Only you

Only you
Menikah Denganku



"Selamat malam semua".


Suara Regan menarik perhatian Belda yang sejak tadi asyik mengobrol dengan Satya dan Kiano di dekat stand makanan.


Belda yang melihat Regan berdiri diatas panggung menatapnya tak percaya, sangat terlihat senyum lebar Regan menunjukkan sesuatu yang misterius membuat Belda memutar otak menebak-nebak apa yang akan dilakukan Regan.


"Bro, maaf gue gak mau kalah" ucap Regan mengangkat tangannya.


Belda menoleh kearah tatapan Regan yang ternyata sedang menatap Aslan yang tidak jauh dari tempat Belda berdiri sekarang.


Regan menatap keseluruh isi ruangan ballroom berakhir dengan menatap tajam pada Belda dengan mengangkat kedua alisnya.


"Malam ini dia mengatakan saya posesif" ucap Regan tergelak kecil, kembali menatap lurus kedepan.


Beberapa orang yang berada diruangan itu ikut tertawa mendengarnya.


"Dan dia sepertinya sengaja membuat saya cemburu malam ini, karena sebelum kesini saya membuatnya kesal."


Merasa Regan mulai membicarakan dirinya Belda melangkah mundur dan membungkukkan tubunya dibelakang Satya dan Kiano.


Dilihat dari kebiasaan Regan jika sedang kesal, pria itu akan membuat sesuatu yang diluar nalar, dan Belda akan bersiap akan menghilang dari dalam ruangan acara ini detik itu juga.


"Jadi agar saya tidak merasa cemburu lagi, saya harus mengumumkan jika dia milik saya pada kalian ssmua" Regan mengulum bibirnya, "dan selamat kamu berhasil membalaskan dendam kekesalanmu padaku."


Seisi ballroom tertawa mendengar ucapan Regan yang seakan curhat didepan mereka semua tampa malu.


" Hei Quela Belda ..."


Kali ini Regan mengucaokan namanya secara langsung, tidak lahi menyindir-nyindir seperti sebelumnya.


Karena namanya disebut, Belda yang berada dibelakang Satya dan Kiano semakin merendahkan tubuhnya agar tertutup tubuh jangkung mereka berdua. Yidak ada cara untuk menjalankan rencananya menghilang dari ruangan ini detik ini juga, karena keberadaanya akan menjadi pusat semua orang gara-gara Regan menyebut namanya.


"Mau menikah denganku?"


Satu ...


Dua ...


Dan entah berapa detik degup jantung Belda berhenti sejenak sebelum berdetak kencang, wajahnya seakan pias bingung mau berekpresi seperti apa.


Tiga kata yang diucapkan dengan penuh kesungguhan membuat hatinua terketuk penuh bahagia, malu di lihat banyak orang terutama mereka berada diacara pesta pertunangan orang, dan ... kesal karena Regan bisa membuatnya berdebar dengan kencang melebihi biasanya.


"Hei ... bisa menyingkir?, kalian menghalangi pandanganku" tegas dan terdengar tajam.


Satya dan Kiano melangkah kesamping tidak lagi menutupi Belda.


"My Qe ..." panggil Regan lembut, "kamu akan menjawabku dengan naik kesini atau ... aku saja yang kesana karena kamu malu dilihat banyak orang?."


Kembali terdengar gelak tawa dan bisikan geli dari beberapa tamu yang hadir.


Mata Belda melirik kanan dan kiri baru tersadar jika Satya dan Kiano tidak lagi menutupinya, dia langsung berdiri dengan tegak.


Membuang muka tidak berani menatap Regan, karena Belda yakin jika tatapan mata mereka bertemu sedetik saja bukan hanya pipinya yanv memerah kali, tetapi dadanya akan semakin berdebar dan meledak.


"Aku tidak menerima penolakan Qe" begitu lembut terdengar sangat dekat, "sudah beberapa kali aku melamarmu dan sekarang tidak ada kata penolakan atau menghindar, lagi pula kamu juga mencintaiku."


Mata Belda terbelalak menoleh kesamping yang ternyata Regan sudah berdiri didepannya.


Tatapan mata Regan begitu tajam dan dalam. "Ayolah ... ini acara As jangan lama-lama berfikir, bisa-bisa kita yang jadi pusat perhatian."


"Udah terlanjur jadi pusat perhatian" desia Belda jengkel.


Regan menaikkan sebelah alisnya menoleh kekanan dan kekiri kesegala arah lalu tersenyum simpul, "kalau begitu kamu benar-benar tidak bisa mengelak, jangan kebiasaan merusak suasana, sini tanganmu."


Bukannya menjulurkan tangannya Belda malam berkacak pinggang menatao Regan nyalang, "dan jangan kebiasaan bersikap egois dan memaksa Re."


Regan malah terkekeh kecil, "dari pada kehilanganmu?."


Tangan Regan menarik tangan kanan Belda yang Belda tepis dengan kasar. "Tunangan dulu gak langsung nikah Re, ingat kan apa ..."


"Pantes enggaknya kamu berdiri disamping aku, itu aku yang berhak nentuin bukan orang lain Qe" Regan melangkah semakin mengikis jarak diantara mereka. "Apa aku pelu tekankan lagi jika hubungan ini hanya antara aki dan kamu, gak ada hubungannya dengan orang tuan, perusahaan atau orang lain."


Belda terdiam, matanya berkaca-kaca membalas tatapan dalam Regan.


Ibu jari tangan kanan Regan mengelus pipi kiri Belda dengan lembut penuh sayang, "Will you merry me?" tanya Regan.


Dada Belda berdebar semakin menggila, dia menggelengkan kepala pelan.


