
Ray terbaring lemah di atas ranjang, di dalam ruangan dengan dominasi warna putih dan fasilitas yang luar biasa lengkap. Dengan selang oksigen yang menghiasi wajahnya, serta beberapa luka jahitan di dahi dan beberapa bagian tubuh lainnya.
Ray sudah di pindahkan ke ruang rawat inap, setelah beberapa jam lalu berada di ruang IGD untuk mendapat pertolongan pertama.
Ray mengalami Whiplash atau biasa di sebut ketegangan pada leher akibat peregangan atau robekan pada otot dan tendon di leher saat kecelakaan. Dan juga mengalami cedera di bagian bahu akibat benturan keras. Bahu Ray terkilir dan memar hingga mengakibatkan kerusakan pada otot, tendon dan ligamen di sekitar tangan dan bahu.
Martin terduduk lesu di sofa berwarna cream sembari memandangi wajah Ray yang pucat. Setidaknya Martin masih bisa bernafas lega, Ray tidak mengalami cedera otak, cacat atau lebih mengerikan dari itu_kematian.
Sampai saat ini Raka belum juga memberikan kabar tentang kecelakaan yang di alami oleh Ray. Jika kecelakaan ini karena di sengaja, Martin tidak akan tinggal diam. Martin tidak segan segan membalasnya dua kali lipat lebih mengerikan dari yang Ray alami.
Ketukan di pintu mengalihkan perhatian Martin, Raka sedang berjalan mendekat ke arahnya dengan ekspresi yang sulit di artikan.
"Gimana?"
Raka hanya menggelengkan kepala lirih, mendudukkan dirinya di samping ayah Martin.
"Untuk sementara Ray di nyatakan kecelakaan tunggal, karena tidak ada bukti atau saksi." Jelas Raka dengan helaan nafas berat.
Raka menoleh ke arah Ray yang tengah terbaring dengan masih memejamkan mata.
"Ray belum sadar?"
"Belum. Ray mengalami traumatis akibat benturan keras di bagian kepala." Ayah Martin sedikit nyeri mengatakan fakta itu.
"Kanaya gimana?" Ayah Martin tersadar, ia melupakan makhluk yang sangat berarti buat Ray.
Raka terdiam, ia belum mengatakan pada Kanaya tentang kecelakaan yang menimpa adiknya. Lebih tepatnya Raka bingung, bagaimana menjelaskannya agar Kanaya tidak terlalu khawatir.
"Kanaya telpon aku tadi, dia tanya Ray kemana? Kenapa belum sampai di rumah?"
"Terus kamu jawab apa?" Ayah Martin merubah posisinya menghadap Raka, dengan mengerutkan dahinya.
"Aku bilang Ray masih banyak pekerjaan. Jadi belum bisa pulang." Raka menyandarkan tubuhnya di sofa, sembari memejamkan matanya. Lelah.
"Aku juga udah tutup semua media berita yang mengambil gambar di lokasi kejadian. Agar Kanaya gak tahu, untuk sementara waktu. Seenggaknya sampe Ray sadar."
Raka sudah menutup semua media berita dari stasiun televisi maupun online. Mengerahkan semua anak buahnya untuk menyelesaikan semuanya, dan mencari siapa pelaku yang sudah menyebabkan Ray kecelakaan.
Bukan hal sulit bagi Raka mengetahui itu, ada seseorang yang berniat mencelakai Ray. Dari cctv dan saksi yang mengatakan jika ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi dan sengaja menyalip mobil Ray secara mendadak.
Raka tidak menceritakan hal itu pada ayahnya, biarlah itu menjadi urusannya.
"Ka-na-ya"
Martin dan Raka menoleh ke arah ranjang, kemudian saling pandang.
"Ayah dengar?" Tanya Raka antusias. Martin mengangguk mantap.
"Ka-naya"
Reflek, kedua pria yang nyaris mirip itu bangkit dari duduknya, segera menghampiri Ray.
"Kamu udah sadar?" Martin mengusap pelan bahu Ray. Sementara Raka memanggil petugas medis dengan menekan tombol Nurse call di bagian sisi ranjang.
Pintu terbuka, perawat dan dokter yang menangani Ray memasuki ruangan dan langsung memeriksa keadaan Ray.
Sebuah keajaiban tuhan, tidak ada yang fatal dengan organ tubuh Ray, semuanya hasil pemeriksaan CT-scan menyatakan Ray baik baik saja.
Setelah memeriksa keadaan Ray, dokter dan perawat keluar ruangan.
