
Regan menatap apa yang terjadi didepan matanya, terlihat Belda berteriak marah pada Sonia saudari tirinya, begitu juga dengan Sonia yang menatap Belda dengan penuh amarah.
Sudah beberapa menit Regan didalam mobil memperhatikan mereka dari kejauhan, karena tidak mau ikut campur masalah keluara Belda. Setelah serasa pertengkaran mereka cukup memanas Regan keluar dari dalam mobilnya berlari melerai pertengkaran mereka yang terlihat mulai memakai fisik.
"Gue bilang dia gak ada di apart gue" penuh tejanan Belda mengucapkannya.
Tangan Regan melingkari perut Belda menahannya agar tidak semakin mendekati Sonia karena terpancing emosi.
"Oh ... ini pria yang melamar lo?" Sonia menatap Regan dari atas hingga bawah dengan senyum meremehkan, "gak nyangka bodyguard lo ternyata saudaranya youtuber, tapi kalau bodyguard ya tetep aja bodyguar."
"Sonia!" Bentak Belda menggelegar.
"Qe" tegur Regan lembut.
Belda menatap Regan tetap dengan emosi yang masih menyala dimatanya.
"hem ... cocok, seorang Dj memang butuh pengawal biar gak digerpek-gerpek cowok, atau ..." Sonia melirik Belda, "jangan-jangan lo udah ML sama dia."
"Lancang mu ..."
"Hei!" Regan menghalangi Belda yang akan memukul Sonia, dia memeluk tubuh Belda erat.
"Apa?, lo mau marah?. Gak salah kan gue ngomong gini, DJ kan keluar masuk Club, siapa tahu kalian khilaf?."
Deguoan jantung Belda dapat Regan rasakan Regan mengelus rambutnya agar tenang.
"Cewek murahan kayak lo itu gak pantes jadi anggota keluarga Cakrawansa, malu-maluin tau gak" Sonia masih melanjutkan caciannya.
Pelukan Regan semakin mengerat mendengar cacian Sonia, menahan Belda dan bahkan dirinya sendiri agar tidak meledak marah.
"Lo gak bisa balas budi malah ngecewain orang tua, untung Mama lo mati jadi lo gak bisa ngelihat dia..."
"JANGAN BAWA-BAWA MAMA GUE" teriak Belda berang, dengan sekuat tenaga melepaskan diri dari pelukan Regan.
Belda melangkah mengikis jarak antara dia dan Sonia, matanya benar-benar memerah memancarkan betapa dia sangat dipenuhi amarah.
Regan tidak menahannya kali ini, kata-kata yang diucapkan Sonia sangat keterlaluan.
"Balas budi seperti apa yang lo maksud?, sejak ibu lo menghancurkan rumah tangga kami, saat itu juga gue hancur." Belda berdesis dengan suara pelan penuh tekanan, "gue harus balas budi yang seperti apa?, pria itu dan ibu lo udah buat Mama gue mati, mereka gak pernah mikirin perasaan gue dan peduli sama gue, lo pikir gue akan peduli dengan nama keluarga yang kalian agung-agungkan?."
"Mama lo emang udah waktunya mati jangan nyalahin Papa dan Mama"
Belda tertawa kecil lalu kembali menatap Sonia tajam, "ya ... tapi kehadian lo berdua ditengah-tengah keluarga kami yang mepercepat Mama gue meninggal."
Wajah Sonia terangkat hendak mengatakan sesuatu tetapi Belda lebih dulu melajutkan perkataannya.
"Mama gue sekarat kalian malah berlibur untuk merayakan ulang tahun lo, Mama gue meninggal tepat setelah tujuh harinya kalian masuk kekeluarga gue dengan senyum dibibir kalian, dan bahkan mereka menikah secara resmi tetap didepan mata gue. Gue diculik tidak ada yang peduli, mereka malah marahin gue, dan lo ikut-ikutan memfitnah gue?" Belda berdiri tegak dengan wajah datarnya. "Gue harus balas budi seperti apa setelah apa yang kalian lakuin kegue?" tanya Belda mulai begitu terlihat tenang.
"Tapi lo hidup sampai sekarang dengan uang yang ..."
"Enggak" potong Belda dingin, "gue gak menggunakan uang pemberian bokap lo sepeserpun setelah gue keluar dari rumah terkutut kalian itu, dan gue akan mengembalikan uangnya dari gue lahir hingga gue keluar dari rumah kalian."
Mereka berdua saling tatap cukup lama.
"Apa lo sangat benci ke gue?" tanya Sonia mengangkat dagunya angkuh.
"Menurut lo?" tanya Belda terkekeh.
"Lo benci samapai lo ngehasut Papa untuk tidak pulang?, dan lo menyembunyikan ..."
"Gue Gak menlakukan apapun ke Bokap lo" Potong Belda mulai emosi.
"Kalau gitu kenapa dia gak pulang kerumah setelah dari luar negeri?, dan kenapa selama dia gak ada ... lo yang mengurus perusahaan?. Lo anak yang gak dianggap, lo anak yang mengecewakan gak mungkin anak murakan kayak lo bisa ..."
Bug ...
Regan mendorong bahu Sonia kasar hingga mundur beberapa langkah, Regan tidak bisa menahan kesabarannya lagi mendengar Sonianmencavj dan mengata-ngatai Belda saudaranya sendiri meski mereka lain ibu.
Sonia hendak marah mengangkat wajahnya tetapi urung saat melihat tatapan mengintimidasi dan tajam Regan padanya.
Belda yang berdiri disamping Regan bahkan juga ikut tertekan melihatnya, aura mencekam seakan terpancar penuh ancaman disekitar mereka.
