Only you

Only you
KEPULANGAN RAY



Sudah satu bulan lebih Ray di rawat di rumah sakit, keadaannya sudah mulai membaik. Kini Ray sudah bisa berjalan tanpa tongkat, bisa menggerakkan tangannya walau pelan, juga celvicar collar yang terpasang di lehernya-pun sudah di lepas.


Tapi, sampai saat ini Raka belum menemukan siapa pelaku yang sudah mencelakai Ray. Orang suruhan Raka dan polisi tidak bisa melacak keberadaan mobil tersebut. Hanya ada satu orang yang mengetahui jika Aldrich pelakunya, namun orang itu sama sekali tidak mau tahu, lebih ke_tidak peduli.


Sementara Kanaya ikut tinggal bersama dengan Ray di rumah sakit. Tentu saja karena ayah, Raka dan suaminya yang melarangnya berada jauh dari mereka. Bahkan ayah Martin sampai memindahkan barang-barang milik Kanaya ke rumah sakit, semua itu demi kenyamanan dan keselamatan menantu tersayangnya.


Ngomong-ngomong soal Kanaya, usia kandungan menantu keluarga Febriano itu sudah memasuki bulan ke lima. Perut datarnya sudah mulai terlihat membuncit, bahkanΒ  mereka semua sudah bisa mendengar detak jantung anak yang berada di dalam kandungan Kanaya. Dan hal itu semakin membuat ayah Martin bersikap posesif menjaga cucu dan calon penerus klan Febriano.


Belum lagi pasangan fenomenal yang rutin berkunjung, Edo dan Ayrin tak pernah absen datang kerumah sakit, untuk menghibur Kanaya dan memberi dukungan. Bahkan dua manusia absurd itu rela menunda hari pernikahannya hingga Ray sembuh total, dan hadir di hari bahagianya.


Seperti hari ini, Edo dan Ayrin sudah hadir untuk ikut menjemput kepulangan Ray. Dan juga si pria berambut pirang juga turut hadir di barisan bodyguard dengan tampang menyebalkan bersama Raka.


Kanaya memalingkan wajahnya, namun kemudian menautkan kedua alisnya dalam. Ayah mertuanya menyodorkan kursi roda padanya, untuk ia pakai agar tidak kelelahan berjalan hingga ke lantai bawah.


"Aku masih kuat jalan ayah."


Tolak Kanaya dengan memasang puppy eyes andalannya, agar ayah mertuanya tidak memaksa. Dan lagi, ibu hamil tidak selemah itu, ia juga dalam keadaan baik baik saja. Dari awal kehamilan-pun Kanaya sudah naik turun gedung ini berkali-kali.


Berhasil, terdengar helaan nafas panjang dari pria parubayadengan setelan formalnya.


"Ya sudah, nanti kalo kamu cape bilang sama ayah."


Martin mengusap kepala Kanaya sayang, ia sama sekali tidak menganggap Kanaya sebagai menantu, melainkan anak perempuannya sendiri. Bahkan Martin tidak ragu untuk menghajar Ray, jika berani menyakiti Kanaya.


Sementara Kanaya mengangguk dengan senyum cerah, secerah mentari hari ini.


Ayah Martin menoleh pada barisan bodyguard dengan wajah datarnya, mereka sudah bersiap dengan barang barang yang sudah di kemas.


"Kalian semua, bawa barang-barangnya, masukan ke dalam mobil" titah ayah Martin tegas. Dan mereka semua bergegas membawa barang-barang itu.


"Sultan emang beda." Celetuk Edo sembari bersidekap. Dan ucapannya itu mendapat hadiah pukulan dari Raka.


Ayrin tertawa pelan mentertawakan Edo yang selalu menjadi bulan bulanan Kaka beradik itu. Meski begitu tak membuat Edo membenci, justru semakin menjahili dua manusia kaku itu.


Sementara Ray tak lepas melingkarkan tangannya di pinggang Kanaya, sembari tangan kanannya mengusap ngusap perut buncit istrinya. Rasanya ia sudah tidak sabar menanti kehadiran baby twins. Ya, twins. Dari hasil pemeriksaan USG kemarin, dokter menyatakan anak yang ada di dalam perut Kanaya itu kembar.


Dan, alhasil semua anggota keluarga heboh dan semakin melarang Kanaya untuk beraktivitas yang berlebihan. Padahal ia merasa baik baik saja, kehamilan ini justru membuat Kanaya merasa lebih kuat dan bersemangat dari sebelumnya.


Dari awal keluar kamar hingga masuk kedalam lift, Kanaya di kelilingi para pria. Ayah, raka, Ray dan juga si manusia menyebalkan yang selalu mencuri pandang.