Wajah Regan langsung mengetat, menatap Belda tajam memancarkan kekecewa.


Ruangan yang penuh kehangatan langsung berubah senyam dingin, Ara hendak melangkahkan kakinya mendekati mereka berdua.


Belda melangkah maju dan memeluk Regan erat memendamkan wajahnya didada Regan, "gak nikah Re ... tunangan dulu, aku baru mau dua puluh tahun."


Tidak ada satu katapun yang terdengar, Regan bahkan tidak membalas pelukannya membuat Belda ketakutan meregangkan pelukannya mendongakkan kepala menatap Regan.


"Re ..." panggilnya dengan nada ketakutan.


Belda takut jika Regan marah, tapi dia benar-benar tidak mau menikah disaat situasinya seperti sekarang. Hubungan keluarganya yang berantakan, Damar yang sakit dan Belda yang masih belum bisa membuktikan diri pantas untuk Regan.


Belda tersenyum kembali membenamkan wajahnya didada Regan.


Plak ...


"Essttt ..."


Regan meringis karena menerima pukulan dipundaknya, dia menoleh kesamping.


Aslan menatao Regan tajam dengannkedua tangan masuk kedalam saku celananya. "Ini namanya lo udah ngerusak acara gue, kalau mau ngelamar cewek buat acara lain jangan ganggu."


Belda tertawa lepas, begitupun dengan beberaoa ornag yang mendengar perkataan Aslan barusan.


Terlihat Ara menghela nafas dan tersenyum penuh bahagia pada Regan dan Belda yang masih berpelukan menghadapi Aslan yang mengomeli mereka, Javir dan Alaric yang nimbrung mengolok-olok Regan.


^-^


Regan mengelus puncak kepala Belda, perempuan itu menatapnya dengan senyum lebarnya sejak mereka memasuki mobil Regan hingga sampai kedepan lobby apartemen Belda.


Senyum lebar Belda seakan menular pada Regan yang ikut tersenyum bahkan gemas melihat pipi Belda yang sejak tadi bersemu merah.


"Kenapa sih senyum-senyum?" tanya Regan lembut, "masih mikirin yang tadi?."


Belda meraih tangan Regan yang mengelusnya, menyatukan jemari mereka dan menggenggamnya erat. "Dibilang romantis enggak juga karena kamu numpang ngelamar aku diacara pesta pertunangan orang, tapi kata-kata kamu dan keberanian kamu gak bisa dipungkiri membuatku berdebar."


Regan tertawa mendengarnya, "ah ... tetap aja aku tidak bahagia mendengar kamu menolak untuk menikah denganku" gerutu Regan.


Belda tertawa cekikikan, "bukan menolak Re ... tapi menunda."


Regan berdecak malas.


Sejenak mereka terdiam saling menatap menyelami perasaan satu sama lain. Mata Belda yang berbinar mengulum bibirnya menahan diri agar tidak tersenyum semakin membuat Regan gemas.


Tidak tahan Regan menarik Belda dalam pelukannya menghujami puncak kepala Belda dengan ciumannya.


"Tidur yang nyenyak" ucap Regan mengurai pelukannya menatap Belda dalam, "jangan lupa ... secepatnya kamu pasti akan menjadi istriku."


Belda tertawa lepas, melepas pelukan Regan.


Sangat amat cepat Belda mengecup pipi Regan, bahkan tidak sampai lima deti Belda sudah keluar dsri dalam mobil Regan sebelum Regan tersadar.


"Selamat malam sayang" seru Belda.


Regan yang masih menatap Belda tersadar, dengan cepat membuka pintu mobilnya berlari keluar berniat mengjampiri Belda untuk meminta perempuan itu mengulangi ciuman dipipinnya dan panggilan sayang padanya.


Belda yang sudah tahu Regan akan mengejarnya berlari cepat masuk tampa menoleh kebelakang hingga pintu lift tertutup.


Ditempatnya berdiri Regan tertawa kecil mengacak-acak rambutnya sendiri melampiaskan gemas, geram dan kesalnya pada Belda.


^-^


"Saya sudah meminta anak anda jntuk menikah dengan saya."


Secara to the point Regan mengatakannya pada Damar yang sedang berkemas sambil dibantu Tofa dan satu orang bodyguard yang tidak Rwgan kenali.


"Hubungan saya dan putri anda tidka ada hubungannya dengan anda, orang tua saya maupun perusahaan."


Regan melangkahkan kakinya semakin mendekati Damar yang terdiam berdiri didekat kasir pasien.


"Tinggal menghitung hari saya akan melepas perusahaan Ganendra dan menukarnya dengan rumah sakit ini." Regan menjulurkan obat yang tadi dia minta dari Dokter Bambang untuk Damar, "semoga anda cepat sembuh dan cepat kembali lagi mengambil alih perusahaan anda dari Belda."


"Ya semoga" ucap Damar mengambil obat uang dijulurkan Regan.


"Saya hanya memberi tahu anda, tetap meminta restu anda sebagai orang tua perempuan yang saya cintai, permisi."


Damar terpaku tidak mengatakan apapun, dia tidka nisa membantah atau sanggup mengeluarkan suara. Tampa bisa dipungkiri dia bahagia mendengar kabar baik itu dari Regan, meski dia tidak tahu apa jawaban Belda.


^-^


.


Tunggulah undangan mereka menyebar 🤣


Readers ... jangan lupa tinggalkan jejak demi mendukung karya Author terimut sedunia ini ya 😉


Terima kasih ... 🙏


Tiap hari sudah setiap menunggu updatean


Only You 🥰


Tapi jangan lupa 🌟 🔖 🎁


💖 👍 and 💬


Love You  😘


Unik Muaaa