
...Ralat ......
...Antara si As dan si Al...
...Kalian pilih siapa ?...
...Lagi siap yang dua itu dulu ๐...
...^-^ ^-^ ^-^...
.
Hujan cukup deras, Regan membuka ikatan kerai bambu di samping kanan dan kiri gazebo untuk meminimalisir cipratan air yang masuk, saat akan membuka tali dibagian belakang Regan berbalik badan dan secara tidak snegaja tautan mata mereka bertautan.
Perlahan Belda bergeser kesamping memberi Regan ruang untuk membuka tali kerai bambu dibelakangnya.
Setelah selesai suasana serasa canggung seperti waktu itu di cafe An Angel. Regan dan Beld duduk berjauhan, perlahan Regan melirik Beld ayang menunduk menatap kue didepannya, kue ulang tahun Regan.
"Cita-citaku dari kecil ingin menjadi ibu rumah tangga seperti Mama," terdengar begitu lirih karena tertelan suara gemuruh hujan.
Hingga Regan benar-benar menolehkan kepalanya menghadap Belda sepenuhnya.
"Tapi saat beranjak dewasa aku yang menyukai musik dan tidak sengaja menjadi seorang DJ" Belda menoleh pada Regan.
Senyum Belda sangat lebar, tatapan mata mereka yang bertautan membuat mereka berdua enggan untuk saling memutuskan.
"Lulus SMA aku ditawari beasiswa dibeberapa kampus, aku memilih kuliah jurusan keperawatan karena teringat Mama saat sakit tidak ada yang mengurus." Mata Belda mulai berkaca-kaca, "saat beberapa hari bersama Bunda Ara aku teringat cita-cita kasa kecil yang pernah aku utarakan pada Mama, aku ingin seperti Mama yang selalu berada disampingku, menemani dan mengurusku."
Tetap dengan tatapan mata yang saling bertautan, tersenyum lebar yang masih terukir dibibir Belda, air mata Belda mengalir tidak bisa dibendung lagi.
"Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahku karena menjadi perawat bukan cita-citaku sejak awal" ucap Belda serak. "Aku ingin mengejar cita-citaku sebagai DJ Profesional sebelum aku menjadi ibu rumah tangga, Lagi pula kalau kita menikah lalu ada anggota keluarga kita nanti sakit ada kamu yang bisa menjadi dokter pribadi keluarga kita."
Satu kalimat panjang diakhir tampa terputus yang Bda katakan membuat Regan berdebar, kata kita menikah dan anggota keluarga kita tidak bisa dipungkiri Regan sangat senang mendengarnya.
Belda membuang kuka kembali menatap kue didepannya, "aku ingin mengatakan itu tapi kamu tidak mau memberiku waktu untuk bicara."
Tidak bisa membela diri Regan hanya diam, dia merasah bersalah jadi Regan memilih diam mendengarkan apa yang akan Belda katakan selanjutnya.
"Lalu sekarang apa status hubungan kita?" tanya Belda ketus, tampa menoleh pada Regan. "Apa kamu sudah selesai?, sudah puas dengan kepemilikanmu atas aku?, lalu setelahnya apa?" sorotan matanya menyotot Regan tiba-tiba. "Aku butuh kejelasan sekarnag juga, karena sebentar lagi aku akan sibuk dan tidak punya waktu memikirkan sesuatu yang tidak jelas."
Kata-kata yang tegas, jelas dan dengan telak mampu menghantam dada Regan yang sebelumnya sempat lega.
Hujan masih saja turun dengan derasnya menciptakan kebisingan dalam diam yang mereka ciptakan sendiri.
"Aku pergi" ucap Belda lirih, "terima kasih atas semuanya." Belda berdiri menoleh pada Regan yang sejak tadi menatapnya, "terutama sudah membantu kesembuhan Papa dan membuatku merasakan bagaimana memiliki keluarga yang lengkap."
Pada detik selanjutnya, disaat Regan masih termenung terhipnotis dengan tatapan mata Belda, perempuan itu sudah berlari menerobos derasnya hujan.
