
Belda duduk menatap keluar jendela restaurant Gea yang sedang hujan, dia sedang menunggu Gea datang.
Karena tidak fokus malam itu Belda lupa membawa peralatan DJnya sehingga harus menjemputnya, padahal Belda sudah mengatakan akan meminta pada pelayannya tetapi Gea bersikeras untuk menunggunya.
Belda harus sudah berkemas hari ini, lusa dia akan berangkat untuk menghadiri kompetisi dan semua peralatan yang akan dia bawa harus masuk kedalam koper yang akan dibawanya. Untuk besok malam Satya sudah menyiapkan peralatan untuk malam terakhirnya perfome di Blue Heavent Club sebelum keberangkatannya.
"Aduh ... lama ya nungguin?"
Gea yang baru saja turun dari mobil langsung terburu-buru masuk kedalam cafe menghampiri Belda.
"Gak lama kok baru aja dateng."
"Lo juga kenapa besok aja sekalian saat bakar-bakar di rumah, biar gak lama nungguin gue" omel Gea sambil melangkah menaiki tangga di ikuti Belda.
"Bakar-bakar?" tanya Belda, "memangnya jadi bakar-bakar untuk Regan?."
Langkah Gea terhenti ditengah tangg berbalik menatap Belda bingung. "Memangnya Ar gak bilang?, bunda langsung kasih info kesemua dari semalem loh."
Belda hanya tersenyum simpul, "ayo cepet gue buru-buru" ucapnya mengalihkan topik.
"Keburu-buru kemana sih?" gerutu Gea kembali melangkahkan kakinya.
Selesai, apa Belda akan mengartikan semua selesai?. sudah lebih seminggu mereka tampankabar satu sama lain, sudah lebih dari seminggu mereka tidak saling bicara, meski bicara tidak ada keharmonisan seperti sebelumnya.
"Ini punya lo" Gea menjulurkan peralatan DJ Belda.
"Terima kasih," ucap Belda tulis.
"Em ... beneran Regan belum kasih tahu lo?" tanya Gea ragu.
Kepala Belda mengangguk tetap dnegan senyum lebarnya yang masih terukir semourna dibibirnya.
Gea menarik tangan Belda untuk duduk disofa, "kalian ada masalah ya?" tanyanya.
Senyum Belda semakin berkembang, memberi jawaban pada Gea tampa menjawabnya secara lisan.
Gea berdecak pelan, "malam itu gue, Aslan dan Mela udah yakin pasti ada sesuatu diantara kalian. Lo terlihat canggung dan Regan terlihat biasa-biasa aja."
Belda diam tidak mengatakan apapun.
"Tapi meskipun begitu besok pagi dateng ya ... masak lo gak dateng sih ..." bujuk Gea, "atau Bunda suruh ngundang lo langsung?"
Kepal Belda menggelang pelan, "gue gak bisa karena harus istirahat, besok malam perfome terakhir gue di Blue Heaven Club jadi pasti lama. Selesai dari club gue langsung terbang, jadi gue harus istirahat total."
Wajah Gea langsung berubah pias menatap Belda mengedipkan mata tak percaya, "memangnya lo mau kemana!" serunya setelah mencerna semua kalimat Belda.
"Gue mau meraih cita-cita gue" ucap Belda dengan penuh kebahagianan, "mohon sambungan do'anya ya semoga gue berhasil."
"Regan tahu lo mau pergi?" tanya Gea kali ini dengan wajah seriusnya.
Kepala Belda menggeleng pelan, "dia gak mau dengerin alasan kenapa gue gak ngelanjutin kuliah keprawatan gue, dan ... dia gak punya waktu buat dengerin gue mau ngomong apa" suara Belda semakin mencicit diakhir kaliamat.
"Lalu hubungan kalian sekarang?"
Belda tertawa kecil dengan mata berkaca-kaca mendengar pertanyaan Gea, dia seakan menertawakan dirinya sendiri.
