Only you

Only you
Mau Honeymoon Kemana?



Belda ...


Belda menatap tajam tampa ekpresi pada pintu ruang kerja Regan yang tertutup rapat.


Jam sudah menunjukkan jam sepuluh malam tetapi Regan belum juga keluar dari ruang kerjanya.


Rutinitas Regan setelah pulang kerja langsung mandi, makan malam dan masuk kedalam ruang kerjanya. Bagun tidur Belda sudah menemukan Regan tidur memeluknya tampa Belda sadari kapan Regan masuk kedalam kamar mereka, sehingga malam ini Belda dengan sengaja tidak tidur menunggu Regan keluar dari ruang kerjanya.


Kembali Belda melirik jam dinding, sudah dua puluh lima menit dia berdiri dan Regan belum juga keluar dari ruangannya.


Kesal, Belda mengetuk pintu ruang kerja Regan, tampa menunggu Regan memperbolehkannya masuk, Belda sudah lebih dulu membuka pintu dan masuk begitu saja.


Regan tersenyum menatap Belda lembut.


Melihat wajah Regan yang terlihat senang malah melunturkan kekesalan Belda padanya.


"Kerja apaan sih?" tanya Belda dengan wajah cemberutnya berjalan menghampiri Regan.


Regan memutar kursi kerjanya menghadap Belda yang berdiri di samping meja kerja Regan. "Kenapa?, tumben belum tidur?."


Belda berdecak kesal, "kamu sengaja ngejahui aku apa gimana sih?" tanya Belda dengan ketus tidak bisa menyembunyikan perasaan jengkelnya.


"Kapan aku ngejahuin kamu?."


"Kapan?" Belda balik bertanya, "sejak kita nikah Re ... kamu pulang kerja langsung masuk kesini, kita jarang ngobrol. Nikah bukannya tambah dekat malah serasa tambah jauh."


Regan malah tertawa mendengarnya.


"Ih ... kenapa malah ketawa?, mau kamu sebenarnya apa Re?, hubungan setelah kita nikah kayaknya gak ada bedanya dengan sebelum kita nikah."


Bukannya menjawab Regan malah bersandar dengan santai di sandaran kursinya memainkan bulpen ditangannya tersenyum menatap Belda. "Mau aku, cepat menyelesaikan semua pekerjaan dan membawamu honeymoon."


Belda berdecak, "alasan ... Honeymoon kemana emang?."


"Terserah istriku."


Belda mencibir mendengar gombalan Regan, memukul lengan Regan pelan dan menutup berkas yang terbuka didepan Regan dengan kesal.


Raja Throne Hotel


Kening Belda mengerut membaca tulisan diatas map yang dia tutup barusan.


Mata Belda tidak sengaja melihat tumpukan map lain yang membuatnya bingung menoleh pada Regan. "Keuangan Sejahtera Apotik" baca Belda, "bukannya itu apotik tempat Mela tinggal?" tanya Belda melieik Regan.


Kepala Regan mengangguk.


Belda terdiam beberapa saat, Regan masih tetap duduk dengan santai, tersenyum memperhatikan Belda yang terlihat menggemaskan jika sedang berfikir.


"Ah ... aku ingat" serut Belda tersenyum lebar, "kamu belum menjawab pertanyaanku dua tahun lalu" ucap Belda girang.


Belda duduk diatas meja kerja Regan menghadap Regan yang duduk dikursi kerjanya.


"Yang mana?" tanya Regan mengerutkan keningnya mencoba mengingat.


"Tentang profesi kamu dan seberapa kaya kamu" jawab Belda semangat.


Regan tertawa mendengar Belda yang terlihat begitu semangat ingin tahu tentangnya. "Apa yang kamu tahu tentangku?" tanya Regan menatap Belda dengan kepala memiring.


"Em ..." Belda mencoba mengingat-ingat sejenak, "pemilik apotik, toko sayur S.AG, seorang hecker, seorang Dokter bahkan direktur rumah sakit, direktur perusahaan Ganendra Group dan satu lagi ..." Belda menggantungkan kalimatnya mentap Regan tajam, "Raja Throne Hotel."


