Only you

Only you
KEINGINAN KANAYA



Kanaya merebahkan tubuhnya di ranjang, wangi maskulin serta ruangan dengan dominasi warna gelap menjadi pemandangan-nya saat ini, Kanaya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kamar yang dulu Ray tempati, tidak ada yang aneh, hanya ada foto Ray dan foto almarhumah ibu kandungnya.


Kanaya berguling di atas kasur, ia merasakan lelah yang amat sangat, entah kenapa sekarang tubuhnya mudah lelah dan terasa malas untuk di bawa bergerak. Padahal selama perjalan dari Bali ke sini ia tertidur, dan Ray sama sekali tidak membangunkan-nya. Bahkan Ray membopongnya saat turun dari private jet dan masuk ke dalam mobil.


Kanaya menoleh ke arah pintu yang terbuka perlahan, sosok pria tinggi yang hampir dua bulan resmi menjadi suaminya sedang berjalan ke arahnya degan senyum menyeringai.


Kanaya tau pasti dari seringaian suaminya itu. "Jangan aneh aneh Ray, aku cape banget."


Ray mulai merangkak ke atas ranjang, dan berhenti tepat di atas tubuh sang istri. Menahan berat tubuhnya pada kedua lengannya agar tidak di bebankan pada tubuh mungil sang istri. "Fikiran kamu tuh, jelek banget tentang aku."


Kanaya mendengus seraya membuang wajahnya kesamping "aku udah hapal sama kamu Ray, kamu pasti ada maunya."


Ray terkekh geli, kenapa Kanaya semakin hari semakin menggairahkan sih. Ray menyetuh dagu Kanaya agar kembali menatap ke arahnya, mencium kening gadis itu lama. "Makasih, kamu udah terima aku jadi suami kamu, dengan segala sifat buruk aku."


Ray menggulingkan tubuhnya ke samping, menatap langit-langit kamarnya. Sementara Kanaya bergeser dan meletakkan kepalanya di atas dada bidang sang suami "makasih juga sayang, udah pilih aku jadi istri kamu."


Ray tersenyum senang lalu mengecup pucuk kepala Kanaya serta mengusap lembut punggung sang istri. Tiba tiba Kanaya merasakan mual, segera Kanaya bangkit dari posisinya dan berlari menuju toilet.


Ray turut bangkit dari ranjang mengikuti Kanaya ke arah kamar mandi, mengusap tengkuk Kanaya lembut. "masih mual?"


Kanaya menggeleng pelan, menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi, menahan tubuh Ray yang akan mendekat "stop!"


Ray menghentikan langkahnya dan mengerutkan keningnya dalam.


"Jangan deket deket, aku mual sama bau kamu."


Ray tersentak, apa ia tidak salah dengar? Seger Ray mencium aroma bajunya dan tubuhnya untuk memastikan_tidak ada yang bau. Bahkan aroma musk masih menempel di kemeja biru navy-nya.


"Bau apa sayang? Inikan bau parfum kesukaan kamu." Ujar Ray membela diri.


"Sekarang aku gak suka" Kanaya menutup hidung dan mulutnya dengan telapak tangannya, lalu keluar dari kamar mandi melewati Ray begitu saja yang mematung di tempatnya.


Ray menghela nafas pasrah, kemudian melepas kemeja dan celananya, lalu masuk kedalam ruangan dengan kaca buram. Merasakan air yang mengalir dari shower membasahi sekujur tubuhnya, ia benar-benar bingung dengan sifat Kanaya yang berubah-ubah.


***


Kanaya mendudukkan dirinya di tepi ranjang, menyambar gelas kaca dan menenggak isinya hingga tandas. Namun, benda dengan angka berurutan di atas nakas mengalihkan perhatiannya. Di letakan gelas itu perlahan, lalu menyambar benda tersebut. Terakhir ia datang bulan adalah satu minggu setelah menikah dengan Ray, lalu ia tidak datang bulan lagi setelah-nya sampai sekarang.


Kanaya melirik perutnya, lalu tangannya tergerak mengusap lembut perutnya yang masih rata setelah meletakan kalender itu di atas nakas. Apa buah cintanya bersama Ray sudah tumbuh disana? Atau ia hanya telat karena kelelahan? Ah lebih baik ia memeriksa-nya besok.


Kanaya berjengit kaget, menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka lebar. Kanaya tersenyum manis melihat sosok pria tampan dengan rambut sedikit basah, serta handuk putih yang melingkar di pinggangnya.


Ray berjalan perlahan menuju lemari mengabaikan tatapan sang istri, memakai kaos putih serta celana pendek selututnya.


