Only you

Only you
Canggung



...Selamat hari senin 🥰...


...Jangn lupa 🔖Vote 🎁Hadiah 💬Comment dan 👍Like...


...Happy Reading 😍...


...^-^ ^-^ ^-^...


.


.


.


Ada sesuatu yang berubahndari Regan, dari semua orang di Rumah Sakit bahkan saat berkumpul di caffe Gea ada yang berubah dari pria itu, Mela dan Aslan yang pertama kali menagkap perubahan Regan.


Dia hanya menatap Gea yang sedang bernyanyi dengan bandnya didepan para mengunjung cafe tampa terlihat jika Regan sedang menikmatinya. Tidak ada informasi apapun yang dia dapat dari Ara maupun si kembar yang biasanya lebih dulu memberi tahu apa yang terjadi dirumah mereka saat ada Belda dan Regan.


"Tumben dia mau kesini?" tanya Aslan.


Mela menyengir, "aku yang maksa minta dia temenin, lagi pula ngeliat dia beberapa hari gila kerja bikin aku kesel."


"Memangnya dia gak ada operasi malam ini?."


"Udah gak ada, biarin aja dia istirahan bentar.Lebih seminggu dia kayak mayat hidup, liat tuh kantong matanya hampir mirip panda."


Mendengar omelan Mela Regan menoleh sejenak sebelum kembali menatap kedepan.


Terlihat Gea yang baru saja turun dari panggung mengeluarkan ponselnya, dia sedang berbicara di telefon dengan seseorang sambil berjalan menghampiri meja mereka.


"Gue tunggu loh ya lo tampil langsung ... iya banyak yang nunggui lo setelah tahu lo ikut klaborasi dengan lagu single gue ... iya ... sekarang? ... serius? ... ok gue tunggu gak lama kan ... ok ok ..."


Gea memutuskan panggilan telephonenya dan duduk dikursi kosong dekat mereka. "si Al mana?" tanya Gea pada Aslan.


Aslan mengangkat bahu, "sibuk paling ... bentar lagi dia harus ke Dubai karena diundang Dubai fashion show."


"Javir juga gak datang tumben" celetuk Mela.


Mata Gea langsung memelototinya.


Mela malah tertawa kecil mendapat pelototan dari Gea, beberapa hari lalu tidak sengaja Mela melihat mereka berdua bertengkar tetapi dapat menghibur Mela. "Kenapa?, takut canggung?. Tanang gak akan canggung ada kita kok!."


"Ah ... udah lah ... gue mau ganti baju dulu ngomong sama lo sekarang bikin kesal."


Mela ngakak mendengarnya.


Aslan dan Regan hanya menoleh pada Mela meminta penjelasan yang malah Mela jawab dengan gelengan kepala.


Tahu jika Mela tidak ingin mengatakannya Regan kembali membuang muka menatap keaarah luar cafe dan tertegun.


Disana ada Belda yang juga berdidi menatapnya, terlihat perempuan itu menatapnya dalam menghela nafas sebelum melangkahkan kakinya masuk kedalam cafe.


"Belda ..." panggil Mela melambaikan tangan memberi isyarat agar Belda mendekat.


Regan langsung memutuskan tautan mata mereka menatap kelain arah, terasa debaran didadanya yang mmbuatny memilih memejamkan mata sejenak menenagkan diri.


^-^


Serasa sangat canggung Belda melangkahkan kakinya mendekati meja Regan, Aslan dan Mela.


"Hai" sapanya pada Mela dan Aslan.


Belda hanya melirik Regan menunggu responpria itu yang ternyata diam mengeluarkan ponselnya, sedikit terenyuh tetapi dia masih mempertahankan senyumnya.


"Kamu yang tadi ditelepon Gea?" tanya Mela.


Belda mengangguk sebagai jawaban.


"Wah ... beruntung dong kita malam ini kesini" seru Aslan semangat, "mau perfome kan?."


"Hehehe ... iya"


"Duduk dulu Ge aamsih ganti baju" Mela menunjuk kursi yang kosong.


"Iya gak papa ... gak bisa lama-lama juga bentar lagi Gea oasti selesai" tolak Belda dengan halus.


Hanya tersisa satu kursi tepat disamping Regan, Belda tidak langsung duduk seperti biasa karena canggung, dia masih berdiri diam berbicara dengan Mela hingga Gea datang menghampirinya.


Tangan Gea langsung merangkul lengan Belda dan menggandenganya naik keatas panggung kecil depan cafe. Semua bertepuk tangan riuh, Belda tersenyjm dengan ceria menyapa para penggemar Gea yang mengnggunya.


Sebelum mereka tampil Belda menata oeralatannya diatas meja yang disiapkan Gea, sesekali dia menatap kedepan dan beberapa kali juga tatapan mereka bertemu meski pada akhirnya Regan yang pertama kali membuang muka.


Saat musik mulai diputar, Belda mulai tidak lagi menatap kearah Regan, dia benar-benar menikmati musik yang dia mainkan. Bahkan saat ikut bernyanyipun Belda tidak menatap pada Regan, dia tidak mau moodnya down mendapatkan Regan masih enggak menatap matanya.


Lagu kelaborasi Belda dan tim Gea sudah selesai Gea meminta Belda menghibur mereka sejenak setelahnya Gea meminta Belda bernyanyi tetapi Belda, dia memilih turun diikuti Gea dibelakangnya.


"Ah ... lo mah gak malu mulu, padahal suara bagus" gerutu Gea.


Belda tertawa mendengarnya, "enggak gitu tapi capek Ge" bantah Belda.


