Only you

Only you
MENCURI MANGGA



Dengan wajah lesu Ray berjalan gontai menuju halaman belakang, tempat dimana pohon mangga itu berada. Ray membawa tangga lipat dan kayu panjang di tangannya untuk mengambil mangga itu secara diam diam, setelah berhasil barulah ia akan meminta izin. Semoga saja Tuan Hellboy yang sombong-nya minta ampun itu sedang tidak ada di rumah.


Kanaya mengikuti-nya dari belakang dengan bersorak menyemangati. Boro-boro semangat, yang ada Ray semakin blingsatan, bukan takut dengan pemilik pohon mangga tersebut, ia cuma malas berdebat dengan orang yang lebih tua darinya, ia tidak ingin berdosa dan kualat.


"Yang muda ya Ray, jangan yang mateng." Seru Kanaya dari balik punggung Ray.


Ray menoleh setelah meletakkan tangga dan kayu panjang tersebut di tembok pembatas yang lumayan tinggi, senyum menyeringai terukir jelas di wajah Ray, lalu berjalan mendekat sembari menatap wajah sang istri lekat.


Ray menarik pinggang Kanaya agar merapat padanya, mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Kanaya.


"Ada imbalan yang setimpal, dan kamu harus bayar itu pake..." Ray menghetikan perkataan-nya, lalu menggigit pelan telinga Kanaya.


"Apa?" Tanya Kanaya pura pura bodoh seraya menjauhkan wajahnya.


Ray menarik dagu Kanaya lalu mencium bibir ranum itu sekilas.


"Aku kasih tau nanti malem." Ray mengedip matanya kemudian menjauhkan tubuhnya dan mulai menaiki satu persatuΒ  anak tangga tersebut.


Kanaya mematung di tempat, bagai terhipnotis. Suaminya itu benar-benar pandai memanfaatkan situasi.


"Mau berapa sayang?" Tanya Ray seraya melihat ke bawah.


Tersadar, Kanaya gelagapan di buatnya. Sementara sang suami terkekeh di atas sana melihat ekspresi Kanaya.


"Dua aja Ray, yang gede ya." Seru Kanaya bersemangat, seraya mengacungkan kedua jarinya.


Ray tertawa mendengar kata gede, kemudian menggelengkan kepalanya dengan senyum yang sulit di artikan.


"Nanti aku kasih yang gede."


Kanaya yang tidak mengerti dengan maksud ucapan Ray, ia hanya mengangguk anggukan kepala, dengan senyum termanisnya.


Saat Ray mengambil mangga yang agak tinggi, dan sedikit menimbulkan suara, karena masih muda tangkainya agak sedikit susah.


"Heii, siapa disana?" Suara bariton menggema di area pekarangan belakang rumah yang saat itu sedang sepi.


Ray blingsatan seperti pencuri yang tertangkap basah, padahal memang kenyataannya Ray sedang mencuri mangga tetangganya.


"Minta ya pak, cuma dua kok" ujar Ray melambaikan dua buah mangga muda yang besar besar.


"Pencuri kamu ya! Heeii sini kamu turun!" Tuan Handoko yang berwajah seperti Hellboy itu mendekati pohon mangga, dan melihat sosok Ray yang tertawa dari atas sana.


"Dasar kamu anak kurang ajar ya!"


"Makasih pak atas pujiannya." Ray tertawa geli, lantas berjalan menuruni anak tangga perlahan, hingga sampai ia menginjakkan kakinya di tanah barulah Ray lega.


"Kamu ketauan ya? Kan udah aku bilang Ray, minta ijin sama yang punya. Jangan nyuri."


"Gak bakal di kasih, dia itu pelit sayang. Kalo udah dapet baru aku ijin." Kata Ray menjelaskan sembari tertawa mengingat wajah Tuan Hellboy tadi.


Jahat sekali memang, Ray menyamakan Tuan Handoko dengan Hellboy. Tapi, memang begitu wajahnya ketika sedang marah, seperti tadi.


"Nanti juga kesini dia, marah marah. Terus kalah sama mamah." Seru Ray sambil tertawa, untuk pertama kalinya Ray tidak sedih menyebut kata mama. Entahlah, mungkin karena ada calon mama baru. Mungkin?


"Kan mama_" Kanaya menggantung kan kalimatnya, takut sang suami bersedih.


Ray tersenyum, dan mengusap lembut pipi Kanaya seraya mengedipkan matanya. "Kan ada kamu."


"Jahat kamu ngumpanin aku!" Dengus Kanaya seraya berkacak pinggang.


"Siapa yang jadiin kamu umpan sayang? Kamu cukup senyum manis sama pak Handoko, terus bilang maaf. Udah gitu doang kok."


Ray mengusap pucuk kepala Kanaya gemas sembari mengecupnya pelan, lalu merangkul bahu sang istri agar mengikutinya meninggalkan area itu.


