
Ray menyusuri ruangan demi ruangan mencari Kanaya dengan perasaan tidak menentu, ia takut terjadi sesuatu pada istrinya. Perkataan seseorang di balik line telepon tadi benar benar mengganggu pikirannya.
"Br**sek!" Umpat Ray seraya meremas rambutnya kuat. Inilah yang Ray benci dengan rumah sang ayah yang terlalu besar, mencari satu wanita hamil di seluruh penjuru rumah ini saja membuatnya frustasi.
"Kenapa?"
Ray menoleh kebelakang, Raka tengah menatapnya curiga. Sepertinya ia harus memberitahu kebenaran yang terjadi pada Raka tentang siapa yang sudah mencoba mencelakai dirinya tempo hari. Walaupun saat ini Ray sama sekali tidak memperdulikan hal itu, saat ini ia hanya ingin menemukan keberadaan Kanaya lebih dulu.
"Kanaya bang, gue cari cari gak ada. Tadi dia masih makan kue di sofa, pas gue balik selesai terima telpon dia udah gak ada di sana."
"Kenapa Lo bisa sampe ceroboh? Biar gue suruh Doni buat nyari di sekitar rumah." Raka menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Kanaya gak mungkin pergi jauh, lagi juga keamanan di luar ketat." Ujar Raka lagi menenangkan Ray sebelum panggilan itu tersambung.
Begitu selesai memberi perintah pada Doni, Raka meminta Ray untuk mencari ulang bersamanya di sekitar taman belakang.
"Tunggu bang" Ray menghentikan langkah Raka sebelum pria itu bergerak menjauh.
Raka mengurungkan niatnya untuk melangkah, lalu berbalik menghadap Ray. "Kenapa?"
"Ini bukan cuma soal Kanaya bang. Tapi, ini semua ada kaitannya sama Aldrich, rekan bisnis lo"
Raka menatap Ray dengan raut bingung. "Kenapa sama Al?"
"Evan nelpon gue, dia ngasih tau kalau Aldrich pelakunya yang udah celakain gue. Dia juga ngirim bukti video." Jelas Ray dengan raut serius.
"Sial! Aldrich kan juga dateng ke acara ini." Seru Raka dengan mengepalkan tangannya kuat dan segera berlari mencari Aldrich yang sedari tadi duduk bersama rekan bisnis yang lain.
Ray segera berlari mengikuti langkah Raka, mencari Kanaya yang memungkinan di bawa oleh Aldrich.
Beberapa tamu undangan yang belum pergi meninggalkan acara, melihat Raka dan Ray penuh tanda tanya. Terlebih lagi sosok pria paruh baya yang mengenakan Koko berwarna putih gading itu, menatap kedua anaknya curiga.
"Tunggu! Apa yang sebenarnya terjadi."
Raka dan Ray menoleh bersamaan ke arah sumber suara. Ayah berdiri di belakang dengan memasang wajah yang sulit di artikan.
"Katakan ada apa?" Gertak Martin dengan nada tak terbantahkan.
"Kanaya..."
"Tuan, Non Kanaya sudah ketemu. Ada di teras belakang."
Ray dan Raka menghela nafas lega mendengar kabar itu. Sementara Martin merasa geram dengan perilaku kedua anaknya, bisa bisanya mereka tidak memberitahu jika menantu kesayangannya menghilang.
Mereka semua bergegas ke tempat yang di maksud oleh anak buah Doni. Sementara para tamu yang lain saling pandang mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Doni meminta para tamu untuk segera meninggalkan acara, di karenakan ada permasalahan keluarga.
Mau tidak mau mereka semua mengikuti perintah Doni selaku kepala keamanan di rumah ini. Dengan berat hati dan penasaran, mereka saling berbisik menebak nebak apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga kaya raya itu.
"Sayang, kamu kemana aja?" Panggil Ray begitu melihat punggung Kanaya dari balik dinding beton penyangga rumah besar ini.
Kanaya dan Ayrin menoleh, begitu juga dengan sosok yang mereka cari sejak tadi.
"Aldrich?!" Mereka bertiga menghentikan langkahnya.
Si pemilik nama hanya memasang wajah tanpa dosa dengan senyum ganjilnya, ternyata mereka semua bodoh dan ceroboh. Ia hanya menyembunyikan Kanaya di dalam dibangun ini saja mereka sudah becus mencarinya.
"Dasar ********, Lo yang udah bikin gue kecelakaan kan?! *******!"
Ray berlari di ikuti Raka dan yang lainnya, namun langkah mereka kembali terhenti begitu Aldrich mengalungkan lengannya di leher Kanaya serta pisau yang di acungkan ke wajah Kanaya.
"Kemarilah" tantang Aldrich sambil tertawa sarkas.
