Only you

Only you
Lelah



Udara dingin langsung menerpa wajah Regan, baru saja pintu pesawat terbuka dan dia sudah lebih dulu melangkah keluar diikuti yang lainnya.


Sudah lebih dari dua tahun mereka tidak menginjakkan kaki di tempat ini, tempat dimana mereka dulu pernah membuat kegaduhan dunia mafia meski sebenarnya niat mereka hanya menolong Emma yang sedang dalam kesulitan saat itu.


"Jangan ada yang memposting apapun disosial media" ucap Alaric kembali mengingatkan.


"Enggak ... nanti Bunda bisa mengamuk kalau tahu kita berlibur kenegara ini" sahut Regan.


"Gue gak mau Helen nyusul" timpal Aslan.


"Gea mau cari pacar dulu baru mau posting di sosmed biar Gea kebakar" penuh dengan kesungguhan mengatakannya.


Tiga orang yang mendengar perkatan Javir langsung menghentikan langkah mereka secara serempak, menghadap Javir menatapnya penuh pertanyaan.


Javir yang merasa hanya berjalan sendirian menghentikan langkahnya berbalik badan menghadap ketiga temannya. "Kenapa?" tanya pada ketiganya dengan kening mengerut.


"Yakin lo Gea akan kebakar?" tanya Aslan.


"Lo kepedean banget sih" cemoh Alaric.


Regan menghela nafas berjalan menghampiri Javir, menepuk pundaknya, "bangun bung" ejek Regan dengan suara datarnya kebali meneruskan langkah.


Aslan dan Javir tertawa ngakak mendengarnya, jika Regan ikut-ikutan mengolok-olok Javir, itu pertanda jika apa yang diktakan Javir memang tidak akan menjadi kenyataan.


Regan mengelurkan ponsel putih miliknya, itu adalah ponsel andalan Regan karena tidak akan ada siapapun yang bisa melacak keberadaannya atau menghacknya.


"Ponsel untuk gue mana yang udah lo modif?" tanya Alaric yang bsrdiri disampingnya.


"Ada di As" jawab Regn singkat.


Aslan mengeluarkan tiga ponsel dari tasnya, selama mereka berada dinegara ini mereka hnya boleh ponse yang Regan dan Javir modifikasi demi menghindar dari keisengan Malvin dan Nanda.


Regan menjulurkan kopernya pada Aslan lalu berjalan memisahkan diri dari mereka bertiga.


"Ar lo mau kemana?, mobil jemput Al ada disana" teriak Aslan.


"Gue mau ke rumah sakit" ucap Regan blik berteriak.


Tujuan pertamanya menginjakkan kaki disini adalah menemui dua dokter yang membimbingnya saat dirumah sakit dulu, Profesor Logan dan Domter Otto.


Tatatan mta Regan terokus pada layar ponselnya yang menampilkan video Belda yang sedng mendj diatas panggung dengan semangat dan penuh kebahagiaan. Dia ikut bahagia perempuan yanh dia cintai perlahan sudh meraih apa yang dia impikan, kata Bagus yang sering melapor padanya ingin mengeliarkan single baru mau kembli ke Indonesi dn itu membuatnu pusing menebk-nebk kapan itu akan terjadi.


Regan keluar dari taxi setelah sampi didepn rumah skiy, di mengikat cepol rambutnya yang sedikit panjang sebelum melangkahkan kakinya memasuku rumah sakit.


"Dokter Adam"


Baru saja Regan melangkahkan kaki masuk sudah ada yang memanggilnya, membuat Regan berdecak sambil memejmkn mata sejenak menecoba menyembunyikan kekecewaannya karena ada yang mengenalinya sebelum di bertemu dengan Profesor Logan atau Dokter Otto.



Regan menoleh kebelakang, ternyata Weni yang hendak pulang berlari kecil menghampirirnya. (Weni ada di Bab pertama, ayo ... siapa yang masih ingat ...)


"Apa?" tanya Regan datar.


"Ih ... kok malah tanya apa sih?, tanya kabar dong" gerutu Weni, "lama gak ketemu juga."


"Kapan-kapan aja basa basinya, mau ketemu prof dulu."


Bukannya pulang Weni malah menggerutu mengekori Regan yang terus masuk kelobby hotel.


