
...Semoga menghibur 😇...
...Dan mengisi waktu luang kalian 🥰...
...^-^ ^-^ ^-^...
.
.
.
Regan menatap ponselnya dengan wajah cemberut, bahu tegapnya terlihat merosot lemas. Mereka berdua sedang menjalankan proses pingitan, Ara melarang keras mereka bertemu bahkan video call, ponsel android Belda sampai diganti dengan ponsel bertombol karena Regan terlalu banyak protes.
"Udah dua tahun pisah bertemu gak nyampek seminggu udah di pingit gini."
Entah keberapa kalinya Regan mengatakan kalimat yang sama, Belda yang mendengarnya hanya terkekeh di seberang sana.
Mereka sedang telfonan kali ini, karena tidak bisa berbicara tatap muka atau video call, setiap kali mereka telephonan Regan akan menatap foto Belda dilayar ponselnya sering kali Alaric mengolok-olok tingkahnya.
"Tiggak berapa lama lagi sih ..." gerutu Regan merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang ruangannya.
"Baru saja dua hari Re ..." ucap Belda lembut disela-sela tawanya.
"Ah ... Bunda kolot banget sih ... pakek tradisi pingit-pingitan segala ..."
"Meski gak di pingit aku juga gak mau ketemu kamu sebelim kamu nemuin siapa yang ngedit dan nyebarin video kita" ucap Belda tegas.
Regan menghela nafas mendengarnya, sampai sekaramg hanya dia yang tahu bahkawa Bilqis yang melakukannya, tidak ada satupun yang tahu selain dirinya.
Tok ... tok ... tok ...
Pintu ruangan Regan diketok, Regan langsung duduk dengan tegap.
"Udah dulu ya ... ada yang datang"
"Iya ..."
Regan memutuskan sambungan panggilan mereka berdua, "masuk" sahut Regan sebelum pintu kembali diketuk.
"Selamat sore ..."
Gea masuk sambil berteriak berjalan dengan girang menghampiri Regan, di belakangnya afa Ara yang menutup pintu ruangan Regan.
Regan menatap Gea dengan tatapan aneh, "tumben ketuk-ketuk pintu?" sindir Regan berdiri untuk menyambut Ara dan memeluknya sebentar.
"Saya kesini sebagai utusan EO yang menangai pernikahan anda," sahut Gea duduk dengan sok anggun duduk di single sofa di depan sofa panjang tempat Regan dan Ara duduk.
Melihat Gea yang sok anggun didepan mereka Ara dan Regan tertawa mendengarnya.
"Enggak ... biasa aja jangan sok formal gitu, geli gue liatnya" tegur Regan di sela-sela tawanya.
Gea langsung cemberut kesal, "persiapan udah tujuh puluh persen, ini menu makanan prasmanan nanti yang udah di pilih Belda dan kamu setuju tidak?."
Regan menganggukkan kepala begitu saja tampa semangat, membuat Gea kesal memukul tangan Regan dengan map yan. dia pegang.
"Kenapa hanya manggut-manggut?, setuju enggak Ar?" desak Gea.
Dengan Regan menyenderkan punggungnya kesandaran kursi. "Terserah Belda dan Bunda aja kalau masalah makanan dan dekorasi, gue nurut dia aja."
Tatapan mata Gea langsung berubah menyorot Regan tajam, "lo sebenernya mau nikah enggak sih?" hardik Gea.
Kening Regan mengerut mendengarnya, "menurut lo gue lagi main-mainan sama anak orang?."
"Siapa tahu" ucap Gea ketus membuang muka menatap kelain arah.
Regan kembali duduk dengan tegap, "gue lagi gak mood buat debat dengan lo. Semua apa mau Belda dan Bunda, lo tinggal setujuin aja biar gue yang bayar. Mood gue sedang jelek karena harus ngikutin tradisi pingitan Bunda" Regan melirik Ara.
Sedangkan Ara balas meliriknya sinis, "masih mau tawar menawar lagi."
"Enggak" kepala Regan langsung menggeleng, "Ar sudah bersyukur Bunda ngebolehin Ar dnegerin suaranya meski ... Ar kangen."
Tangan Ara mengelus puncak kepala Regan sayang. "salah satu tujuannya memang untuk menumpuk rindu, agar kalian nanti pangling saat bertemu."
"Tiap ketemu dia Ar juga pangling."
Plak ...
"Aw ..."
Kesal karena membantah Ara menjitak kepala Rehan cukup keras, Regan meringis lalu terkekeh kecil mencoba bermanja-manjaan dengan Ara.
"Terus gimana?, setuju kan?, kalau gitu gue pulang!."
Perhayian Regan dan Ara langsung tertuju pada Gea.
Gea mulaj meraoikan semua barang-barangnya dengan wajah datar dan mengerjab-ngerjabkan matanya.
Paham dengan apa yang dirasakan Gea, Regan berdiri berjalan menghampiri Gea duduk di lengan sofa samping Gea mengelus rambutnya sayang.
"Udah sadar perasaan itu masih ada?" tanya Regan lembut, "jago menasehati kenapa lo sendiri gini?."
Gerakan tangan Beld aterhenti, kepalanya menunduk, perlahan kedua pundaknya bergetar sebelum terdengan tangisan pecah Gea yang memmenuhi ruangan Direktur Rumah Sakit milik Regan.
^-^
Tok ... tok ... tok ...