Regan yang melihatnya berlari sambil memanggil nama Belda tetapi tidak dihiraukan.
Tiga langkah sebelum memasuki teras belakang rumah, Regan berhasil menggapai pergelangan tangan Belda menghentikannya berlari, dengan kasar Regan menariknya berteduh dibawah teras meski baju hang mereka kenakan sudah terlanjut basah.
"APA KAMU GILA NEROBOS HUJAN!" bentak Regan menggelegar.
Mata Regan yang memerah menatap Belda penuh amarah, sedangkan Belda tersenyum lebar menatap Regan sendu menunjukkan apa yang dia rasakan.
"Karena aku malas dengan kecanggungan yang tercipta, seperti kamu yang malas membahas seberapa pantas kita." Perlahan nada emosi Belda mulai meninggi, "aku tidak bisa menunggumi yang butuh banyak berfikir, because it's a waste of time ... and I don't have much time to wait."
Regan menghembuskan nafas, meski Belda marah dia bisa mengerti itu. Tapi tatapan mata Belda yang menyorot bukan menatapnya dalam penuh perasaan seperti biasa mampu membuat Regan menahan nafas beberapa detik.
Tangan Regan yang menyekal lengan Belda mengendur dan perlahan terlepas. "Hubungan ini berawal karena keegoisanku yang memaksama untuk menjalin hubungan, tapi aku memaksamu karena aku sadar kamu memiliki perasaan yang sama denganku."
Sangat lebut Regan mengucaokannya, kembali terlihat mata Belda berkaca-kaca, perlahan air mata itu tidak bisa terbendung lagi.
Melihat Belda menangis tangan Regan menagkup wajah Belda, "hei don't cry" serasa tercekat ditenggorokan sehingga yang keluar suara cicitan.
"Re ..." panggil Belda lirih.
"Aku tidak mau kita berakhir, kamu bukan mainan setelah aku puas memilikimu aku menyingkirkanmu" lirih dna begitu lembut mengucapkannya. "Tapi kalau pada akhirnya hubungan ini menyusahkanmu dan membuatmu menderita it's ok ... aku tidak mau menjadi egois seperti yang kamu katakan. Hubungan ini milik berdua, kamu berhak juga memutuskan apa yang ...."
Terputus ...
Regan tidak melanjutkan kalimatnya, Belda secara tiba-tiba langsung menubruk tubuhnya memeluk Regan dnegan erat.
Belda menangis, Regan memejamkan mata menengadahkan kepalanya menghela nafas menenangkan diri. Menyelami debaran didadanya yang mungkin ini terakhir dia rasakan.
Setelah cukup tenang Regan menenggelamkan wajahnya di tengkuk Belda, "aku mencintaimu Qe."
Tangis Belda semakin pecah dibuatnya.
Selama bebrapa menit mereka berdiri dengan posisi saling berpelukan, hingga Belda yang pertama kali melepas pelukannya sehingga Regan melepaskannya juga.
Mata Belda yang sembab dan tersenyum lebar membuat Regan terenyuh melihatnya.
"Aku pergi, terima kasih."
Kata aku pergi dan terima kasih yang diucaokan Belda membuat Regan tak bisa berkutik.
Meski Belda sudah masuk kedalam rumah, berbicara dengan yang lainnya sebelum melangkah pergi kepintu keluar, Regan masih disana ditempat mereka berpelukan.
^-^
Malam di Blue Heavent Club sangat ramai.
Ada beberapa titik didalam club yang didekorasi, terlihat lebih mewah, berkelas dan elegar dari pada biasanya.
Dibalik layar leptopnya Regan memperhatikan suasana club yang begitu meriah, Regan meretes cctv Blue Heaven Club milik Satya, dia sendiri berada didalam kamarnya yang gelap diam menatap kelayar leptopnya.
Hari ini adalah malam minggu, yang artinya Belda akan perfome disana, tetapi Regan tidak mengerti saat awal melihat suasana club yang berbeda dari biasanya, mungkin ada yang membooking untung suatu acara, itu yang terlintas dibenaknya.
Dret ...
