
Ray mulai sibuk dengan pekerjaannya, semenjak ia bergabung di perusahaan ayahnya, Ray jadi sedikit memiliki waktu untuk berduaan dengan Kanaya. Apalagi jika kerjaan menumpuk, hingga mambuatnya terkadang lembur.
Belum lagi soal ngidam sang istri yang makin lama makin aneh saja, ia harus mencari kesana kesini untuk memenuhi keinginan sang istri. Seperti kemarin malam, Kanaya ingin makan martabak telur yang dilapisi coklat keju. Susah payah Ray merayu penjual martabak agar mau membuatkan untuknya satu saja, karena jika tidak dapat, ia tidak akan mendapat jatah dari sang istri. Huh! Kanaya benar benar mengerikan.
Dan lagi, setelah martabak itu sampai di depan sang istri, Ray lah yang di suruh memakannya. Dengan alasan, hanya melihat Ray makan saja itu sudah cukup terpenuhi keinginan si jabang bayi. Oh My God!
Lupakan!
Ray meletakan bolpoin di tangannya, merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Ia ingin pergi keruangan Raka, beberapa hari belakangan Kaka sulungnya itu jarang sekali terlihat, Raka lebih sering menghabiskan waktunya di luar. Ray jadi tidak bisa berbagi nasib jika Kanaya meminta yang aneh aneh.
Ray berjalan melewati beberapa ruangan, dan bisa Ray lihat jika para pegawai wanita menahan nafasnya saat ia melewati mereka. Bahkan ada yang melongo hingga meneteskan liurnya, tidak bisa Ray bayangkan, Raka mampu bertahan dengan kondisi seperti ini setiap hari. Pantas saja kakanya lebih memilih sekertaris pria ketimbang wanita.
Ray mengetuk pintu ruangan Raka, lalu membukanya perlahan.
"Lo kenapa bang? Sakit?" Tanya Ray begitu melihat Raka yang tengah memijat pelipisnya dengan mata terpejam.
Ray langsung duduk di kursi, berhadapan dengan Raka. Menatap wajah sang Kaka yang terlihat kusut, bahkan Raka tidak merespon sedikitpun pertanyaannya.
"Lo masih kepikiran soal ayah minta buat nikahin gadis itu?"
Raka menggelengkan kepalanya, dengan tangan saling bertaut di depan wajahnya.
"Btw Lo kenal dimana sama tuh cewe bang? Kenapa Lo bawa ke rumah gue.? Ray sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan dengan tangan bertumpu pada meja.
"Ceritanya panjang. Intinya malam itu gue cuma nolongin dia."
Ray mengangguk paham, ia percaya jika Raka tidak mungkin melakukan hal yang tidak bermoral. Tapi, ia tidak yakin jika yang bermalam dengan kakanya itu adalah Thita. Ray terkekeh sendiri dengan fikirannya.
Suara pintu terbuka mengalihkan fokus Kaka beradik itu, dan menatap pintu yang terbuka bersamaan.
Aldrich tengah berdiri di ambang pintu dengan sekertaris Raka.
"Hai, brother." Sapa Aldrich ramah, tentunya dengan senyum yang sulit di artikan.
Ray memutar bola matanya jengah, kenapa ia harus bertemu dengan pria itu lagi.
"Maaf pak, saya sudah mengatakan jika bapak sedang tidak ingin di ganggu. Tapi, Tuan Al memaksa masuk."
Raka mengangkat tangannya "gak apa apa."
Aldrich masuk begitu saja setelah sekertaris itu menutup pintu, kemudian duduk di sofa dengan dominasi warna hitam yang tidak jauh dari tempat Raka dan duduk.
Raka dan Ray bangkit, dan pindah duduk berhadapan dengan Aldrich di sofa, tempat biasa Raka menerima tamu.
"Kau belum kembali ke New York?"
Raka menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa, menatap Al dengan sedikit curiga. Aldrich memang tidakย curang dalam berbisnis, ia sudah lama menjalin kerjasama dengan keluarga Aldrich sebelum pria nyentrik itu menggantikan posisi ayahnya.
Al menggeleng pelan, dengan ikut menyandarkan tubuhnya di sofa.
