Only you

Only you
Kesibukan Masing-Masing



Jam menunjukkan jam delapan malam, Regan baru pulang setelah kemarin seharian sibuk di rumah sakit, kecapean dan malas untuk pulang hingga tertidur dirumah sakit.


"Hai sayang" sapa Ara yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Hai Bun" balas Regan melambaikan tangannya tetap melangkah menaiki tangga.


"Mau langsung makan atau mandi dulu?"


"Mandi."


Bukan ... dia tidak butuh mandi atau makan hari ini, dia hanya butuh bertemu Belda untuk mengisi daya semangatnya kembali.


Regan menatap pintu kamar Gea yang disebelah kamarnya, semarah apapun dia pada Belda tetap saja Regan sulit untuk menjauhi Belda, andai saja jika kemarin tidak sibuk dengan pembalikan nama kepamilikan dan operasi sehingga dia kelelahan, Regan akan segera pulang dan kembali berbicara dengan kepala dingin.


"Qe" panggil Regan sambil mengetok pintu kamar.


Tidak ada sahutan dari dalam, Regan kembali mengetuk pintu masih saja tidak ada jawaban. Dada Regan mulai berdebar menebak-benak segala hal negatifbyang muncul dalam benaknya.


"Belda sudah balik ke apartemen dari kemarin Bang."


Ara berjalan dari arah tangga menghampiri Regan yang terdiam ditempatnya. Regan menatap pada Ara dengan kening mengerut tidak percaya.


"Apa Belda tidak memberi tahu padamu?"


Regan terdiam, wajahnya berubah datar.


"Berbicaralah baik-baik" ucap Ara lembut mengelus lengan Regan, "Belda sedang mumet dengan masalahnya dan kamu juga sedang mumet dengan pekerjaan. Dia masih berumur belasan Ar ... belum sepenuhnya dewasa. Cobalah untuk memahaminya seperti teman-temanmu yang selalu mencoba memahami, mengalah dan memberikanmu pengertian sebagai yang termuda diantara mereka."


Kepala Regan mengangguk pelan, mencium pipi Ara dan melangkah pergi menuruni tangga.


Dia sudah mencoba memahami Belda dari awal, mencoba mengalah dan memberikan pengertian bahkan selalu melakukan hal itu tetapi Belda selalu melakukan apa yang menurutnya benar.


Benar kata Ara jika mereka memiliki kesibukan dan masalah masing-masing sehingga kemarin Belda memutuskan sesuatu begitu gampangnya, dan Regan begitu gampang pula terpancing emosi.


"Sudah gak sibuk lagi di Rumah Sakit?" tanya Abra saat mereka berpapasan di ruang tamu, "sekarang mau kemana lagi?."


Regan menghentikan langkahnya sejenak berfikir sebelum menjawab, "mencari kesibukan" sahut Regan kembali melangkahkan kakinya.


Ya, mencari kesibukan.


Kali ini Regan tidak akan menghampiri Belda lebih dulu, dia akan membiarkan Belda berfikir dan memutuskan semuanya, cukup dia memaksa kehendaknya berharap Belda akan memahami segala hal kemauan Regan atas hubungan merek.


Tetapi jika sampai Belda meminta semua hubungan mereka selesai ... Regan akan mengambil langkah yang tidak akan pernah terfikir oleh siapapun.


^-^


"Malam ini perfome?" tanya Damar disebrang.


Belda menghela nafas, "iya ... maaf tidak memberi tahu karena belum terbiasa memberitahu kegiatanku pada Papa."


Tetapi aku terbiasa memberi tahu kegiatanku pada Re, batin Belda.


Saat akan keluar dari apartemen tadi dia mengeluarkan ponselnya dengan perasaan bahagia tidak sabar untuk untuk menghubungi Regan memberitahu jika dia akan perfome untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan vakum.


Tetapi jari telunjukkan mengambang diudara saat melihat foto profil Regan yang memperlihatkan pria itu memunggungi kamera menatap hamparan laut lepas.


"Iya Papa mengerti"


"Tidak usah menunggu, karena sesudah perfome masih mau meeting dengan anak-anak untuk ikut kompetisi yang pernah Belda bicarakan dengan Papa."


"Iya, jangan lupa sesibuk apapun harus istirahan El."


"Iya Pa ... jangan lupa istitahat juga"


Perfome ...


Ini pertama kalinya Belda kembali setelah vakum beberapa bulan ngedj di club Blue Heavent milik Satya.


Pelarian dari kepalanya yang seakan meledak adalah melakukan kegiatan yang sangat disukainya, tadi pagi dia sedang berkumpul dengan Bagus dan Kara, tiba-tiba Satya datang mengatakan jika semua pengunjung merindukan DJ Queen Bee mereka, tampa pikir panjang Belda langsung menyetujuinya.


Bahagian, lepas dan bebas yang Belda rasakan saat perfome menghibur pengunjung club, meski hanya beberapa jam setidaknya dia bisa melepas penat dan mumetnya otak yang memenuhi kepalanya.


Di menit terakhir perfome, seakan sudah terbiasa mata Belda menyapu seluruh ruangan club mencari sosok Regan yang biasanya menunggunya selesai perfome didepan meja bartender, tetapi Belda tidak menemukan peria itu kalai ini, tidak ada Regan dimanapun.


Selesai perfome Belda turun langsung memasuki ruang VVIP yang kosong, melewati Satya, Bagus dan Kara yang menunggunya di depan bar.


