Only you

Only you
CEMBURU



Kanaya merasakan Tubuhnya membentur dada bidang seseorang, segera Kanaya mengangkat wajahnya melihat siapa pemilik tubuh tegap itu.


"Kamu gak apa apa?" Tanya Ray lembut. Kanaya mengangguk serta membenarkan posisinya berdiri di samping Ray. Terlihat jelas jika saat ini rahang suaminya mengeras dengan sorot mata mengancam pada wanita di hadapannya.


Gemetar, Gabby merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. Beberapa pria bertubuh tegap juga sudah berdiri di belakangnya, dengan wajah tanpa ekspresi.


"Beri dia pelajaran." Titah Ray tak terbantahkan dengan wajah datarnya pada bodyguard yang sudah berdiri di belakang Gabby.


"Tunggu!" Kanaya menoleh ke samping "kamu mau apain dia Ray?" Meskipun Kanaya kesal, tapi bukan berarti ia menyetujui tindakan suaminya itu.


"Mau kasih sedikit pelajaran, agar dia bisa menggunakan otak sempitnya dengan benar, dan berfikir sebelum bertindak." Jelasnya panjang lebar dengan nada suaranya yang menahan kesal.


"Bukan salah gue, dia aja yang jalannya gak bener. Dan Lagian nih ya, orang lagi hamil ngapain juga pake heels." Gabby mengelak sembari bersidekap, mencoba menutupi rasa takutnya agar tidak terlihat menyedihkan di depan lawannya.


Melongo, Kanaya terkejut dengan perkataan Gabby yang malah menyalahkan dirinya. Padahal sudah jelas wanita itu yang memulai memancing emosinya dengan berkata bohong tentang suaminya, dan juga menjegal langkahnya hingga ia terhuyung ke depan.


"Ya udah, bawa aja dia." Entah keberanian dari mana, sosok Kanaya yang dulu terlihat bak malaikat, sekarang tertular sisi devil suaminya.


Ray tersenyum takjub, wanitanya Ray tidak boleh lemah. Karena tidak semua musuh pantas di kasihani, atau mendapat pengampunan.


Ray memberi kode dengan mengangkat dagunya, dengan segera para bodyguard itu membawa Gabby.


Hanya segelintir orang saja yang memperhatikan mereka, suara alunan musik yang cukup keras serta ramainya para tamu undangan yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Tidak ada yang menyadari kejadian itu, para bodyguard ayah Martin bekerja dengan baik, menodongkan pistol dari balik jasnya ke pinggang Gabby. Mengancam gadis itu agar bersikap biasa saja dan tidak mencoba coba untuk meminta pertolongan apalagi berteriak.


Sepeninggal Gabby, Raka dan Davina berjalan menghampiri Ray dan Kanaya.


"Ada apa?" Raka bertanya pelan pada Ray, saat sudah menjaga jarak dengan Davina dan Kanaya.


"Hanya masalah kecil." Jawab Ray santai sembari menyesap minumannya.


"Gue liat Doni sama anak buahnya bawa cewe, dan itu pasti bukan masalah kecil." Tebak Raka tepat sasaran.


Ray menghela nafas pelan, kakanya selalu saja bisa menebak. Dan ia merasa seperti anak kecil saja yang tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.


"Hmm, ada yang mau mencelakai Kanaya." Ray berkata jujur pada akhirnya, sepertinya selamanya ia akan tetap di anggap anak kecil yang perlu di lindungi.


Raka tidak merespon, tapi tangan kirinya merogoh ponsel di saku jasnya. Ia mengetikkan pesan pada Doni, pimpinan bagian keamanan keluarga Febriano.


Kurung gadis itu di sel bawah tanah, dan jangan di beri penerangan.


Setelah mengetikkan pesan itu, Raka kembali memasukan ponselnya ke dalam saku jasnya. Dan kembali mendekat ke arah Davina juga Kanaya di susul oleh Ray di belakangnya.


Acara itu terus berlanjut, namun Ray lebih memilih pulang lebih awal, setelah berpamitan pada Edo dan Ayrin tentunya. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi jika ia berlama-lama di tempat itu.


Mobil melaju perlahan membelah jalanan kota yang masih ramai, Kanaya duduk dengan perasaan gelisah di jok belakang bersama Ray. Kanaya menyandarkan kepalanya di bahu sang suami dengan tangan saling bertaut, fikirannya tidak tenang meskipun tadi ia menyetujui bodyguard Ray untuk memberi pelajaran pada wanita tadi.


