
"Aku laper berhenti disana" Belda menunjuk restaurant cepat saji.
"Kalau kamu laper gak disana tempatnya Qe"
"Aku mau disana ... aku mau disana Re ..."
"Tapi makanan cepat saji gak baik bu ..."
"AKU MAU DISANA" teriak Belda.
Di jok belakang Aslan, Javir dan Alaric hanya menghela nafas mendengar perdebatan mereka berdua sejak tadi.
Sebenarnya bukannya lapar, tapi Belda takut ada sesuatu yang akan terjadi nanti setelah sampai dirumah Ganendra di negara ini. Mendengar Ara yang berbicara sambil berteriak pada Regan, Belda jadi ketakutn sendiri sedangkan Regan tidak mau memberi tahunya apa yang terjadi padanya.
Belda duduk dengan lemas di salah satu kursi yang tersedia, sedangkan Aslan, Alaric dan Javir duduk di lain kursi yang terpisah dengannya.
"Makan apa?" tanya Regan berdiri disamping Belda mengelus puncak kepalanya.
"Ayam, kentang, burger semua" jawab Beld dengan mata memelas menatap Regan.
Regan tersenyum mendengarnya, lalu mengangkat wajahnya menatap ketiga temannya. "Kalian terserah asal ditraktir bukan?."
Aslan dan Javir langsung mengacungkan jempol, sedangkan Alaric mengangguk cepat, seperti biasa traktiran adalah kesukaan mereka meski mereka memiliki aang minimal tiga digit di kartu mereka.
Mata Regan langsung berputar melihat repon cepat mereka bertiga yang sudah Regan tebak sebelumnya, sebelum berbalik badan untuk masuk memesan makanan untuk mereka semua Regan berdecak kesal hingga terdengar ketiganya membuat mereka tergelak.
Tepat setelah Regan masuk, Belda langsung berdiri dari duduknya berjalan cepat menghampiri Aslan, Javir dan Alaric duduk di kursi kosong dekat mereka.
"Kenapa Bunda minta gue kerumah?" tanya Belda dengan nada penasaran, "mereka punya rumah disini?, waw ... gur baru tahu."
Alaric dan Javir saling liric, Aslan terkekeh kecil.
"Ih ... As jawab ... jangan ketawa" tegur Belda kesal melihatnya.
"Kenapa gak tanya Ar?" bukan menjawab Aslan malah balik tanya.
Bahu Belda langsung merosot menatap Aslan dengan tatapan memelasnya. "Dia gak mau ngomong apapun, please ... gue deg-degan nih ... tadi Bunda kedengeran marah banget."
Kedua tangan Belda terulir di atas meja menatap mereka dengan tatapan memelasnya.
Aslan melirik Alaric dan tersenyum jahil membuat Alaric menganggukkan kepala denga kencang paham dengan isyrat yang diberikan Aslan padanya.
"Lo tidur degan Ar?" tanya Alaric to the point.
Kening Belda mengerut menatap mereka penuh selidik, bagamana Belda tidak akan curiga dengan mereka jika mereka bertiga tersenyum lebar menatap Belda dengan mata berbinar.
"Bagaimana bisa lo buat Regan lepas kontrol?" tanya Javir.
Belda mendengus, "tidak tidur seperti apa yang ada dalam otak kalian" ucap Belda tegas, "kita tidur satu kasur tapi di kasur pasien, hanya tidur, tidak melakukan apapun hanya ti.dur" satu kaliamat terakhir penuh tekanan.
"Beneran gak melakukan apapun?" goda Aslan.
"Dari raut wajah Ar saat pulang tadi, dia sumringah bahagia gitu loh" timpal Javir.
Tubuh Belda semakin melemas menundukkan kepala dalam hingga keningnya menyentuh pinggiran meja. "Hanya tiduran sambil pelukan kok gak ada yang lebih" ucap Belda lirih.
"Oh ... kalau gitu bukan salah kami atau Daddy gue yang ngelapor ke Bunda" ucap Alaric, "salahkan Ar yang ngomong gak jelas jadi misunderstand kan ..."
Kepala Belda mendongak menatap Alaric dengan mata melotot lalu kembali menundukkan kepala, pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti.
