Only you

Only you
chapter 97



Raka terdiam menatap langit-langit kamarnya, tubuhnya di sini tapi fikirannya entah kemana. Raka memejamkan matanya mencoba menepis bayangan gadis itu. Namun, semakin keras ia berusaha, bayangan itu semakin berkeliaran di kepalanya.


"Aku gak bisa"


Raka kembali membuka matanya, kemudian menyandarkan tubuhnya pada punggung ranjang, menghela nafas seraya mengusap wajahnya kasar. Memikirkan gadis itu membuat tenggorokannya terasa kering, ia menoleh ke atas nakas, di raihnya gelas itu meminumnya hingga tandas.


Raka kembali merebahkan tubuhnya setelah mematikan lampu dan memejamkan matanya paksa,  ia berharap akan tertidur dengan sendirinya, dan di saat membuka mata ia sudah melupakan segalanya tentang gadis itu yang melebur bersama mimpinya.


***


Fajar menyambut di iringi kicau burung nan merdu di pagi ini, seseorang menggeliat di balik selimut putih yang membalut sebagian tubuhnya. Raka mengerjap pelan menyesuaikan pandangannya dari silau mentari yang menyelinap masuk dari celah gordeng kamarnya.


"Aawww"


Raka meringis ketika ia menggerakkan lengannya, bekas patah tulang saat ia di sekap oleh Bastian kembali retak. Dan rasa sakitnya dua kali lipat dari sebelumnya, tubuhnya terasa remuk tidak bersisa, bahkan isi kepalanya-pun seakan ikut bersekongkol untuk menyiksa dirinya.


Raka menoleh ke arah pintu yang baru saja terbuka, seperti semalam, para petugas medis datang untung mengecek lukanya dan memberi obat untuk meredakan sakitnya.


Salah satu asisten di rumahnya masuk membawakan sarapan serta minuman seperti biasa, lalu berbalik segera untuk meninggalkan ruangan itu.


"Tunggu!"


Langkah asisten itu berhenti, lalu berbalik kembali menghadap Raka dengan menundukkan kepalanya. "Ya Den, ada yang di perlukan lagi?"


Hening sesaat, ia bingung harus mulai bertanya darimana. Sementara dokter dan suster masih di dalam ruangan ini.


"Ehm" berdehem kecil untuk menghilangkan canggung "Bi, Hem...bibi bisa panggilkan cewe yang tinggal di kamar sebelah?"


Raka bertanya sembari menahan sakit saat dokter menyentuh bagian lengannya yang retak, meski sudah di gips tetap saja ngilu.


"Maksud Den Raka, non Thita?"


Raka mengangguk pelan, ternyata hatinya menuntun Raka untuk memaafkan kesalahan gadis itu, hingga pagi ini di saat semalam ia berharap mengalami amnesia justru semakin merindukan gadis galak itu.


"Non Thita...pagi pagi banget pamit Den, dia juga bawa koper gede"


"Pa-pamit?! Aawww" Raka meringis kesakitan, mendengar kabar itu membuat ia reflek duduk tegak hingga tidak sengaja lengannya tersenggol.


Bibi asisten itu hanya mengagguk, ia tidak berani lagi menjawab, reaksi tuan mudanya tadi membuat asisten itu berfikir ulang. Asisten itu menyerahkan kotak seperti kotak kado, lalu mengatakan jika kepergian Titha hanya karena merindukan kampung halamannya.


Raka menerima titipan itu setelah ia meminta dokter dan asistennya keluar dari dalam kamarnya, ia butuh sendiri untuk melihat apa titipan itu.


Raka membuka kotak kado tersebut, terlihat selembar kertas putih yang terlipat rapih, kemudian Raka membuka kertas itu perlahan, dengan perasaan yang tidak menentu. Di bacanya perlahan dengan menghela nafas pelan, tanpa berkedip.


DEAR RAKA.


"Dari awal gue dateng kerumah ini memang punya niat jahat, buat bales dendam sama keluarga lo terutama om Martin. Menerima permainan yang Tante Marissa usulkan untuk memikat salah satu di antara kalian, tentu dengan senang hati gue terima, karena gue benci sama kalian semua dan berharap gue bisa menaklukkan kalian di bawah kendali gue. Tapi, ternyata Tante Marissa cuma memperalat gue untuk menguasai semua harta om Martin dan menghabisi kalian satu persatu. Dengan meracuni kalian lewat ramuan di dalam botol bening itu."


Raka mencari botol yang di maksud oleh Titha, yang ternyata terselip di balik kotak tempat surat tadi. Lalu ia kembali membaca kalimat yang masih tersisa.


