
Beberapa jam sebelum Yuni membawa Kanaya.
Saat itu Yuni sedang sibuk berkutat di apartemennya, mempersiapkan diri untuk hari esok ia akan menikah dengan Edo. Setelah ia mengaku hamil hasil perbuatan Edo dan cowo itu mau bertanggung jawab meski penuh dengan drama dari kekasih Edo.
Anak yang ia kandung saat ini sebenarnya adalah anak Evan bukan Edo, namun ia berfikir seribu kali untuk meminta Evan menikahinya, sama saja ia bunuh diri di tangan psikopat tampan itu.
Yuni segera menghentikan aktivitasnya begitu mendengar ponselnya berdering, berjalan mendekat ke arah bufet tv lalu menyambar ponselnya.
Yuni termenung sejenak melihat nama yang tertera di layar ponselnya, Tante Marissa? Ada apa wanita itu menghubungi dirinya?
Yuni ingat awal pertemuannya dengan wanita sosialita itu di dalam restauran tempat Kanaya bekerja, tiba tiba wanita itu menghampiri mejanya setelah ia mengumpat pada Kanaya bahkan membuat kehebohan di dalam restauran itu.
Wanita berpenampilan glamor itu meminta nomor ponselnya, Tante Marissa mengatakan jika nanti ia akan membutuhkan bantuannya. Dan pastinya dengan iming-iming bayaran yang tinggi.
Lamunannya buyar seketika begitu ponselnya berdering lagi, tanpa pikir panjang Yuni menggeser warna hijau pada layar touchscreen-nya.
"Halo"
Yuni manggut manggut mendengarkan suara di sebrang sana,Β Tante Marissa memberi instruksi padanya untuk membawa Kanaya ke suatu tempat.
"Dengan senang hati Tante"
Panggilan terputus begitu Yuni menyetujui dan menyanggupi perintah Marissa. Dengan segera ia merapikan diri dan bergegas menuju restauran tempat Kanaya bekerja.
***
Kanaya terkejut melihat Ray datang tergesa-gesa mencari dirinya hingga ke bagian dapur restauran, raut cemas bercampur kesal serta nafas yang memburu membuat Kanaya bertanya-tanya.
"Kamu kenapa?" Kanaya mengusap pilipis Ray yang sedikit basah.
Tidak ada jawaban dari bibir sensual Ray, cowo itu langsung memeluk Kanaya erat. Cukup lama adegan itu terjadi hingga Kanaya merasa malu menjadi pusat perhatian dan juga menghalangi jalan para karyawan lain yang bolak balik membawa pesanan.
Kanaya memaksa Ray untuk melepaskan pelukannya itu, lalu menarik cowo tampan itu ke tempat biasa mereka bertemu. Kanaya terbengong seketika, melihat begitu banyaknya pria berbadan besar berdiri tidak jauh dari Ray.
"Kamu kenapa sih? Dan juga ngapain bawa banyak om om serem kesin? "
Kanaya tau itu jika para pria badan kekar itu bawahan Ray, terlihat dari cara mereka mendekati Ray begitu Ray keluar dari dalam restauran.
"Nanti aku jelasin, aku harus pergi sekarang." Ray mengecup kening Kanaya sekilas lalu berbalik.
"Kamu mau pergi kemana?"
Kanaya menahan tangan Ray hingga cowok tampan itu kembali berbalik menghadapnya. Perasaan Kanaya tidak enak, belum lagi om om seram yang begitu banyak mengikuti Ray, apa kekasihnya ini akan tawuran? Demo seperti itu?
"Aku ada urusan penting sebentar sayang, tapi aku gak bisa bawa kamu. Tunggu aku disini sampe aku jemput, jangan kemana-mana ok!" Titahnya lembut namun tegas tak terbantahkan.
Kanaya mengangguk pelan dengan raut bingung, bingung harus mendukung atau melarang cowonya itu pergi. Hatinya benar-benar tidak enak melepas kepergian Ray, rasanya seperti akan kehilangan.
Melihat raut cemas di wajah Kanaya, Ray menangkup kedua pipi chubby gadis itu. Tanpa persetujuan Ray langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir ranum milik kanaya, menyesapnya lembut, seakan menghantarkan rindu yang amat dalam karena akan berpisah.
"Kamu hati hati"
Ray mengangguk seraya mengusap pucuk kepala Kanaya "inget! Kamu jangan kemana-mana sebelum aku balik."
Kanaya mengangguk dengan senyum yang di paksakan, hatinya mencelos menatap punggung Ray yang mulai menjauh dan menghilang di balik mobil sport yang mulai bergerak cepat meninggalkan area parkiran.
Kepergian Ray kali ini terasa berbeda, ia merasa begitu cemas. Sebenarnya urusan penting apa yang Ray maksud? Bukan sesuatu yang berbahaya kan?
Yuni yang sedari tadi bersembunyi di balik tembok akhirnya keluar dan mendekati Kanaya setelah mobil Ray menghilang dari bangunan ini.
panggil Yuni seraya berjalan menghampiri Kanaya yang mematung disana mentap kepergian mobil Ray.
