
Aku menanggapi gurauan JB dengan senyuman sinis, aku sudah sering diperlakukan seperti itu oleh sahabatku ini. Dia memang selalu bilang suka aku, tapi aku hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Aku tidak akan masuk keperangkap rayuanmu. Kamu dari dulu sampai sekarang akan tetap jadi sahabatku." Kemudian aku beranjak dari kursiku dan bergegas pergi.
Setelah aku meninggalkan kafe, JB berbicara dengan Samdong. Mereka berbincang-bincang tentang kelanjutan Band mereka. Setelah selesai merekapun pulang ke asrama. Tapi JB masih menggumam dan Samdong mendengarnya.
"Aku akan tetap menunggumu Hyemi, sampai kapan pun." Gumam JB.
Setelah sampai di rumahku, aku merebahkan tubuhku di ranjang. Sesaat aku baru teringat kalau aku belum mengirim halaman dari buku itu ke Yoojin.
"Aduh capek sekali. Oh iya, aku belum mengirim halaman pertama ke Yoojin." Aku mengambil hp-Ku dan mengirim halaman pertama kepada Yoojin.
Yoojin menerima halaman pertama yang aku kirim, dia merasa senang. Mendapat halaman pertama dari buku itu.
"Kamu tidak tau betapa berartinya buku itu untukku, kamu cuma berfikir itu buku komik biasa tapi tidak bagiku. Meskipun cuma halaman pertama tapi ini sangat berarti buatku." Seru Yoojin setelah menerima pesan dariku.
Saat aku sudah mulai terlelap dalam tidurku, tiba-tiba ada yang membunyikan bel rumahku. Aku beranjak dari tempat tidurku dan mebuka pintu depan.
Saat aku membuka pintu dengan mata yang setengah sudah sedikit tertutup karena memang aku sudah sangat mengantuk. Ternyata yang datang adalah JB dan Samdong dengan membawa minuman.
"Selamat malam Hyemi," kata JB.
"Kamu ngapain kesini malam-malam begini? nggak sopan tau bertamu ke rumah gadis malam-malam begini," ucapku yang masih berdiri di depan pintu.
"Oh ayolah, meskipun kamu perempuan tapi kita sama-sama vampir, bukan?" kata JB sambil masuk ke dalam rumahku.
Aku kesal saat JB mengucapkan kata itu, aku takut Yoojin mendengarnya. Jelas saja aku takut rahasiaku terbongkar sebelum aku bisa menikmati rasa itu lagi dari Yoojin.
"Diam kamu, jangan keras-keras nanti tetangga sebelah dengar," kataku sembari menutup mulut JB.
JB yang setengah mabuk sudah seperti orang tidak waras. Samdong hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah rekannya yang sedang mabuk.
"Ayo kita berpesta haha." JB tertawa sangat keras sampai Yoojin yang sedang duduk dimeja kerjanya mendengar tawanya.
Aku sudah emosi melihat tingkah sahabatku yang satu ini, aku hanya merasa tidak enak jika harus mengganggu Yoojin yang sedang bekerja.
"Sam, tolong jelaskan padanya kamu manusia, bukan? kamu pasti tau pikiran seseorang bagaimana kalau ada perempuan didalam apartemen bersama laki-laki. Tolong suruh dia diam atau aku usir dia dari sini!" Aku kesal karna takut Yoojin mendengar suara JB dan dia akan berpikiran aneh-aneh tentang aku.
Samdong mencoba menjelaskan pada partner kerjanya itu agar tidak membuat kegaduhan di rumahku. Tapi JB tidak mau peduli dengan ucapan Samdong.
Aku yang sudah di landa emosi akhirnya memutuskan untuk ikutan minum bersama mereka. Beberapa menit setelah aku meneguk satu botol minuman itu, aku mulai tidak tau apa yang aku katakan dan aku lakukan.
JB yang sedang mabuk mencoba mendekati dan menciumku. Tapi aku mendorongnya dengan tenaga yang masih tersisa.
Yoojin yang merasa pekerjaannya terganggu mulai bergumam karena mendengar keributan dari rumahku.
"Apa yang mereka lakukan malam-malam begini di rumah Hyemi." Yoojin berangan dengan ilusinya sendiri.
Yoojin merasa aku adalah gadis yang tidak baik karena mau memasukkan laki-laki ke rumahku di tengah malam seperti ini.
