
Kanaya menggeliat merasakan hembusan nafas serta kecupan lembut di sepanjang bahunya yang tak terhalang kain, siapa lagi pelakunya selain Ray.
"Ray, udah..."
Kanaya menyingkirkan lengan kekar yang melingkar di perutnya, namun Ray justru semakin mengeratkan tangannya.
"Sebentar lagi sayang." Lirihnya di telinga Kanaya sembari tangannya menjelajah kemana mana.
"Ini udah siang Ray, nanti ayah marah"
"Kamu lupa siapa aku? Hum"
Ya, bagaimana ia lupa? Ray si keras kepala, dan tukang maksa.
Kanaya menggeleng pelan, ia tidak mungkin lupa kejadian itu. Lalu detik kemudian ia tersentak begitu merasakan tangan Ray sudah berada di area favoritnya. Dengan cepat Kanaya menyentak tangan Ray jauh jauh dan segera bangkit.
"Ray" terdengar suara ayah dengan sedikit keras di iringi suara ketukan di pintu.
Kanaya segera melilit selimutnya dan berlari kecil ke dalam kamar mandi.
"Iya ayah." Jawab Ray malas, ayahnya selalu saja menganggu kegiatan paginya, ia jadi gagal bermain dengan Kanaya.
"Sudah jam berapa ini, cepat bersiap siap." Kali ini nada suara Martin mulai tidak bersahabat.
"Iya."
Ray bangkit dari tempat favoritnya, lalu menyusul Kanaya ke dalam kamar mandi, sepertinya mandi bersama Kanaya ide yang bagus.
Semenjak kehadiran Kanaya di dalam keluarga ini Ray merasa di batasi, ayahnya dan Raka selalu saja mengganggu kegiatan bermesraan bersama Kanaya, bahkan terkesan berlebihan.
"Sayang buka pintunya"
Ray mengetuk pintu, setelah menyadari pintu itu terkunci dari dalam. Tidak ada jawaban dari dalam sana, hanya terdengar suara gemercik air yang mengalir.
Ray menyandarkan tubuhnya ke dinding, satu bulan sudah Kanaya resmi menjadi istrinya. Tapi, ternyata tidak mudah membuat Kanaya tergila gila padanya, meski ia sudah merayu habis habisan. "Sayang buka dong, aku mau masuk"
Detik kemudian terdengar suara pintu terbuka di sertai aroma strawberry yang menyegarkan memenuhi ruangan. Kanaya berdiri di ambang pintu dengan rambut yang di lilit handuk.
"Sana masuk." Ujar Kanaya sembari mengeratkan ikatan di pinggangnya.
Ray menoleh dengan senyum menyeringai, namun senyuman itu luntur seketika begitu Kanaya menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan sorot mata tajam.
Ray menghela nafas pelan, kenapa setelah menikah Kanaya berubah menjadi ibu suri? Semakin cerewet dan ganas, bahkan istrinya itu pandai membalikan kata katanya jika bersangkutan dengan ranjang.
"Aku gak mau ayah sampe dobrak pintu lagi ya Ray, gara gara kamu terus ngurung aku di dalam kamar,Β aku malu tau." Kicau Kanaya kesal.
Ray terkekeh geli mendengar ocehan sang istri, ia ingat bagaimana ayahnya begitu khawatir pada menantu kesayangannya, sampai sampai ayahnya mendobrak pintu kamarnya. Semua karena ulahnya yang terus mengerjai Kanaya sampai gadis itu tidak keluar kamar.
"Iya, gak akan terjadi lagi." Ray melangkah masuk namun berhenti di samping Kanaya, membisikan sesuatu. "Nanti pintunya aku ganti, pake pintu besi"
"Ray!! Ya, ampun kamu tuh..." Kanaya mengehentikan ucapannya karena terlalu gemas dengan suaminya itu, sementara Ray sudah menutup pintu itu rapat.
Ray kembali membuka pintu itu, dengan kepalanya menyembul keluar "Apa? Mau lagi?" Seringai mesum terlihat jelas di bibir Ray.
"Dasar mesum!"
"Tapi kamu suka kan?" Godanya, dengan menaik turunkan kedua alisnya.
"Gak"
Bibirnya tak sesuai dengan tubuhnya, pipi itu nyatanya merona malu.
"Cieee merah, malu malu tapi mau"
Kanaya berbalik badan, lebih baik ia segera memakai bajunya sebelum suaminya itu kembali menariknya ke atas kasur. Ray terkekeh geli melihat istrinya yang berlalu meninggalkan dirinya dengan merona malu. Ray segera menutup pintu kamar mandi dan bergegas membersihkan diri sebelum ayahnya kembali mendobrak pintu itu.
****
"Kamu sakit?"
Ayah Martin mengamati wajah Kanaya yang terlihat pucat, begitupun Raka yang tak kalah khawatirnya.
"Lo bikin Kanaya begadang lagi?" Raka menatap Ray dengan sorot mata penuh ancaman.
