
Ruangan kembali sepi setelah biang keributan_atau lebih tepatnya Edo dan Ayrin pergi meninggalkan ruangan itu. Hanya menyisakan Ray dan Kanaya, dua manusia itu saling menumpahkan rasa rindu seperti tidak bertemu satu abad lamanya.
Entahlah. sejak menikah, ah tidak! Sepertinya sejak mengandung buah cinta mereka berdua, Kanaya menjadi lebih agresif dan bar bar. Sepertinya hormon ibu hamil merubah sifat Kanaya menjadi sosok yang lebih berani, dan pastinya Ray suka itu. Apalagi jika berurusan dengan ranjang. Tapi, sayangnya untuk beberapa hari, ah ralat! Tapi beberapa minggu bahkan bulan, ia tidak bisa bermain dengan Kanaya.
Akibat kecelakaan itu Ray harus mengalami patah tulang, di bagian lengan dan kaki juga leher. Mau tidak mau Ray harus cuti dari olahraga malam.
"Ray, muka kamu kok jadi jelek sih"
Ray melongo, ucapan istrinya menohok sekali. Bagaimana ceritanya orang habis kecelakaan wajahnya tetap tampan? Sudah pasti babak belur.
"Namanya juga abis kecelakaan sayang" ujar Ray seraya melirik dengan ekor matanya. Lehernya ditopang cervical collar membuatnya tidak bisa menoleh.
"Kamu gak boleh kaya gini lagi, jangan pernah tinggalin aku." Kanaya kembali memeluk tubuh suaminya itu, kali ini sedikit lembut.
Ray tersenyum samar sembari menahan nyeri, ia bersyukur masih di berikan kesempatan untuk melihat istri tercintanya dan menunggu buah hatinya lahir kedunia.
Tapi, Ray sedikit curiga dengan mobil yang menyalipnya tiba-tiba. Seperti memang sengaja untuk mencelakai dirinya. Nanti ia akan coba cari tahu, apakah memang orang itu sengaja ingin menghabisinya atau hanya ketidaksengajaan saja.
Kanaya menarik wajahnya dari dada bidang sang suami, sayup-sayup telinganya menangkap perdebatan di ruang sebelah. Kamar khusus untuk keluarga pasien yang menginap di sini.
"Ray, ayah sama kak Raka_" Kanaya menjeda kalimatnya, perkataan yang ia dengar berikutnya membuat Kanaya lebih terkejut. "Kak Raka mau di nikahin? Sama siapa? Kok aku gak tau!"
Ray tersenyum samar, dari awal ia tahu jika keinginan ayah Martin sulit untuk di tolak. Sejak dulu selalu begitu, dan hanya ibunya yang mampu meluluhkan kekeras kepalaan sang ayah.
"Aku juga baru tau berapa hari yang lalu, Abang kepergok berduaan sama cewe di rumah aku."
"Sama Thita?"
Ray menggeleng pelan "dia blasteran. Abang bilang gak sengaja ketemu dia, dan niatnya cuma nolong."
"Terus kak Raka mau?"
"Kayaknya gak, kamu dengarkan Abang malah ngajak ribut."
Kanaya menganggukan kepala, seraya berfikir. Kaka Raka memang baik, dulu juga ia pernah di tolong. Jadi, wajar saja kalau wanita yang berada di dekatnya pasti melting.
"Kamu mikir apa?" Tanya Ray menyadari Kanaya melamun.
"Aku penasaran kaya apa cewe itu Ray. Aku pengen ketemu." Seru Kanaya antusias, entah kenapa rasanya ia ingin sekali bertemu wanita yang ingin di nikahi oleh Raka.
Ray tercekat, nafasnya tiba tiba tersendat. Jangan katakan ini gidam! Ray mendadak pusing, saat ini keadaannya sedang tidak memungkinkan untuk menuruti permintaan istrinya yang aneh-aneh.
"Nanti juga bakalan ketemu kok, kalo udah waktunya."
"Tapi aku maunya sekarang Ray, sekarang..."
Kanaya merajuk seraya memajukan bibirnya, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Tak lupa, puppy eyes andalan-nya.
Lagi, istrinya selalu berhasil membuat Ray tidak punya pilihan. Dengan kata lain, Ray harus meminta bantuan Raka untuk memenuhi keinginan istrinya yang satu ini.