"Dasar perempuan tidak tau diri! bisa-bisanya dia memasukan laki-laki ke dalam rumahnya". Yoojin kesal dan bergegas tidur.
***
Keesokan paginya aku yang masih tidur dikagetkan oleh bunyi pesan di handphoneku. Saat aku lihat, ternyata pesan itu dari Yoojin yang mengajakku jalan lagi. Aku yang masih mengantuk mengabaikan pesan darinya.
Beberapa menit kemudian bel rumahku berbunyi, entah siapa lagi yang suka mengganggu hari liburku. Aku turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu.
"Hyemi, buka pintunya," teriak Yoojin sambil membunyikan bel rumahku.
"Iya sabar," aku membuka pintu dan tidak sadar dengan pakaian seksi yang masih ku pakai.
Saat aku membuka pintu, aku melupakan kalau masih ada JB dan Samdong dirumahku sekarang. JB yang masih dibawah pengaruh alkohol, bangun dan langsung memelukku dari belakang.
Aku sangat terkejut, karena saat itu aku sedang di hadapan Yoojin. Yoojin menatap aku yang sedang dipeluk oleh JB. Mataku yang tadinya mengantuk menjadi terbelalak karena terkejut.
"I'm Sorry. Lanjutkan saja, aku mau pergi kerja dulu. Mungkin kita bisa lanjutkan perjanjian kita lain waktu," ucap Yoojin sambil memalingkan wajahnya dariku.
Aku tidak bisa berkata apa-apa saat ini karena aku memang bersalah. Aku sangat kesal pada JB yang sudah bersikap keterlaluan. Aku sangat marah padanya.
Tanpa sengaja aku menampar sahabatku itu. Bukan karena apa, hanya saja aku ingin dia menyadari kesalahannya, agar dia tidak seenaknya saja padaku meskipun kami sudah kenal sejak kecil.
"Hyemi, maafkan aku. Bukankah kita sudah biasa melakukan ini sejak kita kecil?" JB mengejarku yang pergi ke kamar.
Aku masih tidak terima dengan sikap sahabatku karena sudah memelukku di depan Yoojin tadi. 'Kamu samakan saat ini dengan saat kita kecil? dasar ****.' batinku kesal.
"Ayolah maafkan aku, apapun yang kamu mau aku akan lakukan asalkan kamu tidak marah padaku lagi," kata JB sambil mengetuk pintu kamarku.
Aku tidak memperdulikannya. Aku masih menangis karena kesal. Sam hanya bisa terdiam melihat aku dan JB bertengkar. Aku yang sudah kehabisan akal akhirnya memutuskan untuk mempertemukan JB dan Yoojin. Aku membuka pintu kamarku dan langsung mengajak JB kerumah Yoojin.
"Baiklah, sekarang ikuti aku," kataku.
Aku dan JB berjalan kerumah Yoojin. Saat itu Yoojin sedang menutup pintunya karena bersiap-siap untuk pergi keluar. Bukan kerja, karena Yoojin kerjanya di rumah.
"Hai Yoojin, kamu salah faham tentang aku dan Hyemi tadi. Kami tidak ada hubungan apa-apa selain hubungan sahabat," kata JB sambil tersenyum.
"Oh sahabat, aku tidak peduli apa pun hubungan kalian." Jawab Yoojin dengan nada cuek.
Aku kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh Yoojin saat itu. Akhirnya aku tidak tahan, aku berlari kerumah sambil menangis. 'Ini semua kesalahan JB, kalau dia tidak bertindak bodoh Yoojin pasti tidak akan sesinis itu padaku.' batinku sambil menangis di dalam kamar.
"Hyemi tunggu." teriak JB.
"Hei kamu, aku tidak sudi menjelaskan semua ini padamu kalau bukan karena permintaan Hyemi." Bentak JB pada Yoojin.
.
.
.
.
.
MAAF JIKA MASIH ADA KESALAHAN DALAM PENULISAN CERITANYA ...
**JANGAN LUPA LIKE, VOTE DAN BINTANG NYA YA ...
DUKUNGAN KALIAN AKAN MEMBUAT AUTHOR SEMANGAT UNTUK UPDATE BAB SELANJUTNYA...
NANTIKAN KELANJUTAN CERITANYA PARA READERSKU**** ...
TERIMA KASIH ...
IG : Blue Flower