Kanaya menelan ludahnya kelat, ini bukan pertama kalinya ia melihat suaminya tanpa pakaian, ah...kenapa fikiran-nya sekarang seperti Ray_mesum. Tapi, tubuh tegap serta dada bidang sang suami membuatnya merona, ia jadi ingin merebahkan suaminya di atas ranjang.


"Kenapa kamu senyum senyum?" Ray berjalan mendekat setelah meletakkan handuk itu pada tempatnya.


Kanaya menggeleng cepat, menepis bayangan kotornya dari dalam otak sucinya. "A-aku cu-cuma__"


Perkataan Kanaya kembali tertelan karena Ray lebih dulu ******* bibir tipis itu, hanya sebentar, lalu Ray melepaskan pangutannya sambil mengusap bibir tipis itu dengan ibu jarinya. "Itu hukuman buat kamu, karena bilang aku bau."


Kanaya merona, lidahnya tidak bisa berkata-kata. Mata lentiknya terus menatap punggung Ray yang terlihat menjauh dan menghilang di balik pintu.


***


Pelayanan itu hanya mengangguk anggukan kepala mendengarkan nyonya mudanya bicara, sementara Kanaya terus mengarahkan pelayan yang umurnya tidak jauh berbeda dengan nya sembari memberikan beberapa lembar uang.


"Ini semuanya Non?" Kata pelayan itu bingung.


Pelayan itu hanya tersenyum menanggapi titah Kanaya, ia di perintahkan membeli alat tes kehamilan dari segala bentuk dan merk. Alasannya, agar Nona mudanya itu yakin dengan hasilnya sebelum memberitahu pada seisi penghuni rumah ini. Barulah ia akan memeriksa-nya ke dokter setelah hasilnya positif.


Kanaya kembali ke ruang tengah mendudukkan dirinya di sofa berwarna coklat itu, lalu memainkan ponsel sembari menunggu bibi pelayan membawakan pesanan-nya.


Sebuah postingan kurang ajar terpampang nyata di beranda sosial medianya, seseorang tengah memakan mangga dengan sambal begitu lahapnya.


"Ya ampun enak banget." Kanaya mengecap bibirnya, seakan sedang mencicipi rasa yang ada di dalam video tersebut.


"Kamu kenapa?"


Kanaya mengangkat wajahnya mengabaikan video laknat tersebut, terlihat ketiga pria tampan yang nyaris mirip sedang berjalan beriringan menuju ke arahnya.


"Ehm, a-aku mmm_aku"


"Aku apa?" Pancing Ray, sementara Raka dan ayah Martin terlihat serius menatapnya membuat Kanaya semakin gelisah.


"A-aku pengen makan mangga Ray."


Ketiga pria itu menghela nafas lega, ternyata bukan ingin berbicara serius, atau apapun yang menyangkut hubungan mereka.


"Nanti biar mbok Nah yang beliin."


Kanaya menggeleng cepat "gak mau mbok Nah, maunya kamu yang ambil."


"Ambil?" Seru ketiga pria itu bersamaan, maksud dari ambil itu apa? Yang ia tau itu belikan. Kalau ambilkan berarati...


"Iya, kamu ambilin dari pohon." Seru Kanaya dengan wajah berbinar.


Ayah Martin dan dan Raka segera beranjak berdiri dan melenggang pergi meninggalkan ruangan itu.


"Ayah,bang! Kok pergi...?"


Tanpa menghiraukan panggilan dari Ray, Raka dan ayah Martin kembali naik ke lantai atas. Ray menoleh kesamping, Kanaya sedang menatapnya dengan puppy eyes dan raut memohon.


"Ambil dimana sayang? Beli aja ya?"


Kanaya menggeleng "rasanya beda Ray, aku maunya yang baru metik."


"Metik dimana?"


Kanaya berfikir sesaat, sepertinya ia pernah melihat pohon mangga dimana ya?


Ray menatap Kanaya curiga, jangan bilang mangga yang ada di samping rumah sang ayah, rumah pengusaha sombong dan berwajah seperti Hellboy. Please...


"Mangga yang di samping rumah ayah itu loh Ray, yang buahnya sampai ke bawah."


Damn! Habislah riwayat mu Ray...


🍁🍁🍁


Selamat berjuang Ray 😂😂


Konfilknya nanti ya, untuk sementara soal ngidamnya Kanaya dulu 😂


Btw, buat yang belum mampir ke My Posesif Husband. Skuy tengok, udah 5 bab, kisah Raka gak kalah romantis dan menegangkan dari Ray dan Kanaya. Abaikan bahasa kasar dan adegan 21+ yang bertebaran 😂😂 fokus ke alurnya aja 😂