
Kanaya menggeliat pelan, seluruh badannya terasa sakit, terutama di bagian pinggang. Sejak perutnya semakin membesar, posisi tidurnya jadi serba salah. Miring ke kanan sakit, miring ke kiri juga sakit. Sedangkan tidur terlentang sudah tidak mungkin.
Kanaya mencoba menyingkirkan lengan kokoh yang melingkar di perutnya posesif. Namun, saat ia baru menyentuh tangan Ray dan menggesernya, suaminya justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Ray."
"Hem"
"Tangan kamu singkirin, aku mau bangun." Kanaya masih pada posisinya membelakangi Ray, berusaha melepaskan pelukan sang suami.
"Sebentar lagi." Gumam Ray dengan suara seksi khas pria bangun tidur, dengan wajah yang bersembunyi di ceruk leher sang istri. Ia sangat menyukai aroma tubuh Kanaya, aroma vanilla yang menenangkan.
"Geli Ray"
Kanaya mendengus kesal, percuma saja ia berdebat dengan suaminya. Karena Ray pasti akan mengeluarkan jurus andalannya yaitu 'gak boleh nolak suami_dosa'.
Curang sekali bukan?
"Aaww"
Ray segera terbangun, dan langsung mendudukkan dirinya. "Kenapa sayang?"
"Perut aku sakit Ray, si kembar gerak gerak terus." Jelas Kanaya sambil meringis menahan sakit dengan posisi masih membelakangi Ray.
"Sakit banget?" Ray bertanya dengan raut ikut menahan sakit dan di balas anggukan oleh Kanaya.
Segera Ray menarik tubuh sang istri agar Ray bisa melihat bagian mana yang sakit. Ray memperhatikan perut Kanaya yang mulai membesar, terlihat bagian yang menonjol dan bergerak berpindah. Kemudian Ray mengusap perut Kanaya pelan di bagian itu, untuk mengurangi rasa nyeri yang Kanaya rasakan. Mencium perut Kanaya sembari berbisik, seakan ia sedang berbicara dengan sang anak yang ada di dalam sana. "Anak ayah sayang, geraknya pelan pelan aja aja ya, kasian mama kamu."
Kanaya menutup bibirnya dengan telapak tangan, ia berusaha keras menahan tawanya. Tingkah konyol suaminya itu membuat Kanaya ingin tertawa, tapi ia juga terharu dengan perlakuan Ray barusan.
Kanaya mengusap rambut legam Ray yang masih setia menciumi perutnya, ia merasa bersyukur mendapatkan sosok pria yang baik dan lembut juga mengerti dirinya.
"Ray"
"Ya?" Ray mengangkat wajahnya dengan raut panik "Ada yang sakit lagi?"
Kanaya menggeleng dengan senyum merekah.
"Makasih ya, kamu baik banget sama aku."
Ray tersenyum lega, karena ternyata Kanaya tidak kesakitan lagi. "Aku yang seharusnya terima kasih sama kamu, kamu mau mengandung dan nahan sakit kaya gini demi anak aku."
"Itu udah kodrat aku sebagai perempuan, mengandung dan melahirkan. Dan setiap sakit yang aku rasain itu suatu kenikmatan dari Tuhan yang belum tentu orang lain rasakan." Jelas Kanaya lagi dengan raut bahagia.
"Itu juga kewajiban aku sebagai seorang suami, memperlakukan kamu dengan baik. Karena menikah itu untuk membahagiakan istri bukan untuk menyusahkan istri."
Kanaya seketika speechless, ia terharu dengan kata kata bijak sang suami. Tuhan begitu baik padanya dengan mengirimkan Ray dalam hidupnya.
"Aku buatin kamu susu dulu sebentar, kamu jangan bangun dulu sebelum aku balik."
Ray segera turun dari ranjang setelah mengecup kening Kanaya, lalu bergegas keluar kamar.
Sementara Kanaya menaikkan selimutnya sampai batas dada, menunggu sang suami membawakan susu untuknya. Jika di ingat ingat, sejak menikah dengan Ray Kanaya tidak pernah memegang pekerjaan rumah. Bahkan hanya sekedar membereskan tempat tidur saja ia tidak pernah. Karena Ray selalu melarangnya.
Ray selalu mengatakan jika istri itu pendamping hidup dalam rumah tangga, bukan asisten rumah tangga.
Lagi, Kanaya terharu dengan semua perkataan suaminya. Bibir pria itu seperti mengandung gula, hingga semua perkataan yang keluar dari mulutnya selalu manis.