"Ray"


"Hmm"


Kanaya mendongak, menjangkau wajah sang suami yang tengah sibuk dengan ponsel di tangan kirinya.


"Kamu...kasih pelajaran apa sama cewe tadi?"


Ray memasukan ponselnya di saku jas, mengusap pipi Kanaya seraya berucap "gak perlu kamu fikirin, dia gak bakal kenapa-napa kok."


Ray mengecup kening Kanaya singkat. Namun, tetap saja perkataan Ray belum membuat hatinya tenang. Terlebih soal...Ray pernah tidur bersama wanita itu. Issh, menyebalkan. Awas saja kalo itu benar terjadi, aku bakal patahin burungnya.


"Ray" kali ini nada suara Kanaya sedikit mendesak.


"Kenapa lagi sayang, hmm?" Ray menarik dagu Kanaya, mengangkat kedua alisnya ke atas, seakan menunggu Kanaya mengucapkan kalimat selanjutnya.


"Kamu, kamu apa?" Ray menatap Kanaya bingung.


"Apa, kamu pernah tidur sama wanita lain sebelum aku?"


Ray tertawa pelan, apa ia tidak salah dengar? Kanaya terdengar_cemburu. Setelah menikah hampir satu tahun ia baru merasakan di cemburui.


"Ihh, kok malah ketawa?"


Ray mengehentikan tawanya, kini berganti menatap Kanaya dengan tatapan menggoda "Kamu cemburu?"


Kanaya menjauhkan tubuhnya, dari jawaban Ray ia menangkap sesuatu yang_tidak enak.


"Ih, siapa yang cemburu? Aku cuma nanya." Ketusnya, moodnya berubah seketika. Rasanya ia ingin memakan sesuatu untuk menjadi pelampiasan.


Suara Kanaya membuat driver yang saat itu tengah fokus menyetir turut menoleh ke belakang sekilas.


"Kamu dapet gosip itu darimana?"


Lihat? Tinggal jawab saja iya atau tidak,Β  apa susahnya? Suaminya justru berputar putar, seperti mengelak.


"Jadi bener?!" Sentak Kanaya denganΒ  melempar tatapan membunuh.


"Apanya yang bener sayang?" Ray mulai bingung, ada apa dengan istrinya. Kenapa Kanaya tiba-tiba berubah sangar seperti ini.


Mual, perut Kanaya terasa mulas. Sepertinya anak dalam kandungan Kanaya merasakan apa yang Kanaya rasakan. Kanaya mengatur nafasnya yang terasa sesak.


"Jadi bener? kamu udah tidur sama cewe tadi?!" Entah itu pertanyaan atau pernyataan. Kanaya mengusap perutnya yang sedikit nyeri, karena dari tadi ia berucap dengan nada tinggi.


Ray mengulum senyum geli, istrinya benar-benar mengerikan kalau sedang marah. Dan itu membuat Ray ingin menaklukkan harimau betinanya di atas ranjang. Sayangnya saat ini mereka masih di dalam mobil.


"Itu gak bener sayang. Kamu itu yang pertama dan terakhir buat aku."


Kanaya melunak, perkataan Ray berhasil memanipulasi fikirannya dan meredakan emosinya.


"Satu lagi"


"Apa?"


Ray mendekatkan wajahnya dan berbisik pelan di telinga Kanaya dengan seringai nakal "kamu wanita pertama yang berani naik di atas aku."


Kanaya membulatkan matanya dengan rahang terbuka. Apa katanya tadi? Naik? Astaga! Kenapa Ray masih ingat kejadian itu sih? Bikin malu saja.


Sementara Ray tertawa geli, mentertawakan ekspresi wajah Kanaya yang merona malu, ia baru saja meruntuhkan kecemburuan Kanaya yang tidak beralasan. Bahkan membuat Kanaya menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya, setelah tadi istrinya itu marah marah tidak jelas.


"Jangan bahas itu, aku malu Ray." Cicit Kanaya dengan masih menyembunyikan wajahnya.


Mobil berhenti, tidak terasa mereka sudah sampai di pelataran rumah dengan dominasi warna putih itu.


Kanaya segera mengangkat wajahnya, lalu berbalik memunggungi Ray, dengan tangan nyaris membuka pintu mobil. Tapi, Ray menahan tangannya.


"Aku tunggu kamu hilaf lagi malam ini." Bisiknya lembut sambil mengecup bahu Kanaya yang terbuka.


🍁🍁🍁


Duh, kalo khilaf-nya begitu aku juga mau πŸ˜‚πŸ˜‚