"Entah kenapa rasanya gue gak sanggup untuk ngelakuin itu, kesombongan dan ke angkuhan gue seakan lemah. Bahkan rasa benci yang tadinya memuncak di kepala gue runtuh seketika. Ternyata Tuhan mentertawakan ke angkuhan serta kesombongan gue, dan menjebak gue di dalam permainan yang gue buat sendiri. Menjebak gue dengan nama CINTA. 


Gue gak tau kapan kata itu hadir di hati gue dan semakin menjerat gue. yang gue tau, GUE CINTA SAMA Lo.


only you, and nothing can change that.


Sekali lagi gue minta maaf, gue pamit." Thita.


Raka meremas kertas itu hingga tak berbentuk, melemparkannya ke dinding dengan keras. Nafasnya memburu, ia merutuki kebodohannya yang tidak mau mendengarkan penjelasan Titha lebih dulu. Sial.


Ray menahan nyeri saat dokter meyentuh bagian dada serta punggungnya, rasanya lebih menyakitkan dari kemarin. Kanaya yang melihat itu semakin iba di buatnya, dari semalaman ia menemani Ray dan tidur di samping cowo itu karena Ray terus saja meracau dalam mimpinya.


Setelah petugas medis itu selesai memeriksa luka dan memberi Ray obat mereka semua keluar dari ruangan itu, beserta bibi asisten yang baru saja membawakan makanan dan minuman.


"Aku suapin ya."


Kanaya menyambar semangkuk bubur di atas nakas yang baru saja di bawakan oleh asisten. Ray tersenyum senang mendapat perhatian lebih dari Kanaya tanpa ia minta gadis itu menawarkan lebih dulu. Jelas Kanaya menawari lebih dulu kan ia sedang sakit.


"Aku pengin setiap membuka mata, wajah kamu yang pertama aku lihat. Di atas ranjang aku." Ujar Ray di sela sela suapan Kanaya.


Kanaya menghela nafas seraya menggeleng pelan, meski begitu wajahnya tetap saja merona. Ya, wanita mana yang tidak merona jika sang kekasih mengatakan seperti itu.


"Mama kamu dulu nyemilin gula ya pas hamil kamu? Mulut kamu manis banget." Balas Kanaya sontak membuat Ray tersedak bubur yang belum sempat tertelan.


Uhuk uhuk...


Kanaya terkekeh geli sembari memberikan Ray minum, iya tidak menyangka reaksi Ray akan seperti itu atas perkataannya barusan.


"Kamu belajar gombal darimana? Udah pinter ya sekarang." Menatap wajah Kanaya.


"Belajar dari kamu, tiap hari aku di manis manisin sama kamu jadi pinter aku." Celetuknya asal.


Ray mencolek pinggang Kanaya menggelitik pelan, hingga gadis itu tertawa menahan geli.


"Ray geli ih, ampun... udah udah... nanti buburnya tumpah."


"Awas kamu yah kalo aku udah sembuh, aku makan kamu." ancamnya.


Menarik dagu Kanaya agar menatap ke arahnya, menarik gadis itu agar mendekat, namun detik itu juga suara pintu terbuka serta memperlihatkan seseorang tengah berdiri di ambang pintu.


"Weehhh, inget bro lagi sakit. Tahaaannn" Edo berjalan mendekat ke arah ranjang bersama Ayrin, gadis itu pun tertawa sama konyolnya dengan Edo.


"Ganggu Lo!!" Ray melepaskan tangannya dari wajah Kanaya " ini juga gara gara lo kemaren telat nyet!" Ray melempar bantal ke arah Edo.


"Sorry men, hp gue disita sama Ayrin, salahin cewe gue noh." Edo menunjuk Ayrin dengan dagunya.


"Dih, ko gue. Lo sendiri yang mojokin gue di kamar sampe lupa sama hape." Balas Ayrin tak kalah sengit.


"Wahh Lo ngeduluin gue nyet!" Ray menggelangkan kepalanya heran, kenapa sahabatnya itu mudah sekali mendapatkannya.


Sementara Kanaya hanya menyimak, ia tidak mengerti maksud dari pembahasan itu.


"Gue kesini mau jemput Kanaya ya, bukan mau ghibah." Seru Edo kemudian.


"Udah siap belum Nay? Ayo berangkat sekarang." Tanya Ayrin mengalihkan topik pembicaraan.


"Jagain calon bini gue, kalo sampe lecet Lo gue kubur Lo idup idup!" Ucap Ray dengan nada mengancam yang tidak main main, ia takut Evan kembali mengambil kesempatan seperti kemarin.


Ray mendekatkan bibirnya ke telinga Kanaya, "jangan ulangi lagi yang kemarin! Aku bakal hukum kamu lebih dari berat dari semalam." Ujar Ray seraya menggigit pelan telinga Kanaya.


Kanaya melongo seketika, membayangkan hukuman macam apa yang ada di kepala Ray.


🍁🍁🍁


To be continued...