Dari apa yang mereka katakan semua tergambar jelas di benak Belda bagaimana itu bisa terjadi dan apa yanga kan terjadi nanti karena nya.
"Kenapa?" tanya Regan yang tiba-tiba datang membawa talam makanan dengan seorang pelayan.
Kaki Belda yang berada dibawah meja langsung menendang-nendang angin melampiaskan kekesalannya pada Regan saat mendengar suara pria itu.
Regan menatap Aslan, Javir dan Alaric bergantian meminta penjelasan dari mereka. "Apa yang udah kalian katakan sama dia?" tanya Regan dengan nada menuduh.
"Dia bertanya dan kami menjawab" jawab Aslan santai.
"Tatapan matanya seperti puppy bagaimana kami mau berbohong?" Alaric memberi pembelaan sebelum Regan menyemburnya.
Kepala Belda mendongak menatap Regan tajam dengan mata menyipit, "kamu sengajakan membuat mereka salah paham?" tanya Belda dengan nada mendesis.
"Maksud kamu?" Regan malah balik tanya, menarik kursi kosong dan duduk didekat Belda. "Sengak apa?" sangat lembut.
Jika seandainya situasinyabtidak seperti sekarang, dada Belda akan berdesir mendengarnya.
"Kamu sengaja buat mereka salah paham sampek Bunda juga ikutan salah paham!" Seru Belda tak terkontrol.
"Yang mana?"
"Yang mana lagi?, tentang kita tidur berdua Re ... memangnya kamu buat salah pahaman apa lagi?."
"Banyak"
"Ih ..."
Kali ini Belda benar-benar melampiaskan amarahnya dengan menendang-nendang kaki Regan. "Kamu kenapa sih ngelakuin itu?, buat citraku tambah buruh di mata Bunda."
"Karena aku udah gak tahu mau ngikat kamu gimana lagi," ucap Regn tegas. "Ternyata aku gak bisa kalau gak egois, posesis dan protektif sama kamu. Melihat kamu sakit dan tetap perfom tadi buat aku tambah khawatirin kamu, tambah gak mau melihat penampilan dewasa tapi menggemaskan kamu dilihat orang lain."
"Tapi enggak dengan semakin merusak citra aku yang udah hancur di mata keluarga kamu!."
"Bukan hanya kamu tapi citraku juga"
"Dan kamu gak menyesal su ..."
"Tidak menyesal sama sekali."
"RE!" Bentak Belda kesal dengan ketegas Regan yang memotong ucapannya tampa merasa bersalah sedikitpun, "kamu tahu konsekuensinya jika ki ..."
"Aku tahu" potong Regan lagi.
Tangan Regan menggenggam sebelah tangan Belda yang perempuan itu tepis kasar.
"Kita udah berpisah lama, aku cukup sabar dengan semuanya, kamu juga sudah meraih cita-citamu menjadi DJ pro, bahkan kamu juga sudah menerima banyak penghargaan dan memenangkan beberpa lomba."
Belda terdiam tidak menanggapinya.
"Ya ... apa lagi yang mau lo tunggu Belda?" tanya Aslan.
Aslan sudah terlanjur menghentikan proses cetak undangan atas namanya dan Helen, menggantinya dengan nama Regan dan Belda, dia tidak mau di marahi Gea yang bertanggung jawab atas proses lernikahannya nanti gara-gara gonta ganti nama.
Belda diam tidak menjawab pertanyaan Aslan.
"Dia masih mau mengeluarkan single" malah Regan yaang jawab dengan nada datar.
Terlihat wajah Regan yang juga datar terkesan dingin, bahkan suasana disekitar nereka serasa berubah.
"Kalo single mah lo bisa nerbitin meski lo nikah nanti" ucap Alaric.
"Kalau dia nikah, dia mau menjadi ibu rumah tangga dan mendidik anak sepenuhnya" lagi-lagi Regan yang menyeletuk.
"Ya ... sebelum punya anak lah" sanggah Alaric.
"Jangan sampai EO mengamuk gara-gara lo yang kembali ngerubah nama lo dan dia, kembali menjadi nama gue dan Helen" ucap Aslan penuh peringatan pada Regan.
