Only you

Only you
Keputusan



Belda sudah beberapa hari tinggal dirumah keluarga Ganendra. Pada awalnya Regan berfikir setiap hari Belda akan menyambutnya setelah pulang bekerja seperti Bundanya yang selalu menunggu kedatangan Ayah. Nyatanya, saat Regan pulang bekerja Belda sudah masuk kamar, mereka hanya bertemu saat sarapan dimeja makan.


Regan tahu jika Belda pasti merasa kesal, marah atau kecewa pada Regan yang mengetahui kebenaran dari penyakit Damar tetapi tidak memberi tahu Belda. Tetapi lebih baik Belda meluaoakannya saja dsri pada mendiami Regan, video call dan telefon Regan tidak Belda angkat hanya pesan yang dibalas itu oun selalu dengan kata yang singkay.


Jadi pagi ini Regan bagun terlebih dahulu berdiri dideoan kamar Belda menunggu Belda membuka pintu kamarnya untuk membantu Bundanya memasak didalur seperti biasa.


Klek ...


"Hei"


Baru saja gagang pintu berputar, Regan sudah mendorong pintu kamar Gea yang di tempati Belda.


Seperti yang pernah Regan lakukan dulu saat berdua dengan Belda didalam kamar, mengunci pintu dan memasukkannya kedalam saku celana sehingga Belda tidak bisa keluar kamar.


"Mau marah, mau pukul atau mengumpat aku akan mendengarkan tidak akan melawan atau membalas" ucap Regan lembut.


Belda menghela nafas berjalan perlahan menghampiri Regan dan memeluknya erat.


Karena diluar ekpektasinya Regan terdiam beberapa detik sebelum membalas pelukan Belda tak kalah eratnya. Regan bahkan mencium puncak kepala Belda dan mengelus rambut panjang Belda yang tergerai.


"Ternyata tinggal satu atap tetapi kamu diemin lebih menyesakkan dari pada kamu minta aku menjauh" keluh Regan.


"Maaf" ucap Belda lirih.


Regan mengangguk pelan, melepas pelukannya dan menggenggam tangan Belda erat. "Aku tahu kamu pasti marah atau kecewa sama aku, lampiasin aja aku pasti dengerin."


Kepala Belda menggeleng pelan, "aku tahu kamu gak bilang karena Papa."


"Tapi kamu tetap kecewan mangkanya ngediemin aku."


"Awalnya iya, tapi dua tiga hari ini bukan karena itu" bantah Belda lirin menundukkan kepala dalam.


Kening Regan mengerut mendengarnya, menayao wajah Belda dalam. "Terus kenapa?" tanya Regan lembut.


Perlahan wajah Belda mendongak membalas tatapan Regan, tersirat keraguan dimatanya. Tangan Regan semakin mempererat genggaman tangannya.


"Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahku dan menjadi DJ Profesional" sangat cepat Belda mengatakannya.


"Apa?" tanya Regan mencoba memastikan apa yang dia dengar benar.


Perasaan takut memenuhi dada Regan, terlihat dadanya naik turun menahan emosi, bahkan matanya mulai menyorot tajam.


Belda kembali memeluk Regan erat, "aku pernah mengatakan ingin lulus kuliah agar sejajar berdiri disamping kamu yang sempurna, dan kamu malah mengatakan kamu tidak perduli dengan pandangan orang. Jadi Re ..."


Suara Belda hang mengganyuk semakin membuat Regan mengelalkan tangannya, bahkan dia tidak menundukkan kepala membalas Belda yang mendongakkan kepala menatapnya.


"Apa kamu tetap mau mempertahankan hubungan ini jika aku tidak melanjutkan kuliah dan memilih menjadi DJ Profesional?" tanya Belda lirih.


Regan melepaskan pelukan Belda kasar, membuang muka lalu melirik Belda tajam, "apa kamu mengujiku?" desis Regan tajam, "aku benar-benar malas berbicara berulang kali Qe ..."


"Re aku ..."


"Kamu selalu berulang kali mengungkit perkataan yang sama, tentang status kita yang tidak sejajar dan Pak Damar. Came on Qe ... aku juga mempunyai batas kesabaran." Regan berbalik badan menyeka rambutnya melampiaskan kekesalannya, "meski sesibuk apapun aku selalu berfikir untuk bisa menempatkan diri disisi kamu, bisa lebih dekat denganmu sehingga kita bisa mengerti satu sama lain, but you always push me away ... apa kami tidak sadar?."


Regan memukul keoalan tangannya pada rolling branda kamr Gea berkali-kali melampiaskan kekesalannya.


Tidak ada jawaban dari Belda, Regan berbalik badan menatap kedalam kamar yangbternyata Belda masih berdiri ditempatnya yang tadi menatao kosong kedepan.


Tring ...


Satu pesan masuk kedalam ponsel Regan.


Regan mengeluarkan ponselnya dari saku celana, ternyata pesan dsri Abra.


Penandatanganan kepemilikan Rumah Sakit dan Perusahaan Ganendra Group akan dilakuakan jam sepuluh.