"Jangan pernah coba coba berpikir buat nyakitin Kanaya!" Ancam Ray dengan sorot penuh amarah yang menggebu.
"Sepertinya menarik jika aku sedikit bermain-main dengan wanitamu dan...anak mu." Aldrich bergerak mundur sembari terus mengacungkan pisaunya.
Ayrin mematung di tempat, padahal baru saja ia berbicara dengan pria berambut pirang itu. Dan pria itu terlihat lembut dan baik.
Edo segera menarik Ayrin ke dalam dekapannya, Edo bersyukur karena istrinya tidak menjadi tawanan si pirang platina itu. Ia belum merasakan honeymoon bersama Ayrin. Enak saja.
"F*ck!"
"Aawww"
Goresan kecil berhasil melukai leherย Kanaya, darah segar mengalir dari balik kerudung Kanaya. Aldrich mencium aroma darah itu, lalu menjilati tanganya yang terkena noda darah.
Ray, Raka dan yang lainnya panik. Terutama ayah Martin, pria itu tak kalah paniknya. Martin segera memerintahkan anak buahnya mengepung tempat itu. Namun sayang, anak buah Aldrich sudah lebih dulu menghabisi mereka. Hanya menyisakan beberapa saja.
"Kamu gila!" Umpat Kanaya menahan nyeri di lehernya.
"what do you say baby? I am crazy?"
Aldrich tertawa keras dengan masih mengacungkan pisaunya, kali ini Al mengincar bagian perut besar Kanaya.
"No, no! Don't do it!" Seru Ray dan Raka bersamaan.
"What? C'mon ini menarik." Al kembali tertawa dengan tawa ganjilnya.
Martin mencari cara bagaimana mengalihkan perhatian si pirang itu, ia tidak ingin kehilangan menantu dan calon cucunya.
Detik kemudian sebuah helikopter terlihat bergerak merendah ke arah dimana Aldrich dan Kanaya berdiri. Kemudian sebuah tali yang di rakit menyerupai tangga itu menjuntai ke bawah tepat di samping Aldrich.
"Ada yang ingin di sampaikan sebelum berpisah?" Tanya Al memancing emosi.
Ray, Raka dan yang lainnya sudah siap mengacungkan pistol ke arah Al, dan tidak segan segan menarik pelatuk itu jika saja Aldrich berani membawa Kanaya pergi dari rumah ini.
"Jangan macam macam kau pirang!"
"Lakukanlah, kalau kau ingin melihat istri dan anakmu mati bersamaku."
Aldrich menyeringai penuh kemenangan, gertakannya mampu membuat mereka semua menurunkan senjata tanpa di minta. Terkecuali Ray, calon papa muda itu masih bersiaga dengan pistol di tangannya.
"Ray..hiks..hikss."
"Aargghh" Ray mengeram, meremas rambutnya kual. Terlebih melihat darah yang terus mengalir dari balik kerudung sang istri.
"Gue mau duel sama lo. Kita fight, satu lawan satu dengan tangan kosong." Tantang Ray kemudian.
"well, looks like this will be an interesting fight." Al menyeringai licik seraya memberikan Kanaya pada bodyguardnya.
"Maju Lo!"
"Fine" Al menggerakkan tangannya hingga menimbulkan bunyi tulang yang beradu. Al melangkah maju dengan santainya seraya menyeringai.
Sementara Ray sudah bersiap meninju Al dengan tangan terkepal. Ia langsung menyerang membabi buta, tapi Al sama sekali tidak membalas serangan Ray.
Ayah Martin dan Raka tidak senang begitu saja karena Ray berhasil menghajar Aldrich, namun lebih ke_merasa aneh. Begitu juga dengan Ray, ia sudah memukul dengan kekuatan penuh, tapi pria di depannya ini sama sekali tidak tumbang, bahkan terkesan menikmati.
Aldrich berdecih, lalu tertawa pelan. Mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya dengan gerakan pelan. Mencium aroma darah adalah favoritnya.
"Pukulan mu lemah sekali jerk. Sekarang giliranku. Biar ku tunjukan bagaimana cara memukul yang benar."
Aldrich langsung menghajar Ray tanpa jeda, membuat luka lama akibat kecelakaan itu kembali retak.
"Ray" pekik Kanaya histeris.
"Stop it!" Raka turut bersuara. "Biar aku yang menggantikan."
Al menggelangkan kepala cepat "No, no no. Aku lebih suka berkelahi dengan adikmu."
Doorrr!
Suara tembakan terdengar mengudara, semua yang ada di sana saling pandang.
Al bertepuk tangan dengan tertawa lantang, meski darah mengalir di bagian bahunya.
"Welcome my brother"
๐๐๐
To be continued...