Only you

Only you
ALDRICH BALE



Di saat yang tidak tepat, sahabat laknatnya itu menghubungi dirinya. Seperti biasa Ray memasang wajahnya sesantai mungkin, agar Edo tidak mengetahui apa sedang di alaminya, bisa bisa ia habis di tertawakan.


Cukup lama Edo bercerita, mulai dari meminta maaf karena pulang tidak memberi kabar, dan juga mengenai hubungannya yang di tentang oleh kedua orang tua Ayrin, karena tidak menyukai Edo yang terkesan player.


Setelah mengakhiri panggilan dari Edo, dan tentunya sepihak. Ray langsung memuntahkan isi perutnya, emm_maksudnya ice cream yang sudah terlanjur tertelan oleh-nya. Ray tidak kuat lagi menahannya.


Ia berlari begitu saja mencari toilet, meninggalkan Kanaya sendirian di depan kedai ice cream.


Kanaya merasa bersalah jadinya, karena ulahnya memaksa Ray untuk menghabiskan ice cream dengan rasa yang aneh, jelas membuat mual perut siapa saja yang memakannya.


Sudah beberapa menit berlalu Ray tak kunjung terlihat, Kanaya jadi khawatir. Ia bangkit dari kursinya, ingin menyusul Ray.


"excuse me"


Suara bariton dari arah belakang membuat Kanaya mengurungkan niatnya masuk ke dalam, lalu berbalik ke belakang dan...ehm Kanaya mencoba mengingat siapa pria di depannya ini.


"You're Rayhan's wife, right?" Tanya pria berambut putih itu, dengan penampilan yang sedikit...nyentrik.


Mendengar nama suaminya di sebut Kanaya hanya mengangguk, ia kurang lebih sedikit paham bahasa Inggris.


"I-iya, tapi__" Belum sempat kanaya menjawab, Aldrich sudah mendudukkan dirinya di kursi tempat Ray duduk sebelumnya. Mata grey Aldrich terus menelusuri penampilan Kanaya, gadis polos dengan dress rumahan di bawah lutut yang longgar serta rambut panjangnya yang tergerai begitu saja.


"Aku Al, kau ingat?" Ujar Aldrich menggunakan bahasa yang sama dengan Kanaya,  tentunya dengan senyum yang sulit di artikan.


Kanaya mengangguk, dengan masih berdiri tidak jauh dari Aldrich, ia mengerutkan dahinya bingung, bagaimana caranya pamit agar pria di depannya ini tidak tersinggung. Kanaya tidak ingin Ray salah paham karena ada pria asing yang berbicara dengannya. Lantas ia memutuskan untuk pergi ke dalam melihat keadaan Ray.


"Maaf Tuan Al, saya permisi."


Kanaya menunduk sekilas, dan segera masuk ke dalam kedai melewati Aldrich yang saat itu duduk di dekat jalan akses menuju ke dalam.


"Mau kemana?"


Aldrich menarik pergelangan tangan Kanaya ketika gadis itu lewat di sampingnya, kemudian mencium tangan halus itu dengan usapan sensual.


"Jangan kurang ajar!"


Kanaya menyentak tangannya agar terlepas dari genggaman Aldrich, serta melempar tatapan mematikan sebagai perlawanan. Lalu segera pergi meninggalkan pria yang sudah lancang mencium tangannya dengan perasaan jijik. Ya, sangat menjijikan.


Sementara Aldrich tersenyum puas karena sudah berhasil melakukan aksinya tanpa di ketahui oleh Ray, bocah kemarin sore yang ia akui seleranya cukup bagus. Bahkan ia juga mengerlingkan matanya ketika Kanaya menatap ke arahnya sebelum menghilang di balik pintu kaca.


"Sepertinya untuk yang satu ini aku harus berusaha keras." Gumam Aldrich, lalu bangkit dan melanjutkan niat awalnya sebelum bertemu Kanaya.


Kanaya berjalan sedikit cepat masuk ke dalam kedai, ia ingin segera  mencuci bekas ciuman pria tadi dengan tujuh kali bilasan, bahkan dengan pasir juga bila perlu.


Kanaya mengedarkan pandangannya ke sekitat toilet cowo. Masa bodoh pandangan orang lain padanya, toh ia ingin bertemu dengan suaminya sendiri, bukan untuk menggoda laki laki.


