Only you

Only you
Marah



Membawa ketiga temannya kerumh sakit bukanlh ide Regan, tapi mau bagaimana lagi jika mereka terus saj membuntuti Regan setelah Regn bgun tdur dn membuka pintu kamarnya.


Turun dari mobil semua menoleh keknan dn kekiri, meski tahu apa yang membuat mereka keheranan Regan tidak memperdulikan malah berjlan meminggalkan mereka bertiga masuk kedalam rumah sakit.


Beberapa perawat dan dokter yang mengenal Regan sempat menghentikan langkah Regn sejenak tetpi dia kembali melangkahkan kakinya menujunkamar inap Belda.


Perlahan Reganmembuka pintu kamar Belda, Regan pikir Beld masih tertidur tetapi setelah pintu terbuka lebar kasur pasien terlihat rapi tidak ada tanda-tand kehidupan.


"Ar kita ngapin kesini?" tanya Javir.


"Bukannya lo mau ketemu Belda?" timpal Aslan.


Regan tidak mengindahkan pertanyaan mereka, Regan malah mengeluarkan ponselnya mencari nama Bagur dikontak dan mendeal nomernya.


Jika menelfon Kara tau Belda langsung, Regan yakin mereka tidak akan mengangkatnya, tetapi jika dengan Bagus dia yakin akan langsung diangkat karena Regan akan mentransfer uang setiap kali pria itu membuka mulutnya tentang kabar Belda.


"Belda dimana?, kenapa gak ada di kamar inapnua?" tanya Regan langsung to the poin saat Bagus mengangkat langgilan telephonenya.


"Sudah pulang tadi siang, sekarng dia tampil"


Tangan Regan langsung mengepal.


Menutup panggilan thephonnya secara sepihak dan berjalan cepat keluar dari kamar inap Belda sebelumnya.


Aslan, Javir dan Alaric hanya saling tatap tidak berani bertanya karena raut wajah dan tatapan mata Regan memancarkan amarah.


"Moodnya buruk" keluh Alaric sebelum melangkahkan kakinya mengikuti Regan.


Sikap Regan tidak seperti tadi saat masuk rumah sakit yang membalas dengan ramah sapaan orang-orang yang menyapanya, kali ini Regan hbya mengangkan tangannya dan terssnyim segris terus melangkah dengan cepat.


Saat mereka sudah hampir sampai kedekat mobil, Regan mengeluarkan ponselnya melcak keberadaan Belda saat ini.


"Al ... lo yang nyetir" printah Regan sambil menjulurkan ponselnya pada Alaric.


Meski sebenarnya malas Regan perintah-perintah Alaric tetap saja memutari mobil duduk dibelakang kemudi.


^-^


Clubing, sudah lama Regan tidak menginjakkan kaki didunia malam karena selain memang tidak menyukainya Regan mencob menghindari segala sesuatu yang membuatnya semakin memicu rindunya pada Belda.


Dan ini adalah pertama kalinya dia menginjakkan kaki disini setelah dua tahun lamanya, lagi-lagi karena Belda.


Mata Regan langsung menyorot pada Belda yang sedang perfome diatas stage, amarah Regan seakan semakin berkobar melihat penampilan Belda yang memggunakan crop top putih, celana jeans sepaha dan jaket kulit hitam. Memang tidak terlihat terlalu tebuka tetapi dimata Regan terlihat menggemaskan dengan rambut di cepol dua, mana mau Regan membaginya dengan yang lain?.


Kesal yang sudah sampai diubun-ubun, Regan melangkah lebar menghampir Kara dan Bagus, berdiri didepan mereka dengan tatapn amat tajam.


"Bisa kita bicara?" tanya Regan dengan nada datarnya.


Kara melirik pada Bagus, kepala Bagus mengangguk peln menyetujuinya.


Bagus berjalan terlebih dulu diikuti Regan dan Kara di belakangnya, sedangkan Aslan dan yang lainnya lebih memilih duduk di bar menikmati musik yang dimainkan Belda yang sudah lama tidak mereka nikmati.


Diruang pengganti Regan menatap Kara dan Bagus bergantian dengan tatapn tajamnya.


"Siapa yang memperbolehkan dia keluar dari rumah sakit?" tanya Regan dengan suara rendah.


Kara menyenggol Bagus memintanya untuknmenjawab, terlihat wajah Kara yang memucat tidak berani membalas tatapan Regan yang mengintimidasi.


"Gak ada" jawab Bagus dengan santainya tampa merasa bersalah "dia yang memaksa keluar dari rumah sakit sampai ngancam-ngancam segala."


"Kita udah mencoba melarang tapi dia gak dengerin" cicit Kara.


"Kenapa gak nelpon gue?"


"Mana sempet" sanggah Bagus, "kita saja tadi lusing di marah-marah sama perawat."


"Kita malah khawatir sama tangan dia yang berdarah karena dia mencabut infus di tangannya sembarangan" jelas Kara dengan cepat.


Regan melirik Kara yang menatap kelain arah bukan padanya.


"Dia bahkan ngancam kita mau pulang sendiri, gimana gue gak khawatir di aja gak hafal alamat tempat tinggal kita, ini negara orang ... kalau dia ngilang brabe, yang ada lo malah bunuh kita" bela Bagus.


