
1 Tahun kemudian...
Kanaya menggeliat merasakan sebuah ciuman yang mendarat di wajahnya, lalu Kanaya mengerjapkan matanya perlahan. Meskipun ia tahu siapa pelakunya tanpa harus membuka mata.
"Sayang, bangun. Ayo kita lanjutin yang semalam tertunda"
Kanaya melongo, pria di sampingnya ini membangunkan dirinya hanya untuk melanjutkan yang semalam? Yang benar saja...
"Kamu udah janji loh sama aku" merajuk, Ray semakin mengeratkan pelukannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kanaya.
"Aku masih ngantuk Ray, semaleman aku jagain Delion sama Dhita."
Ray menjauhkan wajahnya untuk menjangkau wajah sang istri, semenjak ada si kembar ia tidak memiliki banyak waktu untuk sekedar berdua dengan Kanaya. "Lama lama aku cemburu sama si kembar."
Kanaya menangkup kedua pipi Ray, menatap manik hitam itu lekat.
"Kamu nih ngmong apa sih? Masa sama anak sendiri cemburu"
"Aku cemburu, sekarang kamu lebih sering sama si kembar daripada sama aku. Dapat satu ronde aja susah banget" kata Ray dengan memasang wajah memelas.
Terdengar helaan nafas pelan dari Kanaya, wanita itu memperhatikan wajah suaminya yang semakin tidak terawat. Jambang halus mulai tumbuh di sekitar rahangnya, serta mata sayu yang kurang tidur.
"Yaudah , satu kali aja ya." Kata Kanaya dengan senyum tipis di bibirnya.
"Makasih sayang"
Tanpa aba aba Ray mencium bibir Kanaya, menindih tubuh sang istri di bawah tubuh kekarnya.
Bagi sebagian orang lebih memilih olahraga malam, tapi taukah kalian para pasangan? Melakukan di pagi hari itu lebih berkesan, dan tidak mudah untuk di lupakan. Seperti pada pasangan kebanyakan yang melakukan morning kiss di pagi hari, itu akan membawa dampak positif dan menambah energi.
Kanaya mengerang, menggeliat. Saat bibir Ray mulai menjelajahi setiap inci tubuhnya, sentuhan ini begitu ia rindukan. Ray selalu melakukan dengan hati hati, seakan tidak ingin menyakiti Kanaya, meski hasrat dalam dirinya memaksa untuk segera di puaskan.
"Ray"
"Hemm" Ray menghentikan kegiatannya, menatap wajah sang istri lekat "kamu udah siap?"
Kanaya mengangguk lemah, Ray kembali melanjutkan aksinya. Melepas baju tidur Kanaya dengan perlahan. Kecupan itu terus berlanjut setelah baju tidur kanaya tergeletak sempurna di lantai, Ray tidak akan memberikan kesempatan untuk Kanaya menghindar lagi. Satu tahun sudah ia menunggu untuk ini, meski hanya satu kali itu sudah cukup untuk melepas rindu yang lama tertahan.
Perlahan tapi pasti, dengan bergerak seirama. Membuat pagi itu menjadi awal yang indah untuk mereka berdua. Setelah penantian yang cukup lama, dan begitu menyiksa. Hingga akhirnya mereka berdua saling menumpahkan rindu, terhanyut dalam cinta yang menggebu. Dan...
"Ooek, ooekk"
Reflek Ray dan Kanya mematung dan saling pandang. Suara ancaman bagi kegiatan mereka akhirnya terdengar.
"Ray, udahan ya, kasian si kembar." Kata Kanaya dengan nada sedikit merasa bersalah.
"Kamu gak kasian sama aku? Sakit loh ini"
Kata Ray dengan sedikit mendramatisir, hanya ini cara yang ampuh untuk meluluhkan Kanaya.
Kanaya mendesah pasrah, ia tidak tega melihat raut kecewa di wajah suaminya. "Yaudah, tapi jangan lama-lama."
Ray menyeringai, ia akan selalu mendapatkan apa yang ia mau. Termasuk kegiatan favoritnya bersama Kanaya. Suara tangis si kembar semakin keras, membuat Ray bergerak gelisah. Bisa bisa gangguan yang paling mengerikan akan datang sebentar lagi.
Detik kemudian Ray menjatuhkan tubuhnya di atas sang istri, akhirnya ia bisa melakukan pelepasan yang semestinya. Mereka berdua saling berebut oksigen yang seakan terasa habis di paru parunya.