"Lo kenapa?" tanya Kara setelah menyusul Belda masuk kedalam ruangan VVIP. "Jalan ngelewatin kita, bukannya ke Regan malah masuk kesini."


"Emangnya Regan ada?" tanya Bagus, "dari tadi gue gak ngeliat dia."


Kara menggelengkan kepala, sedangkan Belda diam tidak merespon justru duduk bersandar pada sandaran kursi menatap malas pada Bagus.


"Lo gak bilang ke Regan kalau lo perfome malam ini?."


"Gak mungkin dia gak bilang" ucap Bagus duduk disamping Kara, "pasti mereka lagi ada masalah Beb."


Belda memutar bola matanya jengah, "kita bahas kompetisi yang dikatakan bang Satya deh ... panggil dia cepetan."


Bagus mencibir sebelum keluar dari ruangan itu.


"Lo beneran selama cuti kuliah mau mengambil banyak job dan kompetisi?" tanya Kara merasa ragu dengan keputusn Belda tadi pagi.


"Ya."


"Bukannya lo ingin perlahan mengurangi aktivitas lo sebagai DJ dan perlahan akan berhenti sebagai DJ?, kenapa sekarang malah jadi ..."


"Gue tetep suatu saat akan berhenti ngedj, jadi sebelum itu gue harus ngeraih impian gue jadi DJ Pro dan terkenal" potong Belda, "toh mereka juga gak mempermasalahkan status gue" lanjutnya lagi dengan suara menggumam.


Pintu ruangan VVIP terbuka, Satya dan Bagus masuk.


Tangan Satya meletakkan beberapa tumpukan kertas didepan Belda, Satya benar-benar mencari kompetisi apapun yang bisa diikuti Belda, pada hal baru tiga hari lalu dia mengutarakan keinginannya.


"Kompetisi diluar dan didalam negeri" Satya menunjuk kertas yang dia bawa, "lo tinggal pilih mau yg mana dan ..."


"Kalau jadwalnya gak bentrok gue ambil semua" potong Belda.


Satu ...


Dua ...


Tiga ...


Dan entah beberapa detik atau menit Semua terdiam menatap Belda tak percaya.


"Temen gue di bangkok juga mau lo ..."


"Tampil disana?, ok" lagi-lagi Belda memotong kalimat Satya.


Semua semakin tidak percaya dengan keputusan Belda, biasanya Belda akan menolak tawaran tampil di club lain, bahkan anti pati mengikuti kompetisi.


Hanya satu kali dia keluar negeri karena itu pun karena ingin liburan gratis, dan disanalah dia bertemu dengan Regan untuk pertama kalinya.


^-^


Mencari kesibukan yang Regan maksud, duduk di kamarnya di Raja Crown dengan leptop didepannya.


Jemari tangannya bagaikan menari diatas tombol keyboard leptopnya dia sampai tidak sadar Aslan masuk menatapnya dari ambang pintu sejak tadi.


"Lo ngapain disini?" tanya Aslan datar.


Gerakan tangan Regan terhenti, dia menoleh kearah pintu sejenak sebelum kembali menggerakkan tangannya.


Asaln menghela nafas tidak mendapat respon Regan, dia berjalan menghampiri Regan dan merebahkan tubuhnya disamping Regan duduk.


"Lo sendiri kenapa ada disini?, ini bukan hari jum'at," tanya Regan tetap dengan tatapan matanya menatap layar leptopnya.


"Karena sosok ciptaan Tuhan yang selalu bikin otak muter" jawab Aslan menderamatisir.


Regan terkekeh paham dengan apa yang dimaksud Aslan barusan, sepertinya permasalahn mereka sama kali ini. Tangan Regan menutup layar leptonya, meletakkannya dinakas samping tempat tidur dan ikut merebahkan tubuhnya disamping Aslan menatap kelangit-langit kamarnya.


Tidak ada yang mengatakan apapun, mereka sibuk dengan isi otak masing-masing.


"Gue kira hanya gue disini"


Aslan dan Regan menoleh kearah pintu secata bersamaan, diambang pintu Alaric berdiri dengan wajah kelelahannya. Perlahan Alaric berjalan dengan lesu kearah kasur dan merebahkan tubuhnya disamping Aslan.


"Bentar lagi lo kan ulang tahun Ar" ucap Alaric lirih, "ngadain pesta atau apa gitu ... biar gue bisa ngelepas penat dan bahagian meski sebentar."


"Enggak gue males" sahut Regan, "kita udah pada sibuk dengan kerjaan masing-masing. Gue gak mau pesta-pestaan, kalian juga udah minta PJ bermodus restu."


Alaric menaik turunkan kakinya seperti anak kecil yang sedang mengambek, "gue bener-bener butuh hiburan Ar ... tadi ke club, meski Belda yang main gue tetep kurang puas."


Mendengar Belda kembali ngedj Regan mengeratkan rahangnya.


"Kalau Belda lagi ngedj ngapain lo disini?" tanya Aslan.


Regan berdecak dan berbalik badan menelungkup tidak ingin membahas hal itu.


Tatapannya begitu kosong menatap kedepan.


Sebenarnya apa mau kamu Qe?


^-^


.


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan ... 🙏


Happy weekend semua ...


Salam sayang dari Author untuk kalian semua Readers yang selalu mendukung karya Author ter ter ter gak jelas ini 🤣


Terima kasih sudah mampir di Only You 🥰


Love you 😘


Unik Muaaa