"Ray."


Kanaya menghamburkan diri ke dalam pelukan hangat sang suami, begitu melihat sosok pria jangkung dengan kemeja biru muda keluar dari dalam pintu toilet pria.


Ray tersenyum mendapati tingkah Kanaya yang mesra, tidak seperti biasanya.  "Tumben?"


Kanaya tidak menjawab, masih pada posisinya memeluk erat tubuh suami tersayang.


"Tiba tiba aku kangen" Kanaya mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang sang suami sembari berjalan beriringan. Ia melirik ke arah pintu keluar, takut takut pria berambut putih itu masih disana.


"Hum, jangan mancing mancing aku"


Sontak Kanaya melepaskan tangannya dari pinggang Ray, namun Ray menahannya sembari tertawa geli, kemudian ia mengecup pelan pucuk kepala Kanaya yang bersandar di bahunya. Tentunya mengabaikan tatapan para pengunjung kedai yang terlihat iri.


***


"Ray aku mau pulang." Kanaya mendekati Ray yang sedang membereskan barang belanjaan sang istri, lebih tepatnya Ray yang membelanjakan. Tidak ada drama kedua, ia lelah.


Ray menghentikan aktifitasnya, lalu menoleh kesamping. "Kenapa? Kamu bosen?"


Kanaya menggeleng, bukan bosan_tapi ia takut bertemu lagi dengan pria berambut putih itu. Rasanya ia masih kesal, jika bukan karena Al adalah rekan bisnis Raka, sudah dapat di pastikan Kanaya akan menghajarnya.


"Aku kangen ayah."


Kanaya menjadikan ayah mertua sebagai tameng, maaf ayah...


Kanaya tidak mungkin menceritakan kejadian yang di alaminya barusan pada sang suami, ia yakin Ray tidak akan membiarkan si Al itu kembali kenegaranya dalam ke adaan utuh.


Ray menghela nafas kasar, kalau ia dan Kanaya pulang sekarang, sudah  pasti ayah dan kakaknya akan mengganggu waktunya bersama Kanaya. "Satu hari lagi ya?"


Ray menatap gadis di depannya ini dengan tatapan memohon, agar Kanaya mau menunda kepulangannya. Ia masih ingin berbulan madu dulu dengan Kanaya, setidaknya sampai benih-benih cintanya tumbuh di rahim Kanaya.


Sementara Kanaya berpura-pura berfikir sembari menggigit ujung jarinya, jelas saja hal itu membuat Ray semakin gemas. Ray berjalan cepat ke arah Kanaya dengan senyum menyeringai, lalu mengangkat tubuh sang istri di bahunya, seperti memanggul beras.


Kanaya meronta sembari tertawa geli, karena Ray menggelitik kakinya dan berputar putar. "Ampun Ray, aku nyerah." Kata Kanaya di sela sela tawanya.


Ray menurunkan Kanaya dari bahunya perlahan, hingga mata mereka bertemu. Kemudian menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah istrinya, bahkan masih terdengar jelas nafas Kanaya yang tersengal diriingi dadanya yang naik turun mengatur nafas.


Ray menangkup kedua pipi Kanaya, lalu mencium lembut bibir ranum itu, kali ini Kanaya tidak sepolos dulu, ia membalasnya ciuman itu tak kalah panas dari Ray. Bahkan tangan halus itu mulai merambat mengusap rahangnya, serta meremas rambut hitamnya.


"Oke, sore ini kita pulang" ujar Ray di atas bibir Kanaya setelah melepas pangutannya, dan melanjutkan kembali aksinya sebelum pulang ke rumah ayah.


Semoga saja kali ini benihnya mampu membuat Kanaya mengandung darah keturunan-nya. Tidak bisa Ray membayangkan bagaimana jadinya jika memiliki anak kembar dari Kanaya. Senyum itu tak luntur sedikitpun dari bibir sensualnya, bahkan sampai di hentakan terakhir.


welcome to the Febriano clan.


***


Hmmm gitu ya 🤔


Semoga jadi ya Ray, semangat 😂


Karena gak jadi tamat aku kasih konflik, yang gede atau ringan aja? 😅


Aldrich bale