
Baru semalam Ray menginap di rumah sakit, rasanya ia sudah tidak tahan. Belum lagi alat alat yang terpasang di tubuhnya, sama sekali membuatnya tidak nyaman.
Dan lagi, makananya. Ray tidak menyukai makanan rumah sakit, ia lebih menyukai masakan Kanaya. Meski hanya menu sederhana, itu sudah cukup membuat Ray menambah berat badannya.
Kanaya tidak seperti wanita kebanyakan, yang mempercantik dirinya untuk di cintai suami. Jika orang mengatakan, datangnya cinta dari mata turun ke hati. Tapi, tidak untuk Kanaya. Cinta datang dari perut naik ke hati_ dengan kata lain jika ia mampu membuat suaminya kenyang, hingga tidak ada alasan untuk suaminya jajan di luar atau membiasakan suaminya makan di luar. Maka suaminya akan semakin mencintai dirinya.
Dan seperti saat ini, Kanaya sudah membawakan makanan kesukaan Ray. Sup ayam dan perkedel kentang dengan campuran daging. Setelah pagi pagi sekali ia sudah pamit pulang, membuatkan makanan untuk Ray.
Ray melirik ke arah Kanaya, seraya tersenyum kagum. Meski sedang hamil dan masih mengalami mual, Kanaya sama sekali tidak manja. Bahkan terkesan kuat dan mandiri.
"Sayang"
"Hmm" sahut Kanaya sembari menuang kuah sup ke dalam mangkuk.
"Maafin aku."
"Untuk?"
Ray gemas sekali rasanya, Kanaya menjawab pertanyaannya hanya sepatah kata saja. Kalau saja ia tidak patah tulang, sudah Ray pastikan Kanaya berada di bawah tubuhnya saat ini.
"Aku pengen makan kamu aja boleh gak sih?"
"Ray" desis Kanaya, seraya memicing tajam. Tubuhnya saja sulit untuk di gerakan, bagaimana bisa suaminya sampai berfikir ke arah sana sih? Sepertinya benturan di kepalanya Ray semakin parah. Sampai otaknya semakin tidak beres saja.
Ray terkekeh pelan, melihat ekspresi kanaya yang melempar tatapan tajam. Padahal istrinya selalu meminta lebih jika ia sudah beraksi, menghujani Kanaya dengan cinta yang ia miliki. Tidak ada wanita yang mampu menolak pesona darah Febriano, Meski terlihat dingin dan kaku, ayahnya tidak mengajarkan untuk menjadi lelaki brengsek yang tidak bisa memegang janjinya. Terlebih jika sudah berkomitmen, tidak ada kata_ mendua.
"Maaf udah ngerepotin kamu" kata Ray, setelah meredakan tawanya. Kini kanaya sudah berdiri di sampingnya dengan membawa mangkuk.
"Buat suami aku yang manja, aku rela. Dan itu juga udah kewajiban aku. Jadi kamu gak perlu minta maaf, aku seneng kok ngelakuinnya."
Ray tersenyum lega, ia tidak salah memilih wanita untuk menjadi ibu dari anak anaknya.
"Ehm"
Ray menghentikan perkataannya, menoleh ke arah pintu dengan memasang wajah datarnya. Manusia yang sangat tidak ingin Ray temui, kini hadir di dalam ruangannya.
Raka datang bersama Aldrich, melangkahkan kakinya mendekati ranjang, dengan senyum ramahnya. Namun, untuk Ray senyum Aldrich itu seperti_meremeh.
"Aku turut prihatin atas musibah yang menimpamu. Bagaimana kabarmu?"
Pertanyaan itu seperti_menyiratkan sesuatu, di tambah dengan seringaian kecil di bibir pria pucat itu.
"Terimakasih. Seperti yang kau lihat, aku semakin baik." Ujar Ray ketus, seraya menatap tajam pria berambut pirang platina itu.
Aldrich mengangguk pelan, lalu menoleh kesamping dengan senyum menawan. Menyerahkan parcel buah yang ia bawa pada Kanaya, sekaligus mengambil kesempatan menyentuh tangan halus Kanaya.
Kanaya berjengit, segera menjauhkan tangannya dari pria itu lalu meletakkan parcelnya ke atas nakas.
Sementara Raka memilih duduk di sofa, pria tinggi itu terlalu fokus dengan layar tujuh inci di tangannya hingga tidak melihat rekan bisnisnya yang berlaku tidak sopan.
"Ya. Kau terlihat semakin baik, dan itu berkat istri cantikmu yang pandai merawatmu." Ujar Al dengan sorot mata memuja dan senyum manis yang ia tujukan untuk Kanaya. Jujur saja Al sangat iri dengan Ray, dan ingin merebut gadis itu secepatnya.
