Only you

Only you
Pergi



Jam satu dini hari.


Gea keluar mengendap-ngendap keluar dari dalam kamarnya, dia melangkahkan kakinya perlahan sebisa mungkin tidak memenimbulkan bunyi.


Malam ini Belda akan pergi, sebagai partnernkerja dan teman dia ingin mengantarnya. Kedekatam mereka sudha seperti saudara sendiri sejak Belda dan Regan terang-terangan berpacaran.


"Mau kemana?"


Deg ...


Langkah kaki Gea langsung terhenti, itu suara Regan. Gea berdiri tegap mencoba agar tidak terlihat gugup atau semacamnya. Kepala Gea menoleh kekanan dan kekiti tetapi tidak ada sosok Regan.


Detak jantungnya mulai terpacu cepat, lampu rumah yang hampir keseluruhan dimatikan hanya memancarkan cahaya remang-remang semakin membuat suasana semakin horor saja.


"Ar ..." panggil Gea sangat lirih memastikan jika yang memanggilnya tadi adalah Regan.


Tidak ada sahutan.


Tap ...


Tap ...


Tap ...


Malah terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekatinya, sepertinya dari arah dapur. Bulu kudu Gea langsung berdiri, Gea semakin merapatkan jaket yang dia kenakan.


"Ar ..." panggilanya lagi.


"Apa?"sahutan yang lirih terdengar cukup jelas.


Gea lansung terperanjat, matanya melotot, suara yang mirip dengan Regan sangat dekat dengannya, bahkan terdengar dari belakang tempatnya berdiri.


Perlahan Gea berbalik badan dengan takut dan debaran didadanya semakin kencang seakan siap untuk meledak kapan saja.


Hal yang pertama dilihat Gea, tangan yang memegang sesuatu yang berwarnah merah pekat bahkan mengotori mulut dan pipinya juga, tubuh Gea semakin bergetar ketakutan, tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak.


"Aaahha .... ep ..."


"Apan sih!."


Gea yang akan berteriak kencang langsung Regan sumpal dengan chicken wings balado kesukaannya yang ditangannya.


Mata Gea melotot kesal, membuang sayap awam dimulutnya kesembarang arah dan memukul Regan membabi buta.


"Ih ... ngeselin ... kurang ajar dasar ... an"


Plok ...


Telatak tangan Regan membekap mulit Gea, "gak boleh ngomongbkasar ketahuan Bunda dijewer loh."


Semakin kesal rasanya, Gea menginjak kaki Regan hingga Regan meringis kesakitan


"Gak bisa apa lo gak ngagetin?"


"Siapa yang ngagetin coba?"


Regan menatap penampilan Gea dari atas hingga kebawah bahkan dia juga menoleh kekanan dan kekiri mencari sesuatu membuat Gea risih ikut menoleh mengikuti Regan.


Merasa bodoh Gea memukul lengan Regan, "apaan sih ... emangnya cari apa coba."


"Cari koper" ucap Regan sekenanya.


"maksud lo?" tanya Gea dengan nada sewot.


"Saat lo ulang tahun malamnya lo ngilang, siapa tahu saat ulang tahun gue lo juga mau gitu."


Gea memutar bolah matanya jengah, "ya elah ... kayak gak punya kerjaan apa gue ngilang saat ultah lo?."


"Siapa tahu" Regannkembali memperhatikan baju yang dikenakan Gea, "lo juga pakek baju ginian sudah malam, emangnya lo mau kemana?."


Pertanyaan Regan membuat Gea meringis kecil, niatnya tidak ingin bertemu Regan agar dia teguh pendirian tidak memberi tahu Regan agar pria dihadapannya ini dapat pelajaran dari keegoisannya.


Wajah Regan yang menunjukkan kelelahan, kanyong mata yang terlihat jelas melingkari matanya membuat Gea tidak tega.


