Only you

Only you
BERTEMU DAVINA



Hari-hari terus bergulir, kini sudah memasuki hari ketujuh Kanaya menemani Ray di rumah sakit, wanita cantik itu masih setia menemani Ray tanpa mengeluh. Beberapa hari ini Kanaya sedikit lega, karena meskipun Aldrich datang, pria berambut pirang itu tidak berani berbuat macam macam padanya. Ada Edo dan Ayrin juga bodyguard yang berjaga di dalam dan luar ruangan.


Terkadang sesekali Ayrin dan Edo mengajaknya pergi ke taman, untuk sekedar menghibur dirinya agar tidak bosan. Kali ini Kanaya membawa serta suaminya, Ray duduk di atas kursi roda dengan kaki yang masih di gips.


Mereka berempat berhenti di sebuah taman di tengah-tengah rumah sakit berlantai tiga puluh ini. Di sana terdapat kolam ikan kecil dan juga pohon beringin kipas dan pohon mangga. Kanaya dan Ayrin duduk di kursi besi di bawah pohon besar itu dengan membawa sekotak buah yang sudah di potong kecil-kecil. Sementara Edo berjongkok di samping kursi roda Ray.


Edo tetaplah Edo, dengan tingkah absurd-nya dan pertanyaan konyol yang terlontar begitu saja tanpa di saring.


"Kaki sama tangan Lo kan di gips Ray, lo gak bisa nengokin Ray junior dong." Celetuk Edo seraya terkekeh geli. Sementara Kanaya dan Ayrin tersedak air mineral yang baru saja di minumnya.


Ray melirik tajam dengan ekor matanya, lehernya masih di topang celvicar collar hingga ia kesulitan menoleh.


"Lo ada ada aja sih yank, mana ada Ray kepikiran kesitu. Buat gerak aja susah, apa lagi buat maju mundur." Balas Ayrin tak kalah ngawur dengan tawa khas-nya.


Lihat? Ayrin sudah tertular sifat Edo yang di luar nalar, sekarang mereka berdua semakin serasi saja, dengan saling beradu argument konyol.


"Tahan bro, cuti berkepanjangan. Apa perlu gue wakilin?" Seru Edo lagi seraya tertawa lebar.


"Anj**ing! Cari mati Lo!" Desis Ray, seraya melirik tajam dengan ekor matanya.


Sementara Ayrin bangkit dari duduknya lalu menarik rambut legam Edo dengan keras, hingga pria itu mengaduh kesakitan. Bahkan mereka berdua saling kejar-kejaran hingga terjatuh berguling di rumput.


"Kali ini Lo selamet. Gak untuk besok- besok!" Seru Ray dengan menahan tawa, ketika Edo sudah berada di dekatnya dengan nafas tersengal.


"Gue tunggu bro" seru Edo lagi, dengan senyum mengejek.


"Buktiin sayang, kalo perlu biar Edo cuti di malam pertamanya" seloroh Kanaya membela, Ayrin justru berada di pihak Kanaya dengan ikut mentertawakan Edo. Ia tidak masalah cuti di malam pertamanya, karena Edo mengerikan kalau sudah berurusan dengan yang satu itu.


"Ah, gak asik Lo bales-nya. Masa gue cuti di malam pertamanya, kan gue mau bikin perhitungan sama Ayrin." Edo melirik ke arah Ayrin sembari mengeringkan matanya.


"Dih, perhitungan apaan?" Bantah Ayrin dengan alis saling bertaut.


"Kemaren Lo mancing mancing gue, tapi ujung-ujungnya gue di kacangin. Sakit Ay" ujar Edo dengan tampang sedih yang di buat buat.


Ayrin dan Edo masih berseteru, dengan saling beradu argument dan saling membongkar satu sama lain. Sementara Kanaya dan Ray menonton perseteruan mereka berdua, sesekali mentertawakan Edo yang selalu kalah dengan bantahan Ayrin. Di sela sela tawa-nya Kanaya sembari menyuapi potongan buah pear untuk Ray.


***


Kanaya menajamkan penglihatannya saat berjalan di lorong menuju kamar ruang rawat Ray, terlihat Raka tengah berbicara dengan seorang wanita berambut kecoklatan di depan pintu.


"Ray, itu calon-nya kak Raka?" Tanya Kanaya sembari berjalan di samping kursi roda Ray.


