Only you

Only you
chapter 96



"Ray"


Kanaya berlari ke arah Ray, dan berhenti tepat di hadapannya. Ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya tidak percaya, saat ini wajah Ray benar benar mengenaskan, penuh lebam dan sisa darah yang menempel di bagian wajahnya.


"Ya ampun Ray, kamu berdarah semua kaya gini."


Air matanya luruh begitu saja membasahi pipi, dadanya terasa sesak melihat keadaan Ray seperti ini. Tangannya terulur menyentuh setiap luka di wajah Ray lalu di usapnya perlahan, Kanaya terisak saat Ray meringis di balik senyumnya, tidak bisa ia bayangkan bagaimana sakitnya, dan Ray rela melakukan itu demi dirinya.


"Ray,"


"Hem"


Ray menyatukan keningnya dengan kening Kanaya, mengusap air mata itu di pipi mulus gadisnya.


"Maafin aku"


Ray menggeleng pelan, "ini bukan salah kamu" Ray menjauhkan wajahnya memberi jarak.


"Maafin aku, aku udah hianatin kamu." Kanaya terisak seraya menunduk.


Ray mengerutkan keningnya mencerna perkataan Kanaya, detik kemudian ia melirik ke arah Evan, laki laki yang entah datang darimana sudah berada disini, dan bersedia membantunya jika bukan karena...shit!!


Ray meraih dagu Kanaya agar gadis itu menatap kearahnya, kemudian mengusap bibir ranum itu dengan ibu jarinya dan mengecupnya singkat, ya hanya singkat. Hanya untuk menghapus bekas itu.


Evan membalikan tubuhnya menghindari pemandangan yang menyesakan itu, ia berlalu meninggalkan kedua pasangan yang sedang bermesraan. Meskipun tidak sepenuhnya ia merelakan Kanaya, namun hatinya sudah bisa menerima kenyataan bahwa Kanaya bukan miliknya.


Sementara Edo membantu Martin untuk berjalan dan membawanya keluar dari dalam gedung itu, sementara para polisi mengurus korban yang meninggal serta menangkap beberapa yang masih hidup.


"Lepasin!!" Berontak Marissa "lepasin saya dasar polisi bodoh!!" Tawa Marissa menggema.


"Saya ini orang paling kaya di negara ini, kamu jangan macam macam sama saya ya! Saya akan tuntut kalian semua." Intonasinya meninggi lalu kemudian menangis. Obsesinya pada harta membuat jiwanya bermasalah.


Polisi terus menahan pergerakan Marissa yang terus meronta-ronta, dan membawanya paksa keluar gedung.


Sedari tadi Raka ragu untuk mendekati Titha, jujur saja ia masih sakit dan merasa kecewa. Namun, cintanya menuntun langkahnya untuk mendekati gadis itu dan membantunya membuka ikatan di tubuh Titha. Hening tanpa sepatah katapun yang keluar dari bibir keduanya, Tithapun tidak bisa berbuat banyak.


"Maafin gue" hanya itu yang mampu Titha ucapkan, sangat lirih. Bahkan Raka harus mendekatkan wajahnya untuk mendengar itu.


Raka tersenyum samar, ia menertawakan dirinya sendiri yang sudah terjebak dengan perasaannya pada gadis itu, dan sulit untuk sepenuhnya membenci. Menarik tubuh gadis itu masuk ke dalam dekapannya.


****


Martin di larikan ke rumah sakit karena benturan yang cukup keras di kepalanya, sementara Raka dan Ray menolak untuk di rawat di sana. Mereka berdua sangat tidak menyukai aroma dan suasana ruma sakit, lagi pula mereka berdua hanya mengalami luka biasa dan tidak ada yang fatal.


Martin tidak bisa memaksa kedua anaknya yang sama keras kepalanya seperti dirinya, dengan syarat ia memerintahkan beberapa dokter untuk memeriksa kedua anaknya di rumah tentunya dengan penanganan terbaik seperti di rumah sakit.


Dan disinilah sekarang Ray berada, di rumah besar sang ayah dengan segala kemewahannya. Di dalam kamar miliknya yang dulu, Ray terbaring di atas ranjang king size miliknya, beberapa petugas medis sedang mengobati luka di wajah Ray dan bagian tubuh lainnya.


Kanaya meringis melihat luka di punggung dan dada Ray yang membiru, tapi kenapa Ray tidak merespon kesakitan sama sekali?


Ya, cowo tampan itu seakan tidak merasakan sakit sedikitpun saat dokter membubuhi obat dan membebat bagian tubuh Ray yang mengalami patah tulang, semuanya seakan biasa saja baginya.


"Sini" Ray menepuk ranjang yang kosong di sebelahnya seraya menatap wajah Kanaya.


Kanaya berjalan mendekat begitu Ray selesai di obati, ia menunduk sekilas saat berpapasan dengan petugas medis yang berjalan ke luar ruangan dari ini.