"Gue juga gak tahu" ucapnya disela-sela tawanya yang mulai mereda. "Dia yang meminta gue dengan paksa untuk menjalani hubungan ini, dia tidak memberi gue kesempatan menolak sehingga gue mau menjalani hubungan ini dengan senang hati karena gue juga sayang dengan dia. Tapi sekarang ... saat gue butuh untuk mengatakan apa yang ada dalam pikiran gue, dia tidak memberi gue waktu untuk mengatakannya. Kami malah saling diam, tidak ada komunikasi atau apapun dan ... menurut lo ... ini hubungan yang bagaimana?."
Gea menggenggam tangan Belda erat, "gue gak bisa bantu apapun Bee, tapi ... lo bisa dateng besok dan gue akan berusaha sekuat tenaga agar lo punya waktu bicara dengan dia."
^-^
Regan menatap dengan malas pada orang-orang yang memenuhi halam belakang rumahnya, andai saja Ara tidam mengancamnya, Abra tidak menelfon Dokter senior untuk mengganti operasi yang sengaja dia ambil pagi ini, Regan tidak akan menampakkan batang hidungnya.
Terlihat Ara meletakkan alat pemanggang ditangannya, mengambil nampan berisi makanan dari tangan Mela dan berjalan menghampiri Regan sambil menyodorkan nampan ditangannya.
"Letakkan dimeja depan, bantu Ayah menata meja" perintah Ara tegas dan pergi begitu saja.
Regan mengerutkan keningnya menatap Ara aneh.
"Dateng juga loh" ucap Gea sinis berjalan melewatinya.
Kening Regan semakin mengerut tajam.
Terlihat Abra sedang menata meja dibantu si kembar dan Aslan, mereka terlihat sangat bahagia tertawa cekikikan hingga saat Regan mendekat dan meletakkan nampan ditangannya, tawa Abra langsung menghilang menatap Regan tajam.
Pasti ada sesuatu yang tidak dia ketahui, karena semua orang yang melihatnya serasa berubah dan menatapnya sinis tidak seperti biasa.
"Bukannya kamu gak mau datang?, kenapa sekarang malah datang?" sindir Abra.
"Bunda yang nyuruh pakai ngancam-ngancam sega ..."
"Pria tidak bisa menggenggam perkataannya begitu" sangat pelan jamun Regan dapan mendengarnya meski Abra kembali sibuk menata meja, "tidak bisa dipercaya."
Rahang Regan langsung megetat mendengarnya.
Dia tidak mengerti kenapa semua bersikap seperti ini padanya, dia baru saja datang dan tidak mungkin dia sudah melakukan kealaahan.
"Maaf Belda telat ya Bun"
Suara itu sangat pelan terdengar tapi mamou menghentikan gerakan Regan yang akan mengambil makanan didepannya.
"Belda potong rambut" ucap Aslan.
"Itu lebih cocok dengannya, terlihat dewas" sahut Abra setelah emlirik penampilan Belda.
Posisi Regan berdiri memunggungi Belda, dia tidak bisa melihat penampilan perempuan itu.
Mencoba sok sibuk Regan mengambil beberapa kue untuk diberikan pada Bilqis yang duduk gazebo, posisi itu bisa membuatnya melihat kearah Belda meski sedikit lebih jauh dari tempatnya tadi berdiri.
Lurus tidak seperti biasanya, Beld ajuga mewarnai rambutnya, dia tersenyum lebar pada Ara dan beberapa orang yanv menyapanya.
Kenapa Belda terlihat baik-baik saja tidak sepertinya yang nyaris gila dengan semua yang terjadi diantara mereka berdua.
Aura dewasa dan manis terpancar, Regan merindukan senyum itu, tidak ... lebih tepatnya merindukan orang yang emmiliki senyum itu, ingin rasanya memeluknya meluapkan segala kerinduannya.
Selama acara Reganlebih banyak diam tidak berbaur dengan yang leinnya, lain halnya dengan Belda yang tertawa dan bahkan bernyanyi dengan ruangnya bersama yang lain. Ini padahal ualng tahunnya, tetapi Regan merasa dia tidak dianggap disini.