Kanaya terkesiap mendengar suara pintu yang terbuka, tapi bukan Ray. Seorang pelayan masuk dengan membawakan kotak besar di tangannya.
"Permisi Non" pelayan itu meletakkan kotak besar yang di bawanya di atas sofa di dekat ranjang sembari menundukkan kepala.
"Saya kurang tau Non." Jawab bibi pelayan itu, lalu mengangguk lagi sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Kanaya.
Tidak lama Ray masuk dengan membawa nampan di tangannya. Segelas susu, serta sepiring sandwich dan buah potong.
"Habisin yah, abis itu kamu siap siap." Titah Ray seraya meletakan nampan itu di atas nakas.
"Siap siap untuk apa? Hari ini kan gak ada jadwal cek ke dokter." Kanaya merubah posisinya duduk bersandar di punggung ranjang.
Ray tersenyum, mendudukkan dirinya di samping Kanaya. Menyodorkan gelas berisi susu khusus ibu hamil itu pada sang istri.
Kanaya menerima gelas itu lalu meminumnya perlahan, sembari menunggu perkataan Ray selanjutnya.
"Hari ini ayah ngadain acara syukuran, buat si kembar yang udah menginjak usia tujuh bulan." Ray berucap sembari mengusap perut Kanaya lembut.
"Dan kotak itu. Di dalamnya baju untuk kamu pakai buat acara nanti."
Kanaya meletakan gelas kosong itu kembali ke atas nakas "Kok aku gak di kasih tau sih?"
"Ini kejutan buat kamu."
Kanaya menghamburkan diri memeluk sang suami dari samping, mengecup pelan pipi Ray. "Makasih ya sayang, aku seneng banget."
Ray mengangguk, mengusap lengan Kanaya "yaudah kamu siap siap."
Kanaya turun dari ranjang dengan bantuan Ray, dengan hati hati Ray menuntun sang istri menuju kamar mandi. Mungkin sikap Ray ini terlalu berlebihan, tapi Ray hanya berusaha menjaga istri dan anaknya dengan baik. Karena Kanaya mengandung anak kembar, sudah pasti ukuran perutnya dan beratnya lebih dari normalnya wanita yang hanya mengandung satu anak.
Dan, seperti biasa. Ray menunggu sang istri di dalam kamar mandi, Ray duduk di atas kursi kecil bersandar pada dinding. Sementara Kanaya sedang membersihkan tubuhnya di dalam bilik terlapisi kaca buram.
Beberapa menit kemudian Kanaya keluar dari dalam ruangan kaca itu dengan memakai handuk kimono dan rambut yang di lilit handuk kecil.
"Udah?"
"Hu'um" Kanaya berjalan pelan sembari memegangi perutnya.
Setelah selesai membersihkan diri, Kanaya memakai baju yang sudah di siapkan. Dress muslim dengan bagian bawah melebar satu set dengan hijab panjang yang menjuntai hingga batas pinggang.
Ray melebarkan matanya dengan rahang terbuka ketika keluar dari dalam kamar mandi, lalu berjalan mendekat ke arah Kanaya dengan handuk masih melilit di pinggangnya.
"Kamu cantik banget sayang."
Ray memutari tubuh sang istri, memandangnya dari atas hingga bawah. "Subhanallah, kamu kaya bidadari."
"Huh, kaya pernah liat bidadari aja kamu tuh"
"Ini depan aku." Ucap Ray sambil mengerlingkan matanya menggoda.
"Sana sana pake baju kamu, jangan gombalin aku terus ih." Kanaya mendorong tubuh Ray dengan raut malu, saat ini pipinya sudah merona seperti tomat.
"Iya iya, tapi kamu beneran cantik loh pake baju itu. Pake itu terus ya...aku suka." Pinta Ray dengan maksud, agar tidak ada yang bisa mencuri pandang tubuh istrinya, melindungi Kanaya dari tatapan mesum para laki laki yang memandangnya. Dan lagipula, menutup aurat bagi wanita itu kan wajib, jadi Ray tidak salah kan?
🍁🍁🍁
Maaf lama aku nulis part ini dari hari Sabtu tapi hapus terus 😂
Aku ngerasa belum sreg aja, dan mesti riset dulu ke Mbah 😂
Dan, aku juga belom ada di posisi ini jadi agak sulit menjabarkannya, maaf kalo ada yang salah.
Buat kalian para wanita hebat yang sanggup nahan sakitnya mengandung dan melahirkan, dua kata buat kalian . LUAR BIASA.