Agar tidak ada yang kembli mengenalinya Regan menggunakan tudung hoddi jaketnya, menyembunyikan wajahnya dari semua orang.


"Help ... dokter ... help ..."


Suara teriakan dsri depan pintu lobby, Regan berbalik badan karena suara itu seakan tidak asing ditelinganya. Tepat saat berbalik badan Kara berlari memasuki lobby dengan wajah khawatir, terlihat Bagus keluar membuka pintu jok belakang.


Perasaan Regan yang mulai tidak enak berlari kearah mobil dengan cepat tidak memperdulikan teriakan Weni yang mrnegurnya agar tidak berlari dikoridor rumah sakit.


Tepat saat Regan berhenti melangkah Bagus hendak mengeluarkan Belda, tangan Regan secara sepontan mendorong Bagus kesamping, mengecek denyut nadi Belda memastikan jika Belda masih bernafas sebelum membopongnya masuk kedalam rumah sakit.


Kara dan perawat datang membawa brankar pasien, Regan meletakkan tubuh Belda diatasnya. Mengikuti kemana perawat itu membawa Belda hingga dia, Kara dan Bagus tidak diperbolehkan masuk.


"Dia kenapa?" tanya Regan setelah berbalik badan menatap Kara dan Bagus dengan kedua tangan berkacak pinggang.


"Dia lagi datang bulan sakit perut, tadi pagi sudah kesini. Sebelum perfome dia sakit perut lagi obtnua ketinggalan terus turun dari panggung langsung pingsan" jelas Kara dengan begitu cepat.


"Bukan hanya itu, dia juga kelelahan jarang istirahat" timpal Bagus.


Regan menghela nafas berat.


"Terus kenapa bisa lo disini?" tanya Kara.


"Dulu gue kerja disini" jawab Regan simple dan melangkah pergi begitu saja.


^-^


Tangan Regan mengelus rambit Belda, yang masih belum sadarkan diri. Tadi Dokter Otto yang langsung menanganinya, Belda hanya menhalami kram perut karena datang bulan dan magnya kambuh, terlebih Belda yang kelelahan semakin membuatnya lemah tidak bisa menahan sakit.


Meski setelah dua tahun mereka berpisah dan bertemu dengan kondisi Belda yang sakit entah kenapa Regn masih mersa bahagia.


Pertama kali dia melihat Belda didelan rumah sakit ini, dan setelah dua tahun berpisah mereka kembali bertemu dirumah sakit ini.


Tangan Belda perlahan bergerak dalam genggaman tangan Regan, membuat Regan tersenyum lebar menghujami tangan Belda dengan ciuman penuh syukur melihat Belda tersadar.


"Hai sleeping queen" ucap Regan lembut.


Mata Belda perlahan tebuka, menoleh pada Regan terdiam beberapa saat, mengerjabkan mata beberapa kali sebelum berkaca-kaca dan mulai menangis.


Regan berdiri mencondongkan tubuhnya, mencium kening Belda dan mengelus rambutnya menenangkan Belda agar berhenti untuk menangis.


"Kenapa menangis, perutnya masih sakit?" tanya Regan lembut.


Merasa kesusahan, Regan naik keatas kasur membuat Belda menggeserkan tubuhnya sebelum masuk kedalam pelukan Regan dan menangis segugukan membasahi baju Regan dengan air matanya.


"Aku tahu kmu kangen, tapi jangan agresif gini Qe ... nanti tangan yang diinfus keluar darah."


Belda seakan tak mengindhkan perkataan Regan mlah semakin memeluk Regan erat, Regan yang hanya bis pasrah memiringkan tubuhnya agar tangan Belda yang di infus tidak kesakitan saat memeliknya.


Mendengar Belda yang menangis segugukan membuat Regan berkaca-kaca menghujami punvk kepala Belda dengan kecupan.


"Aku juga kangen Qe, tapi gak gini juga ... ketemu malah kamu sakit, jantungku seakan mau berhenti" bisik Regan.


Belda semakin menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Regan.


Tidak dapat mereka sadari jika dibalik pintu ada tiga pasang mata sedang mengintip mereka, siapa lagi jika hikan Kara, Bagus dan Weni.


^-^


"Lo dari mana?" tegur Aslan.


Regan tak menanggapi, dia terus berjalan masuk kedalam mansion Romanov.


