Only you

Only you
Workaholic



"Tambah ganteng aja Dokter Adam"


"Anak gue lasti cakep-capek kalau dapat suami macam dia."


"Jadi ser ser ser gue."


"Boleh gak sih pegang dadanya?."


"Ngapain?"


"Ingin liat kotak-kotak roti sobeknya ada berapa."


Telinga Mela yang mendengarnya serasa pengang, para perawat dan dokter-dokter muda selalu membicarakan Regan dibelakangnya.


Pria itu juga ngapain telalu rajin sampai menjadikan rumah sakit menjadi rumah utama, padahal dia punya rumah Ganendra yang mewah dan Raja Crown. Mela samapai tidak tahu juga kapan Regan tidur, setiap kali Mela masuk pagi atau dapat shift malam Regan pasti ada.


"Terima kasih atas waktunya, selamat bertugas kembali"


Regan turun dari panggung, buru-buru Mela melangkahkan kakinyabmenyusul Regan.


Meski sempat Regan tidak terkejar, Mela sudah tahu kemana arah tujuan Regan, antara ruangannya dan ruang ICU, dua tempat itu adalah tempat favorit Regan jika di rumah sakit.


Tepat sebelum Regan masuk keruang ICU Mela memanggilnya dengan panggilan kesayangannya saat mereka SMA dulu.


"Adek Ar ... Dedek Ar ..."


Didepan pintu ruang ICU yang terbuka Regan menghentikan langkahnya, perlahan dia menoleh menatap tajam pada Mela yang berjalan dengan terburu-buru menghampirinya.


Tidak ada raut wajah takut melihat tatapan tajam dan mengintimidasi dari Regan, malahan Mela membalasnya dengan tatapan yang tidak kala tajamnya juga.


"Maaf dok ada waktu sebentar?" ucap Mela dengan mengatupkan giginya menunjukkan kekesalannya.


Sebelah alis Regan terangkat mendengarnya.


"Anda mau bicari disini atau diruangan anda terserah" senyum lebar yang penuh ancaman.


^-^


Kedua tangan Regan masuk kedalam saku jas putih yang dikenakannya tampa berpikir dua kali dia langsung putar badan memilih untuk meladeni Meala diruangannya saja dari pada perempuan didepannya lepas kontrol nanti bisa menjadi tontonan satu rumah sakit.


"Apa sesibuk itu seorang direktur rumah sakit?" tanya Mela.


Regan hanya meliriknya sejenak, mereka terus melangkahkan kaki menuju ruangan Regan.


"Sebenarnya karena pekerjaan seorang direktur rumah sakit yang bejibun atau sengaja tebar-tebar pesona?, kalau beneran TP TP aku aduin ke dia baru tahu rasa" ancam Mela.


Regan berdecak pelan, "kita bicara diruanganku" ucap Regan tegas.


Dari jauh terlihat pintu ruangan Regan yang terbuka lebar, masih Regan ingat jika dia menutup rapat ruangannya.


Satu ... dan dua orang yang dia kenal membawa barang-barangnya keluar dari ruangan, Regan langsung melangkah lebar menghadang dua orang itu, Fani dan Nanda yang ditugaskan Ayahnya selalu menemani Ara.


"Kemana kalian bawa barang-barang gue?" tanya Regan dingin.


"Bunda yang menyuruh, permisi" jawab Fani singkat.


Regan menoleh pada Mela yang berdiri tidak jauh darinya, peremouan itu hanya mengangkat bahu menandakan jika dia tidak tahu apa yang terjadi.


Fani dan Nanda pergi begitu saja, Regan melangkah dengan cepat masuk kedalam ruangannya disusuk Melda dibelakang.


"Jangan dengan dia Kak, nunggu aku besar saja"


Regan menatap keseluruh ruangan, ternyata sudah ada Ara yang sedang membereskan meja kerjanya, Bilqis dalam pangkuan Tari dan Chaka entah videocal dengan siapa berkeliling memutari ruangannya.


"What happened Mam?" tanya Regan berjalan mebghampiri Ara.


Ara yang sibuk membereskan meja Regan langsung berhenti, menoleh menatap Regan tajam sebelum berjalan cepat dan menjewer telinganya.


"Udah lupa pulang, jadi gila kerja gini. Lupa masib punya orang tua yang masih hidup?, kirim pesan saja tidak pernah, kamu kira kami tidak khawatir meski kamu sudah dewasa sampai kapanpun kamu tetap anak kami, kurang rang ajar ...." omel Ara terus saja panjang.


"Aw ... sakit Bun ..."


Seruan teriakan Regan yang kesakitan tidak Ara hiraukan, sebenarnya bisa saja Regan melawan dan melepaskan diri dari jeweran Ara, tapi mana mampu Regan mendengar omelan Ara yang akan semakin panjang kali lebar kali tinggi nantinya.


Terdengar tawa Mela, Tari dan Bilqis yang menggema.


"Pulang sekarang, kalau enggak Bunda akan buat keributan diluar" ancam Ara.


Tangan Regan mengusap-usap telinga bekas jeweran Ara.


Chaka tertawa ditempat duduk belakang meja kerjanya, kamera ponsel belakangnya masih saja terarah padanya.


"Memangnya Bunda gak malu buat keributan disini?"


