Only you

Only you
OPERASI



Di dalam ruangan serba putih dengan tirai berwarna hijau, Kanaya tengah terbaring di atas ranjang operasi. Jarum infus sudah menancap di pergelangan tangannya. Tubuhnya sudah tidak merasakan apapun, sakit yang tadi menderanya beberapa saat lalu kini tidak lagi terasa.


Suara dentingan alat operasi yang beradu dengan wadahnya membuat Kanaya merinding. Ia tidak pernah membayangkan jika harus menjalani operasi Cesar untuk melahirkan kedua bayinya.


Kanaya tidak bisa melihat apa yang sedang di lakukan oleh beberapa dokter dan perawat di dalam ruangan ini, ia hanya bisa mendengar samar samar serta merasakan jika perutnya sedang di sayat meski tidak sakit. Karena dokter sudah memberi suntikan Anestesi Epidural atau spinal, hingga bagian bawah tubuhnya mati rasa.


Sepanjang berjalan-nya operasi tak hentinya Kanaya berdoa, agar ia dan bayinya selamat. Dan tidak terjadi apapun pada bayinya akibat insiden pagi tadi.


Suster yang menggenggam tangan Kanaya sesekali mengajak berbicara, juga menanyakan apa saja yang Kanaya rasakan. Kanaya merasakan mual ingin muntah, suster itu menyarankan Kanaya untuk memiringkan kepalanya saja di wadah yang sudah di sediakan.


Harusnya saat ini Ray yang berada di sampingnya. Namun, karena kondisi Ray yang tidak memungkinkan akibat berkelahi dengan Aldrich, Ray hanya bisa menunggu di luar ruangan bersama yang lain.


Tiga puluh menit sudah berlalu, terdengar suara tangis bayi yang begitu nyaring. Kanaya menitikkan air matanya haru,  ia tak kuasa menahan tangis bahagia yang menyelimuti dirinya saat ini.


Bisa ia dengar jika dokter mengatakan bahwa kedua bayinya selamat dan sehat tidak kurang satu apapun. Dan dua orang suster terlihat membawa kedua anaknya ke tempat lain.


****


Ray mengangkat wajahnya yang tertunduk lesu, terdengar suara tangis bayi dari dalam ruang operasi Kanaya membuatnya terkejut.


"Ayah, bayinya sudah lahir." Seru Ray, dengan senyum bahagianya. Ia tak kuasa menyembunyikan raut bahagianya saat ini, hingga air matanya turut mengambil peran.


Ayah Martin menepuk bahu Ray, lalu memeluk anak bungsunya itu dengan haru.


"Selamat Ray, kamu jadi seorang ayah sekarang." Ucap ayah Martin seraya mengusap punggung Ray.


"Selamat Ray." Kata Raka ikut memeluk tubuh adiknya itu.


"Selamat bro, Lo jadi hot Daddy sekarang." Timpal Edo sambil mengulurkan tangannya ke arah Ray.


Evan yang bersandar di dinding rumah sakit itupun turut bahagia, pria itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya haru. Ia bersyukur kepada Tuhan yang sudah menyelamatkan Kanaya beserta bayinya. Jika saja terjadi sesuatu pada Kanaya atau bayinya, Evan tidak akan segan-segan memberi perhitungan pada Ray, karena tidak becus menjaga Kanaya.


Mereka yang ada di sana menunggu dengan raut tidak sabar, terlebih lagi Ray yang ingin sekali melihat istri dan anaknya. Ketegangan yang terjadi beberapa jam lalu membuat Ray nyaris kehilangan akal sehatnya, melihat Kanaya yang kesakitan serta cairan bening bercampur darah yang mengalir di kaki Kanaya. Itu sudah cukup membuat Ray merasa ingin bertukar saja, biar ia yang merasakan sakitnya.


Lampu di atas pintu ruangan itu sudah padam, menandakan bahwa operasi sudah selesai. Tidak lama, pintu ruangan yang tertutup rapat itu akhirnya terbuka dengan keluarnya dokter dan juga suster.


"Dok, bagaimana keadaan istri dan anak saya?" Cecar Ray begitu bertemu dengan dokter yang baru saja menagangani Kanaya.


"Semuanya berjalan lancar, ibu dan bayinya selamat dan sehat."


