
Akhirnya aku bisa bebas di dunia manusia, hah betapa leganya aku tanpa pengawasan dari para vampir itu termasuk keluargaku.
Aku berjalan dan tanpa sengaja menabrak cowok yang sedang berdiri dibelakangku. Cowok yang tampan, tinggi dan pakaiannya sangat rapi. Mataku tidak bisa terpejam melihat cowok itu.
"Oh sorry." Aku merasakan sentuhan yang berbeda dari cowok itu.
Tanpa berkata apa-apa, cowok itu langsung pergi. Aku terdiam sejenak, aku masih merasakan sentuhan yang dia berikan padaku meskipun tanpa dia sadari.
"Rasa yang sungguh berbeda! Yah tidak usah difikirkan, aku harus cepat-cepat cari kontrakan agar bisa istirahat, ah capek sekali," ucapku.
Aku berjalan dan mencari kontrakan untuk tempat tinggalku. kebetulan sekali didekat aku berdiri sekarang ada apartemen yang masih kosong, aku langsung menuju apartemen itu.
"Oh, akhirnya aku dapat tempat tinggal. Aku mau istirahat dulu capek sekali rasanya," ucapku sambil merebahkan tubuhku di tempat tidur.
Belum sempat aku memejamkan mata, ada yang membunyikan bel di rumahku. Aku yang sudah masuk rebahan, menjadi sangat kesal ada yang mengganggu waktu istirahatku.
'Ya ampun tidak bisa ya aku istirahat dengan tenang, selalu saja ada yang mengganggu.' batinku kesal.
Bel terus berbunyi dan aku pun bangun dan dengan malasnya membuka pintu rumahku. Bel itu tidak berhenti berbunyi.
"Iya sebentar." Aku membuka pintu.
Ternyata yang datang adalah seorang kurir. Tapi aku merasa tidak memesan barang apa pun untuk saat ini. Aku heran, apa salahnya jika aku bertanya.
"Maaf saya cuma mau mengantar pesanan anda," kata kurir itu.
"Pesanan? aku tidak memesan apa-apa pak," kataku heran.
"Maaf mbak tapi ini memang pesanan anda, ini benar apartemen nomer 3008," kata kurir itu.
"Tapi ... ya sudahlah aku terima meskipun bukan pesananku." Aku ambil pesanan itu dan menandatanganinya, entah apa isi paket itu asalkan bukan bom saja.
"Padahal aku tidak pesan apa-apa, tapi aku penasaran isinya apa. Aku buka sajalah siapa suruh antar ke rumahku." Aku membuka paket itu
Aku yang penasaran akhirnya membuka paket itu, aku terkejut dengan isi paket itu. Ternyata isinya adalah buku cerita anak kecil. Aku tertawa, terbahak-bahak, aku masih berpikir siapa yang memesan paketan seperti ini.
Tidak lama kemudian ada yang membunyikan bel rumahku lagi, sungguh hari yang menyebalkan, tidak ada waktu untukku beristirahat.
"Ya sebentar, siapa lagi sih," ucap ku.
Aku membuka pintu dan ternyata dia adalah cowok tadi yang bertabrakan denganku. Cowok tampan, dan terlihat sangat sopan, tatapan mataku tidak bisa beralih darinya lagi.
"Maaf apa tadi ada paket yang diantar kesini?" tanya cowok itu padaku.
Aku hanya diam menatap cowok itu, dan serasa ingin menyentuhnya lagi. Entah apa yang sedang aku pikirkan saat ini, aku benar-benar sudah terhipnotis oleh ketampanan dan kenikmatan sentuhannya.
"Kamu dengar aku kan?" seru cowok itu yang kemudian membuyarkan lamunanku.
"Buku anak kecil itu maksudnya?" tanyaku.
"Iya tolong kembalikan padaku," kata cowok itu dengan sangat sopan.
Aku yang sangat licik, pastinya tidak akan membuang-buang kesempatan baik yang diberikan padaku. Aku mengajukan persyaratan pada cowok itu.
"Boleh saja kamu ambil buku itu, tapi ada syaratnya," ucapku licik.
"Katakan." ucap cowok itu dengan nada cuek
"Kamu harus jalan bersamaku, aku akan memberikan 1 bab dari buku itu," ucapku.