Mata Ara melotot tajam, "kamu kira Bunda gak bisa?. Meskipun Bunda malu, Bunda masib ada Ayah yang bisa buat kamu turun dari kedudukanmu."


"Mana bisa Ar sudah direktur disini"


"Oh ... kamu menyepelekan Ayahmu?, kamu nantang?."


Kepala Regan langsung menggeleng cepat melihat Ara sudah semakin emosi.


"Wahahaha ... diluar penuh karisma tapi hati hello kitty" hujat Chaka sambil memeletkan lidah.


Regan memelototinya, "HEH KAMU ..."


Plak ...


"Jangan berani bentak-bentak adikmu!" tegur Ara.


Chaka semakin tertawa ngakak, ponselnya tetap mengarah pada Regan yang membuat Regan penasaran dengan siapa Chaka melakukan panggilan video cak sampai tertawa lepas tidak seperti biasanya.


^-^


Ngakak ...


Belda tertawa sampai guling-guling diatas kasur melihat layar ponselnya.


Belda sedang melakukan video call dengan Chaka, anak itu sering menghubunginya sekedar nanya kabar atau hanya bercerita tentang apa yang dialaminya disekolah.


Hari ini Chaka tiba-tiba menghubunginya menggunakan video call, sebenarnya Belda malas untuk mengangkatnya, dia kelelahan setelah seharian harus berlatih tapi karena tidak bisa tidur akhirnya dia menghubungi Chaka balik, dan dia tidak menyesal melakukannya.


Melihat Regan berjalan dengan cepat Belda langsung memutuskan panggilan video callnya dengan Chaka dan ...


"Wahahahaaa ..." akhirnya Belda bisa tertawa lepas setelah menahan tawa.


Belda tertawa sambil terlentang diatas kasur, jarinya mengetuk layar ponsel hingga menyala dan menunjukkan wallpaper screenlock dia dan Regan saat di pulau Gili Madura dulu.


"Baru beberapa minggu aku kangen Re" ucap Belda lirih.


Terus saja Belda menatap layar ponselnya hingga perlahan matanya memberat dan tertutup.


Pintu kamar Belda terbuka, Kara masuk tampa mengetuk pintu


"Bee lo ..."


Suara Kara serasa tertelan melihat Belda tertidur dengan ponsel ditangannya.


Kara tersenyum menghela nafas lega berjalan mendekati Belda, masih ada dua jam lagi sebelum Belda perfome di club kenalan Satya, Kara akan membiarkannya tidur sejam.


Sejak meninggalkan Indonesia jadwal Belda begitu padat, meski ada waktu istirahat Belda jarang tidur, dia akan menyibukkan diri dengan segala hal yang sebenarnya tidak penting, Kara dan Bagus memintanya untuk istirahat tetap saja kesulitan kecuali mereka diam-diam memberikannya obat tidur.


Dan sekarang Kara melihat Belda tidur dengan senyum terlihat damai, tidak tega dia membangunkannya.


Kara mengambil ponsel Belda, memotretnya dan mengunggahnya di Insta pribadi milik Belda dengan chaption :


DJ Queen_Bee akhirnya si Queen Bee tertidur 😇 Terima kasih 🥰


^-^


Regan benar-baner kekenyangan gara-gara Ara memaksanya untuk menghabiskan makanan yang dia sediakan.


Perut kenyang telinga Regan pengang, sambil makan Ara mengomelinya setelah si kembar dan Abra selesai malan dan pergi entah kemana.


"Hei Workaholic!"


Regan menghentikan langkahnya yang akan menaiki tangga, dia menoleh kesumbersuara yang berasal dari kamar sikembar. Abra berdiri disana tersenyum simpul pada Regan.


"Pelarianmu sama dengan Ayah" Abra mengacungkan jempolnya, "Ayah dulu begitu saat Bundamu pergi, tapi ingatlah pulang ... disini ada yang menunggu dan mengkhawatirkanmu."


Regan hanya membalasnya dnegan ssnyjm segaris dan menganggukkan kepala sebelum kembali melanjutkan langkahnua masuk kedalam kamar.


Lampu kamarnya langsung Rwgan matikan dan hanya menyisahkan lampu tidur diatas nakas, mengunci pintu dan menutup jendela.


Setelah duduk di atas kasurnya Regan meraih leptopnya diatas nakas dsn mulai menbukanya, jarinya mulai memencat timbol-tombol keyboard.


Terasa lega setelah berapa saat berkutat dengan tombol keyboard leptopnya Regan menatap layar leptopnya yang menunjukkan lokasi Belda, membuka Insta Belda di ponselnya yang menampilkan foto Belda sedang tidur.


"Bagun tidur langsung kerja ya Qe?" tanya Regan sambil menatap layar ponselnya, "kenapa malah sama denganku?."


Rindu ...


Jangan pernah bertanya tentang kata itu, Regan benar-benar merindukan Belda. Dia menjadi Workaholic dan Stalker dadakan selepas Belda demi meminimalisir perasaan rindunya.


^-^


.


*Hello ...


Mari mengjitir mundur ...


Jangn lupa 👍Like dan 💬 Komennya para* Readers *yang budiman ...


Terima kasih sudah mampir🙏


Love you😘*


Unik Muaaa