Only you

Only you
DRAMA DI PASAR UBUD



Siang itu Kanaya meminta Ray untuk menemaninya berbelanja oleh-oleh untuk kenang-kenangan, jelas saja Ray menolak keras. Berbagi cara Ray lakukan agar Kanaya mengurungkan niatnya berbelanja, jangan salah paham! Bukan karena Ray pelit tapi lebih ke MALAS. Ray hanya ingin berduaan saja di kamar bersama istri tercintanya.


Ayolah, jauh jauh ke Bali masa hanya untuk berdiam diri di kamar? Ini bukan sedang hari raya Nyepi. Akhirnya dengan segala drama yang Kanaya lakukan, mulai dari menangis, hingga tidak mau di sentuh, membuat Ray menyerah. Fine, Tentu saja Kanaya berjingkrak kegirangan, karena berhasil membuat Ray menuruti permintaannya.


Dengan segenap tenaga yang tersisa, dan tentu saja bercampur malas yang lebih mendominasi, untung cuaca hari ini sedikit mendung jadi Ray bisa bernafas lega.


Entah kenapa rasanya Ray sangat malas untuk keluar rumah, bahkan perutnya mulai terasa tidak nyaman.


Ray melepaskan genggamannya di tangan Kanaya, beralih merengkuh pinggang sang istri. Ia tidak bisa diam saja melihat tatapan para turis pria yang memandangi istrinya dengan bebas.


"Aww"


Kanaya terhuyung kebelakang ketika bahunya tidak sengaja bertubrukan dengan pejalan kaki yang melintas.


"Lo bisa jalan yang bener gak?" Ray menarik kerah baju seorang pria berambut pirang dengan rahang yang sudah mengeras.


"sorry I didn't mean to, are you okay? " kata pria asing berambut pirang itu, mengangkat kedua tangannya ke udara, menatap ke arah Kanaya dengan raut sesal.


"I-iya aku gak apa apa, oke" ucap Kanaya gugup. Lalu menarik lengan Ray yang masih setia mencengkeram kerah baju pria asing itu.


Ray melepaskan tangannya dengan sedikit dorongan, hingga pria asing itu terhuyung kebelakang. Kanaya tersenyum masam menatap pria asing itu, dan pada sekeliling orang yang menatap ke arahnya. Ia malu atas tindakan Ray tadi.


"Kamu tuh emosian banget sih, aku kan jadi malu tau di liatin orang-orang." Dengus Kanaya sebal dan berjalan mendahului Ray.


Lihat? Padahal Ray itu membela Kanaya, tapi justru ia yang di salahkan. Ck! Rasanya Ray ingin menarik Kanaya ke atas ranjang saja, membungkam bibir tipis istrinya itu yang cerewet.


Ray menghela nafas kasar, lalu mengejar sang istri yang mulai terlihat menjauh. "Sayang, tunggu."


Ini sudah kesekian kalinya mereka berdua berdebat masalah tempat membeli cenderamata, Ray mengajak Kanaya untuk ke tempat yang nyaman di Ubud Souvernir Market, namun dengan keras istri kecilnya itu menolak. Ingat! Kanaya menolak dengan serentetan ceramah yang membuat Ray gemas.


Gadis cantik dan lugu yang dulu Ray kenal kini berubah menjadi wanita yang menggoda, dan semakin berisik. Istrinya berjalan sembari menggerutu, istrinya bersikukuh untuk ke pasar tradisional yang terletak di pusat wilayah Ubud, tepatnya di Jalan Raya Ubud, Gianyar, Bali.


Istrinya ini ternyata sudah Googling, tentang pasar ini yang letaknya strategis, tepat di depan Istana Raja Ubud yang bernama Saren Ubud. Dan parahnya lagi, istrinya ingin berswafoto di tempat Julia Roberts yang membintangi film Eat Pray Love yang berada di dalam area pasar Ubud ini. Asshhh, ia baru menyadari betapa menyebalkan istrinya ini kalau sudah memiliki keinginan. Bisa tidak sih keinginan itu di ganti di atas ranjang saja?


Begitulah Ray, di saat rumit seperti ini masih sempatnya memikirkan ranjang. Memang ranjang adalah tempat favoritnya sejak dulu, tempat yang paling menenangkan.


Ray terus menggandeng tangan Kanaya sepanjang berjalan, tak pernah ia lepas sedikitpun, pasar ini cukup ramai, Ray tidak ingin Kanaya hilang di dalam pasar. Tidak lucu bukan?


Satu persatu Kanaya berhenti di stand perak, cincin, kalung dan gelang menarik perhatiannya. Di coba, di tawar lalu di tinggal begitu saja, Kanaya ohh... rasanya Ray ingin sekali menangis kalau setiap stand Kanaya bersikap seperti itu.


"Jadi kamu mau beli atau gak sih sayang?" Tanya Ray untuk kesekian kalinya, ia lelah berjalan kaki. Sungguh ini tidak bercanda.


"Belum ketemu yang cocok Ray" kini tangan halusnya mulai memilah kain, mulai dari dress rumahan yang sederhana hingga yang seksi.


