
"Itu hasil foto dari seorng pasien kecil yang ingin memberikannya pada Dokter Adam, tetapi karena Dojter adeam sudah kembali kenegranya dia meminta izin pada Profesor Logan untuk memajangnya disana."
Saat pertama kali Belda menginjakkan kaki di rumah sakit ini di melihat foto seorang pria yang sangat dirindukannya terpajng di loby rumah sakit.
Adam Regan Zeroun Ganendra
Meski foto itu diambil candid tetapi Regan terlihat sempurna dan tampa seperti biasanya, membuat Belda semakin merindukannya.
Belda mengeluarkan ponselndri dalam sakunya, mencari kontak nama Regan dengan penuh keraguan dia mendeal nomer itu.
Dadara berdegup kencang menunggu Regan mengangakat panggiannya, setelah sekian lama Belda pergi ini yang pertama kalinya Belda menghubungi Regan membuatnya gugup saja.
"Halo"
Terdengar suara Regan yng semakin membuat Belda tak karuan mengilum bibirnya menahan diri untuk tidak terlihat kegirangan.
"Halo Re" sapa Belda denga suara mencicit.
Tatapan mata Belda masih menatap kearah foto didepannya.
"Hai apa kabar" tanya Regan.
"Baik" jawab Belda lirih.
Meski sangat terlihat kecanggungn diantara mereka, tetap saja Belda merasa berbunga-bunga lenuh kebahagian dpt mendengar suara Regan meski melalui sambungan telefone.
"Em ... kamu lagi pa?" tanya Belda ragu.
"Lagi telfonan sama kamu."
Belda kembali mengulum bibirnya menahan senyum lebarnya, dia tidak mau terlihat gila didepan banyak orang karena tersenyum dan kegirangan di rumah sakit seperti tidak menghormati orang lain.
Mereka terdiam beberapa saat, meski tidak saling tatap mereka seolah menikmati degub jantung satu sama lain, mencoba menebak-nebak ekpresi disebrang.
"Kenapa diam?" tanya Regan, "kamu sendiri ngalain?."
"Aku ..." senyum Belda terukir lebar, "aku sedang menatapmu meski kamu tidak balik menatapku sekarang. Hems ... padahal kita dekat hehehe ..." Belda tertawa kecil.
Belda melangkh semakin mendekati foto itu, tangannya terulur menyentuh rambut Regan dalam foto, menatapnya dalam seolah-olah dia menatap Regan yang sesungguhnya.
"Kamu dimana?, Qe kamu dimana hah ... hah ..."
Terdengar suara ngos ngosan dari sebrang, tangan Beda yang mengelus foto Regan terhenti mengambang di udara mengerutkan kening mencoba menebak apa yang sedang dilakukan Regan.
"Jangan bilang kalau kamu lagi cari aku?" tebak Belda.
"Ya" yawab Regan tampa pikir panjang.
Sontak saja Beld atertawa mendengarnya, dia tidak memikirkan lagi berada dimana sekarang.
"Kenapa tertawa?" tanya Regan dengan sedikit emosi.
Belda mencoba meredakan tawanya dengan menutup mulutnya, "kamu juga ngapain cari aku?, sudah jelas kita jauhan."
"Tapi kamu tadi bilang sedang natap aku, dan aku gak balik natap kamu padahal kita dekat" ucap Regan sedikit menaikkan suara karena emosi.
"Iya, aku sedang natap foto kamu sangat dekat tapi kamu gak liatin aku."
Satu dan dua detik terdengar teriakn keluhan Regan disebrang, Belda terkekeh mendengrnya.
"Ah ... Qe ... kamu membuat aku bahagia sampai melayang terus ngempasing begitu saja" gerutu Regan.
"Hahahahaaa ... kamu kan tahu kita jauhan ngapain cari aku disekitar kamu?, bukannya kamu genius?"
"Enggak ... bodoh ... aku bodoh kalau berhadapan dengan kamu ... gak ada pinter-pinternya" omel Regan emosi.
Belda kembali tertawa.
"Aku kangen kamu Qe"
Tiga kata itu membungkam tawa Belda seketika.
"Denger kamu deket dan natap aku, aku juga ingin melakukan hal yang sama" sangat lirih. "Ingin menemuimu tapi aku takut nanti tidak bisa melepasmu lagi, aku kangen kamu Qe ... entah kamu kangen aku juga atau enggak aku gak tahu, yang penting aku bilng kalau aku kangen kamu."
Dada Belda berdebar semakin kencang melebihi awal saat di mendengar suara Regan tadi.
"Aku juga kangen kamu" cicit Belda, "sama sepertimu ingin ketemu tapi aku takut goyah dan tidak melanjutkan meraih mimpiku."
Belda terdiam, begitu juga Regan disebarng sana.
^-^
Ditempat Regan berada selang beberapa sat sebelum Beld menelfonnya.
Regan duduk di kursi memejamkn mata menutup wajahnya dengan topi.
Kali ini mereka, empat pria galu akan berlibur selama beberapa hari untuk mengembalikan pikiran positif dan fokus mereka pada pekerjaan masing-masing.
"Kita langsung ke mension Romanov atau rumah Raja?" tanya Javir.
"Romanov" sahut Regan, "dirumah pasti kotor karen lama tidak ditinggali."
Ya ... mereka akan pergi kenegara tempat dulu Regan dan Aslan kuliah, negara yang mempersatukan Regan, Aslan, Javir dan Alaric hingga saat ini.