Ponsel Regan bergetar panggilan masuk dari Alaric, dengan malas-malasan dia mengangkat panggilan Alaric dan meletakkannya begitu saja setelah men load speakernya.
"Gue ada di Blue Heaven" terdengar suara teriakan Alaric diseberang, "sebenarnya ada acara apa?."
Regan tidak menanggapinya, semua indranya seakan tertuju hanya pada layar leptopnya yang memperlihatkan Belda mulai naik keatas panggung.
Dia tersenyum lebar terlihat begitu bahagia melambai-lambaikan tangan pada pengunjung club, Regan yang melihat Belda tersenyjm bahagia ikut tertular senyumnya meski dadanya terasa sesak melihat perempuan itu baik-baik saja dan bisa tersenyum bahagia tidak sepertinya.
"Gue nanya ke bartendur dulu, penasaran gue. Siasia gue nelfon lo gak tahu juga"
Alaric menelfon sendiri dan memutuskan telefonnya sendiri, Regan membiarkannya hanya melirik saja tidak menaggapi apapun sejak tadi.
"Terima kasih sudah mau datang dimalam hari ini ... malam terakhir sebelum gue pergi akan gue tunjukkan penampilan terbaik gue ..."
Satu kata yang Regan tangkap Pergi seperti yang tadi Belda katakan, dan itu mengganggunya seketika.
Dret ...
Ponsel Regan kembali bergetar, panghilan masuk dari Alaric lagi. Kali ini Regan tidak mengangkatnya dia malas memangkat panggilan Alaric lagi.
Dret ...
Ponselnya bergetar lagi dan lagi-lagi dari Alaric, Regan kesal mematikan ponselnya, dia benar-baner tidak mau diganggu.
"Kita bertemu lagi kalau gue udah ngetop, jadi kalian harus siap-siap ..."
Tok tok tok ...
Kesal banyak gangguan Regan melempar bantal kelantai turun dari atas kasurnya melangkah cepat kearah pintu dengan tatapanntajamnya siap meledak pada orang yang mebgetuk pintu.
Baru saja Regan memutar gang pintu, orang diluar pintu mendorong pintu kamar Regan dengan sekuat tenaga hingga Regan yang belum siap mundur beberapa langkah.
"Kenapa lo gak angkat panggilan Al sih?" omel Gea menjulurkan ponselnya pada Regan.
Mata Regan melirik pada layar ponsel Gea yang ternyata sudah di loadspeaker, "apa?" tanya Regan dengan nada malas.
"Ini malam terakhir Belda ngedj, dia akan pergi keluar negeri untuk ..."
"Udah tahu" potong Gea.
Secara cepat kepala Regan menoleh pada Gea dengan tatapan tajam menusuknya.
Gea menaikkan kedua larisnya tersenyum sarkas pada Regan. "Kenapa?, lo gak tahu?" tanya dengan nada meremehkan.
"Kapan dia pergi?, keluar negeri mana?."
Bukan menjawab Gea malh tertawa sumbang, memutuskan panggilan Alaric yang masih terhubung, membalas tatap Regan dengan dengan santainya.
"Mana gue tahu" jawabnya.
Tangan Regan langsung mengepal, "kapannlo tahu dia maunpergi?" desis Regan.
"Em ... kemaren, memangnya dia gak ngasih tahu lo?, gue minta dia dateng tadi buat kasih kalian waktu bicara, mungkin karena takut ganghu waktu yang berharga lo kali mangkanha dia gak bilang." Gea berdecak kecil, "padahal dia sudah pamit sama Bunda, Ayah dan si kembar."
Gea berjalan keluar kamar Regan, membiarkan Regan masih terdiam di dekat pintu kamarnya.
Pamit ...
Kamu tadi pamit disaat aku ulang tahun?, surprisemu benar-benar berhasil ...
^-^
.
Marilah hargai usaha Author dengan memberikan dukukan kalian ๐
Jangan lupa setiap selesai menbacanya ๐Rate ๐Vote ๐Hadian ๐Like and ๐ฌ Comment
Lop you ๐
Unik Muaaa