Only you

Only you
PERMINTAAN EVAN



"Aku hanya meminta..." Evan nampak berpikir keras.


"Apa?"


Evan mengulurkan tangannya mengusap pucuk kepala Kanaya gemas, seraya tersenyum tipis. Gadis lugu yang dulu Evan kenal kini berubah menjadi wanita dewasa yang cerdas.


"Pikiran mu terlalu jauh" Evan mendudukkan dirinya di tepi ranjangย  dengan masih memegang tangan Kanaya. "Permintaan ku masih dalam batas wajar, Aku hanya ingin memberi nama untuk kedua anak kembar mu itu."


Kanaya menghela nafas lega, tadinya ia pikir Evan akan mengambil kesempatan atas kejadian ini. Ah, kenapa jadi su'udzon sih?


"Hmm, tidak masalah. Siapa namanya?" Tanya Kanaya penasaran.


Evan mengusap dagunya, berpura-pura berpikir, "hmm, Adelio zildzyan, untuk anak laki laki mu. Dan Anindita cheysya untuk anak perempuan mu." Kata Evan dengan senyum lebarnya.


"Nama yang bagus" sahut seseorang dari arah pintu dengan wajah tanpa ekspresi.


Kanaya dan Evan menoleh bersama ke arah sumber suara, lalu seringaian kecil terukir di bibir Evan. Ia tidak peduli, jika pria yang sedang berjalan mendekat menaruh cemburu padanya.


Kanaya bergegas melepas genggaman tangan Evan yang nampak mengerat, dengan sedikit memberi tatapan membunuh pada Evan, pria bule itu langsung melepaskan tangannya.


"Ray, emm...kamu, kamu..." Kanaya gugup setengah mati, ia merasa seperti tertangkap basah sedang selingkuh. Padahal tidak terjadi apa-apa di antara dirinya dan Evan.


Ray berjalan mendekat seraya menggelengkan kepala "aku baik baik aja sayang. Bukan masalah."


Ray melirik sekilas ke arah Evan yang melempar tatapan tajam padanya, Ray mengabaikan Evan dan memilih mencium kening Kanaya serta bibir pucat itu sekilas.


"Terimakasih untuk nama yang kau berikan."ย  Ray melempar senyum ramah_atau lebih tepatnya terpaksa ramah.


Evan mengangkat bahunya acuh, hadiah nama itu bukan untuk Ray, melainkan untuk Kanaya. Setidaknya agar wanita itu selalu ingat padanya saat memanggil kedua anaknya itu.


"It's Ok."


"Ehm, apa aku boleh tau arti dari nama nama itu?" Tanya Kanaya memecah keheningan, karena suasananya nyaris menjadi medan perang dengan saling melempar tatapan tajam.


"Adelio zildzyan 'Pangeran muda mulia yangย  baik hati dan ramah. Dan Anindita cheysya 'Gadis cantik yang kompeten dan bersemangat."


Kanaya takjub mendengar penjelasan Evan, laki- laki seperti Evan bisa memilih nama dengan arti sebagus itu. Tidak pernah terlintas sedikitpun di kepala Kanaya, jika di balik sifat Evan yang sedikit gila bisa memikirkan hal se detail itu.


"Ehm, aku tambahkan sedikit di belakang nama mereka." Sela Ray mengalihkan pandangan takjub sang istri pada Evan.


"Hemm, nama apa Ray?" Kanaya menoleh ke arah sang suami dengan raut penasaran, semoga saja tidak terjadi perdebatan setelah ini. Kanaya ingin melihat Ray dan Evan berbaikan, dan bisa menjadi teman.


"Febriano, karena mereka keturunan dari keluarga Febriano." Ucap Ray dengan percaya diri, jelas saja percaya diri. Karena kedua anak kembarnya itu, hasil dari olahraga malamnya bersama Kanaya.


"Terserah kau saja, asal jangan kau rubah nama pemberian dariku." Sahut Evan dengan sengit, kemudian pria bule turun dari tepi ranjang Kanaya.


Sekali lagi, Evan kembali mengusap pucuk rambut Kanaya dengan sengaja di depan Ray. Seringai licik terukir di bibir Evan saat melihat rahang Ray mengeras.


"Aku pamit, namun aku akan terus mengawasi mu dari jauh."