Mereka berdua berjalan mebghampiri menaja Regan dan yang lainnya Gea menarik satu kursi untuk duduk bergabung dengan mereka.


Seakan lupa apa yang sedang terjadi dnegannya dan Regan, Belda duduk disebelah Regan, meraih gelas minuman Regan dan meminumnya.


"Kenaoa malah minum punya Ar?" tegur Gea, "Tio satu orange jus ..." srru Gea pada pelanyannya.


Regan tak merespon dia hanya diam.


Gea, Asalan dan Mela saling tatap memberi isyarat satu sama lain, Belda yang melihat mereka diam-diam hanya menghela nafas, ternyata cukup sulit menyembunyikan kerenggangan mereka berdua.


Merasa sesuatu yang aneh dan Belda terlihat begitu canggung Mela mencoba mencairkan suasan. "Ultah jadi dirayain dimana?" tanya Mela.


Regan melirik Mela, "gak ada pesta" ucapnya datar.


Wajah Mela langsung merengut, "ah ... gak asik, kenapa juga ..."


"Aku gak mood untuk pesta-pestaan" potong Regan dingin.


Mela melempar tisunya pada Regan dengan kesal. "Aku minta Bunda aja ngerayain" Mela mencibirkan bibirnya.


Regan berdecak, "jangan coba-coba" ancam Regan.


"Bakar-bakar di belakang rumah aja Ar" sahut Aslan.


"Kalau ultah lo gak mau dirayain ya gak papa, tapi kita tetap makan-makan dirumah" sambung Gea, "udah lama kita gak makan masakan Bunda."


"Iya terakhir waktu ...."


Belda tidka ikut nimbrung dengan percakapan mereka dia hanya diam menyusun sesuatu rencana dalam otaknya bagaimanapun dia harua mengutarakan apa yang ingin dia bicarakan dengan Regan saat dikamar Gea, sebelum terlambat dan Belda pergi.


^-^


Duduk berdua didalam mobil.


Lebih dari seminggu mereka tidak pernah satu mobil, bahkan berada disatu tempat yang sama hanya tadi, itupun ada Askan, Gea, Mela dan pengunjung cafe An Angel.


Bukan karena kemauan Regan atau Regan yang memaksa untuk mengantar Belda, tetapi karena ketiga temannya yang membuatnya mengantar Belda.


Pada awalnya Regan berpamitan mau pulang, tiba-tiba Mela juga teringat sesuatu meminta mengantarnya kesupermarketbkarwna bahan-bahan dikulkas sudah habis. Jelas saja Regan menolak mentah-mentah, karena pasti akan lama jika menemani perempuan belanja meskipun kebutuhan dapur, karena Bundanya juga begitu.


Jadi beginilah hasilnya, Aslan menawarkan akan mengantar Mela. Dan saat Belda membuka aplikasi ojek online Gea bertanya apa mereka ada masalah sehingga untuk menutupinya Regan menarik pergelangan tangan Belda untuk pergi dari sana.


"Bisa kita bicara?" pinta Belda sangat lirih penuh harap, tepat saat Regan menghentikan mobilnya didepan lobby apartemen Belda.


"Sudah malam, kita bicara lain waktu saja karena seharian aku ada oprasi dna tidak mau lost control lagi seperti sebelumnya."


Belda terdiam, perlahan dia membuka pintu tetapi tidak keluar dari dalam mobil Regan.


"Kamu selalu bersikap egois, memutuskan semua semaumu" lirih terdapat getaran. "Tapi saat aku mencoba egois memutuskan kemauanku, kamu tidak mau mendengarkan alasannya, terima kasih sudah mengantarku."


Belda turun dengan cepat menutup pintu mobil Regan dan berjalan dengan lemas.


Tangan Regan mengepal, turun dari mobil melangkah dengan lebar menghamoiri Belda. Langkah Regan terhenti tepat didepan Belda menghentikan langkahnya tatapan mata merrka bertautan.


Mata itu tidak memancarkan kehangatan dan kelembutan seperti biasa, terlihat jelas tatapan kecewa Regan yang membuat Belda berkaca-kaca.


"Aku sudah memberimu waktu berfikir, apa itu masih egois?" desis Regan.


"Tapi kamu gak mau mendengar penjelasanku" cicit Belda.


"Bukan tidak mau mendengar Qe ... tapi jangan sekarang, aku mencoba untuk menghindar agar hubungan kita tidak semakin ranggang, aku sudah katakan kiba bicara dilain waktu bukannya aku ti ..."


"Ok kapan?" potong Belda dengan emosi.


Regan terdiam menatap Belda dalam.


"Besok?" tanya Belda penuh harap.


Regan masih diam menatao Belda.


Tiba-tiba belda tertawa kecil, melangkah semakin emngikis jarak diantara mereka menepuk pindak Regan beberapa kali.


"Kamu bukan memberiku waktu, tetapi kamu yang membutuhkan waktu" lirih dengan senyum lebar dibibirnya. "Jangan terlalu lama, aku tidak suka saat kita bertemu suasana serasa canggung. Jangan terlalu lama Re ... aku lelah ..."


Dua kata terakhir Belda searasa menggetarkan hati Regan.


Belda kembali melangkah masuk kedalam lobby dengan lemas tampa menoleh kebalakang pada Regan yang masih diam terpaku ditemoatnya menatap punggung Belda.


^-^


.


...



Bukan tidak mau memdengar tetapi takut untuk mendengar jika Dia akan mengakhiri hubungan ini apapun alasannya...


.


Lop Lop Lop semua 🥰


Met jumpa di BAB selanjutnya 😇


Terima kasih sudah mampir 🙏


Love you 😘


Unik Muaaa