Raka tersenyum menyeringai, Raka tidak bisa mempercayai siapapun. Terlebih rekan bisnisnya, yang bisa saja menikamnya dari belakang.
Ray hanya diam menyimak, sembari memperhatikan gerak gerik pria tinggi dengan rambut putih itu merespon pertanyaan sang Kaka.
"There is a girl who catches my attention" ujar Al tanpa sungkan, seakan sengaja memancing Ray. Terlihat dari cara mata biru itu menatap Ray dengan tatapan meremehkan.
"Who?"
Ray, kini ikut ambil suara. Awas saja jika itu adalah Kanaya, istri tercintanya.
Raka menoleh, sepertinya ada sesuatu yang ia lewatkan dari perdebatan ini. Raka mengerutkan keningnya saat Aldrich tertawa, entah bagian mana yang lucu hingga membuat pria tinggi itu tertawa.
Aldrich tidak menyebutkan siapa wanita yang sudah menarik perhatiannya, obrolan itu berubah menjadi tentang bisnis. Dan Aldrich akan lama berada di negara ini, mungkin hingga Al mendapatkan apa yang di inginkan.
Ray mulai malas mendengarkan Aldrich berbicara lama-lama, jadi ia lebih memilih keluar dari ruangan Raka dan menghubungi sang istri untuk melepas rindu.
Lagi, baru saja Kanaya menghubungi dirinya, istrinya meminta sesuatu yang membuat Ray menggelengkan kepalanya heran. Kanaya ingin makan soto Bogor yang langsung dari sana, dengan arti_mereka berdua harus pergi ke Bogor hanya untuk makan soto saja.
Ray menghela nafas pelan, mau tidak mau ia menyanggupi keinginan sang istri, dan tentunya demi anaknya yang ada di dalam kandungan Kanaya.
Setelah Ray menyelesaikan pekerjaannya, Ray langsung bergegas keluar dari ruangan-nya. Menaiki lift khusus yang langsung mencapai lantai bawah.
Ray berjalan sedikit cepat menuju lobby, segera menaiki mobilnya yang sudah terparkir di depan sana. Petugas valet membukakan pintu mobil untuk Ray sembari menundukkan kepalanya singkat.
"Terimakasih"
Ray segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota sebelum kemacetan mengurungnya di tengah tengah kepadatan. Meninggalkan gedung bertingkat itu, dengan perasaan_tidak enak.
Ray melirik ponselnya yang berdering, tertera nama cintaku disana_cintaku Kanaya. Namun, saat Ray meraih ponsel itu untuk mengangkat panggilan sang istri,ย tiba tiba dari samping mobil dengan kecepatan penuh menyalipnya.
Keberadaan mobil yang menyalip tiba tiba di depan mobilnya, membuat Ray terkejut lalu membanting setir dan tanpa sengaja malah menginjak pedal gas. Mobil Ray terpelanting jauh, bahkan sempat berguling sebelum akhirnya membentur pembatas jalan.
Siang itu jalanan yang tadinya lengang menjadi ramai seketika, bukan hanya warga yang berkumpul. Tapi, beberapa petugas medis dan polisi sudah berada di lokasi kejadian beberapa menit setelah mobil Ray berhenti dengan posisi terbalik.
"Kanaya."
Satu kata yang terlontar dari bibir Ray sebelum pria tampan itu kehilangan kesadaran-nya.
Mobil yang menyalip mobil Ray secara mendadak, kini tengah menertawakan keadaan mobil Ray yang ringsek dari kejauhan. Mungkin pengemudinya tidak akan selamat, terlihat dari begitu parahnya kerusakan yang alami mobil mewah itu.
Raka dan Martin-pun turut hadir di lokasi kejadian begitu mendapat kabar bahwa Ray kecelakaan, tapi tidak untuk Kanaya. Raka dan Martin sengaja merahasiakan kabar itu, agar Kanaya tidak shock dan itu bisa mempengaruhi kesehatan bayi yang ada di dalam kandungan Kanaya.
Martin mengikuti mobil ambulance yang membawa Ray pergi ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Sementara Raka masih di lokasi kejadian, ia masih tidak percaya jika itu kecelakaan tunggal. Karena Adiknya bukan tipe yang ceroboh, atau lalai dalam berkendara.
๐๐๐
To be continued...