
"welcome my brother"
Aldrich bertepuk tangan setelah melihat sosok Evan yang berjalan mendekat dengan tanpa ekspresi Padahal saat itu bahunya tengah terluka oleh Evan.
Sementara Ray dan yang lainnya terkejut, entah dari mana datangnya Evan sudah berdiri disana setelah menembak Al tanpa aba aba. Dan yang lebih mengejutkan ternyata mereka berdua bersaudara, meskipun mereka semua yang ada di teras belakang tidak percaya. Namun, fakta mengatakan kebenarannya, bahwa ereka berdua sama sama gila.
"don't call me your brother, I'm not your brother." rahang Evan mengeras saat mengatakan itu, dengan penekanan di kalimat terakhir.
"Tapi kenyataannya memang begitu...brother." Al tertawa lantang dengan merentangkan ke dua tangannya.
"Tutup mulutmu, sekarang kau lepaskan dia." Kata Evan santai namun terdengar mengerikan, dengan mata tajamnya yang mengarah ke arah Kanaya.
"Evan_"
Evan menatap Kanaya dengan raut sedih, wanita yang ia cintai terluka oleh Aldrich.
"Ayolah, kita bisa berbagi. Aku janji." Kata Al bernegosiasi, ia juga sama menginginkan Kanaya. Atau, lebih tepatnya menginginkan apa yang di inginkan oleh Evan. Itu sebabnya ia rela berkunjung ke Indonesia hanya untuk melihat siapa wanita yang di cintai oleh Evan.
Evan berdecih "Aku tidak suka berbagi."
"Jadi kalian benar bersaudara?" Tanya Ray pada dua manusia aneh di depannya seraya memegangi dadanya yang sakit.
Evan tidak menjawab, ia hanya menatap seklias ke arah Ray yang terluka.
"Menjauhlah. Dan dia bukan saudaraku." Kata Evan datar.
Ray bangkit beridiri dengan tertatih, Raka segera mendekat ke arah Ray, membantu adiknya itu untuk berjalan menjauh dari dua bersaudara itu.
"Kau pasti hanya bercanda bukan? Benjamin pasti menyukai ini, kalau kita bisa berbagi kesenangan." Ujar Al lagi dengan mata berbinar, serta menyebut nama ayah mereka.
Evan berdecih seraya menggelengkan kepala, lalu melangkah maju ke arah Kanaya.
"Stop, atau Jony akan mematahkan leher wanitamu itu." Ancam Aldrich dengan seringai liciknya.
"F*CK!" Evan meninju wajah Al, hingga pria berambut pirang itu jatuh tersungkur. Tak hanya sampai disitu, Aldrich turut membalas serangan Evan dengan pisau lipatnya dan berhasil menggores lengan Evan.
"Evan hati hati." Seru Kanaya dari kejauhan merasa khawatir, saat ini bodyguard Aldrich masih menahan tubuhnya.
Mendengar itu membuat Evan bersemangat menghabisi Al, lawannya hanya seorang masokis lemah, itu bukan hal sulit.
"Sepertinya wanita itu mulai menyukaimu brother. Tapi...aku yang akan menikmatinya lebih dulu." Kata Al mengejek, dengan mulut mengeluarkan darah segar hasil perbuatan Evan. Al akan tetap membawa gadis itu, meski harus menghabisi saudaranya, ia tidak akan mundur begitu saja.
"shut up!"
Evan mengeluarkan pisaunya dari dalam saku celana, ia tidak bisa membayangkan sisi masokis seorang Aldrich yang akan menyiksa Kanaya. Dan hal itu sudah jelas membuat Evan marah, amat marah.
Evan menangkis serang Al yang tak kalah brutalnya, orang-orang yang ada di sana hanya menyaksikan dengan menahan nafas. Duel mengerikan yang sedang terjadi di depan mata mereka, tanpa wasit yang menengahi.
Sementara ayah Martin diam diam memerintahkan Doni untuk perlahan bergerak mendekati Kanaya yang di tahan oleh bodyguard Aldrich di tepi kolam renang.
"Permainan pisau mu boleh juga, pantas Benjamin selalu memujimu." Ujar Aldrich di sela sela duelnya dengan Evan.
"Aku selalu lebih unggul darimu."
