
...Maaf kalau baru bisa update 🙏 karena dari semalem gak lulus review jadi harus revisi berkali-kali 🙄...
...Jika sekarang bisa update maka sangat bersyukur...
...😬Meski feelnya pasti kurang ngena😬...
...Happy reading...
...^-^ ^-^ ^-^...
.
.
.
"Ya Tuhan ... ini kantong mata kenapa?" Gea mengomel di samping Regan.
Biasanya Gea akan mendapingi mempelai wanita dari sejak dia berdandan hingga nanti duduk di pelaminan, tapi kali ini karena dia dari mempelai pria, Gea meminta orang kepercayaannya dan Yesi sebagai perias untuk membantu mendampingi Belda sampai mereka bertemu di tempat akad nikah tempat pernikahan Regan dan Belda yang telah di tentukn nanti.
Semua orang sudah siap, mereka sudah berdandan dan berpakaian siap untuk berngkat ketempat pelaksanaan akad nikah, hanya Regan yang belum siap karena dia baru datang jam dua belas malam dari rumah sakit, Ara kasihan jika membangunkannya terlebih dulu.
Regan sengaja mengajukan diri untuk membantu seorang dokter yang membutuhkan asisten untuk melakukan operasi semalam, karena setelah dia bertemu Belda di mal bersama si kembar, Belda semakin jarang mengangkat panggilan teleponnya semakin membuat Regan nelangsa dan ketakutan sendiri sehingga jarang tidur.
Regan yang mendengar omelan Gea langsung memutar bola matanya malas, "udah jangan banyak ngomel, cepetan ... jangan sampai terlihat kantong matanya."
Nada perintah Regan yang seakan mendarah daging membuat Gea kesal memukul pundaknya keras, Mas Hari yang bertugas mendandani Regan tertawa kecil.
"Kebiasaan lo ya merintah-merintah, siap juga yang salah kantung mata sampai hitam gitu?" omel Gea.
"Ah ... lo bisa diem gak sih kepala gue mau pecah dengeri lo ngomel kayak petasan ..."
Dan terus saja mereka berdua saling sahut menyahut yang pastinya akan berujung pertengkaran, Mas Heri mulai berkerja tidak menghiraukan mereka berdua.
Di perjalanan menuju tempat acara, Regan mengepalkan tangannya menenangkan diri, otaknya mulai berfikir negatif.
Bagaimana jika Belda masih keberatan menikah dadakan seperti sekarang?.
Bagaimana jika Belda menghilang?
Dan banyak lagi bagaimana-bagaimana lainnya ...
Bilqis yang duduk di samping Regan merangkul lengan Regan, tersenyum lebar menenangkan Regan yang gelisah.
"Abang jangan sampai lupa ya saat ngucapin ijab kalbul, nanti gelar dokter geniusnya hilang" ucap Bilqis dengan wajah menggemaskan.
"Iya Bang jangan malu-maluin" celetuk Chaka.
Ocehan mereka berdua membuat Gea dan supir keluarga mereka yang tertawa mendengarnya, Regan bahkan terkekeh kecil mengelus puncak kepala kedua adik kembarnya dan mencium kening mereka sayang.
Tidak ada yang harus di fikirkan lagi ...
Belda tidak akan pergi ...
Ocehan dan celetukan si kembar yang terus saja tidak terhenti sampai tempat acara membuat Regan sedikit merasa tenang.
^-^
"Kak ... Bang Regan datang" Seru Sonia membuka pintu ruangan Belda.
Belda yang menundukkan kepala mengangkat wajahnya yang menegang, tangannya saling meremas satu sama lainnya meminimalisir kegugupannya.
Klek ...
Kepala Belda menoleh kearah pintu yang terbuka, di sana ada Gea yang tersenyum lebar berjalan menghampirinya yang masih duduk di depan meja rias.
"Biar gak gugup kita sambil buat video ya Bee" ucap Gea setelah berdiri disamping Belda.
Wajah Belda langsung merengut, "gugup kok malah di videoin sih Ge ..." keluhnya.