Tidak lama kemudian, suara pintu terbuka di iringi sosok pria bertubuh tinggi berjalan mendekat ke arahnya. Wajah datarnya berubah ramah ketika berdiri di samping Kanaya.
"Aku pamit pulang dulu" Raka mengusap pucuk kepala Kanaya, lalu mengusap lengan Ray dengan senyum terukir di bibirnya. Senyum Raka mampu menutupi perdebatan yang baru saja terjadi di ruangan sebelah.
"Raka."
Suara ayahnya menginterupsi langkahnya, Raka-pun berhenti namun tetap pada posisinya_tidak menoleh.
"Ayah tunggu dalam waktu dua hari, atau ayah yang akan mencari tahu sendiri dan membawa wanita itu ke rumah."
Jleb!
Raka merasa seperti anak kecil yang di paksa makan sayuran yang tidak ia sukai, membuka paksa mulutnya lalu menelannya dengan susah payah. Menyesakan.
Raka kembali melangkahkan kakinya menuju pintu, membukanya dan menutupnya kembali.
Sementara Kanaya dan Ray diam membisu tanpa berani bersuara, sepertinya bukan waktu yang tepat untuk bertanya tentang siapa wanita yang akan di jodohkan dengan Raka.
****
Aldrich mencengkeram gelas di tangannya dengan kuat, lalu melemparkannya ke dinding.
Hancur, gelas itu pecah tak bersisa, seperti harapannya yang menginginkan kematian Ray ternyata tidak wujud dengan mudah. Nyatanya laki laki itu masih hidup dengan hanya luka ringan. Harusnya Ray mengalami gegar otak, cacat atau setidaknya lumpuh.
Argghh...
Aldrich meraih sebotol Vodka dan menenggaknya hingga tandas, bahkan rasa panas di tenggorokannya tidak mengurangi niatnya untuk kembali menenggak minuman beralkohol itu.
Tiga botol sudah Al habiskan dalam sekejap, namun amarahnya belum mereda. Rasa kesalnya justru semakin bertambah, ia benci kekalahan. Ia harus bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Walaupun dengan sedikit kekerasan dan pemaksaan, seperti yang ia lakukan sebelum sebelumnya. Bahkan jika perlu kematian.
"Sepertinya aku harus bermain halus."
Al mengusap dagunya dengan gerakan pelan, seringaian licik terukir jelas di bibirnya. Ia akan memulai permainannya dengan cara halus, hingga mereka tidak menyadari niat buruknya, Al akan menikmati sedikit demi sedikit permainan ini, bahkan bila perlu ia menjadi aktornya.
Suara tawa menggema di ruangan itu, ruangan yang luas dari bangunan berlantai tiga ini.
Sisi lain Aldrich mulai mendominasi, sementara otak liciknya bekerja dengan sempurna. Ia mulai menyusun rencana dengan memanipulasi perasaan Ray dan Kanaya. Membuat kesalahpahaman di antara mereka, saling membenci, bertengkar. Dan... Al akan menggantikan posisi Ray, sebagai lelakinya yang memiliki Kanaya seutuhnya.
Entah kenapa gadis itu begitu menarik perhatiannya, hingga membuatnya hilang akal. Selama ini para gadis selalu memuja dan menginginkannya, bahkan menyerahkan diri ke atas ranjangnya.
Sementara gadis itu? Justru menolaknya mentah-mentah tanpa meliriknya sedikitpun. Jiwa dominan-nya merasa tersinggung dan membuatnya tertantang untuk menaklukkan gadis lugu itu.
Sepertinya menarik membawa Kanaya bermain di atas ranjangnya, memberikan seluruh cintanya yang tidak pernah ia berikan pada siapapun. Memujanya, di setiap helaan nafasnya, mencintainya di setiap denyut nadinya. Menginginkannya setiap waktu tanpa bosan.
Kanaya, Kanaya....
Aldrich membanting tubuhnya ke atas kasur king size miliknya, menatap langit-langit kamarnya dengan fikirannya yang menerawang jauh ke dalam hayalannya. Hayalannya hidup bersama dengan Kanaya, membawanya kembali ke negaranya. Membina keluarga kecil yang bahagia.
Aldrich memejamkan mata, perlahan memasuki alam bawah sadarnya dan terlelap dalam tidurnya bersama dengan hayalannya.
🍁🍁🍁
To be continued...