Kepala Belda langsung menoleh Aslan dengan kening mengerut, "EO apa?" tanya Belda sedikit menaikkan suara seakan frustasi, "jangan bilang gue dan dia mau gantiin lo yang mau nikah!."
Kepala Aslan mengangguk capat.
Brak ...
"APA LO GILA?!" Bentak Belda mengamuk memukul meja keras dengan suaranya menggelegar menatap Regan tajam.
Tidak ada lagi aku kamu, Belda benar-benar kehilangan kendalinya saat ini, membuat Regan terbelalak tidak percaya Belda membentaknya.
"Main nikah tampa ada lamaran, tunangan atau apapun. Lo kira gue cewek apaan yang gak butuh persiapan?. Lo kira gue mau apa nikah sama lo?, pede banget sih!."
Tangan Regan mengepal menatap Belda dengan intense, tajam dan benar-benar tidak menutupi amarahnya yang terpancar dimatanya. "Jadi alasan lo selalu nolak lamaran gue karena lo gak mu nikah sama gue?," tanya Regan dengan nada suara rendah yang mendesis. "Kalau gak mau kenapa memberi gue harpan?, lo kira gue bahagia berada dalam hubungan gak jelas begini?, selama kita pisah lo bisa bahagia, tertawa dan melakukan apapun yang lo mau di luaran. Gue?, lo gak tahu gimana gilanya gue!."
Suara Regan meski tidak menggelegar melampiaskan amarah dan kekecewaannya tapi mamput membuat Belda ciut seketika.
Mata Belda menunduk dalam, matanya berkaca-kaca mendengar luapan amarah Regan padanya. Jadi menyesal sendiri sudah kehilangan kendali tadi.
"Memangnya kapan kamu ngelamar aku dengan serius?" cicit Belda lirih.
"Apa gue harus ngelamar lagi?" tanya Regan, "gue udah berkali-kali ngelamar lo tapi selalu lo tolak, bahkan didepan banyak orang. Apa gue marah?, enggak!."
Belda masih menunduk tidak berani menatap mata Rsgan, karena dia masih tahu dari nada bicara Regan yang ketus dan masih menggunakan lo gue, bahwa pria itu masih marah dan kecewa pada Belda.
Sudah pernah Regan katakan bukan, semarah-marahnya Regan pada Belda dia yidak bisa melihat perempuan itu menangis, melihat Belda yang menundukan kepala Regan jadi menghela nafas menenagkan dirinya.
Regan membuka kalung di lehernya, mengeluarkan cincin milik Nenek buyutnya, yang diberikan Kakek Buyut Arya pada Bundanya. Regan sudah menjadikannya bandul kalung yang dia pakai sejak dia melamar Belda di pesta pertunagan Aslan dulu.
Tangan Regan membuka bungkusan hamberger dan menancapkan cincinya diatas roti itu.
"Mau menikah denganku?" tanya Regan lembut.
Tidak percaya dengan apa yang didengarnya, Belda mendongakkan kepalanya kembali menatap mata Regan lalu beralih pada kedua tangan Regan yang terulur, Regan menjulurkan hambergur dengan cincin diatasnya.
Cincin yang cantik tetapi ... yang benar saja.
Kaki Belda di bawah meja kembali menendang-nendang udara dengan kesal. "Gak modal, gak ada romantis-romantisnya, gak tau tempat dan waktu" protes Belda dengan mata berkaca-kaca. "Waktu itu ngelamar saat di marahi di kantor Ayah. Kedua saat acara pertunangan Aslan, dan sekarang melamar dengan cincin di atas burger, yang benar saja Re ...."
"Puffff ..."
"Ehemmm ... hem ..."
"Ya Tuhan ..."
Tiga orang yang mendengar keluh kesah Belda menahan tawa mereka sebisa mungin bahkan Aslan hampir menyemburkan makanan dalam mulutnya.
Regan memperhatikan hamberger ditangannya, "memangnya ada yang salah?."
"Ah ..."
Tubuh Belda melemas bersandar kesandaran kursi dengan kepala menengadah pasrah.