"Ya biar lo gak gugup terus Bee"
Gea menarik tangan Belda untuk berdiri di samping jendela.
Belda hanya bisa pasrah saja mengikuti apa yang Gea mau, dia benar-benar gugup tidak bisa melakukan apapun apa lagi membantah.
Seseorang masuk dengan kamera di tangannya membuat Belda semakin gugup saja. Yesi teman Gea yang sejak tadi menemani Belda tertawa bersama Gea melihat Belda gugup tidak seperti biasanya yang ceria.
"Assalamu'alaikum wr.rb"
Mulai terdengar suara seseorang melalui pengeras suara. Sebagai pemilik EO, Gea memang sengaja memberi sound di depan ruang hias pengantin wanita agar saat mempelai pria mengucapkan ijab, mempelai wanita mendengarnya.
"Sepertinya sudah akan segera di mulai" ucap Gea girang.
"Aduh ... jadi ikut deg-degan nunggu Regan ngucapin ijab kabul pakek bahasa Arab" seru Yesi.
Belda menoleh menatap Yesi tidak percaya, dia tidak tahu jika Regan akan mengucapkan ijab kabul menggunakan bahasa Arab, pria itu tidak mengatakan apapun.
Damar bahkan tidak mengatakannya pada Belda, Damar terlihat tenang meski selalu berada di sekitarnya dengan Sonia, pria itu tidak mengatakan apapun bahkan tidak terlihat sedang menghafalkan ijab nanti.
"Bismillahirrohmanirrahim ..."
Itu suara Damar, Belda menatap keluar jendela berdo'a dalam hati semoga semua lancar. Suara Damar yang tegas penuh wibawa tendengar dengan khidmat oleh Belda, bahkan Damar begitu lancar menyebut namanya. Tiba-tiba terlintas wajah Mamanya yang telah meninggal, membuat Belda mengepalkan kedua tangannya erat menahan diri agar tidak menangis.
Tapi air mata yang dia bendung tidak bisa selamanya dia pertahankan, kala terdengar suara Regan yang lantang penuh ketegasan mengucap ijab kabul membuat dadanya berdesir dan menangis haru.
Belda menutup wajahnya dengan kedua tangan mengucapkan rasa syukur yang mendalam.
Gea melangkahkan kakinya mendekati Belda, perlahan menurunkan kedua tangan Belda yang menutupi wajahnya. Gea tersenyum lebar dengan mata yang berkaca-kaca penuh haru.
"Jangan nagis dong ... hancur maha karya gue" ucap Yesi lirih ikut terharu.
Yesi mengambil tisu dan perlahan mentap-tap air mata Belda yang mengalir di pipi. "Udah jangan nagis lagi, nanti cantiknya luntur" ucap Yesi, "ayo turun kejutkan semua orang bagaimana cantiknya lo hari ini."
^-^
Seumur hidup ini pertama kali Regan ngos-ngosan bukan karena lari maraton, tapi karena menahan nafas mengucapkan ijab kabulnya dalam sekali tarikan nafas.
"Bagaimana saksi sah?."
"Sah ..."
"Sah ..."
Satu kata Sah yang terdengar oleh Regan membuat Regan menghela nafas legas. Semua lancar, dan hal yang ditakutkn si kembar dan dirinya tidak terjadi.
Terasa seseorang menepuk bahunya pelan disamping kanan membuat Regan menoleh, ternyata Abra yang menepuknya dengan senyum lebar dan tatapan penuh bangga meski arah tatapannya tidak tertuju pada Regan.
"Hapus keringet kamu Belda dateng" bisik Ara yang duduk di sampingnya.
Regan mengambil tisu dari tangan Ara dengan cepat menghapus keringatnya, dia tidak mau menunjukkan kegugupannya pada Belda.
"Dia mengenakan gaun yang Bunda pilih" ucap Ara lirih tetapi tidak menutupi kebahagiaannya.
Kepala Regan langsung menoleh mencari keberadaan Belda.
Satu ...
Dua ...
Tiga ...
Regan seakan membeku di tempatnya menatap Belda yang berjalan menundukkan kepala dengan Gea dan Sonia di sampingnya, sedangkan Yesi berjalan tidak jauh di belakang mereka.