"Ini harganya berapa?" Tanya Kanaya seraya memperlihatkan kain panjang yang biasa di gunakan untuk melilit pinggang.


Di pilih lagi lain corak, di pilih lagi lain model, hingga di tawar sampai si pedagang menyerah. Dan apa yang terjadi? Di tinggal. Oh God...


Ampuni hamba Tuhan, dosa apa yang hamba lakukan? Tolong hentikan...rapalnya sepanjang mengikuti Kanaya.


"Kalo kamu gak niat beli kenapa di tawar sayang? Tadi kasian loh si ibunya, udah ngasih harga yang kamu mau." Tanya Ray dengan menahan gejolak di dada. Ia usahakan selembut mungkin berbicara dengan Kanaya.


Menggeleng, itu respon Kanaya. "Gak tau Ray, rasanya aku gak tertarik lagi kalo si ibunya nyerah gitu aja. Jadi gak greget gitu."


Oh My God, Ray mengerang frustasi. Istrinya ini kenapa berubah menjengkelkan, sejak kapan Kanaya berubah menjadi kejam? Apa istrinya itu tertular sifat keras dan suka baku hantam darinya.


"Terus kamu maunya gimana sayang? Aku cape." Ray menangkup kedua pipi chuby Kanaya gemas, boleh tidak sih gigit sedikit saja? Itung itung menyalurkan rasa kesalnya.


Okeh, demi Tuan Crab yang gila uang, Ray menyerah lagi. "aku ikhlas sayang, apa sih yang gak buat kamu. Gunung pun aku panjat." Rayunya dengan senyum di paksakan.


Kanaya mengangkat wajahnya "Bener?"


"Serius" ujar Ray dengan senyum menyeringai, tentu saja Ray sanggup panjat gunung, gunung kembar milik Kanaya. Tertawa jahat, mudah sekali merayu istrinya.


Kanaya memeluk tubuh sang suami yang sudah merayu...ah tidak! Lebih tepatnya memanipulasi.


"Ray, aku pengin makan ice cream" kata Kanaya seraya melepaskan pelukannya, menjangkau wajah sang suami.


Akhirnya, Ray bernafas lega. "Ayo kita makan ice cream aja."


Ray berjalan mencari kedai ice cream yang tidak jauh dari tempatnya sekarang, berharap istrinya tidak berbuat yang aneh-aneh lagi.


Terlihat sebuah kedai ice cream dengan banner yang menarik, bahkan melihatnya saja sudah membuat ngiler.


Kanaya meminta Ray untuk duduk di kursi di area luar, sementara Kanaya masuk untuk memesankan dua porsi ice cream dengan toping yang berbeda.


Entah kenapa rasanya ingin memesan sesuatu yang berbeda.


"Mbak saya pesan satu Mint Chocolate chips dan satu porsi chookies and cream." Kata Kanaya dengan rinci menyebutkan rasa dan toping.


"okay, please wait a moment. " Jawab pelayan kedai ice cream yang ternyata orang asing.


Dengan senyum sumringah Kanaya menunggu, dan tidak lama pesanannya datang. Bahkan pelayan itu sampai menggelengkan kepalanya dengan pesanan Kanaya. Ternyata Kanaya menambahkan salah satu porsi ice cream itu dengan sauce cabai sebagai toping, bukan sauce strawberry.


"Ray, kamu cobain deh. Aku penasaran banget sama rasanya." Kanaya duduk di samping Ray, dengan wajah berbinar.


Ray mengerutkan dahinya bingung, kenapa ia yang harus mencoba? kalau Kanaya yang penasaran dengan rasanya. Perasaannya mulai tidak enak.


"Kok aku yang cobain? Kenapa gak kamu aja yang cobain sayang?" Tanya Ray seraya mencolek hidung mancung Kanaya, lalu melirik ice cream di hadapannya dengan ekspresi yang sulit di jabarkan.


"Aku mau kamu yang cobain, nanti kalo enak aku ikut makan." Pinta Kanaya...ah bukan! Tapi perintah.


Dengan helaan nafas dan di hembuskan lewat mulut, akhirnya Ray memakan ice cream-nya. Sementara Kanaya menyanggah dagunya dengan kedua tangan menatap sang suami menyendok ice cream itu dan memakannya.


Satu kata__ aneh. Itu yang Ray rasakan, manis campur pedas, yang benar saja?


"Ini rasa apa sayang gak enak banget. Aneh. Kok pedes ya?"


" Aku pakein sauce dikit, Gak enak ya? yaudah buat kamu aja. Habisin ya, sayang loh kalo di buang."


Lagi, wajah Ray berubah pias, seporsi besar ice cream Chocolat campur sauce, ayaahhh...


Sedangkan Kanaya dengan santainya, dan tanpa dosa melahap seporsi chookies and cream dengan hikmat.


🍁🍁🍁


Sabar bang Ray, jangan mau enaknya doangπŸ˜‚


Nurut aja, dari pada tar gak di bagi jatahπŸ˜‚πŸ˜‚


Gimana part ini? Skuy like komen vote.


Aku lanjut...