Ketiganya hanya bisa apa kecuali pasrah saja melihat ke absurd-tan pasangan di depen mereka yang benar-benar susah di tebak dan absurd, tidak jelas. Sebentar saling terlihat bucin satu sama lain, lahu tiba-tiba marahan, dan sedetik kemudian membuat mereka menahan tawa.
Mereka berdua bahkan tidak sadar jika Alaric sejak membahas masalah EO tadi merekam pembicaraan mereka berdua dan mengirimnya pada semua orang.
^-^
"Kalian itu pasangan yang absurd, gak jelas bahkan buat bingung semua orang terutama Bunda!"
Regan dan Belda sudah duduk di depan Ara, Abra bahkan orang yang tidak Regan sangka-sangka juga duduk di depannya, Damar Ayah Belda.
Mereka serasa benar-benar disidang oleh mereka berdua di ruang tamu yang kosong hanya terdapat mereka berlima.
"Lalu apa mau kalian?" tanya Ara, "langsung nikah di sini atau nunggu pulang ke Jakarta."
Kepala Belda langsung terangkat, "gak ada pilihan lain selain harus nikah?."
Mata Ara langsung melototi Belda. "Terus maunya kamu apa?, nuggu kamu hamil?."
"Astagfirullah Bunda ... kok ngomong gitu" tegur Belda.
"Lalu Bunda mau ngomong apa?, kalian udah tidur bersama."
"Tapi tidurnya gak ngapa-ngapain Bun."
"Tetap saja harus antisipasi siapa tahu kalian lepas kontrol" ucap Ara.
Perlahan Ara melirik pada Regan yang diam mengulum senyum menatap kelain Arah tidak melihat padanya atau Abra membuat Ara curiga.
"Bunda gak yakin kalian hanya tidur gak ngapa-ngapain"
Sangat lirih Belda mengatakannya tapi mampu membuat Regan berhenti mengulum bibir dan merubah ekpresi wajahnya datar.
"Kita gak ngapa-ngapain Bun ... hanya tidur dan pelukan" bela Belda.
Ara kembali melirik Regan dengan mata menyipit, "Abang ..." panggil Ara penuh ancaman dalam desisian suaranya.
Rega menyengir menoleh pada Ara salah tingkah, "cium Bun ..." ucapnya sambil menyengir.
Mata Belda langsung terbelalak menatap Regan, "kapan yang ciumana!."
"Saat kamu tidur" jawab Regan bangga.
"Kenapa cium-cium saat aku tidur?"
"Memangnya kamu mau aku cium saat sadar gini?"
Blus ...
Pipi Belda langsung memerah mendengarnya, "ya gak gitu ... maksud aku ngapain kamu cium aku?" Belda gelagapan sendiri.
"Karena gak tahan kangen kamu"
Blus ...
"Aku hanya ngecup kok gak cium kayak yang di drama-drama yang sering kamu dan Gea lihat itu dra ..."
"RE ..." teriak Beld.
Regan yang buka-bukaan tampa tahu waktu dna tempat membuat Belda kesal sendiri.
"Sepertinya pasangan Absurd kita harus segera di nikahkan."
Di bawah meja kaki Belda menendang-nendang kaku Regan melampiaskan kekesalannya pada pria itu yang terlalu polos.
"Tapi Bun ..."
Protes Belda langsung di potong Ara. "Apa lagi?, memangnya kamu gak mau nikah sama Ar?"
Belda terdiam menundukkan kepala dalam, "mau ... tapi ... gak ada lamaran langsung nikah?"
"Buaknnya tadi udah" sahut Regan.
Belda hanya bisa menundukkan kepalanya pasrah. "Ya Tuhan kenapa lemarannya gini banget sih."
Regan malah tertawa ngakak, menarik Belda dalam pelukannya dan menghujami puncak kepala Belda dengan ciuman sayang tampa malu di depan orang tua mereka berdua.
^-^
.
Absurd ...
Pasangan Yang Absurd tunggu mereka menebar undangan 😇
Terima kasih sudah mau mampir🙏
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak kalian 🔖Vote 🎁Hadiah 👍Like dan 💬 komen setiap selesai membaca.
Love you 😘
*Unik Mua***aa**