sih?
Ray menatap tajam ke arah Kanaya, matanya seakan meminta penjelasan dari bibirnya yang sedari tadi terdiam. "A-aku gak diem aja, lagian aku gak juga gak dengerin dia ngomong apa."
"Emang bener sih Kanaya gak ngerespon, malah tuh bule di usir." Ujar Edo membela, karena memang Kanaya tidak merespon cowo bule itu.
"Terus kenapa jadi muka Lo yang bonyok?" Timpal Raka lagi.
"Tuh si Edo gaya gayaan nonjok mukanya Evan, eh malah dia yang bonyok. Untung Kanaya bisa bikin mereka berhenti, kalo gak, mungkin Edo udah masuk UGD" Ayrin ikut ambil suara setelah tadi hanya diam saja.
"Kamu gak kenapa-kenapa kan sayang?" Ray meneliti bagian tubuh Kanaya yang tebuka saja.
Kanaya mengangguk lemah "aku gak apa-apa kok Ray. Edo jaga aku baik baik" dustanya, padahal dari tadi Edo justru yang membuat kekacauan hingga Kanaya kesal.
"Dan lo tau Ray, ternyata si bule nyasar itu yang udah nembak Yuni sampe jatoh ke bawah." Ujar Edo bersungut-sungut menahan kesal.
"Bukanya Lo seneng Do, Lo gak jadi nikah sama tuh cewe"
See...Raka memang selalu seperti itu, perkataannya tepat sasaran. Ray dan Ayrin tertawa melihat Edo yang selalu di bantah ucapannya oleh Raka.
"Sialan! Gak pernah menang gue ngomong sama orang pinter." Ujarnya menyerah.
"Lo-nya aja yang beg**!" Sela Ray ikut menimpali.
Untuk sementara waktu Raka sedikit melupakan perasaannya, meski tidak sepenuhnya. Belum lagi tentang penawar racun yang belum tahu pasti kapan bisa di dapatkannya untuk sang ayah.
Disaat Edo sibuk bercerita dan selalu di patahkan oleh Raka, Ray justru menjahili Kanaya. Tangannya tak henti mengusili gadis itu dengan merambat di bagian punggung Kanaya hingga gadis itu menggeliat kegelian.
"Karena kamu tadi ngusir cowo itu, jadi kamu akan mendapat hadiah." Ucap Ray seraya mengerlingkan matanya dengan senyum menyeringai.
Huh! Hadiah macam apa yang Ray maksud? Tolong siapa saja yang bisa bantu aku....
🍁🍁🍁
Nah loh, harus seneng dong di kasih hadiah.😂😂😂
Okeh next.😉
cuma ada foto Evan 😅