"Belda malam ini pergi, dsri club dia kan langsung kebandara ...."


^-^


Bandara yang terlihat sepi hanya terdapat beberapa orang yang hilir mudik.


Sejak tiga belas menit yang lalu Regan berdiri menunggu mobil yang membawa Belda datang. Dia tidak mengindahkan Gea yang mengajaknya untuk minggir dan duduk, Regan tidak sabar menunggu Belda datang.


Dan ... yang ditunggu-tunggunya sejak tadi membuka pintu mobil keluar dengan senyjm dibibirnya.


Regan masih ditempatnya berdiri sejak tadi, dia menantap Belda dari jauh dengan perasaan yang campur aduk sulit untuk dimengerti.


Belda baru menurunkan kopernya berbalik badan hendak berjalan masuk kedalam bandara dan terdiam kala mata mereka saling bertautan. Tangan Belda yang memegabg koper terlepas, perlahan dia melangkah mendekati Regan terlihat penuh keraguan.


Tidak sabaran menunggu Belda mebdekatinya, Regan mengambil inisiyatif untuk menghamoiro Belda dengan langkah lebarnya.


Saat jarak sudah menyisahkan dualangkan Regan dan Belda sama-sama menghentikan langkah mereka.


"Ini semacam surprise dihari ulang tahunku atau bagaimana?" tanya Regan lirih.


Belda tersenyum sambil menggelengkan kepala pelan.


"Kamu belum mengucapkan selamat ulang tahun, belum memberi kado padaku, tapi sudah memberi surprise yang sangat yang sangat sukses" Regan mengucapkannya dengan senyum.


Belda tergelak mendengarnya.


Regan maju selangkah mengikis jarak diantara mereka, tangannya terulur menyentuh pipi Belda, tatapannya begitu dalam menunjukkan segala perasaan yang dia rasakan sekarang.


Tangan Belda menggenggam tangan Regan yang menyentuh pipinya, dia tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


"Kembali kemana?" tanya Belda sambil tergelak.


"Tentu saja kembali padaku."


"Jika tidak?."


Sorot mata Regan langsung menajam seakan mengintimidasi Belda, "bukankah karena aku kamu jadi berani memilih menjadi DJ dan berhenti kuliah?."


Kepala Belda menggeleng pelan.


Regan menarik tangannya dari genggaman tangan Belda, kedua tangannya memgepal menahan diri agar tidak emosi, bahkan membuang muka menatap kelain arah.


"Oh ... ok" hanya itu yang keluar dari bibir Regan.


Meski tampa kata, gelengan kepala Belda mampu menghantam dada Regan.


"Kenapa tidak memaksa seperti biasa?, apa kamu tidak mencintaiku lagi?" cicit Belda.


Langsung saja kepala Regan berputar kembali menatap Belda tajam, "karena aku sudah mengatakan tidak mau egois dan menyerahkan semua keputusan padamu." Regan tertawa kecil sarkas, "aku harus melakukan apa agar kamu yakin aku mencintaimu?" tanya Regan mulai lost control.


"Aku percaya."


"Lalu kenapa kamu masih mempertanyakannya?."


Belda tak menjawab, dia hanya tersenyum dengan mata berbinar membuat Regan gugup saja, isi otak cantik Belda selalu sulit untuk ditebak.


Mereka berdua terdiam saling menatap satu sama lain menyelami perasaan masing-masing.


"Re" panggil Belda lirih, "jika sudah menemukan cinta yang lain beritahu aku."


Mata membulat mendengarnya, "No!" bantah Regan tegas, "sudah aku katakan just only you Qe ... yang ada jika kamu yang sudah tidak mencintaiku kamu harus memberi tahuku agar aku tidak menunggu dan mengharapkanmu kembali" terdapat emosi saat mengatakannya.


"Lalu jika itu benar-benar terjadi, kamu bagaimana?."