"Eh, iya Yun. Kamu ngapain ada disini? Besok kan acara pernikahan kamu." Jawab Kanaya begitu tersadar dari lamunannya.
Yuni berpura pura memasang wajah sedihnya sembari memegangi perutnya, hal itu pasti akan membuat Kanaya iba. Ya, gadis baik seperti Kanaya akan luluh dengan kesakitan dan kesusahan orang lain. Jadi Yuni memakai cara ini untuk memancing Kanaya ikut bersamanya.
"Kamu kenapa? Perut kamu sakit?" Tanya Kanaya cemas begitu melihat raut kesakitan di wajah Yuni.
Yuni mengangguk lemah, ia sengaja memoles wajahnya dengan warna pucat, agar Kanaya yakin jika ia sakit.
"Perut aku sakit Nay, gak tau kenapa."
"Kamu udah periksa ke dokter?" Kanaya mengajak Yuni untuk duduk di kursi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Belum, Edo juga gak ada di apartemennya. Pasti lagi pergi sama Ayrin." Dengan sangat terpaksa Yuni melakukan ini, ia muak sekali dengan aktingnya sendiri yang terlihat lemah.
Duh, Kanaya jadi iba melihatnya. Wanita mana yang akan sanggup berada di posisi Yuni? Disaat besok adalah hari pernikahannya, tapi sang calon suami malah pergi dengan kekasihnya. Haisss...jadi serba salah. Ia juga tidak bisa menyalahkan Edo dan Ayrin sepenuhnya, karena ini semua di luar dugaan.
"Temenin gue ya Nay, ke dokter." Pinta Yuni, karena Kanaya malah terdiam tidak memberi respon apapun atas aktingnya barusan.
Kanaya, beefiki sejenak, Ray melarangnya untuk tidak pergi dari sini sampai cowo itu kembali. Tapi, ia tidak tega melihat Yuni, jahat sekali jika ia menolak mengantar ke dokter. Haduhh...ia bingung sendiri jadinya.
"Masa Lo tega Nay, gue ke dokter sendirian. Belom lagi gue kesakitan kaya gini." Yuni memberengut. Berharap Kanaya luluh atau setidaknya merasa bersalah lalu menyetujuinya.
"Hmm, ya udah. Aku ganti baju dulu ya." Kanaya berjalan masuk ke dalam restauran itu, meninggalkan Yuni sendiri disana. Setelah berdebat cukup lama dengan fikirannya karena Ray melarangnya untuk pergi denganΒ rasa pri kemanusiaan-nya.
Yuni segera membawa Kanaya masuk ke dalam mobil, mobil kiriman dari Marissa beserta supir yang akan mengantarkan mereka berdua ke tempat yang Marissa tunggu. Yuni terus menggenggam jemari Kanaya seakan takut gadis itu akan lari, dengan sesekali berbohong.
Kanaya memperhatikan sepanjang jalan, kenapa jalanan yang ia lewati terasa asing, dan semakin sepi. Dokter langganan Yuni itu dokter kandungan atau dukun sih? Kenapa tempatnya horor.
"Tempatnya kok jauh banget sih Yun? Kamu tau dari mana disini ada dokter kandungan?" Kanaya menoleh kesamping menatap Yuni yang terlihat biasa saja tidak seperti tadi yang kesakitan.
"Tau dari Gugel, disini dokternya bagus" jawbanya asal dengan nada ketus. Ia sudah tidak perlu lagi bersandiwara, rasanya ingin muntah.
Kanaya terkejut mendengar jawaban Yuni, Yuni yang angkuh dan ketus.
"Kamu__" perkataan Kanaya tertelan kembali begitu mobil yang di tumpanginya berhenti di depan bangunan tua.
"Kok berhenti disini Yun?"
Detik itu juga Kanaya sudah tidak bisa berbuat apa-apa, karena Yuni dan sang supir langsung mengikat Kanaya serta menyumpal mulutnya dengan kain. Dan membawanya ke dala bangunan tua itu melewati belakang gedung.
Dengan jelas Kanaya melihat mobil Ray dan Raka terparkir disana. Ia segera berontak dan berteriak sekencang mungkin, namun sayang, usahanya sia sia. Tidak ada seorangpun yang keluar untuk membantunya.
Dan disinilah sekarang, Kanaya melihat Ray dan Raka di pukuli di depan matanya dari lantai atas. Rasanya Kanaya ingin loncat saja, dari pada harus melihat orang yang ia cintai di hajar tanpa ampun di depan matanya.
Kanaya menangis sejadi jadinya saat seorang pria bertubuh kekar memukul wajah Ray hingga darah segar keluar dari hidung Ray. Di saat seperti itu masih sempatnya Ray menggelengkan kepala, melarangnya menangis. Wanitanya Ray harus kuat!
πππ
Beberapa chapter ini konflik klimaks, dan penyelesaian. Mohon jangan bosan.
Ada yang mau Ray menikah?
Like like like like,kome komen komen ππ