Only you

Only you
chapter 100



Setelah acara lamaran malam itu, esok harinya Ray mengadakan acara syukuran di rumahnya, hanya di hadiri oleh beberapa kerabat dari keluarga Ray, karena Kanaya tidak memiliki keluarga lain lagi.


Meski begitu Ray juga menyempatkan diri menemani Kanaya, mengunjungi makam kedua orangtuanya untuk meminta restu sehari sebelum melangsungkan acara akad nikah.


Dan tibalah hari ini, hari yang paling menegangkan dan sakral, hari dimana ia akan menjadi istri sah seorang Rayhan dan menjadi bagian dari keluarga Febriano.


Dua wanita cantik menuntun Kanaya berjalan pelan menuju tempatΒ  dimana Ray dan pak penghulu itu berada, ia menatap kagum dengan ruangan yang baru saja ia masuki.


Ruangan yang di sulap luar biasa indah untuk melangsungkan prosesi ijab qobul, dengan meja dan enam kursi tertata rapih disana.



Kanaya menunduk malu seraya mendudukkan dirinya di kursi tepat di samping Ray, hampir seluruh pasang mata di dalam ruangan itu tertuju padanya termasuk Ray.


"kamu cantik banget" bisiknya di telinga Kanaya begitu gadis itu selesai merapikan duduknya.


Kanaya duduk di samping Ray dengan memakai kebaya putih dan riasan sederhana, sementara Ray dengan jas hitam dan kemeja putih serta peci menghiasi kepalanya. Kanaya menarik nafasnya dalam seraya meremas kedua tangannya di atas rok batiknya untuk menghilangkan rasa gugup yang menggelayuti dirinya.


Sementara Martin dan Raka sudah duduk di kursi samping kanan dan kiri sebagai saksi, Raka memperhatikan sikap Ray yang terkesan tenang meskipun ia tahu adiknya itu setengah mati menahan gugup.


"Sudah siap?" Tanya pak penghulu itu pada Ray.


"Insyaallah siap" Ray menarik nafasnya sesaat lalu membalas uluran tangan pak penghulu untuk berjabat tangan.


"Ananda Rayhan Febriano Bin Martin Febriano saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Kanaya zivanya binti Tio Atmojo dengan mas kawinnya berupa seperangkat alat sholat dan uang sebesar sembilan belas juta rupiah di bayar tunai" sambil menjabat tangan Ray pak penghulu itu bersuara lantang.


"Saya terima nikah dan kawinnya Kanaya zivanya binti Tio Atmojo dengan mas kawin tersebut di bayar tunai" ucap Ray dengan sekali tarikan nafas.


"Bagaimana, sah?" Pak penghulu mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Sah." Ucap semua orang di dalam ruangan itu.


"Alhamdulillah."


Kanaya menitikan air matanya haru mendengarnya, kemudian ia mengadahkan tangannya untuk mengaminkan doa yang di bacakan oleh pak penghulu.


"Amin"


Begitu kata amin terucap, Ray menoleh kesamping seraya menyambar kotak berisikan sepasang cincin berlian. Ia ambil yang ukuran kecil lalu di pasangkan di jari manis Kanaya, Kanaya-pun melakukan hal yang sama lalu mengecup punggung tangan Ray pelan. Ray membalas mencium kening Kanaya lembut dengan senyum menyeringai.


"Selamat Nak," Martin memeluk tubuh anak bungsunya itu sembari menepuk nepuk punggung Ray.


"Sekarang kamu sudah resmi menjadi suami Kanaya, jangan pernah sakiti istri kamu. Ayah percaya kamu mampu mengemban amanah dan kewajiban kamu sebagai suami yang baik dan bertanggung jawab."


"Pasti yah" jawab Ray singkat seraya melepas pelukan sang ayah.


Lalu Kanaya turut mencium punggung tangan sang ayah mertua, dan di balas pelukan oleh Martin "sekarang panggil ayah jangan om lagi " ujar Martin tersenyum lembut seraya melepas pelukannya.


"I-iya a-ayah" jawab Kanaya gugup.


"Selamat, Lo udah ngelangkahin gue." Raka-pun memluk Ray.


"Gue doain Lo cepet nyusul bang" balas Ray dengan senyum di balik punggung Raka.


"Segera"


Lalu matanya berpindah pada sosok cantik di samping Ray yang dulu pernah menempati hatinya, Kanaya meraih tangan Raka dan mengalaminya. "Boleh Kaka peluk?"


Kanaya hanya mengangguk pelan, bagaimanapun Raka cowo pertama yang ia kenal dekat, dan Raka langsung memeluk tubuh mungil Kanaya "kamu bilang aja sama kaka kalo Ray macem-macem sama kamu."


"Iya kak" Kanaya terkekeh geli menatap wajah Ray, ia terasa mendapat perlindungan kuat di keluarga ini.


Kini Ray dan Kanaya berpindah, duduk di atas panggung kecil yang sudah di sediakan, hanya acara kecil jamuan makan untuk kalangan kerabat dan sehabat dekat Ray.


Ray merasa lega karena sudah melewati masa menegangkan tadi, sebenarnya ia sangat amat gugup, suasananya lebih horor di banding berkelahi melawan puluhan orang.


Edo berjalan bersama Ayrin mendekati Ray dan memeluk kedua mempelai yang baru saja sah menjadi sepasang suami istri.


"Selamat men, gue gak nyangka lo ngeduluin gue." Edo memeluk dan menepuk nepuk punggung Ray.


"Gue punya kado spesial buat lo tar malem, Besok Lo ceritain ke gue okeh?" Edo memberikan kotak kecil dengan senyum menyeringai. Lalu bergeser mengalami Kanaya.