Kanaya memaksakan senyumnya, sebagai bentuk menghargai karena ada Raka di sini. Meskipun sebenarnya Al tidak pantas mendapatkan itu.
Kanaya melanjutkan niatnya menyuapi Ray, mengabaikan pria asing yang berdiri di sampingnya.
"Pelan pelan" ucap Kanaya, sambil jemarinya mengusap sudut bibir Ray.
"Aku gak bisa pelan pelan, kalau itu tentang kamu." Ujar Ray dengan mengerlingkan matanya.
Ray tersenyum mengejek ke arah Al, seperti sedang memamerkan kemesraannya bersama sang istri.
Lagi, di saat seperti ini suaminya masih sempatnya menggoda. Padahal ada Raka dan Aldrich di dalam ruangan ini. Bikin malu saja.
Tiba tiba Kanaya teringat sesuatu, dan menoleh ke arah Raka "Kak Raka mau ikut makan? Biar aku siapin"
Raka mengangkat wajahnya dari benda canggih di tangannya, kemudian menoleh dengan senyum kecil. "Kakak udah makan."
"Sepertinya masakan istrimu sangat lezat, apa kau tidak berniat menawari ku?"
"Jangan harap jerk."
"Jangan tersinggung dengan ucapan adik ku Al, kau tentu tau bukan." Ujar Raka, menoleh sekilas.
Al tertawa, sepertinya Ray sudah terpancing dengan permainannya. Ia bisa memanfaatkan situasi ini, membuat Ray semakin cemburu padanya. Sepertinya menarik.
Kanaya tidak memperdulikan kehadiran Aldrich, meskipun tatapan pria itu membuatnya tidak nyaman. Sorot mata itu mengingatkan dirinya pada sosok_Evan. Kanaya mencoba menepis bayangan itu, kembali menyuapi Ray dengan sesekali mengusap rambut legam suaminya, menyampaikan rasa takutnya pada Ray.
"Aku keluar sebentar." Raka bangkit dari duduknya, berjalan menuju pintu keluar.
Seringaian licik terukir jelas di bibir Aldrich, begitu punggung Raka semakin menjauh dan menghilang di balik pintu.
"Aku juga ingin pamit, sepertinya aku hanya menjadi pengganggu saja disini."
"Baguslah, akhirnya kau menyadarinya."
Aldrich mengangkat bahunya acuh, lalu menoleh ke arah Kanaya dengan senyum yang sulit di artikan.
"Aku permisi Mrs Febriano." Al mengedipkan matanya genit, diiringi tangan nakalnya yang merayap di pinggang Kanaya, memberi usapan dengan gerakan sensual.
Tubuh Kanaya menegang, reflek menoleh kebelakang dengan sorot mata membunuh. Ia marah, kesal, jijik dan mual bercampur jadi satu. Rasanya ia ingin muntah di wajah pria itu. Ini kali kedua Aldrich berlaku kurang ajar padanya, ia harus lebih berhati-hati.
Pria berambut pirang yang sudah berbuat kurang ajar padanya itu sudah berjalan menjauh dan berhenti saat menyentuh gagang pintu. Pria ituΒ menoleh ke arahnya seraya tersenyum_senyum yang menjijikan bagi Kanaya.
Segera Kanaya membuang wajahnya ke arah lain, tidak lupa mengusap perutnya dengan mengucap 'amit amit', jangan sampai anak yang di kandungnya mirip seperti manusia jelek itu.
"Kamu kenapa sayang?"
"Hn?" Kanaya menoleh gelagapan, panik, bingung jadi satu.
"Muka kamu pucat sayang? Kamu sakit?" Tanya Ray khawatir.
Kanaya bingung menjawabnya, ia pucat bukan karena sakit. Tapi, karena seseorang baru saja berbuat kurang ajar padanya.
Kanaya menggelengkan kepalanya "aku gak papa sayang, mungkin aku sedikit kecapean." Dustanya, ia tidak ingin menambah beban fikiran Ray. Ia ingin suaminya cepat sembuh dan segera melindungi dirinya dari Aldrich.
"Kamu istirahat aja di kamar. Ada Abang nanti yang jagain aku."
Menggeleng, Kanaya justru memutari ranjang. Lalu naik dari sisi kanan yang sedikit luas, cukup untuk ukuran tubuhnya yang tidak terlalu besar.
Ranjang yang Ray tempati terlalu besar untuk seorang diri, kasur itu cukup untuk menampung dua orang dewasa disana. Alhasil, Kanaya merebahkan dirinya di samping Ray, sembari memeluk tubuh suaminya dari samping.
"Aku mau tidur disini aja sama kamu."
Ray terkekeh geli, ia ingin mengurung istrinya saat ini juga. Tapi, ia tidak bisa melakukan apa apa. Bahkan sekedar mengusap tangan Kanaya yang melingkar di perutnya.
πππ
To be continued...