Only you

Only you
chapter 95



Yuni sangat menikmati raut wajah Kanaya yang amat menyedihkan, tangisan Kanaya bagai lagu kemenangan baginya.


"Ini yang gue tunggu sejak lama." Senyum dan tatapan mengejek terukir jelas di wajah Yuni.


Kanaya menggeleng lemah, memohon agar di lepaskan, karena Yuni terus menakut nakuti dirinya. Ia tidak peduli dengan ejekan atau kebencian Yuni padanya, saat ini ia hanya ingin bebas dan membiarkan Ray melawan para pecundang itu.


Sementara Raka dan Ray masih bertahan pada posisinya, karena hanya Bastian dan satu algojo berwajah garang yang memukuli mereka berdua.


"Ma-marissa"


adalah kata pertama yang keluar dari bibir Martin, wanita itu yang pertama di lihat olehnya karena berdiri tepat di sampingnya. Martin mengerjapkan matanya perlahan, pandangannya makin mengabur di tambah benturan keras di kepalanya saat terjatuh di tangga.


Marissa menoleh kesamping, lalu ujung bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman, senyuman mengejek atas kekalahan Martin.


"Aku fikir kamu sudah bertemu sama istri bodohmu itu di neraka. Ternyata masih sanggup juga kamu bertahan." Ucapnya sinis.


"Tidak semudah itu"


"Oh ya, nyatanya istrimu mati karena aku yang mendoktrin isi kepalanya dengan fikiran negatif, dan... akhirnya Anisa bodoh itu memilih bunuh diri dengan menggores pergelangan tangannya. Ck! Cerdas bukan?"


Dan saat itulah Ray menjadi saksi kematian sang ibu di depan matanya, hingga membuatnya trauma pada pisau dan darah.


"Kau__" Martin meronta, mencoba melepaskan ikatannya. Sekuat tenaga yang ia punya.


"Cobalah kalo bisa" Marissa menunjuk ke arah Ray dan Raka yang sedang pasrah menerima pukulan bertubi-tubi. Martin mengeram kesal, ia bersumpah akan menghabisi Marissa dengan tangannya sendiri.


Sementara Titha meringis kesakitan di bagian tangannya karena ikatan yang terlalu kuat, ia berusaha membuka ikatan itu, namun tidak merubah apapun dari ikatan itu. Ia hanya bisa menahan tangisnya, di saat ia membuka matanya justru menyaksikan Raka yang menerima pukulan bertubi-tubi tanpa perlawanan di tubuhnya. Rasanya Titha ingin memeluk tubuh itu dan membantunya bertarung bersama Raka.


"Ray, Raka" panggil Martin setelah mengenali sosok yang sedang di pukuli para bodyguard.


Ray dan Raka menoleh bersamaan, seakan mendapat dukungan dan kekuatan, Ray dan Raka mulai membalas serangan bahkanΒ  menghajarnya berkali kali lipat.


Doorrr


Suara tembakan di sertai bunyi hantaman keras dari lantas atas,Β  karena baru saja seseorang jatuh ke lantai dasar. Tentu saja hal itu mengalihkan perhatian semua orang yang ada disana, Ray dan Raka semakin membabi buta menghajar mereka semua.


Kemarahan yang teramat sangat begitu terpancar dari raut kedua Kaka beradik itu, hasil pukulan dari lawanya sejak tadi tidak berarti apa-apa buat mereka. Saat ini yang terpenting menghancurkan musuh mereka hingga tak bersisa.


***


Kanaya memejamkan matanya erat begitu mendengar suara tembakan, ia pasrah jika hari ini adalah hari terakhirnya melihat dunia. Tapi, sayangnya tuhan memiliki rencana lain. Saat Kanaya membuka mata, ia masih berada di tempat yang sama, dan masih bernafas.


Kanaya semakin mengeratkan pelukannya pada leher cowo yang saat ini membopong tubuhnya, cowo itu berjalan perlahan melewati tangga belakang gedung ini.


"Ray...aku cinta sama kamu. Jangan tinggalin aku." Lirihnya dari balik leher cowo itu.


Evan menghentikan langkahnya seketika, saat bibir ranum Kanaya menyebutkan nama cowo lain saat bersamanya. Ya, cowo yang baru saja menyelamatkan Kanaya adalah Evan, dan Evan pula yang sudah menembak Yuni hingga jatuh kelantai dasar.


Kanaya mengusap rahang kokoh itu, namun pergerakannya terhenti ketika merasakan sesuatu yang berbeda. Seingatnya Ray tidak memiliki rambut di sepanjang rahangnya, lalu dia siapa? Kanaya mendongak, untuk menjangkau wajah cowo yang membopong tubuhnya saat ini.


"E-evan?"


