Only you

Only you
OY ~ 5.



Setelah Yoojin masuk rumahnya, aku langsung duduk disofa tanpa mengunci pintu rumahku. Aku yang kelaparan mulai gelisah mencari cara agar bisa menyentuh makananku.


"Astaga, aku sangat lapar." Aku menggumam sendiri sambil bersandar pada sofa kesayanganku.


Aku tidak menyadari kedatangan JB dan Samdong yang sudah ada didepan pintu rumahku. Mereka mendengar aku bergumam dan menertawakan aku yang menahan rasa lapar.


"Kamu bisa kok makan makananku," kata JB sambil masuk kedalam rumahku.


"Serius? apa boleh aku ...." belum sempat meneruskan ucapanku, Samdong sudah mengiyakannya.


"Silahkan saja." Samdong menyerahkan dirinya padaku yang sedang kelaparan.


"Nggak! aku nggak mau," ucapku.


JB melihat wajahku yang sudah pucat karena tidak menyerap energi sama sekali setelah menyentuh Yudha.


"Kenapa?" tanya JB.


"Hambar, semuanya terasa hambar! aku mau ayamku." Aku berteriak sambil merengek.


"Ayam? bilang dari tadi Hyemi, aku kan bisa beliin buat kamu," kata JB sambil tertawa.


Aku kesel sama JB dan Samdong yang menertawakanku. "Udah ah terserah kalian." Aku langsung masuk kedalam kamarku.


"Aneh banget tuh anak," ucap Samdong.


"Ya udah biarin aja, entar juga keluar lagi." JB sangat percaya diri dengan kata-katanya.


Selang beberapa menit JB merasa khawatir karena aku tidak kunjung keluar kamar. Akhirnya JB dan Samdong memutuskan untuk mendobrak kamarku karena aku tidak menjawab panggilan mereka.


Benar saja, aku pingsan setelah keluar dari kamar mandi, JB panik dan langsung menggendongku keatas ranjang. Kemudian JB menyuruh Samdong untuk menyalurkan energinya padaku.


"Hyemi! benar-benar bikin khawatir aja ini anak," kata Samdong.


"Sam, coba kamu salurkan energimu pada Hyemi." JB menyuruh Samdong memberikan energinya padaku karena aku memang sudah sangat kehabisan energi saat itu.


Samdong meletakkan tangannya diatas keningku dan akhirnya aku membuka mataku perlahan. JB menyambutku dengan perasaan lega setelah aku sadar.


Setelah aku mulai membaik, JB dan Samdong berpamitan untuk kembali ke asrama mereka. Karena mereka harus segera latihan musik.


***


Pagi hari yang sangat cerah, Yoojin ternyata sudah menungguku di depan pintu rumahku.


"Hyemi, sudah bangun?" tanya Yoojin.


"Yoojin, ada apa? pagi-pagi sudah disini," ucapku heran.


"Aku mau mengajakmu sarapan, aku sudah memasak khusus buat kamu," kata Yoojin sambil tersenyum.


Aku sedikit terkejut karena Yoojin yang biasanya tidak suka kalau ada orang yang masuk kedalam rumahnya, sekarang malah mengajakku untuk sarapan dirumahnya.


Aku mengiyakan ajakan Yoojin. Aku dan Yoojin duduk dimeja makan, suasana memang terlihat agak canggung karena mungkin aku tidak terbiasa sarapan dirumah orang. Atau bisa juga dikatakan aku tidak pernah sarapan.


"Yoojin, apa kamu tidak merasa risih ada orang lain duduk dan sarapan bersamamu?" Aku mulai bertanya untuk memecahkan keheningan dimeja makan.


"Aku juga nggak tau, aku merasa kalau cuma kamu itu tidak masalah asal jangan sembarangan pegang barang-barangku." jawab Yoojim sambil tersenyum.


Aku merasa tersentuh mendengar ucapannya, aku merasa special. Senyuman yang tidak biasa Yoojin tunjukan pada orang lain, kini dia menunjukkan senyuman itu padaku.


Selesai sarapan aku berniat untuk langsung pulang. "Yoojin, makasih ya sudah mau ngajakin aku sarapan," ucapku sambil tersenyum padanya.


Aku kemudian berjalan kearah pintu, tapi Yoojin tiba-tiba menghentikan langkahku. Dia memegang tanganku, aku sangat terkejut seakan tidak percaya kalau dia berani menyentuh tangan orang lain, dan orang itu adalah aku.