"Lo gak pantes berkata kasar dan tidak sopan pada saudara lo" desis Regan tajam, "mungkin dia takut diracuni lagi sama Nyokap lo sampai gak pulang."
Regan lepas kontrol sampai kebenaran yang dia sembunyikan dengan Damar keluar dari mulutnya.
Regan membuang muka sejenak menetralkan emosinya sebelum menatap Belda, "ya ... sakit jantungnya dipicu karena obat yang terus menerus dikonsumsinya. Pak Dama tahu siapa orang yang melakukan hal itu dibelakangnya, jadi selama kesehatannya setelah operasi benar-benar pulih delapan puluh sampai sembilan puluh persen dia tidak akan lulang kerumah lo."
Saat mengatakan kalimat terakhir Regan menatap Soni yang diam mematung ditempatnya.
"Karena sangat kecil kemungkinan Istrinya tidak kembali membuatnya secara tidak sadar menkonsumsi obat yang bisa memicu penyakit jantungnya lagi."
Belda melangkah maju mengikis jarak diantaranya dan Regan, "dari kapan kamu tahu?" tanya Belda lirih dengan mata mulai berkaca-kaca.
Tangan Regan menyentuh pipi Belda lembut, "setelah kamu meminta bantuanku, dan Papamu mengaku sudah mengetahuinya."
Kali ini Belda menoleh menatap Sonia, "kenapa lo diam?, lo tahu?, kenapa ... kenapa kalian tega pada orang yang memperlakukan kalian begitu baik sampai tidak memperdulikan gue?, kenapa ... KENAPA JAWAB!."
Sonia melangkah mundur, kepalanya menggeleng pelan. "Gak mungkin ... dia pasti bohong ... Gak mungin MAMA GAK MUNGKIN MELAKUKAN ITU ...."
Melihat dua perempuan yang terlihat terpukul mendengar apa yang Regan ungkapkan membuat Regan menyesal karena hilang kendali.
^-^
Berlda tertidur setelah beberapa jam menangis dalam pelukan Regan, dari kantor Damar tubuh Belda langsung melemas terjatuh dalam pelukan Regan meski dia tersadar, Regan membawanya pulang kerumah Ganendra, dia tidak mungkin meninggalkan Belda sendiri di apartemennya.
Perlahan Regan meletakkan kepala Belda di bantal, Regan keluar dari dalam selumut dan perlahan keluar kamar Gea yang ditempati Belda.
"Kenapa Belda menangis?: tanya Ara khawatir.
Tadi Ara akan berangkat ketoko, tetapi mengurungkan niatnya saat melihat Regan menggendong Belda yang menangis masuk kedalam rumah.
Regan memeluk Ara erat, dia bersyukur saat Abra tidak ada disampingnya, Regan masih mempunyai Ara yang sangat menyayanginya.
"Melihat keadaannya yang seperti itu Ar, jadi semakin ingin membawa dia masuk dalam keluarga kita Bun" bisik Regan penuh keyakinan.
Ara mengelus punggubg Regan lembut.
"Ar ingin memembuatnya merasakan bagaimana keluarga sebenarnya," Regan meregangkan pelukannya.
"Bunda tidak tahu apa yang terjadi, tapi melihatnya menangis hingga lemas seperti itu pasti dia mempunyai masalah yang besar" ucap Ara.
Regan mengangguk, "dia mengetahui jika Ibu tirinya yang membuat Papanya menderita penyakit jantung, dia mengetahui semuanya pengorbaban apa yang Papanya lakukan untuk melindunginya."
"Bunda sudah tahu dari Ayah" Ara menggenggam tangan Regan lembut, "biarkan Bunda yang menjaga dia kamu berangkat kerumah sakit."
"Tapi Bun ..."
"Ar" potong Ara lembut, "beberapa hari dia akan tinggal disini, meski dia belum menjadi menantu Bunda sepenuhnya."
Regan menghela nafas pasrah, "Ar titip Qe ya Bun."
Ara tersenyum menepuk-nepuk punggung tangan Regan, "saat awal pertama kali kamu membawanya masuk kedalam rumah, berarti kamu sudah memilih dia untuk masuk kedalam keluarga kita. Jadi meski Belda masih belum menjadi menanti, Bunda sudah menganggapnya anak Bunda."
"Bukannya awal Ar membawanya kerumah karena mau menggagalkan perjofohan?, kenapa malah Bunda menganggapnya anggota keluarga kita sejak hari itu?."
"Karena menurut Bunda, jika seorang pria berani membawa perempuan kerumahnya, itu tandanya dia sudah memilih perempuan itu, dan Ayah juga melakukan hal itu pada Bunda."
Regan menarik Ara kembali dalam pelukannya, padahal Regan tidak pernah berfikir sampai sejauh itu.
Dia bersyukur memiliki Ara yang mengerti dirinya, juga bersyukur memiliki Abra meski dia pernah mengecewakann Regan. Regan bersyukur bisa berada ditengah-tengan keluarga Ganendra, dan dia akan menunjukkan bagaimana seharusnya keluarga pada Belda.
^-^
.
Terima kasih kalian semua sudah mau menunggu updatean Only You ๐ฅฐ
*Terima kasih sudah mampir
Terima kasih atas dykungan kalian ๐Vote ๐Hadian ๐Like ๐ฌ Comment kalian sangat berarti.
Ayo dong kasih komentar sebanyak-banyaknya siapa tahu komentar kalian bisa ikut membantu Author untuk menulis jalannya cerita* Only You *selanjutnya ๐
Love you ๐*
Unik Muaaa