
Tak luput Ray memandangi penampilan sang istri dengan sorot mata tidak suka, ia merasa cemburu karena Kanaya tampil begitu cantik di acara resepsi ini. Bahkan semua mata laki-laki di ballroom hotel ini menatapnya penuh minat. Rasanya ingin sekali Ray mencongkel semua mata laki laki yang ada di ruangan ini. Menyebalkan.
Tangannya terus merengkuh pinggang Kanaya yang semakin berisi, menunjukan bahwa ialah pemilik wanita cantik ini. Mata elangnya terusΒ mengawasi pandangan para pria hidung belang yang menatap lekuk tubuh Kanaya.Β Ray sungguh menyesali perbuatannya yang menyetujui perancang busana sialan itu, mendesain baju yang seseksi ini.
Berbeda dengan kemarin saat akad nikah, kali ini Kanaya memakai gaun yang glamour dan menawan, gaun berwarna putih di hiasi Payet yang indah dengan bergaya sheath. Gaun itu memiliki potongan sesuai bentuk tubuh, meski berlengan panjang dan berkerah tinggi, namun gaun ini memiliki model backless yang dengan jelas memperlihatkan punggung indah indah Kanaya yang terhalang kain transparan.
Sementara Ray hanya memakai tuxedo putih dengan dasi panjang bermotif garis garis.
Dari kejauhan seorang laki laki dan perempuan berjalan mendekat ke arah Ray dan Kanaya, dua orang pria bertubuh tinggi dengan satu gadis yang tidak asing bagi Ray, meski gadis itu merubah penampilannya.
"Selamat Ray" Reno memeluk tubuh Ray lalu beralih menyalami Kanaya "selamat ya Kanaya." Kanaya hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Hai Kak Rayhan, selamat ya. Semoga menjadi keluarga yang samawa." Kata Maya menyalami Ray dan beralih pada Kanaya, memeluk gadis itu dengan senyum mengembang. "Selamat ya mbak."
What? Mbak?! Kanaya langsung mengerucutkan bibirnya kesal.
Melihat ekspresi Kanaya yang menggemaskan, seorang pria yang datang bersama Reno menatap Kanaya dengan kilat gairah.
Kali ini Ray dengan jelas memperlihatkan raut tidak sukanya dengan satu pria yang datang bersama Reno.
"Liat-nya biasa aja, udah ada yang punya." Ujar Ray tanpa basa basi.
Pria itu tersenyum malu, karena ia ketahuan memandangi istri orang.
"Dia gak pernah liat cewe pake baju Ray, jadi berasa aneh." Celetuk Reno menanggapi kekesalan Ray. "Kenalin, namanya Aldrich, salah satu rekan bisnis Raka di Amerika."
"Al, kenalin. Dia adeknya Raka." Kata Reno.
Aldrich mengulurkan tangan pada Ray dengan senyum ramahnya. "Congratulations" lalu beralih menjabat tangan Kanaya, kali ini sedikit lama dan usapan lembut.
"Gak usah lama-lama!" Ray menyentak tangan Aldrich kasar.
"Ray!" Hardik Kanaya lirih seraya melingkarkan tangannya di lengan kekar Ray.
"Sorry" kata Al dengan raut sesal yang di buat buat.
Mereka bertiga berlalu dari hadapan Ray dengan tertawa pelan, Ray masih bisa mendengarnya jika Aldrich memuji kecantikan Kanaya.
"Ray"
Seorang pria parubaya berjalan mendekat, dengan wajah sumringah. Siapa lagi jika bukan ayah Martin sang penguasa. Ray memutar bola matanya jengah, ia lelah harus mengikuti ayahnya berkeliling memperkenalkan diri sebagai penerus perusahaan Real Estate milik sang ayah.
"Ikut ayah sebentar"
Ray menghela nafas pelan, menoleh ke arah Kanaya dengan raut memohon, memohon agar Kanaya mengatakan pada ayahnya untuk tidak membawanya pergi. Pasti ayahnya itu akan menuruti.
Jawaban dari Kanaya justru mendorong Ray ke dalam neraka, istrinya itu bersekutu dengan ayahnya, bahkan tersenyum manis. Eerrr...
Ray berjalan malas mengikuti langkah ayahnya dengan senyum yang dipaksakan, ia khawatir meninggalkan Kanaya. Bisa saja pria yang bersama Reno tadi kembali mendekati istrinya, atau bahkan pria lain. Aasshh...
Kemana Ayrin dan Edo sih? Ray jadi kesal sendiri pada pasangan itu.
"Ray, kenalin ini om Bram" kata Martin seraya menunjuk ke arah laki laki yang berbadan subur "dan ini anak om Bram, namanya Bella."
