
Ray menggelengkan kepala, matanya memicing tajam melihat belahan di bagian bawah yang di pakai Kanaya. Paha mulusnya terekspos jelas, dan Ray tidak suka berbagi keindahan tubuh Kanaya pada orang lain.
"Gak ada yang lebih tertutup sayang?"
Kanaya menghela nafas panjang, ia lelah. Ini sudah gaun yang ke tiga, lalu ia harus memakai baju apa untuk datang ke pesta pernikahan Edo dan Ayrin.
"Aku capek Ray, aku gak jadi ikut. Kamu ngeselin" Kanaya kembali membuka resleting belakang gaun berwarna merah maroon itu, sembariย berjalan menuju walk in closed.
Langkahnya terhenti saat lengan kokoh Ray melingkar di perut buncitnya, memeluk posesif. "Maafin aku, kamu terlalu seksi pake baju itu."
Lagi, Kanaya menghela nafas panjang. Membalikkan tubuhnya menghadap Ray, menatap suaminya lekat.
"Tadi aku pake yang item lengan panjang, kata kamu punggungnya terbuka nanti masuk angin. Terus aku ganti yang peach, belahan depan terlalu rendah. Sekarang aku pake yang ini terlalu seksi, terus aku harus pake apa Ray?" Kanaya mencebikan bibirnya kesal.
"Pakai mukenah aja, kamu cantik. Tertutup lagi." Ray terkekeh geli, sembari mengecup pipi Kanaya pelan.
Kanaya mendorong tubuh suaminya menjauh, suaminya benar-benar menjengkelkan.
"Kamu jangan ngikutin sifat ayah kamu ya" lirih Kanaya seraya mengusap lembut perutnya, sembari berjalan masuk ke dalam walk in closed
"Aku masih bisa denger loh sayang, anak aku pasti mirip aku." Seru Ray sedikit kencang.
"Ini anak aku!" Balas Kanaya tak mau kalah.
"Oh ya? Yang bikin siapa, kalo kamu cuma sendiri?" Seru Ray, menahan tawa.
Kanaya menyembulkan wajahnya dari balik pintu, mendelik tajam ke arah Ray dengan sorot membunuh.
Ray tergelak, istrinya itu makin menggemaskan setiap harinya. Semenjak hamil Kanaya selalu mengajaknya berdebat dengan pernyataan yang di luar logika, seperti tadi.
Ray mendudukkan dirinya di tepian ranjang, masih menunggu Kanaya sembari memainkan ponselnya. Semoga saja baju kali ini tidak membuat dirinya ingin merobek baju itu dan merebahkan istrinya di bawah tubuhnya.
Menit kemudian, Kanaya keluar dengan perasaan cemas, hanya ini baju yang paling sopan dan tertutup di dalam lemarinya. Semoga saja Ray tidak menyuruhnya untuk mengganti pakaiannya lagi, ia sudah lelah. Kalau Ray memintanya untuk mengganti gaun-nya lagi, lebih baik ia tidur dan tidak usah pergi saja sekalian. Masa bodoh dengan acara pesta pernikahan Ayrin dan Edo, Kanaya sudah lelah bercampur kesal.
"Gimana?" Tanya Kanaya malas.
Ray mengangkat wajahnya, mengalihkan pandangannya dari layar ponsel di tangannya. Terpaku, Ray tidak mengedipkan matanya saat Kanaya memutar tubuhnya memperlihatkan dress di atas lutut dengan bagian bawah melebar. Midi dress berwarna biru muda melekat indah di tubuh Kanaya, dengan bahu yang sedikit terbuka membuat Kanaya terlihat manis dan elegan juga sopan.
"Hm...lumayan. Ayo berangkat."
Kanaya menyambut uluran tangan Ray, melingkarkan tangannya di lengan kokoh Ray yang terbalut jas biru navy.
Baru saja Ray dan Kanaya menginjakkan kakinya di undakan anak tangga pertama, ayah Martin sudah menunggu di lantai bawah dengan wajah datarnya.
"Kamu yakin mau bawa istri kamu?" Tanya ayah Martin dengan nada khawatir.
Ray menoleh kesamping, lalu menatap ayahnya dengan mengangguk mantap. Ia akan menjaga Kanaya dengan nyawanya sekalipun, tidak akan ia biarkan siapapun melukai Kanaya.
"Kanaya lagi hamil besar, kalo terjadi apa apa gimana?"
"Ray bisa jagain aku yah, disana juga kan ada kak Raka." Timpal Kanaya membela sang suami.
Ray tersenyum lebar seraya mengusap tangan Kanaya yang melingkar di lengannya, akhirnya ia bisa mengalahkan ayahnya.
Sementara ayah Martin tidak bisa begitu saja diam, ia tidak mau mengambil resiko jika terjadi apa apa dengan menantu kesayangannya.