"Sini deketan" Ray kembali menepuk sisi ranjang yang kosong tepat di sampingnya seraya menyandarkan tubuhnya di punggung ranjang.


Malu malu Kanaya mendekat, bahkan ia bisa merasakan kulit tubuh Ray yang tak memakai baju menempel di lengannya. "Parah banget Ray luka kamu" Kanaya menyentuh bebatan di dada Ray dengan pelan.


"Aduhh"


"Eh? Sakit ya. Aduh maaf maaf Ray... aku cuma mau pegang doang tadinya" Kanaya kebingungan, ia tidak tau harus berbuat apa.


Ray tersenyum seraya menarik tangan Kanaya untuk menyentuh dadanya sekali lagi. "Disini yang sakit, sakit banget sayang."


Ray berpura pura kesakitan dengan masih menggenggam tangan Kanaya erat, sementara Kanaya mengerutkan keningnya bingung. Kenapa saat dokter yang menyentuhnya dia tidak kesakitan? Giliran ia yang menyentuhnya Ray kesakitan sekali.


"Siapa yang bohong? Aku serius sayang. Sakit di bagian sini."  Ray menyentuh bagian dadanya dengan wajah serius.


"Kenapa cuma d bagian itu? Kan disitu gak di bebat dan gak lebam Ray." Tanya Kanaya bingung.


Ray menghela nafas pelan "hm, gini deh aku mau tanya sama kamu, kenapa cowo itu mau bantuin aku? Dan darimana dia tau kamu ada disini?"


Kanaya blingsatan mendapat tatapan mengintimidasi dari Ray, ia bingung harus menjelaskan darimana?


"cerita sama aku" Ray mengecup punggung tangan Kanaya dan menggenggam jemari itu dengan kedua tangannya.


"Ehm" Kanaya berdehem untuk meredakan gugupnya.


"Ja-jadi siang tadi E-evan bilang gak sengaja liat aku bareng Yuni, te-terus dia ngikutin aku sampe sini..."


Kanaya menghela nafas, untuk di bagian ini rasanya ia berat sekali untuk bercerita.


Ray menaikan kedua alisnya melihat kanaya berhenti bercerita. "Terus?"


"Te-terus dia nolongin aku dari lantai atas, dan dia mau bawa aku pergi dari kamu. Ja-jadi aku...aku terpaksa..." Kanaya bingung melanjutkan atau tidak, Ray pasti akan marah padanya.


"Untuk?"


"A-aku diam aja waktu E-evan ci-cium aku, asal dia mau lepasin aku dan bantuin kamu, A-a__"


Perkataan Kanaya tertelan kembali saat Ray tiba tiba mengunci bibirnya, dan mengigit pelan agar Kanaya membuka sedikit bibirnya, kemudian dengan lembut Ray membelit lidah gadis itu.


Kanaya melenguh tertahan saat Ray menyusupkan tangannya di balik kaos tipis milik Kanaya, mengusap lembut punggung gadis itu. Detik kemudian Kanaya mendorong tubuh Ray hingga pangutan itu terlepas.


"Ray"


"Iya sayang." Ray terkekeh geli melihat rona merah di pipi Kanaya yang malu malu.


"Kamu kan lagi sakit."


"Kalo gak sakit boleh?" Ray mengedipkan matanya menggoda.


"Ya ampun kamu tuh, kayanya kepala kamu perlu di rongent deh Ray." Kanaya bergeser sedikit untuk memberi jarak sebelum Ray kembali menyerangnya.


"Itu hukuman buat kamu. Dan jangan pernah lakuin hal itu lagi, apapun alasannya." Ray kembali menarik pinggang Kanaya agar mendekat ke arahnya.


"Sshh awww." Ray merasakan ngilu di bagian lengannya.


"Tuh kan! Kamu bandel banget ih di bilangin." Kanaya menyetuh lengan Ray khawatir.


"Karena kamu udah ngelakuin kesalahan, aku bakal kasih kamu hukuman." Ray tersenyum menyeringai.


"Hu-hukuman apa?" Kanaya mulai curiga.


"Minggu depan kita nikah."


Damn! Inilah hukumannya jika ia menyakiti Ray. Kanaya hanya mematung dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.


🍁🍁🍁


Wah curang kamu Ray 😂 ngambil kesempatan dalam kecerobohan Kanaya 😂


Oh ya, aku mau kasih tau soal adegan Evan dan Kanaya itu terinspirasi dari film Eclips, atau twilight saga. Diamana Isabella swan terpaksa menerima ciuman Jacob, supaya Jacob mau bantu Edward Cullen dan merelakan Bella bahagia bersama Edward. Begitulah yang ada di kepala aku 😂


Sayangnya mantan gak pernah nawarin itu sama aku sebelum di lepasin aku bhahahah😂


Okeh,see you next chapter 😉😉