Ray mengulurkan tangannya dengan malas, laki laki itu malah memeluk Ray dan menepuk-nepuk bahunya. "Kamu mirip banget sama ayah kamu, tegas." Kata om Bram.
Kini giliran Bella si gadis berdarah campuran dengan senyum termanisnya mengulurkan tangan pada Ray dengan sorot mata memuja.
"Bella"
"Hum" jawab Ray malas, ia tak fokus. Matanya hanya tertuju pada Kanaya.
"Anak aku ya jelas mirip sama aku lah Bram" Kata Martin bangga dengan tertawa pelan.
"Raka lagi kumpul sama rekan bisnis ayah yang lain. Kenapa?"
Ray mulai berfikir, alasan apa yang bisa membuat ayahnya melepaskan dirinya dan kembali bersama Kanaya.
"Hem, Kanaya tadi bilang pusing yah, Ray khawatir." Yap, kalau membawa nama Kanaya pasti ayahnya akan luluh. Bella menatap kagum Ray, pria tampan yang tegas dan perhatian pada istrinya, idaman sekali.
"Yasudah sana temani Kanaya." Kata Martin menyerah, ia tidak mau menantu kesayangannya kenapa napa.
"Dia mirip sekali denganmu, bahasa anak muda sekarang apa itu?!" Bram mencoba mengingat bahasa gaulnya.
"Bucin, Dadd" seru Bella.
"Ah iya, bucin." Bram dan Martin tertawa bersama, sementara mata lentik Bella terus memperhatikan langkah Ray dari kejauhan.
Ray segera kembali ke tempat Kanaya dengan senyum mengembang, tapi senyumnya luntur seketika, apa ia tidak salah lihat?Kanaya sedang berbicara dengan Aldrich. Dan kalian harus tau, jika pria ******** itu menatap lekuk tubuh istrinya saat berbicara.
"Hhmpptt"
Kanaya terkejut nyaris terjengkang, jika saja Ray tidak memeluk pinggangnya saat itu, Ray yang entah darimana datangnya langsung mel**umat bibirnya. Aksi Ray barusan tentu menjadi pusat perhatian, sontak berseru ramai ramai.
Sementara Aldrich semakin tertarik setelah melihat adegan di depannya, sepertinya merebut istri orang menjadi hobi barunya sekarang. Lebih menantang.
"Ray, kamu bikin aku malu tau gak." Katanya lirih setelah pangutan itu terlepas.
Sementara si pelaku hanya tersenyum, lebih tepatnya senyum mengejek ke arah Aldrich, pria ******** yang berani menatap istrinya dengan tatapan mesum.
***
Alunan musik terdengar mengiringi gerak langkah Ray dan Kanaya yang sedang berdansa, lagu romantis sebagai pengiring membuat suasana semakin syahdu bagi dua manusia yang sedang di mabuk cinta.
Dua manusia lainnya menatap iri, sementara ayah Martin dan om Bram ingin menjalin kerja sama baru untuk mempererat pertemanan mereka berdua.
Sedangkan di sisi pojok sana Raka menyendiri, di raihnya gelas berisikan air beralkohol itu lalu di minumnya hingga tandas dalam sekali teguk. Ia sudah bersusah payah melupakan gadis yang sudah mencuri hatinya, dan gadis itu dengan teganya pergi begitu saja meninggalkan dirinya pas lagi sayang sayangnya. Menyedihkan sekali bukan?
Dan kemarin ia harus bertemu lagi dengan gadis yang nyaris sama dengan Titha, bukan dari segi wajah atau fisik. Melainkan tingkah laku dan gaya bahasanya, tentu saja membuatnya semakin sakit.
Lamunannya buyar seketika, ponsel di sakunya berdering, Raka merogoh sakunya dan meraih benda pipih itu. Raka mengerutkan keningnya dalam. Nomor tidak di kenal?
Orang asing mana yang menyimpan nomornya? Raka mengabaikan panggilan itu, namun nomor tersebut terus saja menghubunginya tanpa lelah. Dengan malas Raka menggeser tombol hijau pada layar touchscreen-nya.
"Hey!! Lo sengaja ngindarin gue?! Lo mau kabur dari tanggung jawab huh?!" Suara cempreng dari sebrang sana membuat Raka menjauhkan benda pipih itu dari telinganya.
Raka menggelengkan kepalanya, bukan ucapan salam yang ia dengar justru makian yang ia dapatkan.
Tunggu! Suara ini ia seperti pernah mendengarnya.
"Kamu__?"
"Iya, ini gue!"
πππ
Siapa lagi bang? Ati ati gak bisa move on. π
Okeh part ini bareng sama MY POSESIF HUSBAND, udah launching.
Jangan lupa mampir.π