"Okeh, tapi Doni dan anak buahnya ikut kalian."
"Ta_"
Ayah Martin mengangkat tangannya begitu Ray membuka mulutnya untuk menolak, lalu menggelengkan kepalanya_tanda ia tidak terima penolakan.
Kanaya terkekeh geli, sementara Ray memasang wajah bosan. Ia sudah besar, ia bisa menjaga diri dan istrinya. Tapi, ayahnya selalu memperlakukan dirinya seperti anak kecil saja.
***
Begitu sampai di depan gedung,
Ray dan Kanaya turun dari mobil, dengan diikuti bodyguard ayah Martin yang mengikuti mereka dengan menjaga jarak.
Semua perhatian orang-orang di dalam ruangan itu teralihkan begitu Ray dan Kanaya melangkah masuk ke dalam gedung. Ray melingkarkan tangannya di pinggang Kanaya_posesif, berjalan pelan melewati beberapa tamu undangan yang sebagian adalah teman kampusnya.
Ray tidak menyukai keramaian, bertegur sapa atau bersalaman bukan gayanya. Apalagi harus berhadapan dengan orang orang yang bermuka dua, yang bersikap baik hanya untuk mempermudah jalinan kerja sama dengan perusahaan ayahnya.
Ray memasang wajah datarnya mengabaikan sapaan beberapa tamu undangan, jangankan untuk membalas sapaan mereka_ tersenyum-pun tidak.
Sementara Kanaya tersenyum manis seraya menunduk kepala sekilas membalas sapaan mereka, berbanding terbalik dengan suaminya yang kaku.
Ray berjalan ke arah panggung, menghampiri Edo dan Ayrin.
"Selamat bro, akhirnya Lo nikah juga sama Ayrin." Ujar Ray seraya mengulurkan tangannya.
"Thanks bro, Lo udah mau dateng." Edo menyambut uluran tangan Ray, lalu memeluk sahabatnya dekatnya itu.
"Lebay Lo!" Ujar Ray di balik punggung Edo.
Edo terkekeh, Ray sangat sulit sekali di ajak melow. Sahabatnya itu terlalu kaku dan serius, hanya Kanaya yang bisa menjinakkan seorang Ray. Dan membuat pria itu bucin.
"Selamat ya Ay, semoga cepet nyusul." Kata Kanaya seraya melepaskan pelukannya.
"Amin, doain ya, semoga aja langsung di kasih."
Kanaya mengangguk seraya tersenyum, lalu ia mengikuti kemana langkah Ray membawanya pergi dengan tangan di genggam erat oleh Ray. Karena Ray tidak membiarkan dirinya jauh walau sebentar.
Tidak lama, Raka datang bersama wanita cantik dengan pakaian cukup terbuka, Davina memakai mini dress berwarna hitam tanpa lengan, jauh di atas lutut yang melekat pas di tubuhnya. Tentu saja menjadi pusat perhatian para lawan bisnis, sosok Raka sebagai putra pertama keluarga Febriano yang tidak pernah terdengar kisah percintaannya, tiba-tiba saja membawa wanita cantik nan seksi ke acara wedding. Sesuatu yang menggemparkan, karena gosip yang beredar jika Raka seorang gay.
Sementara Kanaya tengah sibuk mencicipi makanan yang tersedia di sudut ruangan, perutnya selalu merasa lapar dan meraung meminta untuk di isi. Di saat ia tengah bingung memilih mana dulu yang ia makan antara cheese pie cake atau strawberry pie cake, tiba-tiba seseorang menyentuh bahunya.
Wanita itu menatap_rendah pada Kanaya, dengan seringaian licik di bibirnya.
"Lo gak pantes ada di acara mewah kaya gini." Ejek Gabby seraya melipat tangannya di depan dada.
"Oh ya?" Balas Kanaya malas, Kanaya mengabaikan ocehan tidak bermutu wanita itu dan kembali menatap kue pie di depannya sembari mengusap perut buncitnya.
Kesal, merasa di abaikan wanita yang sudah merebut pria yang di incarnya, Gabby kembali memancing emosi Kanaya untuk mempermalukan wanita itu di depan umum.
"Ray itu pernah tidur sama gue. Dia memuja setiap inci yang ada di tubuh gue, dia...hmptt"
Kanaya menyumpal mulut Gabby dengan pie yang ia pegang, wanita itu membuat moodnya hilang untuk makan.
"Kamu berisik!"
Wajah Gabby memerah kesal, harapan membuat Kanaya menangis dan marah marah ternyata tidak terjadi, dan justru ia yang menjadi bahan tertawaan. "Sial!"
Tanpa pikir panjang Gabby melangkah maju dan menjegal kaki Kanaya, hingga gadis itu terhuyung ke depan.
"Eeeeh ehhh"
Bruk!!
๐๐๐
To be continued...