Evan menyeringai melihat luka di sekujur tubuh Al hasil permainan pisaunya, sementara ia hanya terluka di bagian lengan dan goresan kecil di pinggang akibat serangan Aldrich. Karena Evan tidak akan membiarkan lawannya melukai lebih dari itu.
Evan menuntaskan permainannya sebelum Aldrich memerintahkan anak buahnya melakukan hal bodoh pada Kanaya. Evan berlari dengan mengacungkan pisau di tangannya.
Krak...
Sebilah pisau menancap di leher, hingga darah mengucur deras disana. Sontak saja semuanya berteriak histeris, terlebih lagi Kanaya yang menyaksikan dari jarak yang lumayan dekat.
Melihat atasnya mati mengenaskan, bodyguard Aldrich panik. Tentu saja ia akan menjadi target Evan selanjutnya. Tanpa pikir panjang Jony langsung menghempaskan tubuh Kanaya, mendorongnya ke dalam kolam renang yang cukup dalam.
"Aaaaaa"
Byurrr!
Doni yang berada dekat dengan Kanaya, mempercepat langkahnya lalu menceburkan diri ke dalam kolam, begitu juga Evan. Sedangkan yang lain mengurungkan niatnya menyusul ke dalam kolam, terutama Ray yang saat ini terluka parah. Ia hanya pasrah tanpa bisa berbuat apa apa, jika bisa saat itu Ray yang akan menyelematkan Kanaya.
Sementara Jony melarikan diri dengan helikopter, dan segera menjauh dari lokasi. Ia akan memberitahukan kematian Aldrich pada pimpinannya_ Benjamin. Atau lebih tepatnya ayah biologis Aldrich dan Evan.
Evan membopong tubuh Kanaya ke tepi kolam, lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Meletakkan-nya di atas sofa.
Semuanya bergegas mengikuti Evan masuk ke dalam rumah, termasuk Ray yang di batu oleh Raka. Ray merasa payah sekali saat ini, ia tidak bisa menjaga atau membantu istrinya di saat seperti ini. Di saat semuanya merasa khawatir dengan keadaan Kanaya, Evan justru hampir saja memberi nafas buatan pada Kanaya. Sontak saja Raka dan ayah Martin mencegahnya, hingga keributan tidak bisa dihindarkan.
Kanaya tiba tiba saja tersadar, seraya terbatuk-batuk akibat air yang sempat masuk kedalam rongga pernafasan-nya. Namun, detik kemudian perutnya terasa mulas, dan perut di bagian bawahnya terasa kram.
"Aaww, perut aku sakit banget Ray. Huf...huf...huf "
Kanaya menggeliat, kedua tangannya memegangi perutnya yang terasa menegang. Sebisa mungkin Kanaya mengatur nafasnya, lalu menghembuskan kuat kuat untuk mengurangi rasa sakit di perut serta pinggang-nya. Bercak merah mulai terlihat dari bagian bawah baju muslim Kanaya yang berwarna putih, noda merah itu mengalir sampai mengotori kaki mulus Kanaya.
"Darah!"
Seketika keadaan menjadi panik, Evan dan Raka yang sempat berdebat-pun langsung teralihkan ke arah Kanaya.
"Mana yang sakit sayang?" Ray menyentuh perut Kanaya mengusapnya pelan.
"Kanaya kontraksi, dia mau melahirkan." Seru Ayrin dari balik punggung Ray.
"Tapi usia kandungannya baru tujuh bulan." Sahut ayah Martin.
"Itu bisa terjadi om, karena Kanaya kan hamil anak kembar dan tadi juga sempat terjatuh di kolam." Jelas Ayrin lagi, meskipun ia belum merasakan hamil, tapi Ayrin pernah membaca artikel seputar kehamilan.
Semuanya bergegas membawa Kanaya ke rumah sakit, kali ini Raka yang membopong Kanaya keluar menuju mobil yang sudah di siapkan oleh Doni. Sementara Ray di bantu oleh ayah Martin mengikuti dari belakang.
Sebelum mengikuti Kanaya kerumah sakit, Evan memerintahkan orang suruhannya yang selama ini mengawasi Kanaya untuk membereskan Aldrich.
Acara syukuran hari itu berganti menjadi pertumpahan darah, Serta hari yang menenggang kan bagi semuanya. Kini hanya Tuhan yang tau bagaimana dengan keadaan Kanaya dan juga bayi kembarnya.
🍁🍁🍁
To be continued...