"Aku akan gila kerja, atau mendirikan bisnis baru, menyibukkan diri agar aku tidak memiliki waktu memiirkanmu."


Belda tergelak mendengarnya, "ah ... orang genius mah kalau patah hati berbeda."


Mereka berdua kembali terdiam, kali ini sama-sama tersenyum lebar, denganndegup jantung yang berdetak kencang.


Regan tersenyim kecil, "sebelum kamu pergi boleh peluk?" tanya Regan dengan penuh keraguan, "aku uang tahun kamu gak bilang selamat dan memberi hadiah. Jadi ... setidaknya jika kita benar-benar berpisah dihari ulang tahunku ini, kamu memberiku kenangan yang manis mes ..."


Tubuh Belda langsung menabrak tubuh Regan, sehingga Regan tercekat tidak bisa melanjutkan perkataannya, terasa Belda memeluknya begitu erat.


"Jangan membenciku karena pergi" ucap Belda.


Regan membals pelukan Belda dan mengelus kepalanya lembut. "Tidak akan" dengan penuh keyakinan Regan mengungkapkannya, "semoga sukses dan cepatlah kembali."


Belda mengaggukkan kepalanya semakin menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Regan hingga terasa dadanya basah, Belda menangis dalam pelukannya membuat Regan menghembuskan nafas dan menghujami puncak kepala Belda dengan ciuman.


Meski terasa Berat melepaskan Belda, Regan harus tetap melepasnya demi masa depan dan kebahagiaan Belda. Dan meski hubungan mereka masih abu-abu, tetapi bagi Regan ini lebih baik dari pada mengatakan semua berakhir.


^-^


Mata hari sudah mulai terik, sarapan sudah selesai tiga jam lalu.


Di sofa panjang ruang tamu, Regan tidur sejak tadi belun juga bangun. Ara yang biasanya akan mengomel jika jam segini masih ada anak-anak yang tidur, malah memerintahkan semua untuk tidak berisik agar Regan tidak terbangun.


Sedangkan dilantai dua, semua berjejer menatap kebawah dimana Regan tidur. Si Kembar, Aslan, Mela dan Gea yang masih berada dirumah Ganendra berdiri di rolling pembatas.


"Mereka putus?" tanya Aslan entah pada siapa.


"Gak tahu" Gea yang menjawabnya.


Mela menoleh pada Gea, "bukannya kamu tadi yang nemenin dia ke bandara?."


"Memang, tapi gue gak denger mereka bilang putus atau selesai."


"Berarti gak putus" celetuk Bilqis.


Gea dan Mela langsung mengangguk menyetujui apanyang diucapkan Bilqis barusan.


"Tetap saja tidak hubungan mereka jelas" sahut Chaka.


Semua menoleh pada Chaka yang dengan santainya membalas tatapan mereka semua sebelum balik badan dan pergi begitu saja.


^-^


.


Hayu ...


Only You karya ke dua Author ini udah detik-detik loh ....


Mohon jangan lupa untuk ๐Ÿ”–Vote ๐ŸŽHadiah ๐Ÿ‘Like dan ๐Ÿ’ฌ Komentarnya.


Padahal gak enak sendiri selalu ngingetin tiap Bab ๐Ÿ˜” tapi mau bagaimana lagi banyak yang baca tapi yang ninggalin jejek bisa dihitung pakei jari ๐Ÿ˜ฉ


Bagaimanapun juga harus tetap beraabar ๐Ÿ˜‡


Bagi yang sudah mampir dan berbaik hati sudah meninggalkan jejak sebagai bentuk dukungan atau hanya sekedar menghargai karya Author ๐Ÿ™Terima Kasih๐Ÿ™


Masih galau mau pilih yang mana duluan


๐Ÿ“ธ As atau ๐ŸŽฌ Al ?


Bantu masukannya dong ๐Ÿฅบ Author tungguin nih ...


Love you ๐Ÿ˜˜


Unik Muaaa