"Hu'um, dia calon istri Abang."


"Itu calon-nya Raka? Wehh maen-nya bule sekarang." Seru Edo ikut menimpali.


Edo menjawil dagu Ayrin gemas, pacarnya masih saja cemburu. Padahal sebentar lagi mereka akan menikah, dan itu semua tidak mudah. Jadi bagaimana mungkin Edo menduakan Ayrin.


Langkah mereka memelan begitu sampai di depan pintu ruang rawat Ray. Edo, Ayrin, Kanaya melempar senyum ke arah Davina tapi wanita itu...datar.


Davina tidak merespon senyuman mereka, ia belum terbiasa beramah tamah dengan orang yang baru di kenalnya. Bahkan sahabatnya yang luar biasa baik, tega menikamnya dari belakang.


"Hai, kenalin aku Kanaya." Kanaya mengulurkan tangannya ke arah Davina dengan senyum ramahnya.


Davina menatap uluran tangan itu malas, ia takut dengan orang baik. Ia menoleh ke arah Raka sekilas, pria itu tinggi itu mengangguk pelan.


"Davina" sahut Davina menyambut uluran tangan Kanaya.


Edo dan Ayrin-pun turut menyalami seraya menyebutkan nama mereka, memperkenalkan diri. Sementara Ray terlihat acuh.


Mereka semua memasuki ruangan Ray, dengan Raka dan Davina mengikuti dari belakang. Raka menemui ayahnya terlebih dulu di dalam kamar inap. Kemudian menuntun Davina masuk untuk memperkenalkan pada ayahnya.


Kanaya dan Ayrin berbisik di ruang depan, Edo hanya menggelengkan kepal sembari duduk di sisi ranjang Ray. Wanita selalu ada saja yang di bicarakan, apalagi jika sudah menyangkut dengan wanita lain, gosip itu terus berlanjut hingga matahari berganti bulan-pun mereka tidak menyadarinya.


Kanaya terus mengajak Davina berbicara, mulai dari negara asal, bagaimana ceritanya bisa bertemu dengan Raka dan lain lain, setidaknya membuat calon Kaka iparnya itu nyaman dan tidak canggung.


Davina memang tidak merespon banyak, ia hanya tersenyum samar dan menjawab sepatah dua patah kata. Matanya terus memperhatikan keakraban keluarga itu, mulai dari candaan konyol hingga umpatan kasar menjadi tontonan Davina disana. Ia mulai membiasakan diri, sepertinya mereka semua tidak memakai topeng seperti dirinya.


"Bulan depan, setelah Ray keluar dari rumah sakit. Acara pernikahan kamu dengan Davina akan di laksanakan." Ujar ayah Martin di sela sela obrolan mereka. Sontak semua-nya terdiam, terlebih Raka dan Davina.


"Itu gak terlalu cepat yah? Aku sama Davina belum kenal lama." Protes Raka, ia belum siap untuk menjalin ikatan suci, sedangkan ia dan Davina berawal dari hubungan pura pura.


"Kalian bisa saling mengenal lebih jauh setelah menikah." Ayah Martin tidak menerima bantahan. Setidaknya sebelum ia tiada, ia sudah melihat anak anaknya menikah.


Sementara Kanaya berseru kegirangan, begitu juga Ayrin. Mereka berdua seperti mendapat teman gosip baru, dan teman untuk di ajak berseteru.


Tiga jam sudah berlalu, Davina lebih banyak diam mengamati. Hingga akhirnya perkenalan itu berakhir, dengan menyetujui keputusan yang pertama_menikah bulan depan.


Ray menyetujui apapun keputusan ayahnya, setidaknya Kanaya ada yang menemani saat dirinya tengah bekerja. Meskipun Kanaya tidak pernah kesepian, dengan begitu banyaknya pelayan di rumah utama. Ray juga menyewa bodyguard khusus untuk melindungi Kanaya. Mengingat kejadian yang menimpanya beberapa hari yang lalu, tidak menutup kemungkinan Kanaya juga dalam bahaya.


Ray dan Kanaya tidak pernah menyadari jika seseorang mengawasi mereka diam diam.


🍁🍁🍁


Sampai sini dulu, maaf kalo lama 😂


Aku usahakan setiap hari up tengah malam 00:15. Tapi kadang review lama 😂