Beberapa anak buah Enzo menyapnya hanya Regn jawab dengn anggukan kepala atau mengangkat tangan saja.


Aslan mengikutinya dari belakang.


"Hari pertama samlai lo langsung nginep di rumah sakit?" tanya Aslaric.


Regan hanya meliriknya, menarik kursi dan duduk disebelh Javir untuk sarapan. "Selamat pagi Daddy dan Mam" sapa Regan pada Enzo dan Hana.


"Selamat pagi" balas Hana.


"Morning and where do you come from?" langsunv saja Enzo to the poin.


"Aku lelah semalaman tidak bisa tidur, terlebih aku kelaparan" jawab Regan santai.


Tidak bisa tidur, semalam Regan benar-benar tidak bisa tidur nyenyak, dia beberap kali bangun untuk memastikan jika orang yang sedang dia peluk benar-benar Belda, dan tidak bisa tidur setelah sholat subuh hingga saat ini.


"As persiapan pernikahan lo untuk gue aja" ucap Regan disela-sela makannya.


Aslan yang akan memasukkan sosis kemulutnya menjadi mengurungkan niatnya.


"Gak mungkin dong Ar ... persiapannya udah tiga puluh persen loh ..." sahut Javir.


"Gak papa, lagian hati dia juga gak yakin dengan pernikahannya" Regan menunjuk Aslan dnegan garpu ditangannya sambil menatap Aslan tajam. "Anggap aja gue nyelametin lo, dari pada nanti lo nyesel?."


"Memangnya lo mau nikah sama siapa?" tanya Aslan dengan tatapan dinginnya.


"Siapa lagi dengan Qe lah" jawab Regan lancar.


Tring ...


Bunyi sendok yang membentur piring.


Semua menoleh keasal suara, ternyata Emma. Tatapan mata Emma begitu tajam mengintimidasi Regan tetapi itu tidak berpengaruh sedikitpun pada Regan.


Bukan hanya Emma yang terkejut, semua sebenarnya juga terkejut dengan apa yang diucapkan Regan, tetapi tidak seterkejut Emma.


Alaric meminum air mineral didepannya menetralisir rasa terkejutnya, "gue sebenarnya mau bilang kalau Belda sepertinya ada dinegara ini juga, lo u ..."


"Iya gue udah ketemu dia" potong Regan, "semaleman gue juga sama dia."


"What?"


"Serius?"


"Ya pantes aja kalau lo mau nikah ngeduluin As, kalau Bunda tahu ya kalian pasti langsung dinikahin."


Semua ketiga temannya langsung memberi repon yang sama.


Dengan santainya Regan meletakkan alat makannya, meminum air mineralnya dan berdiri dengan santai dari duduknya. "Gue semalaman juga tidur dengan dia" sanagt santai mengatakannya, "gue mau tidur dulu ... badan gue pegel-pegel karena kelelahan kurang istirahat, permisi."


Tercengang ...


Terperangah ...


Tidak bisa berkata-kata ...


Sedangkan Seteah Regan berdiri dan melangkah pergi dia mengulum senyum menahan diri agar tidak tertawa melihat respon mereka.


Biar saja mereka berfikir negatif, toh semalaman dia memang tidur dengan Belda disatu kasur rumah sakit yang sama badannya pegal-pegal karen Belda tidur memeluknya membuat Regan tidur miring semalaman agar tangan Belda yang diinfut tidak sakit, dan alasan kenapa Regan kurang tidur sudah dia katan diawal jika dia selalu terbangun memastikan jika orang yang dia peluk adalah Belda.


Jadi ... Regan tidak ada yang salah dengan apa yang dikatan Regan jika mereka yang berfikir negatif tentangnya dan Belda berarti otak mereka semua yang kotor.


Lagi pula jika ada yang melapor pada Bundanya dan memaksa mereka menikah Regan malah bersyukur, dan akan berterima kasih pada merek semua.


^-^


.


Sifat di jahil Ar telah kembali, karena Mood Boosternya telah kembali 🥰


Jadi para Reader ayo ... menjadi Booster novel Author untuk semakin dikenali banyak pembaca yang lain dengan klik ⭐Rate 🔖Vote 🎁Hadiah 👍Like dan 💬Komen kalian setiap selesai membaca Bab yang sudh Author Update 😍


Terima kasih sudah mampir 😇


Love you😘


Unik Muaaa