Darr ...
Petir tiba-tiba bergemuruh.
Acara nyanyi-nyanyian mereka langsung terhenti.
"Sebebtar lagi hujan bawa semuanya kedalam kita lanjut didalam" teriak Ara.
Semua langsung berpencar membawa segala hal yang dapat mereka bawa masuk kedalam rumah.
Belda berjalan mengambil makanan diatas meja didekat Regan dan balik badan pergi begitu saja, Regan pikir perempuan igu akan menghampirinya, seandainya begitu Regan akan menarik Belda pergi.
Karena Belda sekaan tidak mengenalnya Regan kesal berdecak dan berjalan masuk kedalam rumah tamoa mengatakan apapun.
^-^
*Dor ...
Dor ...
Dor* ...
Itu bukan suara tembak, itu adalah suara pintu kamar Regan yang digedor keras dari luar. Meski diluar sednag turun hujan, Regan pasti mendengar jika pintu kamarnya diketuk, tidak usah digedor dengan sekuat tenaga.
Dengan kesla Regan membuka pintunya sedikit membanting hinggan mengjantam pintu.
Brak ...
Didepannya Ara terkejut menatap Regan dengan tataoan nyalang. "Kamu ini malah masuk kamar, banting-banting pintu langi" omel Ara.
Hem ... Regan hanya bisa pasrah "maaf."
"Belda ada disini enggak?" tanya Ara tetap dnegan nada marah.
Regan menggelangkan kepalanya pelan, wajahnya mulai khawatir.
"Ah ... kamu ini gimana sih" keluar Ara kesal.
Ara berbalik badan menuruni tangga dmegan cepat, merada khawatir Regan mengekori Ara dari belakang.
Terlihat Gea berlari menghampiri Ara dnegan emmbawa dua paying ditangannya. "Bunda Ara sama Mela ada digazebo" ucap Gea terengah-engah.
Regan menoleh, diluar hujan deras bahkan petir juga menyambar.
Tampa pikir panjang Regan mengambil payung ditangan Gea, membukanya dan berlari keluar dsri rumah kearah gazebo tempat Mela dan Belda berteduh.
"Ar ..." teriak Mela melambaikan tangan kearahnya.
Regan semakin mempercepat langkahnya menghampiri mereka, tatapan Regan tertuju pada Belda yang menundukkan kepala menatap kue didepannya.
"Ah .. untung kamu dateng" ungkap Mela lega, "kenapa bawa payung satu?."
Regan tersadar menatap pada tangannya yang memegang payung lalu menatap Belda dan Mela bergantian.
"Ih ..."
Dengan kesal Mela merampas payung ditangan Regan dan berlari menerobos hujan tampa sempat Regan mencegahnya.
Sehingga disinilah dia, berdua dengan Belda yang masih menundukkan kepala menatap kue yang ternyata kue ulang tahun Regan.
Didalam Rumah ....
"Payung" pinta Mela setelah masuk kedalam rumah.
Bukannya memberikan payung ditangannya Gea malah meletakkannya kembali kedalam guci.
"Bukan hanya kita yang mau beri mereka waktu bicara, ternyata Tuhan juga" ucap Gea dengan senyim lebarnya.
"Maksudnya?" tanya Mela.
Ara menarik Mela untuk duduk dengan yang lain disofa panjang ruang tengah, "jangan pikirkan mereka berdua, biarkan saja dulu."
^-^
.
Marilah beri suara kalian untuk si Raja Series selanjutnya pilih siapa lebih dulu :
1. Aslan Bumi Putra
2. Alaric Lorenzo Romanov
😇Bantulah Author yang galau ini🤔
Ramaikan kolom komentar dengan komentar-komentar kalian yang akan selalu Author tunggu disetiap kali Author Up 😍
Begitu juga dukungan kalian yang berupa 🔖Vote 🎁Hadiah dan 👍Like
🙏Terima Kasih sudah mampir menyempatkan diri untuk membaca karya Author dan menunggu updatean Author tiap hari🙏
Love you 😘
Unik Muaaa