Sskarang mereka sedang transit di negara lain, jadi Regan memanfaatkannya untuk tidur sambil menunggu keberangkatan pesawat mereka selanjutnya.
Dret ...
Ponsel Regan bergetar, tampa semangat Regan mengeluarkannya dsei saku dan ...
MY Qe
"Halo"
Satu kata itu yang keluar dari mulut Regan, satu kata yang sekuat mungkin dia menahan diri agar tidak terdengar gemetar.
"Halo Re"
Terdengar suara lembut Belda disebrang Regan yang sebelumnya duduk tegak langsung lemas menyandar pada sandsran kursi tersenyum lebar kerana mendengar suara Belda memanggilnya Re.
Regan merindukannya, dan kesempatan Belda menghubunginya seperti ini harus Regan manfaatkan sebaik mungkin.
"Hai apa kabar" tanya Regan.
"Baik" jawab Belda lirih.
Terasa sangat canggung tetapi tidak bisa dipungkiri jika Regan bahagia.
Tiga orang disekitar Regan sampai mengernyitkan kening menatap Regan yanh tersenyum dan berbunga-bungan seperti perempuan sedang kasmaran saja.
"Em ... kamu lagi pa?" tanya Belda ragu.
"Lagi telfonan sama kamu" jawab Regan sekenanya.
Mata Aslan langsung terbelalak mendengarnya.
Alaric menatap simpul pada Regan.
Lain halnya dengan Javir yang tertawa lepas.
Sedangkan Regan tersenyum lebar, tangannya memilin-milin ujung jaket Alaric yang duduk disampingnya mencari pelarian agar tidak berteriak girang.
Mereka terdiam beberapa saat, meski tidak saling tatap mereka seolah menikmati degub jantung satu sama lain, mencoba menebak-nebak ekpresi disebrang.
"Kenapa diam?" tanya Regan, "kamu sendiri ngalain?."
"Aku ..." terdengar Belda ragu mengatakannya, "aku sedang menatapmu meski kamu tidak balik menatapku sekarang. Hems ... padahal kita dekat hehehe ..." Belda tertawa kecil.
Sontak Regan langsung berdiri menoleh kekanan kekiri mencari keberadaan Belda disekitarnya.
Tidak menemukannya Regan berlari kecil diruang tunggu keberangkatan didalam bandara, kebarat dan ketimur mencari keberadaan Belda yang tidak dia temukan.
"Kamu dimana?, Qe kamu dimana hah ... hah ..."
Regan menjambak rambutnya sendiri mencob berfikir dimana Belda dan dimana perempuan itu bersembunyi darinya.
"Jangan bilang kalau kamu lagi cari aku?" tebak Belda.
"Ya" yawab Regan tampa pikir panjang.
Terdengar tawa kecil Belda disebrang menghentikan langkah Regan menatap tajam kedepan.
"Kenapa tertawa?" tanya Regan dengan sedikit emosi.
Belda menghela nafas disebrang, "kamu juga ngapain cari aku?, sudah jelas kita jauhan."
"Tapi kamu tadi bilang sedang natap aku, dan aku gak balik natap kamu padahal kita dekat" ucap Regan sedikit menaikkan suara karena emosi.
"Iya, aku sedang natap foto kamu sangat dekat tapi kamu gak liatin aku."
Satu dan dua detik ....
Regan menendang udara melampiaskan kekesalannya pada diro sendiri yang tidak berfikir oanjang langsung mencari Belda berlari seperti orang gila.
"Ah ... Qe ... kamu membuat aku bahagia sampai melayang terus ngempasing begitu saja" gerutu Regan.
"Hahahahaaa ... kamu kan tahu kita jauhan ngapain cari aku disekitar kamu?, bukannya kamu genius?"
"Enggak ... bodoh ... aku bodoh kalau berhadapan dengan kamu ... gak ada pinter-pinternya" omel Regan emosi.
Kembali terdengar tawa Belda yang membuat Regan malu, dia yakin wajahnya sekarang memerah
"Aku kangen kamu Qe" uangkap Regan lirih.
Suara tawa Belda terdengarbmulai mereda.
"Denger kamu deket dan natap aku, aku juga ingin melakukan hal yang sama" sangat lirih. "Ingin menemuimu tapi aku takut nanti tidak bisa melepasmu lagi, aku kangen kamu Qe ... entah kamu kangen aku juga atau enggak aku gak tahu, yang penting aku bilng kalau aku kangen kamu."
Regan mengatakan apa yang dia rasakan tidak untuk meminta balasan, dia hanya ingin Belda tahu ala yang dia rasakan saat ini.
"Aku juga kangen kamu" cicit Belda, "sama sepertimu ingin ketemu tapi aku takut goyah dan tidak melanjutkan meraih mimpiku."
Langkah Regan yang akan kembali ketemlat dimana Aslan, Javir dan Alaric duduk terhenti ditengah jalan saat mendengar Belda merindukannya.
Bahagia, jika Belda juga merindukannya berarti perempuan itu masih memiliki perasaan yang sama dengan Regan, dengan kata lain ... mereka masih memiliki harapan untuk bersama.
"Kangen kamu" ungkap Regan lagi.
"Aku juga kangen kamu."
^-^
.
Terima kasih buatnpara Readers yanh selalu menhnggu updatean dari Only You 🙏
Terima kasih sudah mau mampir dan memberi dukungan kalian sampai tahap ini 🥺 gak menyangkan Only you *sampai mau tamat kalian masih mau membaca hasil krya Author yang GeJe ini 😔
Terima kasih semuanya 😇
Love you😘*
Unik Muaaa