Perlahan Belda semakin mendekat memperjelas betapa cantiknya dia hari ini. Ini pertama kali Regan melihat Belda full make up, sebelumnya Belda hanya menggunakan make up tipis dan ala kadarnya saja, sekarang terlihat begitu mempesona sehingga Regan tidak bisa melepas pandangan matanya.
Langkah Belda berhenti tepat di depan Regan, kepalanya menunduk dalam dengan pipi bersemu merah, ah ... Regan gemas melihatnya.
Perlahan Belda duduk di samping Regan, tangan Regan tiba-tiba terangkat hendak menyentuh pipi Belda tidak tahan untuk tidak mencubit pipi Belda, tapi dengan cepat Yesi menepis tangan Regan dan melotot tajam.
"Gak sabar banget sih mau pegang-pegang" omel Yesi, "jangan coba-coba ngerusak maha karya gue sebelum acara akad nikah selesai!."
Semua yang mendengarnya tertawa kecil, mebuat Belda semakin menundukkan kepalanya malu.
Gea tiba-tiba menundukkan kepala berbisik sesuatu pada Belda sebelum Belda menghadap pada Regan menjulurkan kedua tangannya dengan ragu.
Regan yang melihatnya tersenyum simpul mengulurkan tangan kanannya membiarkan Belda bersalaman untuk pertama kalinya.
Terasa tangan Belda begitu dingin karena gugup, Regan yang menyadarinya menggenggam tangan Belda lembut, mencoba menenangkan Belda.
"Selamat sudah menjadi istriku" bisik Regan lembut tepat setelah Belda bersalam.
Kepala Belda menunduk dalam, seakan menghindari tatapan mata Regan.
Pak penghulu mulai membaca do'a, Belda dan Regan mengangkat kedua tangannya mengamini do'a yang pak penghulu panjatkan.
Siapa sangka ... hubungan mereka yang sempat tidak jelas berakhir dengan mereka duduk berdampingan sebagai pasangan suami Istri.
"Istriku" panggil Regan lirih.
Pipi Belda kembali bersemu merah, Regan yang melihatnya menjadi gemas sendiri sehingga kejahilannya mincul.
"Istriku Qe" Pannggil Regan lagi.
Kali ini penuh dengan penekanan dan tidak lagi lirih sehingga orang-orang di sekitar mereka mendengar panggilan Regan.
Ara memukul lengan Regan membuat Regan menoleh kebelakang, "kamu ini jangan jahil" omel Ara.
Regan terkekeh malah menarik Belda dalam pelukannya membuat semua orang tertawa bertepuk tangan riuh memenuhi gedung ballroom Hotel Raja Throne.
Belda tersenyum dalam pelukan Regan, merebahkan kepalanya di dada Ragan, membalas pelukan Regan erat. "terima kasih sudah menjadikanku istimu, suamiku" ucap Belda sangat lirih.
Regan yang mendengarnya menghujani kening Belda dengan ciuman, ah ... kini impiannya menjadikan Belda seorang istri sudah terwujud, Regan benar-benar bahagia. Terutama kala mendengar Belda memanggilnya Suami membuat Regan bahagia, ingin rasanya Regan berteriak meluapkan kebahagiaannya.
"I promise only you and always you ... My Wife Quela Belda ... the only My Qe ... My Wifey."
...^-^ The End ^-^...
.
Ah ... akhirnya .... cerita si Abang ganteng Regan selesai ... 🥰
🙏Maaf kalau kurang ngefeel🙏
Butuh perjuangan untuk bisa lulus review sampai kesel sendiri dari semalem .... padahal Author nulisnya masih dalam tahap wajar 😔
🙏Terima kasih buat semua bentuk dukungan para Reader tersayang Author🙏
Semoga cerita Author dapat menghibur ...
Bagi para nunggu Epilog angkat tangan dengan klik 👍
Karya selanjutnya akan menyusul secepatnya 😇 Jangan lupa mampir juga ya ...
😍Pay Pay Lop You😍
See you in the author's next novel
Unik Muaaa