
Ray merengkuh pinggang istrinya yang kini terlihat semakin berisi, membuat Ray semakin tergoda dengan Kanaya jika wanita itu sudah mengenakan baju kesukaannya, yaitu baju tidur dengan belahan dada rendah yang selalu membuatnya tenggelam dalam pesona Kanaya.
"Ayo sayang kita tidur, aku ngantuk."
Ajak Ray kemudian setelah Edo dan Ayrin meninggalkan kediamannya, dan berjalan menuntun Kanaya menaiki anak tangga.
"Kamu kalo mau tidur, tidur aja. Jangan nidurin aku!" Ujar Kanaya tegas dengan sorot mata tajam menatap pria yang sudah sah menjadi suaminya beberapa bulan lalu.
"Siapa yang mau nidurin kamu?!" Ray mencengkeram pinggang istrinya gemas, karena Kanaya selalu bisa menebak apa yang ada di dalam kepalanya. Salah satunya adalah fikiran mesumnya.
"Bener ya? Awas aja kalo bangunin aku tengah malem" ancamnya tegas.
"Aku tidur beneran kok sayang"
"Iya mata kamu merem, tapi tangan kamu kemana kemana" Kanaya melepaskan tangan yang sedari tadi melingkar di pinggangnya posesif.
Detik kemudian Ray membopong tubuh berisi Kanaya dalam dekapannya, hingga membuat Kanaya memekik kaget. "Ya ampun Ray, turunin gak!!"
Ray menggeleng pelan dengan senyum menyeringai yang membuat Kanaya memutar bola matanya jengah, Kanaya sangat tau ekspresi yang di tampilkan oleh sang suami. Kanaya hanya bisa mendesah pasrah, selain menuruti keinginan suaminya itu.
"Satu kali aja!" Ucap Kanaya ketika Ray sudah meletakan tubuhnya di atas ranjang dengan hati hati, seakan dirinya adalah bayi yang sedang tertidur pulas dan jangan sampai terbangun.
"Gak janji" Ray mulai melepaskan tali spaghetti yang menghalangi bahu mulus Kanaya lalu mengecup pelan disana.
"Ray_" perkataan Kanaya kembali tertelan serta membulatkan matanya ketika sang suami sudah ******* bibirnya dengan gerakan pelan, dengan tangannya yang bergerak melepaskan gaun tidurnya perlahan.
Ciuman itu semakin lama semakin dalam ketika Ray menggigit bibir bawah Kanaya untuk memberi akses Ray menjelajah setiap inci mulut Kanaya. Gerakan itu kian menuntut, membuat Kanaya tidak mampu lagi menahan suara desahan dari bibir tipisnya.
Ray tersenyum puas ketika sang istri menikmati setiap sentuhannya, dan suara merdu itu yang selalu ingin Ray dengar ketika sedang berolahraga malam dengannya.
"Ray..." Kanaya tak mampu lagi untuk mengatakan tidak, karena sentuhan Ray benar benar memabukan, dan membuat dirinya lupa jika baru beberapa menit lalu ia menolak suaminya. Persetan dengan ucapannya tadi, saat ini Kanaya sangat menginginkan Ray .
"Iya sayang" Ray mengehentikan aksinya, lalu mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Kanaya.
"Kenapa?"
"Aku gak jadi." Ledek Ray, sembari mengulum senyum.
"Kalau begitu awas, aku mau tidur" bentak Kanaya tegas menutupi rasa malunya, karena penolakannya tadi dan kini justru ia yang meminta lebih dulu. Sial!
terkekeh geli melihat ekspresi Kanaya yang menginginkan dirinya, dan ini lah yang selalu Ray lakukan untuk menaklukkan istri cerewetnya. Membungkam bibir tipis Kanaya dari ocehannya menjadi desahan yang merdu di telinga Ray.
Tanpa pikir panjang Ray langsung membalikan tubuh Kanaya agar menghadapnya, karena Kanaya merajuk dan membelakanginya tadi.ย Ray kembali menindih tubuh Kanaya, membuat wanita cantik itu tidak bisa bergerak menghindari dirinya lagi.
"Aku gak akan biarin malam ini kamu tidurย pulas, sayang" ucapnya dengan suara parau di telinga Kanaya dengan sedikit gigitan lembut disana.
Kini bibir sang suami bergerak turun, menelusuri setiap inci lehernya. Bahkan ia bisa merasakan kalau Ray meninggalkan jejak kepemilikan disana.
Ray sedikit lama mengecup di bagian gundukan sintal itu, hinggaย tubuh sang istri menggeliat serta di iringi erangan tertahan.