Cowok itu kaget mendengar persyaratan dariku, dia marah tentunya karena memang itu buku dia. Tapi aku tida mau peduli, aku hanya ingin berjalan bersamanya dan menyentuhnya, hanya itu yang ada di otakku saat ini.
"Aku pikir persyaratanmu sungguh berlebihan nona, maaf aku tidak bisa." ucap cowok itu.
"Yah, itu sih terserah kamu saja. Berarti buku itu tidak akan kembali ke tanganmu." ucapku.
Cowok itu mulai kesal padaku, emosinya mulai memuncak menghadapi aku yang licik ini. Tapi aku tidak peduli, aku hanya tersenyum melihat ekspresi cowok itu.
Aku mengusir cowok itu dan saat aku mau menutup pintu cowok itu menghentikanku. Jelas saja aku merasa menang, aku gak akan terima satu kekalahan pun.
"Oke! aku mau tapi kamu jangan ingkar janji ya." kata cowok itu.
"Kamu tenang saja aku bukan tipe orang yang mudah ingkar janji."
"Hei ada apa denganmu, tanganku bersih tapi kenapa kamu membersihkan tanganmu?"
Aku sedikit heran melihat sikapnya, tidak pernah ada cowok yang menolak sentuhanku, hanya cowok ini saja yang membuatku kesal.
"Aku setuju bukan berarti kamu bisa seenaknya menyentuh aku, kamu dengar itu!" Cowok itu marah dan pulang kerumahnya.
Aku melihat cowok itu masuk kedalam rumah sebelah, aku baru sadar dia adalah tetanggaku. Tapi aku sangat penasaran dengan sikap aneh cowok itu, aku langsung menelpon kakak-Ku dan menceritakan apa yang terjadi, kebetulan sekali kakakku adalah dokter spesialis penyakit.
"Haloo ..." aku menelepon kakakku.
"Halo Hyemi, kamu dimana? kenapa kamu pergi dari rumah?" ucap kakakku.
"Kak aku sedang tidak mau membahas itu aku mau tanya apa ada orang mengidam penyakit kebersihan?"
"Iya, memang ada penyakit OCD. Itu penyakit yang susah di sembuhkan."
"Oh begitu."
"Iya, kenapa kamu tiba - tiba tanya begitu."
"Nggak apa-apa kak ya sudah aku mau tidur dulu bye kakak."
Aku mematikan telpon-Ku sebelum kakak memarahiku lagi.
***
Paginya aku bangun dan langsung pergi kerumah cowok itu. Aku yang suka jahil, mulai membunyikan bel rumah cowok itu. Entah apa yang aku pikirkan, tapi yang aku tahu, aku hanya ingin segera pergi bersamanya dan menyentuhnya kembali.
Ting tong ...
Ting tong ...
"Sabar, siapa sih pagi - pagi sudah bertamu." cowok itu menggerutu sambil membukakan pintu rumahnya untukku.
"Hai, selamat pagi," ucapku menyapanya sambil tersenyum.
Cowok itu kaget, dia langsung menutup pintunya dengan cepat. Aku kaget, aku heran kenapa dia langsung menutup pintunya saat aku datang.
Aku tidak mau menyerah. Saat aku ingin mengetuk pintunya, dia sudah membuka pintunya kembali. Aku yang penasaran tentu menanyakan tindakan dia barusan.
"Apa yang terjadi? kenapa kamu menutup pintu tadi?" tanyaku dengan nada kesal.
Cowok itu hanya diam tanpa menyuruh aku masuk atau apa pun, aku yang kesal menjadi semakin emosi melihat sikap dia yang seperti itu.
Aku memaksa masuk kedalam rumahnya karena dia tidak mengatakan sepatah katapun padaku, jangankan berbicara, menjawab pertanyaanku saja dia tidak mau.
"Tunggu! jangan masuk, berhenti disitu," kata cowok itu saat aku memaksa masuk rumahnya.
.
.
.
.
.
MAAF JIKA MASIH ADA KESALAHAN DALAM PENULISAN CERITANYA ...
**JANGAN LUPA LIKE, VOTE DAN BINTANG NYA YA ...
DUKUNGAN KALIAN AKAN MEMBUAT AUTHOR SEMANGAT UNTUK UPDATE BAB SELANJUTNYA...
NANTIKAN KELANJUTAN CERITANYA PARA READERSKU**** ...
TERIMA KASIH ...
IG : Blue Flower