Setibanya di lantai bawah, perhatian orang orang di sana tertuju padanya, arah pandang mereka mengikuti setiap langkah-nya. Ada yang berdecak kagum, bahkan ada yang mencibir. Kanaya mulai terbiasa, menjadi menantu dari keluarga pengusaha kaya memang harus memiliki mental yang kuat.


"Kamu risih?"


Kanaya menggeleng, lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Ray_manja. Mengabaikan tatapan orang orang yang ada di sana, melangkahkan kakinya meninggalkan lobby menuju pintu keluar.


Beberapa pria bertubuh besar dengan pakaian serba hitam juga berjaga di sekeliling mereka mengawal hingga sampai ke luar gedung ini.


Aldrich yang melihat itu menahan kesal seraya mengepalkan tangannya, seringaian licik terukir jelas di bibirnya. Ia tidak bisa menahan diri lagi untuk menjadikan Kanaya miliknya, dan menanamkan keturunan di rahim wanita itu seperti Ray.


***


Ray menuntun Kanaya turun mobil, merangkul pinggang sang istri yang semakin padat saja, membuat Ray gemas. Ray jadi penasaran bagaimana Kanaya tanpa busana saat ini, dengan perut buncit-nya yang membuat gadis itu terlihat seksi.


Sebagian orang mengatakan jika wanita hamil itu terlihat seksi, dan menggairahkan. Begitulah Ray, fisiknya memang sembuh, namun isi kepalanya tetap sama_semua tentang kemesuman dengan Kanaya.


"Aku kangen banget sama kamu." Bisik Ray di telinga Kanaya.


"Kamu belum sembuh total Ray, jangan macem macem" sahut ayah Martin dari arah belakang, lalu berjalan mendahului mereka berdua.


Kanaya menutup bibirnya menahan tawa, Ray selalu saja di batasi untuk berduaan dengannya. Sikap ayah Martin berlebihan membuat Ray kesulitan menyalurkan hasratnya, bahkan selama di rumah sakit ia selalu di jaga.


Ray tertunduk lesu, melangkahkan kakinya dengan langkah gontai. Menaiki anak tangga dengan raut muram, karena Kanaya tidak menemaninya naik ke lantai atas. Pupus sudah harapannya untuk bermesraan dengan Kanaya, padahal ia sangat merindukan wanita itu. Memeluknya, menciumnya, menumpahkan rindu yang terpendam sejak kecelakaan itu. Ia yakin fisiknya sudah siap untuk di ajak bergulat dibatas ranjang. Ah, sial.


Ray merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamarnya yang beberapa minggu kemarin ia tinggalkan. Kamar ini menjadi saksi bisu saat dirinya melewati malam pertamanya dengan Kanaya, Ray senyum senyum sendiri mengingatnya.


"Harusnya anak aku sering sering di jenguk, biar dia gak lupa sama ayahnya." Gumam Ray seraya melipat kedua tangannya, kenapa ayahnya bersikap seperti tidak pernah muda saja sih? Apa dulu ia juga tidak pernah di jenguk, sampai ia tidak kenal dengan ayahnya?


Bohong sekali, ayahnya itu sama mesumnya dengan dirinya. Bahkan pria tua itu lebih mengerikan. Ray bergelut dengan fikirannya sendiri, hingga tidak menyadari sosok cantik yang berdiri di ambang pintu dengan senyum merekah.


"Kamu lagi mikirin apa?" Kanaya melangkah masuk setelah menutup pintu, dengan membawa nampan di tangannya.


Ray menoleh, lalu bangkit menyandarkan tubuhnya pada punggung ranjang.


"Aku lagi mikirin kamu. Sekarang kamu susah banget di deketin." Ujar Ray dengan tersenyum miris.


Kanaya melangkahkan kakinya mendekati sang suami, meletakkan nampan itu di atas nakas. Senyum nakal terukir di bibir tipisnya, seraya mendudukkan dirinya di samping Ray.


"Kenapa senyum senyum?" Tanya Ray seraya mengusap pipi Kanaya lembut.


Sentuhan kecil dari Ray membuat Kanaya blingsatan, hormon ibu hamil membuatnya sedikit sensitif dan agresif.


Kanaya mendekat bibirnya ke telinga Ray, berbisik lembut dengan sapuan nafas hangat menggoda.


"Anak kita minta di jenguk sama ayahnya."


Ray merasa menang hari itu, karena tidak ada yang menggangu waktu bermesraan dengan Kanaya. Hanya suara erangan dari bibir Kanaya yang terdengar di dalam ruangan itu, nyanyian rindu yang mengalun merdu mengawali hari pertama Ray kembali kerumah.


🍁🍁🍁


Aku cut aja ya ,ke hamilan Kanaya aku percepat. Biar cepet tamat πŸ˜‚


Roby versi editan πŸ˜‚