Cepat keluar Bundamu mulai mengomel akan secepatnya menikahkan kalian kalau kamu gak keluar dalam lima menit.


Regan tertawa kecil membaca pesan Abra.


Menikahkan?


Hubungan mereka saja begini bagaimana mau dinikahkan secepatnya.


Regan kembali masuk kedalam kamar berdiri tidak jauh dihadapan Belda yang masih menatao kosong kedeoan.


"Memang lebih baik kita diam tidak membicarakan apapun, mulai sekarang kita akan berbicara masalah hubungan kita tidak untuk yang lain" putus Regan.


^-^


Diambang pintu kamar Gea yang terbuka, Ara berdiri menatao Belda yang sedang berkemas memasukkan semua bajunya kedalam tas.


Tadi Regan tidak sarapan bersama, Belda juga tidak seperti biasanya yang banyak bicara saat membantunya bahkan waktu mereka membersihkan meja setelah saraoan Belda mengatakan akan kembali ke apartemen, saat Ara bertanya Regan sudah tahu atau belum Belda hanya tersenyum kecil.


"Apa kalian ada masalah?" tanya Ara.


Belda yang semua sibuk memasukkan bajunya kedalam tas berhenyi, perlahan tubuhnya berbalik dan menatap Ara dengan senyum segarisnya.


"Belda mau meraih cita-cita Belda dulu Bun, sebelum meraih cita-cita masa kecil Belda yang ingin menjadi ibu rumah tangga seperti Bunda" ucap Belda.


Ara melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri Belda, "apa itu yang membuat Regan tidak sarapan bersama?" tanya Ara ragu dengan pertanyaannya, karena dia yakin Regan tidak akan menghindari Belda tidak saraoan bersama.


Padahal beberpa hari sebelumnya Regan selalu tampak tidak sabaran untuk saraoan bersama terutama dengan Belda yang akan duduk disampingnya.


Jika Belda ingin meraih cita-citanya Regan pasti akan mendukungnya.


Kepala Belda menggeleng pelan, "Re tidak memberikan Belda waktu untuk berbicara banyak dan menjelaskan semuanya" ucap Belda begitu lirih, tetap dengan senyum segarisnya yang terukir dibibir Belda. "Dia sepertinya sedang banyak pikiran sehingga terlihat tidak sabaran hehee ..." Belda tertawa kecil diakhir kalimat.


Ara yang emlihatnya mengerutkan kening menatap Balda aneh.


Regan dann Abra memang sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan pemindahan warisan hak milik mereka, bukan hanya Regan yang tidak sabaran jika sedang banyak pikiran dan lelah, Abra terkadang juga melakukan hal yang sama.


Dret ...


Ponsel Belda bergetar.


"Teman Belda sudah menunggu didepan, terima kasih atas segalanya Bun" ucap Belda tulus.


^-^


Melihat Ara dan berada disamping Ara selama beberapa hari Belda teringat akan cita-citanya dulu yang dia ungkapkan pada Mamanya sebelum meninggal.


"El mau jadi kayak Mama yang selalu ada dan ngurus El"


Kata-kata itu kembali dia ingat saat Ara mengurus si kembar Bilqis dan Chaka yang terlihat telaten dan penuh kasih sayang.


Alasan dia tidak berbicara banyak dengan Regan karena Belda sedang menyusun kata yang ingin dia ucapkan pada Regan, tetapi Regan lebih dulu emosi tidak mau mendengarkan kalimat selanjutnya.


"Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahku dan menjadi DJ Profesional, cita-citaku saat kecil ingin menjadi seorang ibu rumah tangga seperti Bunda Ara. Saat besar aku malah menyukai DJ, aku memilih jurusan keperawatan bukan karena ingin menjadi perawat tetapi hanya teringat Mama yang dulu sakit tidak ada yang merawat. Lagi pula kalau ada anggota keluarga kita nanti sakit ada kamu yang bisa menjadi dokter pribadi keluarga kita."


Belda ingin mengatakan semua kalimat itu, tetapi tidak bisa dia ungkapkan.


"El!"


Damar memanggil Belda dengan menepuk pundaknya pelan, menyadarkan Belda dari lamunannya.


Belda berdiri menghela nafas menatao batu nisan didepannya.


Hari ini dia, Damar dan Sonia bersama-sama kemakan Mama Belda, setelah Damar dan Sonia memutuskan untuk keluar dari rumah Cakrawansa meninggalkan Mama dan Adik Sonia.


"Kakak" panggil Sonia.


Belda menoleh pada Sonia tersenyum segaris menunjukkan jika dia baik-baik saja.


Kita hanya butuh waktu Re


^-^


.


Marilah kalian smeua memutar otak 🤣


Maapkan diri Author yang iseng 😉


Seneng, Gemas, Seding and ... Kok gini ?


Acung jempol 👍 bagi yang merasa begitu dari beberapa bab terakhir 😁


Terima kasih sudah sudha oada mamoir dan memberi dukungan pada Author 🙏


Love you 😘


Unik Muaaa