"Hyemi, bolehkah aku memelukmu?" Yoojin menatap lekat padaku.


"A-apa, pe-peluk? ...." Aku gugup saat mendengar Yoojin mengatakan itu.


Harusnya aku senang karena ini adalah saat-saat yang aku nantikan. Saat dimana aku bisa menyentuhnya dengan bebas. Tapi entah kenapa aku malah menjadi ragu dan gugup.


Aku belum menjawab pertanyaannya, tapi dia sudah memelukku dengan sangat erat. Jantungku berdetak kencang, perasaan aneh mulai menyerang hatiku dan pikiranku menjadi kacau tak beraturan saat itu.


Aku mencoba melepaskan pelukan Yoojin, aku tidak mau menyerap energinya lebih lama lagi. "Aku senang kamu sudah mau berusaha menyembuhkan OCD kamu," ucapku sambil melepas pelukan Yoojin.


"Nanti malam kamu mau nggak makan malam denganku?" tanya Yoojin penuh harap.


"Baiklah, sampai bertemu nanti malam." Aku lalu bergegas pulang dari rumah Yoojin.


Setelah sampai dirumah, aku langsung mandi untuk bersiap-siap berangkat kerja. Didalam kamar mandi, aku memikirkan ucapan Yoojin yang ingin makan malam denganku. Rasanya aku seperti terbang karena senang.


Aku berangkat ke studio karena jadwal pemotretanku sangat padat, makanya aku harus segera menyelesaikannya secepat mungkin agar bisa makan malam bersama Yoojin.


***


Pulang dari tempat kerja, aku langsung mandi dan bergegas kerumah Yoojin. Aku menekan bel dirumahnya, dan menunggu dia membukakan pintu untukku.


"Hyemi, ayo masuk." ajak Yoojin mempersilahkan aku untuk masuk.


"Terima kasih," ucapku sambil tersenyum.


Aku seperti tuan putri yang disambut oleh sang pangeran untuk makan malam. Aku sangat bahagia, tapi aku juga sedikit gugup. Mungkin karena baru kali ini ada yang memperlakukanku dengan sopan.


"Terima kasih," ucapku sambil duduk.


Yoojin hanya membalasnya dengan senyuman manis dibibirnya. "Hyemi, ada yang ingin aku katakan padamu," kata Yoojin ragu-ragu.


"Iya, katakan saja." Aku tidak tau apa yang ingin dikatakan Yoojin padaku, tapi itu sangat membuatku penasaran.


Yoojin mulai berbicara dengan rasa ragu. "Sebenarnya ... emm." Dia berbicara terpotong-potong. Aku semakin penasaran apa yang ingin dia katakan padaku.


"Iya, sebenarnya kenapa?" Aku tidak sabar mendengar apa yang ingin dikatakan oleh Yoojin.


Aku sempat berpikir apakah dia ingin menyatakan cinta padaku, betapa bahagianya aku kalau memang benar apa yang aku pikirkan. Jantungku mulai berdegup kencang, Yoojin tak kunjung berbicara sampai aku bertanya lagi padanya.


"Yoojin," ucapku memanggilnya.


"Ah, iya sebenarnya tadi ada yang mengirimkan aku ikan mas," kata Yoojin.


Kahayalanku hilang seketika setelah Yoojin mengatakan keraguannya itu karena ikan mas. Aku mencoba menutupi kekecewaanku saat itu.


"Kamu tau siapa yang memberikannya?" tanyaku pada Yoojin.


"Tidak," kata Yoojin.


"Apa kamu menyukai ikan mas itu?" tanyaku lagi.


"Aku tidak suka, tapi karena aquariumku juga kosong jadi tidak apa-apa aku pelihara saja. Kamu tau kan kalau ikan selalu membuang kotoran didalam air dan dia juga makan di sana, bukankah itu menjijikan," ucap Yoojin.


Aku tidak tau harus bicara apa pada laki-laki yang ada dihadapanku saat ini. Dia benar-benar gila kebersihan, sehingga ikan saja dia tidak menyukainya.


.


.


.


.


.


MAAF JIKA MASIH ADA KESALAHAN DALAM PENULISAN CERITANYA ...


**JANGAN LUPA LIKE, VOTE DAN BINTANG NYA YA ...


DUKUNGAN KALIAN AKAN MEMBUAT AUTHOR SEMANGAT UNTUK UPDATE BAB SELANJUTNYA...


NANTIKAN KELANJUTAN CERITANYA PARA READERSKU**** ...


TERIMA KASIH ...


IG : Blue Flower