Adalah kata pertama yang keluar dari bibir Kanaya ketika melihat siapa yang membopong tubuhnya saat ini, Kanaya mengedarkan pandangannya dan shock begitu menyadari ia sudah berada di luar gedung. Lalu bagaimana dengan Ray? Apa Evan juga turut andil atas kejadian ini?


Evan menatap dingin wajah Kanaya, cemburu? Ya, kata itu yang pas untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Gadis yang sangat ia cintai hingga menjadi obsesinya, justru mencintai cowo lain, bahkan dari kata katanya Evan bisa merasakan jika Kanaya begitu mencintai cowo itu.


Evan kembali melangkah, dan saat itu juga Kanaya meronta. Kanaya berontak meminta untuk di lepaskan, ia bahkan teriak sekencangnya agar Ray mendengar dan menyelamatkannya.


"Rayyy..."


"Evan lepasin aku..." Pintanya diiringi isak tangis, memohon belas kasih Evan.


"aku mau menyelamatkan Ray, aku mohon Evan." Mohonya lagi seraya meremas kerah baju Evan.


"Kenapa?!" Bentak Evan "kenapa kamu gak bisa sedikit aja ngasih cinta buat aku? Kenapa bukan aku yang kamu cinta? Kenapa malah dia yang baru kamu kenal?!" Evan mengusap kasar ujung matanya yang basah.


"Aku gak bisa cinta sama kamu Evan, kamu cuma aku anggap sahabat aku, gak lebih. Cinta gak bisa di paksakan, aku tau kamu baik Evan, aku yakin banyak gadis lain yang lebih baik dari aku, yang bisa mencintai kamu dengan tulus."


Evan menghela nafas frustasi, hatinya sakit, sangat sakit. Cinta yang selama ini ia jaga justru menyakitinya.


"Aku mohon lepasin aku" Kanaya mengatupkan kedua tangannya, dengan di iringi derai air mata.


Arrgghhh...


Evan meremas rambutnya kuat, ia benci air mata itu, ia tidak bisa menahan Kanaya dengan air mata gadis itu. Ia lebih baik sakit hati daripada harus melihat Kanaya menangis.


"Baiklah" lirihnya bahkan nyaris tidak terdengar oleh Kanaya.


Kanaya mengangkat wajahnya, memastikan telinganya tidak salah mendengar. "Kamu mau lepasin aku, dan bantu Ray?"


Evan mengangguk, saking senangnya Kanaya tanpa sadar memeluk tubuh Evan. "Makasih Evan."


Evan melonggarkan pelukannya untuk menjangkau wajah Kanaya, menangkup kedua pipi gadis itu dan tanpa permisi Evan mengecup bibir Kanaya lembut. Merasakan tidak mendapat penolakan dari Kanaya, Evan ********** sedikit lama, menikmati waktu yang ia miliki sebelum melepas gadis itu.


Kanaya membiarkan Evan melakukan itu, bukan karena ia menikmatinya. Justru hatinya menolak dan merasa bersalah pada Ray. Tapi, hanya itu yang bisa ia lakukan agar Evan mau melepaskan dirinya dan membantu Ray.


Evan melepaskan pangutannya, lalu mengecup kening Kanaya pelan dan segera berlari ke dalam gedung itu untuk membantu cowo yang di cintai gadisnya. Menyedihkan sekali bukan?


***


Suara tembakan nyaring terdengar dari arah depan, Evan menembak para bodyguard yang menyerang Ray dan Raka, membunuhnya tanpa ampun.


Bahkan ia seperti menjadi sosok lain ketika menghabisi para kecoa berwajah garang itu, sisi psikopatnya mendominasi. Ia mencintai bau darah.


Ray terkejut mendapatkan bantuan mendadak dari orang asing, dan ternyata orang itu adalah cowo yang mengganggu Kanaya tempo hari di villa.


"Elo__"


"Hem, gue terpaksa." Ujar Evan dengan senyum devilnya.


Tidak lama kemudian polisi datang mengepung gedung itu dari segala sisi.


"Jangan bergerak!!"


"Turunkan semua senjata kalian, dan angkat tangan!!"


Suara pimpinan polisi itu menggema di gedung kosong ini, semuanya melepaskan senjata dan mengangkat tangan, terkecuali Evan. Si bule gila.


"Ray, sorry bro gue telat!" Dan sahabat sialannya itu datang tanpa dosa setelah semuanya kacau.


"Anji***ng!!"


🍁🍁🍁


Hemm, sahabat kaya gini nih, yang bikin temennya nyaris mati πŸ˜‚


Like like, vote vote, komen komen...πŸ˜‚


Bantu promoin ke teman kalian yang suka baca gendre romance action.


Terimakasih πŸ˜πŸ˜‚


ini dia visual Evan, psikopat tampan πŸ˜‚