"Bisnis yang aku, Al, As dan Je bangun bersama. Tanggung jawabku mengurus keuangan hotel, Accounting Manager."


Tidak ada beban dan sangat santai saat mengatakannya, berbanding terbalik dengan Belda yang membeku sejenak karena shock.


Gemas dengan tingkah Belda, Regan menarik tubuh Belda turun dari atas meja dan duduk dipangkuaannya, Regan memeluk pinggang Belda erat.


Tubuh Belda melemas bersandar pada dada Regan. "Pantas saja kamu sibuk dan gak sadar mengabaikan aku. Kamunya sibuk ngurus hotel, rumah sakit dan perusahaan Ganendra" ucap Belda lirih.


"Tidak dengan perusahaan Ganendra, aku sudah bukan Direktur Ganendra lagi."


Tubuh Belda yang sebelumnya bersandar didada Regan langsung kembali duduk dengan tegak, "oh ya?" tanya tanya Belda antusias tersenyum lebar.


Kening Regan mengerut dan mengangguk, "ya ... aku dan Ayah barter perusahaan Ganendra dan Rumah Sakit."


Senyum Belda semakin menggembang mendengarnya, membuat Regn semakin mengerutkan kening menatap aneh pada istrinya.


"Kenapa malah bahagia?" tanya Regan.


"Memangnya kenapa?."


"Apa kamu tidak kecewa tahu aku menukar Perusahaan Ganendra Group dengan Rumah Sakit?."


Kepala Belda menggeleng kencang.


"Why?" tanya Regan tersenyum dengan menopang kepalanya menatap Belda dalam. "Beberapa orang memperyenyakan keputusanku yang melepas perusahan besar seperti Ganendra Group. Kenapa kamu malahbtampak bahagia?."


"Karena ... karen aku lebih suka kamu pakai jas kedokteranmu dari pada jas armani" ucap Belda asal sambil terkekeh.


Jawaban Belda yang diluar dugaan seperti biasanya, kembali membuat Regan tertawa lepas mengecup bibirnya gemas.


"Terlebih aku seorang istri yang pasti akan mendukung keputusan suami, aku juga tidak suka kamu terlalu sibuk nanti mengabaikan keluarga. Jika bisa, cukup fokus pada satu profesi saja, aku pernah mengatakannya bukan?."


Regan menggelengkan kepala, lalu melirik kekanan dan kekiri. "Tidak bisa" ucap Regan setelah berfikir sebentar.


Kening Belda mengerut, "kenapa tidak bisa?."


Regan memutar kursi kerjanya kembali menghadap meja kerja, "apotik yang mengurus Mela, toko S.Ag ada Gandi dan Megan, aku hanya mengecek dan mantau saja" Regan menarik map bertulisan keuangan Sejahtera Apotik dan keuangan S.Ag. "Tapi ..." tangan Regan menarik map bertulisan Raja Throne Hotel yang tadi ditutup Belda, "aku tidak bisa melepaskannya karena mereka membutuhkanku, lebih tepatnya kami membutuhkan kelebihan kami masing-masing untuk menjalankan Raja Throne."


Belda mengelus rambut Regan menatapnya dalam, "otak kamu benar-benar genius ya?" tanya Belda.


Regan tertawa kecil.


Regan menghela nafas semakin mempererat pelukannya "maaf ... karena aku ingin menyelesaikan semua pekerjaan dan cepat-cepat membawamu honeymoon, secara tidak sadar aku membuat kamu merasa diabaikan."


"Memangnya mau bawa aku honeymoon kemana sampai semua pekerjaan harus selesai semua?."


"Kemanapun kamu mau, keliling dunia juga boleh."


"Memangnya uang kamu cukup buat keliling dunia?" tanya Belda disela-sela tawanya.


Tidak langsung menjawabnya, Regan malah menarik laci meja kerjanya, mengeluarkan beberapa kartu ATM diatas meja kerjanya.


Belda yang melihatnya mengambil salah satu dari kartu tersebut, "ini kartu ATM semua?."