"Terimakasih tidak perlu repot-repot, ada Ray yang jaga aku." Sahut Kanaya membela Ray. Meski Evan sudah berbuat baik padanya, bukan berarti Kanaya menerima begitu saja perlakuan Evan padanya.


"Tidak ada penolakan." Kata Evan tegas, lalu pergi bergitu saja meninggalkan ruangan itu.


"Gak usah di pikirin ya sayang ucapan Evan tadi." Kanaya mengusap lembut lengan Ray, mencoba meredakan emosi suaminya itu. Ia yakin Ray pasti sedang menahan amarahnya saat ini. Tapi, Kanaya cukup bangga karena Ray mau menahan ego dan amarahnya.


"Jadi?"


Ray membuka suaranya setelah kepergian Evan, seraya mendekatkan wajahnya.


Kanaya mengerutkan dahinya dalam, "Jadi apa?"


"Jadi, kita akan pake nama itu dengan tambahan Febriano di belakangnya. Karena itu hasil buatanku." Kata Ray dengan senyum nakal di bibirnya, lalu mengecup kening Kanaya cukup lama.


"Ray, jangan kaya gini, aku malu."


Tiba-tiba saja seorang suster masuk dan merusak suasana romantis dirinya dengan Kanaya. Ray menjauhkan wajahnya seraya menghela nafas panjang. Suster itu memintanya Ray untuk keluar, karena Kanaya harus beristirahat.


Mau tidak mau Ray menuruti perintah wanita berseragam serba putih itu. Dengan langkah malas Ray keluar dari ruangan Kanaya, setelah berpamitan pada sang istri dan memberikan kecupan ringan di bibir Kanaya.


****


"Apa yang terjadi di dalam?" Tanya ayah Martin pada Ray, begitu melihat anak bungsunya itu keluar dari dalam ruangan.


"Gak terjadi apa apa"


Ray mendudukkan dirinya di samping ayah Martin seraya menyandarkan kepalanya di dinding. Tubuhnya terasa sakit, bahkan ia harus menahan nyeri di kakinya untuk berjalan.


"Syukurlah, karena ayah liat laki laki tadi keluar dengan senyum yang menurut ayah ganjil." Kata ayah Martin menjelaskan, meskipun ia tahu bahwa menantunya tidak memiliki hubungan apapun dengan laki laki tadi, tetap saja ia merasa khawatir.


Ray tersenyum tipis, kemudian menoleh ke samping. Saat ini hanya ada dirinya dan sang ayah, karena Edo dan Ayrin lebih memilih melihat si kembar di ruangan khusus bayi.


"Evan, laki laki itu namanya Evan. Dia punya satu permintaan sebagai balas kebaikannya."


"Apa yang dia minta?" Tanya ayah Martin penasaran. Jika laki laki itu menginginkan hartanya, Martin akan memberikannya dengan cuma cuma.


Ray menegakkan tubuhnya kembali, lalu menceritakan apa yang sebenarnya minta oleh Evan. Jika laki laki asal Spain itu memberikan sebuah nama untuk anak kembarnya sebagai balas budi kebaikannya. Tentu saja ayah Martin menghela nafas lega, karena Evan tidak meminta hal yang di luar akal sehat.


"Lebih baik kamu obati dulu luka kamu, biar ayah yang jaga Kanaya disini."


Ray mengangguk pasrah, lalu bangkit dari tempat duduknya. Jujur saja Ray tidak ingin jauh jauh dari Kanaya, ia masih ingin menemani sang istri di saat seperti ini. Dan, hari ini adalah hari yang paling Ray tunggu, dimana ia mendengar suara tangis buah cintanya dengan Kanaya dan keluarga kecilnya menjadi lengkap dengan hadirnya si kembar di tengah-tengah mereka. Hingga tuhan yang memisahkan mereka kelak dengan satu alasan_hanya kematian.


Hanya ada tiga wanita dalam hidupnya, ibu, istri dan anak perempuannya. Dan sampai kapanpun itu tidak akan pernah berubah. Karena tujuan hidupnya hanya satu, membahagiakan Kanaya dan keluarga kecilnya.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Laki laki yang baik adalah laki laki yang bisa memegang kata katanya. Yaitu janjinya di hadapan Tuhan, hanya mencintai satu wanita dalam hidupnya...only you.


Salam sayang dari aku...


Pria biasa saja yang menyayangi kalian dengan segenap rasa. ๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜‚


TAMAT