"Lagian kamu aneh aneh aja minta mangga muda, punya pak Handoko lagi. Kaya orang ngidam aja." Celetuk Ray tanpa sadar, sontak membuat Kanaya merona seraya mengusap lembut perut ratanya.


Apa benar ia sedang hamil?


Ah, ia tidak mau terlalu heboh sebelum mengeceknya. Ia tidak ingin membuat Ray dan ayah Martin kecewa, karena hasilnya tidak sesuai harapan.


"biasanya aku kalo mau datang bulan, suka kaya gini Ray. Pengen yang asem asem." Jawab Kanaya sekenanya.


Apa katanya datang bulan? Ray menghetikan langkahnya yang baru saja memasuki ruang tengah. "Kamu mau datang bulan?"


Kanaya mengangguk dengan melipat bibirnya, rasanya Kanaya ingin sekali tertawa melihat ekspresi lesu Ray. "Gak lama kok Ray."


Entah Ray kecewa karena harus cuti beberapa hari dari jatahnya, atau kecewa karena benih yang selama ia ia tanamkan tidak berbuah di rahim Kanaya. Ray terduduk lesu di sofa, semangat membully pak Handoko sebetar lagi, hilang seketika, padahal tadi ia semangat sekali.


Kanaya jadi tidak tega melihatnya, ia harus tahan sampai besok pagi. Ia akan mencoba semua alat tes kehamilan yang sudah ia pesan dari bibi pelayan.


Benar saja, tidak lama kemudian terdengar suara bariton di depan rumah Ray dengan sedikit keras, memanggil nama Rayhan dan sang Ayah.


"Kan, sampe juga tuh orang." Ray bangkit dari duduknya, berniat menemui orang tersebut.


"Siapa itu Ray?"


Ray menghetikan langkahnya begitu mendengar suara ayah Martin dari arah tangga.


Ray mengedikan bahunya dengan menahan senyum "ayah disini aja, biar aku sama Kanaya yang liat kedepan."


Kanaya menganggukan kepala menyetujui perkataan Ray. Benar saja, pria paru baya dengan perut buncit sedang berdiri di teras depan dengan wajah memerah menahan kesal.


Namun, begitu melihat sosok Kanaya yang muncul dari balik punggung Ray, wajah itu seketika berubah ramah. Bahkan tersenyum dengan wajah berbinar. Ray menggelengkan kepalanya seraya terkekeh geli.


"Maaf pak, tadi aku yang minta Ray buat ambil mangga__"


"Gak apa apa, saya maafin. Lain kali bilang nanti om kasih yang banyak." Sela pria tua itu dengan senyum kagum menatap Kanaya.


Ray terkekeh geli mendengarnya, Pak tua itu menyebutkan dirinya sendiri dengan sebutan om? Menggelikan.


"Gak jadi marah pak?" Timpal Ray dengan merangkul bahu Kanaya.


"Ray" hardik Kanaya mencubit perut Ray pelan.


"Gak, om mana pernah marah. Yasudah om balik, lain kali bilang aa sama om ya cantik." Kata pak Handoko sembari mengulurkan tangannya pada Kanaya. Lalu berbalik dan pergi begitu saja.


Kanaya menoleh ke arah Ray yang masih tertawa sembari menggelengkan kepalanya.


"Kamu liat sendiri kan?"


Kanaya mengangguk.


Ray menarik tubuh Kanaya masuk kedalam rumah setelah menutup pintu itu rapat."gitu tuh pak tua yang gak tau diri, gak inget umur. Liat cewe cakep langsung berasa muda."


Kanaya ikut tertawa mendengar celotehan Ray tentang pak Handoko tadi, namun tetap saja tidak sopan.


***


Setelah Kanaya menghabiskan mangga itu, dan tentunya bersama Ray. Bahkan ayah Martin dan Raka hanya menggelengkan kepala, serta mentertawakan Ray yang di paksa memakan mangga muda yang jelas luar biasa asam bagi manusia yang normal. Dalam kata tidak ngidam.


Malam semakin larut, namun Ray terus saja mengeluh sakit perut dan bolak balik ke kamar mandi. perutnya melilit setelah memakan mangga muda tadi, ia tidak terbiasa memakan yang rasanya asam.


Di saat ayah Martin dan Ray yang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, tidak ada yang menyadari kepergian Raka yang keluar malam malam dari rumah. Dan, mungkin juga Raka tidak akan pulang malam itu.


Raka masih merahasiakan sosok gadis yang kini menjadi kekasih pura puranya, entah apa yang terjadi jika sang ayah mengetahui kabar tersebut.


🍁🍁🍁


Maaf, harusnya ini dulu yang up, baru my posesif husband πŸ˜‚


Karena cerita keduanya saling berkaitan. Maafin aku yak, salah nentuin jadwal terbit.πŸ˜‚


Semoga suka 😌