"Ray, buka pintunya."
Damn! Gangguan yang ia takutkan akhirnya terjadi. Suara bariton diiringi ketukan di pintu kamarnya, menandakan sang ayah sudah siap membobol benda itu jika saja Ray tidak segera membuka pintu.
"Ayah"
Seru Kanaya, lalu mendorong tubuh Ray untuk bergeser dari atas tubuhnya. Kanaya blingsatan bagai pencuri yang tertangkap basah.
"Hati hati sayang"
kata Ray setelah meredakan tawanya, Ray segera memakai kaos putih polos serta celana pendeknya. Lalu berjalan menuju box dimana si kembar berada.
"Cup cup sayang, anak ayah jangan nangis ya."
Ray mengangkat Anindita dari dalam box yang masih menangis, mencium wajah mungil itu yang terlihat semakin gemuk.
"Ray" panggil ayah Martin lagi dari luar, kali ini nada sang ayah terdengar tidak bersahabat.
"Sebentar yah" sahut Ray sembari berjalan menuju pintu dengan menggendong Dhita di pelukannya.
Saat pintu terbuka, wajah horor sang ayah yang pertama Ray lihat.
"Kamu lagi ngapain? Lama banget bukanya."
"Biasa yah, olahraga dulu." Sahut Ray dengan menahan senyum.
Ayah Martin menggelengkan kepala heran, kamudian mengambil alih Dhita dari dalam gendongan Ray, dan..bayi itu seketika diam dalam gendongan kakeknya.
"Sama kakek aja yuk, kita berjemur" kata ayah Martin seolah berbicara Dengan bayi dalam gendongannya. Lalu berbalik meninggalkan Ray yang masih berdiri di ambang pintu.
Ray nyaris menutup pintu kamarnya, ia berniat untuk menyusul Kanaya di dalam kamar mandi.
"Ray, kamu ikut ayah. Jangan ganggu istri kamu."
What?
Ray menoleh ke ayah pintu kamar mandi yang tertutup, suara gemercik air terdengar lirih dari arah dimana Ray berdiri. Ray ingin sekali menyusul Kanaya dan mandi bersama, tapi sayangnya itu hanya ada dalam angan angannya saja. Karena ayahnya tidak akan membiarkan itu terjadi.
Dengan berat hati Ray menutup pintu itu, berjalan gontai menuruni anak tangga, menyusul ayahnya yang mebawa serta Dhita ke teras belakang.
Saat menuruni undakan anak tangga terakhir Ray berpapasan dengan Raka , ada yang berbeda dari biasanya. Wajah kakanya terlihat sumringah, dan rambutnya juga sedikit basah juga berantakan. Otak mesumnya traveling, ia tau apa yang sebenarnya sudah terjadi antara Raka dan Davina.
"Tumben bang rambut Lo, kayak abis..." Ray menggantung perkataannya dengan senyum mengejek.
"Abis apa?" Sahut Raka dengan ekspresi menahan malu. Namun ia tetap berusaha terlihat biasa saja di depan adiknya.
"Abis dapet harta Karun" kata Ray sambil berlalu dengan tawa yang mengudara di ruangan megah itu.
Raka mengulum senyum seraya menggelengkan kepalanya, ternyata adiknya itu bisa menebak apa yang sudah terjadi antara dirinya dengan Davina. Raka melanjutkan langkahnya dengan membawa segelas susu di tangannya, menaiki undakan anak tangga menuju kamarnya di lantai atas.
Ray tidak pernah menyangka hidupnya akan seperti ini, semua kesedihannya di masa lalu terbayar dengan kebahagiaan yang berkali lipat.
Sesederhana itu untuk memahami arti kehidupan, karena tidak ada rasa sakit yang abadi dan tidak ada rasa senang yang berkepanjangan. Semua ada masanya.
Seperti cinta. Sederhana dalam mencintai seseorang, ikhlas dalam menerima kekurangan, dan setia dalam menjalin hubungan. Maka semua kebahagiaan itu akan terasa nyata jika kamu selalu bersyukur.
🍁🍁🍁
Gimana extra part-nya? 😂
Aku bukan seorang pujangga yang pandai merangkai kata, aku hanya pria biasa yang berusaha setia pada satu cinta, itu kamu...eeeaaak 😂
Mau extra part lagi gak? 🤔