Regan menghela nafas berat, Belda yang keras kepala memang susah diatur sejak dulu, jika dia tidak keras kepala bukan Belda namanya.


Tampa adanketukan pintu Beld menerobos masuk dengan Aslan, Javir dan Alaric dibelakangnya. Yang oertama kali Belda tatap bukan Regan melainkan kedua temannya Kara dan Bagus memastikn keadaan mereka jika baik-baik saja.


"Kalian gak di apa-apain kan?" tanya Belda khawatir.


"Kamu pikir aku ngapain mereka?" tanya Regan mendesis menahan amarah.


Belda melangkah dan berhenti tepat didepan Regan sambil berkacak pinggang, "siapa tahu kamu mengamuk?" sahut Belda.


Regan berdecak kesal, "ya ... aku ingin mengamuk tapi keburi kami datang, berhubung kamu sudah disini sekarang jelaskan kenapa kamu keluar dari rumah sakit seenaknya?"


"Karena aku sudah sembuh"


"Sembuh dari mana?, kamu masih pucat begini."


"Enggak kok!"


Mata Belda melotot, begitupun dengan Kara yang tak terima hasil dandanannya dirusak begitu saja dengan Regan.


Javir dan Alaric terkekeh melihatnya.


Pipi Belda terlihat memerah, dia mendorong dada Regan menjauh dan memukul-mukulnya dengan kesal.


"Ah ... kenapa dirusaki sih ..." protes Belda berteriak kesal.


"Untuk nunjukin wajah pucat kamu"


"Tapi gak ngapus lipstik aku juga!"


Kening Regan mebgerus mendengan kalimat yang Belda ucapkan dengan emosi. "memangnya kenapa kamu juga sudah tampil?."


"Tapi diluar banyak orang yang masih nung ..."


Mata Regan semakin melotot tajam menatap Belda penuh amarah, sehingga Belda menyadari kesalahan apa yang dia katakan dan mengulum bibirnya sambi tersenyum.


"Apa kamu menyukai salh stu diantara mereka?" tanya Regan terdengar dingin.


Suasana di dalam rungan gnti Belda serasa berubah mencekam, semua yang hadir dapt merasakannya.


Mata Bwlda memicing, "kalau ternyata aku me ..."


"Jangan memancingnya" potong Aslan lantang.


Aslan melangkah berdiri disamping mereka berdua, tetapi tatapan matanya tertuju pada Belda.


"Dia lagi menahan marah jangan memancingnya, apa lo gak lihat kepalanya mau meledak gitu?" Aslan terkekeh kecil.


Belda langsung cemberut, dia tahu jika Regan sedang menahan marah, tapi dia kan juga ingin bermain dengan emosi Regan setelah sekian lama tidak mempermainkannya.


Tangan Aslan menepuk pundak Regan pelan, "jangan marah-marah nati kalau sampek apa yang lo rencanin gagal gimana?."


Tepat setelah Asln mengatakannya ponsel Alaric berdering nyaring membuat semua menoleh pada Alaric secara bersamaan.


Alaric terbelalak setelah membaca nama penelpon yang muncul dilayar ponselnya, tangan Alaric langsung memperlihatkan layar ponselnya.


Bunda Ara


Wajah Regan yang tadi memancarkan amarah berubah perlahan menjdi seratus delapan puluh derajat, Regan malah mengulum bibirnya menyembunyikan senyumnya.


Aslan menyentuh layar ponsel Alaric mengangkat panggilan Ara. "Hallo Bun ..." sapa Aslan lembut.


"As?, oh ... kalau ada As berarti Ar disana juga ya?" tanya Ar dengan riang.


"Iya Bun, Ar disamping As, Al sama Je juga kok."


"Bagus kalau begitu, tolong di load speaker speaker biar Ar dengar."


"Sudah Bun"


Tidak langsung terdengar apa yang akan Ara katakan, melainkan yang terdengar adalah helaan nafas membuat semua diam senyam menunggu.


"BUBDA SUDAH TIBA DI BANDARA, BUNDA TUNGGU KAMU DAN BELDA DIRUMAH SEKARANG!"


Bukan hanya teriakan, tetapi terdapat amarah yang menggelegar sehingga Belda terkejut mendengarnya.


Sedangkan Regan malah tertawa kecil, jika dirinya yang melamar bahkan lebih tepatnya meminta Belda menikah dengannya selalu Belda tolak, Regan akan membuat semua orang yang meminta Belda untuk menerimanya.


Setelah Ara memutuskan panggilan secara sepihak, Aslan menepuk pundak Regan beberapa kali menunjukkan kebanggannya.


"Otak lo emang gak bisa diragukan" ucapnya.


"Sepertinya drama akan ditutup dengan amukan Bunda" ucap Alaric tersenyum simpul.


"Dua jempol buat lo" timpal Javir.


Belda yang tidak mengerti apa yangbmereka bicarakan hanya tolah toleh pada Regan dan ketiga temannya, begitu pula dengan Bagus dan Kara.


"Sebenarnya ada apa sih?"


^-^


.


Jangan lupa πŸ”–Votenya ya Readers ...


Selamat hari senin, selamat menjalani aktivitas kalian πŸ₯° selalu semangat dan bersyukur πŸ˜‡


Thank you πŸ™


Lop you 😘


Unik Muaaaa