Ruangan dengan dominasi warna putih serta aroma khas rumah sakit membuat Ray menyadari dimana sekarang dirinya berada.
"Awww" Ray memegangi kepalanya yang nyeri.
"Jangan banyak gerak dulu."
Ray kembali memejamkan matanya sejenak. Sekujur tubuhnya terasa sakit, kepalanya pusing. Dan... lehernya, terasa di ganjal sesuatu, hingga ia kesulitan menoleh. Ray melirik dengan ekor matanya ke arah dua pria yang berdiri di samping ranjangnya.
"A-ayah. A-bang"
Martin dan Raka menghela nafas lega, setelah tadi ketegangan menyelimuti mereka berdua. Dari yang mereka tau, kemungkinan amnesia menjadi hal yang paling sering terjadi pada korban kecelakaan. Dan untungnya Ray tidak mengalami itu.
"Syukurlah kamu gak mengalami amnesia."
Martin mengusap kepala Ray, dadanya terasa sesak, ia benar-benar takut kehilangan Ray, putra kesayangannya. Martin merasa bersalah saat dulu ia pernah membuat Ray berada dalam kondisi seperti ini, dan itu karena kebodohannya mempercayai perkataan Marissa. Sekarang tidak akan terulang lagi, selain mempercayai keluarga sendiri.
Ray tersenyum samar, begitupun Raka yang tersenyum seraya menyeka ujung matanya. "Ini keturuna asli Febriano. Tangguh."
Ray tertawa pelan sembari menahan nyeri, sementara Martin tersenyum bangga. Ternyata darah tangguhnya mengalir di dalam tubuh anak-anaknya, menjadikan mereka pria yang kuat meskipun semua itu dengan campur tangan Tuhan.
"Kanaya mana yah?" Tanya Ray kemudian. Terakhir kali yang ia ingat, ia ada janji mengantarkan kanaya untuk makan soto di Bogor. Sebelum akhirnya ia mengalami kecelakaan dan berakhir di tempat ini.
"Kanaya belum tau, ayah gak tega ngasih taunya."
"Biar aku yang jemput Kanaya, sebelum Edo ngasih tau lebih dulu dan bikin heboh."
Ray tertawa pelan, ia tau maksud perkataan kakanya. Sahabatnya itu memang terkadang suka berlebihan.
"Rayyyy"
Suara teriakan di iringi pintu yang terbuka mengalihkan perhatian mereka bertiga, sementara Raka teridam di dekat pintu melihat Kanaya, Edo dan Ayrin berhamburan masuk ke dalam ruangan. Baru saja ia ingin menjemput Kanaya, ternyata benar dugaannya, Edo tidak bisa menjaga rahasia.
"Kamu jahat! ayah sama kak Raka juga jahat! Kenapa gak ada yang ngasih tau aku?! Aku sampe mau mati aja tau gak denger kamu kecelakaan."
Kanaya memeluk erat tubuh suaminya yang penuh luka, sementara Ray meringis menahan sakit. "Aww, sakit sayang."
"Aku gak peduli, aku mau peluk kamu." Rengeknya seperti anak kecil yang takut di tinggal.
"Gue yakin Lo selamet bro, malaikat segen nyabut nyawa Lo. Karena pasti Lo ngajak duel dulu."
Seebuah toyoran mendarat di kepala Edo, sontak seisi ruangan itu tertawa di buatnya. Raka menatap Edo tajam seakan ingin menelan Edo hidup hidup.
Sementara Edo memasang wajah bodohnya dengan menyengir kuda. Tiba-tiba Edo teringat sesuatu sebelum ia sampai ke kamar Ray.
"Oh iya Ray. Lo mesti tau ini. Tadi Kanaya nangisin mayat orang pas ngelewatin ruang IGD. Dia fikir itu Lo."
Kanaya menyembunyikan wajahnya malu di dada bidang sang suami.
"Dan parahnya lagi, Kanaya sampe berantem sama petugas medis, gara gara itu mayat di hajar sama Kanaya, biar bangun." Timpal Ayrin antusias.
Ruangan itu menjadi ramai seketika, tidak ada lagi kesedihan yang menyelimuti mereka.
Ray merengkuh punggung sang istri yang membenamkan wajah di dadanya, sembari ia tertawa pelan mendapati tingkah sang istri yang menjadi ganas semenjak hamil. Sisi Lucifer-nya ternyata menular pada yang istri.
🍁🍁🍁
Maaf kalo kurang greget 😂 aku gak pandai bikin sedih.