"Apa saya boleh masuk Dok?" Tanya Ray penuh harap.


"Boleh, hanya suami dari pasien saja yang boleh masuk. Kalau begitu Saya permisi dulu." Kata dokter itu seraya berlalu meninggalkan Ray.


Ray berjalan memasuki ruangan itu, terdapat beberapa ruangan lainnya. Kemudian ia memakai pakaian pelindung berwarna hijau serta penutup kepala, setelah tadi ia mencuci tangannya terlebih dulu. Sesuai dengan arahan suster yang berjaga disana.


Ray langsung berjalan mendekat ke arah Kanaya yang masih tergeletak di atas ranjang dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya.


"Sayang"


Ray menggenggam tangan Kanaya dan mengecupnya sekilas.


"Terimakasih sayang, kamu udah berjuang demi anak kita. Aku khawatir banget sama kamu." Ray kembali mendaratkan bibirnya di kening Kanaya, bahkan di seluruh wajah pucat sang istri.


Kanaya tersenyum dengan sudut mata yang berair, ia bersyukur masih bisa melihat sang suami meski wajahnya penuh lebam.


"Permisi pak" dua Suter berdiri di samping Ray dengan menggendong satu bayi di tangannya masing-masing.


"Ini anak saya?" Tanya Ray terkejut, takjub dan haru, ia tidak bisa menggambarkan perasaan-nya saat ini ketika melihat dua makhluk mungil di hadapannya.


"Iya, ini bayi ibu Kanaya. Kembar laki-laki dan perempuan." Kata suster itu lagi lalu menyerahkan satu pada Ray, dan satu lagi pada Kanaya.


Ray menyambut bayi itu dengan tangan gemetar, kemudian menoleh sekilas ke arah Kanaya dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.


Kanaya mengangguk dengan senyum tipis, sembari memeluk satu bayinya.


Kumandang adzan terdengar lirih dengan suara gemetar menahan tangis, sang bayi berjenis kelamin laki-laki itu tersenyum mendengar suara ayahnya yang begitu tenang di dalam gendongan Ray. Lalu Ray mencium kening bayi itu lembut amat lembut agar tidak tersakiti. Kemudian Ray melakukan hal yang sama dengan bayi satunya yang berjenis kelamin perempuan dan menyerahkan pada suster itu kembali.


***


Setelah beberapa jam di dalam ruang operasi, kini Kanaya sudah di pindahkan ke dalam ruang rawat untuk menjalani pemulihan.


Setelah mereka semua melihat bayi kembar Kanaya dari balik kaca di ruang khusus bayi, kini mereka semua menuju ruangan Kanaya. Ayah Martin dan yang lainnya mulai bergantian masuk ke dalam ruangan Kanaya untuk melihat ke adaan wanita hebat itu.


Kini giliran Evan yang masuk ke dalam ruangan, Ray sama sekali tidak bisa menolak ke hadiran pria asal Spain itu. Karena Evan turut andil menyelamatkan Kanaya dan juga dirinya, mau tidak mau Ray harus menahan rasa cemburunya dan membiarkan Evan berbicara dengan sang istri. Tapi, tidak untuk lain kali.


"Bagaimana keadaan mu?"


Evan berdiri di samping Kanaya dengan menggenggam tangan lemah wanita itu.


"Seperti yang kamu lihat. Aku baik baik saja berkat pertolongan mu." Sahut Kanaya dengan senyum tipisnya.


"Untuk kedua kalinya kamu selamatkan aku dan Ray, dan datang di waktu yang tepat. Terimakasih banyak Evan, aku gak tau harus balas kamu dengan apa."


Evan mengusap sudut mata Kanaya yang berair seraya menggeleng. Mencium punggung tangan wanita itu lembut.


"Aku hanya punya satu permintaan. Anggap saja ini sebagai balasan kebaikan ku." Evan tersenyum menyeringai.


Kanaya tau ini bukan sesuatu yang baik, ia sudah salah mengatakan hal itu. Itu sama saja seperti bunuh diri, karena Evan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk meminta sesuatu yang tidak masuk akal.


"Asal permintaan mu dalam batas wajar." Sahut Kanaya waspada, sebelum mengiyakan permintaan Evan.


"Aku hanya meminta..."


🍁🍁🍁


Minta apa ya? 🤔😂😂


To be continued...