"Cuma berapa kali doang kok, gak sampe begadang, iya kan sayang." Ray menatap Kanaya meminta persetujuan.
Raka dan Martin menggelengkan kepalanya, mirip siapa sih dia? Sampai segitunya sekali...
"Awww"
Kanaya mencubit perut Ray, ucapan suaminya itu tidak ada saringannya sekali sih, masa hal seperti itu di bicarakan. Bikin malu saja.
"Aku cuma mual, sama pusing sedikit kok yah." Kanaya membuat kesalahan besar menjawab seperti itu. Tentu saja reaksi ketiga pria posesif itu terkejut.
"Kamu hamil?" Tanyanya serempak seraya menegakan tubuhnya.
"Ehh, anu..mm, aku__aku kayanya mabok naik pesawat deh yah, kak. Soalnya ini pertama kalinya aku naik pesawat." Jelasnya kemudian, terlihat gurat kecewa di wajah ketiga pria itu yang langsung terduduk lemas di kursinya.
Hening seketika, Kanaya menyandarkan tubuhnya sembari memejamkan matanya menahan mual dan pusing. Meskipun ia terbang menggunakan private jet dengan fasilitas terbaik agar penumpang merasa nyaman, namun tetap saja Kanaya tidak biasa.
Perjalan menuju pulau Dewata Bali hanya dua jam, namun terasa begitu lama bagi Kanaya. Terbang di atas ketinggian 6000kaki dengan jarak tempuh 968 km membuat Kanaya semakin lemas. Hingga tanpa terasa ia tertidur.
***
Setibanya di bandara khusus, sebuah LimosinΒ terparkir manis dengan pintu terbuka. Martin dan Raka masuk lebih dulu kedalam mobil itu lalu di susul oleh Kanaya dan Ray.
Limosin itu melaju pelan, menuju hotel yang sudah di booking oleh ayah Martin untuk acara resepsi pernikahannya dengan Kanaya. Ya, sang ayah meminta resepsi di adakan setelah Ray menyelesaikan S2-nya dengan nilai terbaik, karena Ray akan meneruskan perusaahan ayahnya.
Setibanya di hotel, Ray segera mebawa Kanaya masuk kedalam kamar miliknya. Ayah Martin dan Raka menggelengkan kepala takjub, Ray itu tidak kenal lelah. Titisan siapa sih?
"Inget Ray istri kamu lagi sakit" ujar ayah Martin sebelum Ray masuk kedalam lift.
"Hu'um" jawab Ray sekenanya, ayahnya tidak mungkin kan mendobrak pintu hotel ini? Atau mungkin meruntuhkan-nya? Ah sial, ia lupa siapa ayahnya. Pria tua dengan segala kekuasaan dan kekayaan yang dimilikinya, mampu berbuat apa saja.
"Ray, aku mual" ujar Kanaya yang sedari tadi hanya diam saja, tubuh istrinya itu terlihat lemas. Dengan sigap Ray membopong tubuh mungil Kanaya dalam pelukannya, hingga denting lift berbunyi Ray segera keluar dari sana.
Beberapa pelayan yang berpapasan dengan Ray menuduk, dengan raut malu. Ray mengabaikan tatapan para pelayan itu padanya, saat ini ia ingin membaringkan Kanaya di ranjang, gadis itu butuh istirahat. Ray janji tidak akan menyentuh Kanaya lagi sampai gadis itu sembuh.
"Ray aku udah gak kuat, aku mau muntah"
Ray segera menurunkan tubuh Kanaya setelah membuka pintu kamarnya. Kanaya segera berlari tergesa, karena ia sudah tidak sanggup lagi menahannya.
"Kamar mandinya di sebelah sini sayang." Ray menunjuk pintu itu kamar mandi itu seraya mengikuti kanaya di belakangnya.
"Uwekk uwekk"
Kanaya memuntahkan isi perutnya dengan bantuan pijatan Ray di lehernya.
"Masih mual?" Tanya Ray khawatir.
Kanaya menggeleng pelan, lalu berbalik. Ray langsung mengangkat tubuh Kanaya sebelum gadis itu melangkah, Ray merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang dengan hati hati lalu menyelimuti-nya hingga batas dada.
"Maafin aku sayang" ucap Ray tulus dengan raut sesal, seraya mengusap kepala Kanaya pelan.
Kanaya tersenyum tipis seraya menggeleng pelan "kamu gak salah kok, aku cuma kurang enak badan."
"Yaudah kamu istirahat aja, aku janji gak bakal macem macem kok." Ucapnya sungguh sungguh
"kecuali kalo kamu maksa aku"
Lihat? Baru saja Kanaya bernafas lega karena suaminya pengertian, tapi belum ada satu menit suaminya ini sudah kumat lagi.
"Ayaahhh"
πππ
Begitulah hubungan Ray dan Kanaya setelah menikahπΒ karena aku belum nikah jadi kurang tahu ππ
Jangan dulu unfav, karena masih ada bonus chapter, dan kalau sempet aku lanjutin.ππ
Titisan siapa Lo Ray? Gitu amat π