Belda yang akan tidur kembali membuka matanya, dia melirik jam masih jam setengah dua siang, karena dia sudah tidak tahu akan melakukan apa lagi, jadi Belda memilih untuk tidur.
Di pingit bukan hanya dia tidak bisa bertemu dengan Regan tetapi seakan mematikan pergerakannya melakukan sesuatu di luaran.
Dengan malas Belda turun dari kasurnya berjalan membuka pintu kamar. Ternuata Soni berdiri dengan salah tingkah membuat Belda mengernyitkan kening menatapnya aneh.
"Em ... mau makan siang dengan gue duluan?" tanya lirih, "nunggu Pap takutnya lama" lanjutnya.
Ah ... Belda lupa jika dia belum makan siang, "em ... memangnya Papa kemana?" tanya Belda melangkah keluar kamar.
Sonia melirik kearah Belda sebelum melangkahkan kakinya, "di bawah ada Mama mau ketemu gue tapi Papa yang turun" jawabnya dengan nada malas.
Belda menghela nafas, kembali mesuk kedalam kamarnya, meraih outer dan undangan di atas nakas dan dengan cepat melangkahkan kakinya keluar dsri apartemennya.
Meski sebenarnya Belda masih marah dan mash tersisa perasaan benci di lubuk hatinya, bagaimanapun Intan adalah istri Papanya sekarang, dan di saat perkawinan Belda dan Regan berlangsung, Beld tidak ingin Papanya duduk seorang diri tampa pendamping sedangkan statusnya dan Intan Mama tirinya masih berstatus suami istri.
"Pergilah, dia tidak mau menemuimu" ucap Damar tegas.
Jarak yanb semakin dekat membuat Belda mendengar sangat jelas perktaan Damar, bahkan pria itu juga menjulurkan segepok uang pada Intan.
Belda menghela nafas semakin mempercepat langkahnya menghampiri mereka, mermlas uang yang di julurkan Damar dn menggamtinya dnegan undangan pernikahan yang dia bawa tadi.
"Saya akan menikah, dan jika anda tidak sibuk tolong temani Papa nanti saat ..."
"El!" tegur Damar.
"Kenapa Pa?" tanya Belda menoleb pada Damar, "memangnya salah minta dia menemani Papa nanti?, status kalian juga masih suami istri."
"Tapi Papa tidak setuju di ..."
"Pa ..." potong Belda lembut, "hanya menemani."
Damar menghela nafas pasrah dan membuang muka masih merasa keberatan dengan permintaan Belda pada Indah.
"Saya berharap kedatangan anda" ucap Belda sopan.
Dari kejahuan Belda melihat mobil yang cukup dia kenali, mobilRegan masuk kedalam pekarangan apartemennya. Belda langsung gelagapan, menyelipkan undangan dalam tas Intan dan berlari masuk kedalam lift dengan terburu-buru.
^-^
Qe ...
Dari kejauhan Regan melihat Belda di depan lobby apartemennya, sedeyik kemudian perepuan itu melihat kearahnya dan berlari cepat membuat Regan semakin menginjak gas dalam.
Mobil baru berhenti Regan langsung berlari mengejar Belda yang masuk kedalam lift, Damar lngsung menghadangnya membuat langkah Regan terhenti.
"Hayo mau kemana?" tanya Damar garang.
Regan meringis mendengarnya, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal menoleh kelain arah karwna salah tingkah tidak sengaja melihat undangan pernikahannya dengan Belda ditangan Intan.
Senyum simpul Regan terukir, Belda mulai membuka pintu maaf perlahan pada orang-orang di sekitarnya. Sepertinya pernikahan mereka akan menjadi berkah nantinya.
"Kamu ini" tegur Damar memelototi Regan, "kalian sedang di pingit kenapa malah kesini?."
Regan menyengir kuda, "kangen Pa ..." ucapnya santai seakan tak merasa bersalah. "Dua tahun pisah, ketemu gak nyampek seminggu langsung di pisahin lagi. Kangennya belum reda ini Pa ..."
Plak ...
Tangan Damar sekaan tidak bisa menahan diri untuk tidak menjitak kening Regan, "kami ini genius tapi keakuan kenapa kayak nak kecil gini?. Kalau nikah kalian dua puluh empat jam bersama, pulang sana!."
Regan cemberut, meraih tangan Damar dan bersalaman sebelum mengucapkan salam.
Regan masuk ekdalam mobil, perlahan mobil berjalan keluar dari pekarangan apartemen Belda, tiba-tiba saja Regan banting setir kepinggir jalan raya dan menginjak rem mendadak.
Terbesit ide yang membuatnya mengeluarkan ponsel mengirim pesan pada Belda sambil tersenyum simpul. Jari tangannya mengetuk-ngetuk stir mobil menatap kearah spion dan yang di tunggu-tunggunya lewat disamping mobilnya, mobil Belda ...
Pingit?
Tradisi itu benar-benar menyiksa Regan hingga dia harus putar otak, meski harus tidak berdua tidak masalah asal Regan bisa bertemu dengan Belda.
^-^
.
*Ah ... mepet updatenya ... semaleman amta mellek untuk menyelesaikan Bab ini yang penuh perjuangan 😶
Mohon maaf jika kali ini terlalu banyak typo ya* Readers ... *harap maklum karena banyaknya kesibukan di dunia maya yang susah untuk Author tinggalkan 🥺
Mohon hargai usaha Author ya ... 🙏
Jangan lupa 👍Like and 💬Commentnya
Love you 😘*
Unik Muaaa