"Tunggu."
Ray menghetikan aktifitasnya, mengangkat wajahnya dari area favoritnya.
Ray mengangkat sebelah alisnya, menatap Kanaya bingung "Kenapa?"
"Aku punya sesuatu buat kamu."
"Kamu mau ngasih aku kejutan?" Ray mencubit hidung Kanaya gemas, setelah wanita itu terduduk di tepi ranjang dengan rambut yang sedikit berantakan akibat ulahnya.
"Hem, aku punya kejutan buat kamu." Kanaya mengeluarkan kotak kecil namun sedikit panjang, meraih tangan Ray dan meletakan benda itu di atas telapak tangan Ray.
Ray mengerutkan keningnya dalam, kejutan apa kita kira yang Kanaya berikan padanya? Aksesoris, atau obat kuat? Ray terkekeh sendiri dengan pemikirannya yang tidak jauh jauh hal itu. Kenapa semenjak mengenal Kanaya fikirannya menjadi mesum.
Istrinya itu sangat mengerikan.
Perlahan Ray membuka kotak berwarna biru itu di tangannya, sedikit penasaran, karena Kanaya tergolong istri yang cuek, dan tidak pernah memberi kejutan apapun setelah menikah.
Ray menoleh ke arah Kanaya dengan wajah tanpa ekspresi, sejujurnya ia senang luar biasa mendapat kejutan sebuah test pack bergaris dua_yang berarti Kanaya sedang mengandung anaknya, tapi sebisa mungkin Ray terlihat biasa saja untuk mengerjai sang istri. Sementara Kanaya memasang wajah berseri dengan mata berbinar.
Kanaya merubah raut wajahnya seketika, ternyata sang suami tidak menyukai kejutan yang ia berikan. "Kamu gak suka?"
Ray langsung memeluk istrinya, mengecup seluruh wajah Kanaya tanpa terlewatkan dan berakhir di bibir tipis itu. Hanya kecupan singkat.
"Aku suka banget dong sayang, makasih atas kejutannya. Aku bener bener gak nyangka, kalo ada Ray junior di disini" ujar Ray antusias dengan mengusap perut Kanaya yang masih rata.
"Kok Ray junior? Kalo cewe gimana?"
Benar juga, kenapa ia begitu yakin jika di dalam perut Kanaya adalah bayi laki laki. "Aku maunya laki laki."
Kanaya menggeleng "aku maunya perempuan, titik."
"Gak bisa gitu dong sayang, kan kalo anak laki laki nantinya akan jadi penerus aku." Seru Ray tak mau kalah.
"Kalo anak perempuan itu lucu Ray, bisa di kuncir, bajunya lucu lucu. Terus bisa di ajak nyalon bareng, shopping sama gosip." Jelas Kanaya panjang lebar tak kalah sengit.
Ray bangkit dan langsung mengurung tubuh Kanaya di bawahnya, istrinya itu benar-benar cerewet sekali.
Ray menatap wajah sang istri yang malu malu di balik keremangan lampu kamarnya dengan senyum menyeringai.
Kanaya melempar pandangan-nya ke samping, semoga saja Ray tidak melihat wajahnya yang merona malu.
"Kita harus rajin bikin, siapa tau anak kita kembar nantinya."
Reflek Kanaya menoleh ke arah Ray, apa-apaan suaminya ini? Kenapa semakin hari otak Ray semakin parah mesumnya.
Ray langsung membenamkan wajahnya di ceruk leher Kanaya, memberi sensasi yang berbeda dari sebelumnya, sementara tangannya mengusap lembut lutut Kanaya dengan terus perlahan merambat naik, menelusup masuk dari balik kain tipis berenda itu.
"Pelan pelan Ray."
"Hemm." Gumam Ray di sela sela cumbuannya.
Malam itu menjadi malam yang panjang bagi Kanaya, karena ternyata sang suami tidak mengijinkan dirinya untuk tertidur pulas, tangan jahilnya selalu membuat Kanaya membuka matanya paksa hingga menjelang pagi laki laki tampan itu terus mengganggunya.
Bahkan Kanaya sampai menahan suaranya agar tidak lolos dari bibirnya, jujur saja sentuhan Ray benar benar membuatnya melayang.
๐๐๐
Maaf kalo salah penjelasan tentang kehamilan dan rumah sakit. Aku gak pernah ngalamin ๐ cuma hasil riset di Mbah Gugel.
Aku kasih spoiler dikit, part besok konflik biar gak bosen manis manis Mulu, nanti diabetes ๐๐