"Isinya pasti gak bener" Ray tertawa pelan seraya memukul bahu Edo. Karena Ray tahu sahabatnya itu sedikit kurang waras.


"Selamat ya Kanaya , somoga Lo kuat." Ujar Ayrin seraya terkekeh geli.


"Insya Allah kuat" jawab Kanaya asal, ia tidak tau apa yang di maksud kuat oleh Ayrin, sontak Edo dan Ayrin tertawa keras dan menjadi pusat perhatian.


Ray-pun tak kalah geli mendengar ucapan Kanaya, lalu berbisik di telinga gadis itu "aku percaya kamu kuat sayang"


Kanaya bingung dengan reaksi Edo dan Ayrin yang mentertawakan dirinya, ia juga merinding saat Ray berbisik karena nafas Ray yang menerpa di tambah bibir Ray yang menempel di telinganya.


Kanaya malu bukan main saat menyadari maksud dari ucapan Ayrin, lalu menundukkan wajahnya yang merona malu.


Tidak terasa waktu bergulir, seperti yang sudah di tetapkan keluarga,Β  acarapun selesai.


Kini Kanaya duduk di depan meja rias menghapus make up di wajahnya serta menyisir rambutnya yang bekas di sanggul, sembari menunggu Ray selesai mandi.


Kanaya dapat melihat Ray di pantulan cermin yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, Kanaya menelan salivanya kelat, semakin gugup saat melihat penampilan Ray, rambut Ray yang sedikit basah serta dada bidang yang tak terhalang apapun, hanya handuk yang melilit di pinggangnya.


Degub jantungnya semakin tidak karuan saat Ray berjalan mendekat ke arahnya dengan senyum yang sulit di artikan.


Ray menghentikan langkahnya tepat berdiri di belakang kanaya, ia menyingkirkan rambut panjang Kanaya ke samping. Ray menahan nafasnya melihat kulit putih Kanaya. Kemudian Ray menurunkan resleting baju Kanaya hingga mengekspos jelas punggung gadis itu, lalu mengecupnya pelan menelusuri kulit halusnya.


"A-aku mandi dulu Ray." Kanaya bangkit lalu berlari kecil dan menghilang di balik pintu kamar mandi.


Ray hanya menggelengkan kepalanya lalu segera memakai pakaian tidurnya dan berbaring di ranjang sembari memainkan ponselnya menunggu Kanaya selsai mandi.


Sudah dua puluh menit Ray menunggu, detik kemudian aroma harum menusuk indra penciumannya hingga sosok cantik yang berdiri di ambang pintu mengalihkan perhatiannya dari ponsel di tangannya. Ray melempar ponselnya asal lalu bangkit berdiri menghampiri Kanaya yang tak kunjung bergerak.


Kanaya meremas erat kimono yang ia pakai, dengan terus menunduk malu, ia semakin gugup saat Ray berdiri di hadapannya.


"Udah selesai?" Ray meraih dagu Kanaya untuk menjangkau wajah istrinya, mendapat respon malu dari Kanaya membuat Ray gemas, Ray mencium bibir ranum itu, dengan tangannya yang merengkuh pinggang Kanaya agar istrinya tidak terhuyung ke belakang. Bibirnya turun menelusuri leher Kanaya dengan gigitan gigitan kecil sebagai tanda kepemilikan.


"Ray."


"Hum" jawab Ray di sela sela cumbuannya.


Merasa sudah tidak sanggup lagi, Ray langsung membopong tubuh Kanaya dan membaringkannya di atas ranjang. Ray menatap tubuh Kanaya penuh gairah meski masih terbalut kimono.


Ray membaringkan tubuhnya di samping Kanaya, menyanggah kepalanya dengan satu tangan. Menatap gadis itu yang terlihat takut "kalo kamu belum siap aku gak apa-apa kok." Ray pasrah, ia tidak ingin memaksakan keinginannya, meski ia sudah tidak tahan.


"Mm, a-aku si-siap kok."


Mendapat persetujuan dari Kanaya Ray tersenyum senang, lalu mengecup bibir Kanaya dengan jari telunjuknya yang menjelajah menelusuri wajah Kanaya dan bergerak turun melewati leher dan berhenti di dua gundukan sintal itu meremasnya pelan.


"Ray"


Kanaya melenguh tertahan di sela pangutannya,ia sanggup dengan sentuhan Ray.


"Hum" Ray semakin bergairah mendengar suara seksi Kanaya, lalu jemarinya kembali turun dan berhenti di ikatan tali kimono itu.


"Boleh aku buka?"


Kanaya mengangguk pelan, mendapat persetujuan dari Kanaya Ray langsung menarik tali itu pelan dan membukanya dengan gerakan pelan, Terlihat jelas seluruh bentuk tubuh Kanaya yang sejak tadi terbalut rapih.


Dengan senang hati Ray langsung membuka pakaiannya dan menindih tubuh mungil Kanaya.


"pelan pelan Ray."


Dan malam itu menjadi malam yang panjang bagi kedua pengantin baru itu, menikmati setiap sentuhan satu sama lain hingga hanyut dan terbang hingga ke puncak nirwana.


🍁🍁🍁🍁


Maaf kalo ada salah , aku belum pengalaman soal part ini ..πŸ˜…πŸ˜‚πŸ˜‚


Makasih buat kalian yang udah nemenin aku sampe cerita ini tamat. Aku terharu.


Sampai jumpa di work baru aku . MY POSESIF HUSBAND.


jangan dulu unfav, masih ada bonus chapter dan kalo sempet aku lanjutin πŸ˜‚