"Ya" jawab Regan, "yang dipegang kamu itu Kurang lebih tiga digit, "uang hasil dari gaji di Hotel Raja Throne." Belda mengambil satu kartu lagi, "hasil menjadi Chief Financial Officer sejak GG Com menjadi milikku, entah berala M karena hampir lebih dari sepuluh tahun aku menjadi pewaris sekaligus CFO dan aku tidak pernah menggunakannya."


Belda menatap Regan tampa berkedip. Ditangannya ada dua kartu bank yang nominalnya belum diketahui secara jelas, yang pasti tidak sebanding dengan uang yang Belda miliki saat ini.


Regan menjulurkan dua kartu sekaligus pada Belda, "uang hasil dari main saham online dan bayaran menjadi hecker jika jasaku dibutuhkan perusahaan keamanan ASG. Dan yang hijau itu gaji jadi dokter, uang yang aku gunakan untuk pernikahan kita menggunakan uang di kartu itu."


Belda menatap empat kartu ditangannya dalam diam, ekor matanya melihat satu kartu biru yang tergeletak di atas meja didepan mereka.


Seakan mengerti dengan lirikan mata Belda, Regan mengangkat kartu terakhirnya. "Keuntungan toko sayur dan apotik masuk ke kartu ini, isinya hanya dua digit mungkin."


Tubuh Belda melemas seakan tidak memiliki tulang lagi, Regan memeluknya erat agar Belda tidak terjatuh dari pangkuannya.


"Denger kamu banyak uang dan pekerjaan gini, bukan buat aku tambah seneng loh Re" guman Belda, "aku malah tambah takut kamu sibuk dan mengabaikan aku."


"Janji ini yang pertama dan terakhir kamu merasa aku abaikan."


"Janji?"


"Iya sayang ..." ucap Regan sambil mengelus rambut Belda, "jadi mau honeymoon kemana?"


Mata Belda yang akan terpejam langsung terbuka, Belda turun dari pangkuan Regan berdiri menatap Regan dengan senyum lebarnya.


"Aku mau dirumah aja" ucap Belda, "aku tunggu di kamar."


Belda berlari keluar dari ruang kerja Regan setelah mengatakannya.


Terdengar tawa Regan yang menggema hingga keluar ruang kerjanya membuat pipi Belda semakin memerah dibuatnya.


^-^


"Mau honeymoon kemana?"


Tiga kata itu selalu mampu membuat Belda tersentak dengan pipi bersemu merah.


Regan yang melihatnya tersenyum kecil, membuat Belda mendelikkan mata pada Regan.


"Hei ... kalian mau honeymoon kemana?"


Kembali Ara bertanya pada Regan dan Belda.


Dan kembali pula Belda tersentak hingga sendok ditangannya terlepas membuat suara dentingan sendok dan piring yang terbentur.


Regan menggenggam tangan Belda, "masih mikir Bun."


"Cepat-cepat dong mikirnya, Bunda dan Ayah belum memberi hadiah pernikahan. Jadi kami berencana untuk membeli tiket honeymoon, tapi kalian yang nentuin mau honeymoon kemana."


Tangan Belda membalas genggaman tangan Regan erat, sehingga Regan menoleh padanya.


Wajah Belda memelas menatap Regan, sedangkan Regan malah sumringah.


Ara berjalan menjauh hendak mengeluarkan kue yang sudah masak dari dalam oven.


"Re ... jangan ya ..."


"Memangnya kenapa?" tanya Regan sok polos.


"Pasti capek seharian kamu gak mau berhenti lagi."


Regan tertawa mendengarnya.


Honeymoon ...


Kata itu benar-benar membuat Belda selalu menghela nafas berat.


Andai saja Ara tidak meminta mereka datang, Honeymoon di rumah saja yang Belda pikir akan cepat selesai karena pekerjaan Regan yang masih menumpuk, tidak akan selesai hingga besok.


^-^


.


*Sudah lunas hutan menjelaskan profesi Regan pada Belda dan pada para Readers ...


Jangan lupa untuk mampir di novel Author selanjutnya*.


As I Love You


*Yang Insya'Allah akan mulai up dari besok 🥰


Mohon dukungannya semua 😍


Terima kasih atas segalanya 😇


Kita jumpa lagi nanti 🖐


Love you 😘*


Unik Muaaa