
Suara derap langkah yang berlari dari arah tangga membuat semua yang ada di meja makan menggelengkan kepala, bukan hal baru bagi keluarga besar Febriano. Suara cerewet Kanaya menjadi lagu penyambut pagi di rumah megah ini, siapa lagi yang berani mengusik singa betina di rumah ini selain Anindita.
Anindita gadis cantik yang kini berusia 7 tahun, dengan rambut hitam legam sebahu dan lesung pipi di sebelah kanan menambah nilai plus kecantikannya. Tapi, sayangnya semua itu meruntuhkan niat kaum Adam yang ingin mendekatinya. Anindita atau biasa di sapa Dhita, gadis cerewet dan aktif dengan kejahilan dan keusilan-nya membuat seluruh anggota keluarga angkat tangan.
"Pagi mama sayang, pagi semuanya." Ucap Dhita seraya berlari ke arah Kanaya.
"Dhita, hati hati sayang, nanti kamu jatuh. Mama kan udah bilang jangan lari larian." Kanaya berlutut mensejajarkan dengan tinggi Dhita yang berlari ke arahnya.
"Salah siapa kakek bikin rumah seluas ini" sahut Dhita seraya mencium kedua pipi Kanaya.
See, anak sekecil itu saja sudah pandai membalas kata kata ibunya. Martin dan Ray hanya tertawa mendengar celotehan Dhita, gadis itu terlalu pintar di untuk usianya.
Kanaya melongo, jawaban macam apa itu? Lalu siapa yang salah disini?
Dhita kecil juga turut menyalami ayah dan kakeknya dengan kecupan ringan di pipi, dengan syarat kedua pria itu harus wangi, karena Dhita tidak suka bau.
Sementara laki laki di ujung sana nampak acuh. Delion tidak menghiraukan perkataan adiknya, ia memilih menikmati sandwich yang ada di hadapannya dalam diam.
Kanaya mengangkat tubuh Dhita untuk duduk di kursi meja makan, untuk sarapan bersama. Gadis kecil itu duduk di samping Kaka laki lakinya, atau lebih tepatnya saudara kembarnya yang hanya terpaut beberapa detik saja.
"Kak, makannya serius banget ih. Senyum dikit dong, sayang gantengnya kalo di anggurin." Kata Dhita menggoda Delion.
Delion menoleh sekilas ke arah Dhita dengan senyum yang di paksakan, lalu kembali fokus dengan sandwich di tangannya.
"Ya ampun, senyumnya pelit banget ih. Tapi aku heran deh...kenapa anak perempuan di kelas aku suka sama kakak ya. Padahal cuek gitu." Kata Dhita seraya menopang dagu dengan kedua tangannya menatap Delion.
Delion meletakan sandwich-nya, memutar tubuhnya menatap adik perempuannya dengan lekat. Kali ini wajah datar itu berubah, senyum menawan dengan lesung pipi terukir sempurna di wajah tampan Delion.
Dhita mencebikan bibirnya, membuang wajahnya ke arah Ray seakan meminta pendapat sang ayah, untuk berkomentar jika Kaka laki-lakinya itu tidak tampan.
Ray mengangguk dengan dengan mengulum senyum, ia tidak bisa menolak berkomplot dengan putri kecilnya yang menggemaskan.
"Gak ganteng kata ayah" seru Dhita dengan nada mengejek.
Delion tidak lantas kesal, justru laki-laki kecil itu mengusap pucuk kepala adiknya gemas, hingga membuat rambut legam yang di sisir rapih kini jadi berantakan.
"Ih, Kaka. Rambut aku jadi berantakan!" Dengus Dhita dengan mata bulatnya yang nyaris keluar, seraya merapikan rambutnya.
"Tapi kamu tetep cantik kok." Kata Delion singkat.
Dengar? Laki laki kecil itu jarang berbicara, tapi sekali mengeluarkan kata kata mampu meluluhkan hati wanita. Ck! Dasar laki laki...
Kanaya, Ray dan Martin tertawa mendengar perdebatan kedua makhluk kecil itu. Rumah megah yang dulu sepi dan hampa kini menjadi ramai dengan hadirnya mereka. Martin membayangkan jika saja almarhumah istrinya masih hidup, mungkin wanita itu akan sama cerewetnya seperti menantu-nya.
Sayangnya Raka juga tidak ada di tengah-tengah mereka saat ini, Raka memilih tinggal terpisah bersama dengan keluarga Davina. Karena Davina tidak mempunyai keluarga lain, dan pastinya orang tua Davina akan kesepian jika Davina ikut tinggal bersama Raka di rumah ini.
"Ayo di abisin sarapannya, terus berangkat sekolah." Kata Kanaya mengehentikan perdebatan wajib pagi itu.
Delion dan Dhita segera menghabiskan sandwich-nya, serta segelas susu putih turut tandas dalam sekali minum.
Ray bangkit dari kursinya, kemudian berpamitan pada sang ayah untuk berangkat ke kantor. Kanaya turut bangkit mengikuti Ray, membawakan tas kerja suaminya serta kotak bekal untuk makan siang nanti.
Bukan permintaan sang istri, tapi Ray sendiri yang meminta untuk di bawakan bekal. Tentu saja hasil masakan Kanaya, tidak ada yang lebih nikmat selain masakan istri. Terdengar berlebihan mungkin, tapi begitulah kenyataannya...
Kanaya mengantarkan Ray sampai ke teras depan, dimana mobil Audi hitam terparkir sempurna. Kanaya mencium punggung tangan Ray sebelum pria itu masuk ke dalam mobilnya, dan di balas ciuman kilas di bibir Kanaya oleh Ray.
Delion dan Dhita sudah menunggu di kursi belakang, kedua makhluk kecil itu mendapat supir khusus untuk berangkat sekolah. Di antar oleh Ray sendiri hingga masuk ke dalam kelas, bahkan Ray juga menyiapkan dua bodyguard untuk menjaga kedua malaikat kecilnya.
Ray masuk ke dalam mobil setelah mendapat vitamin tambahan dari sang istri, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Kanaya melambaikan tangannya begitu Ray membunyikan klakson mobilnya, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Senyum lega terukir di bibir tipisnya, wanita cantik itu kini bisa bernafas dengan tenang setelah ketiga bayi manjanya berangkat ke tempat masing-masing. Dan tentu saja Kanaya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, menggunakan waktu luangnya untuk menghibur diri.
Setelah ini Kanaya akan berkunjung ke tempat Kaka iparnya_Davina. Ia sedang belajar membuat kue dengan wanita blasteran itu, baginya kue buatan Davina berbeda. Dan kebetulan saja beberapa hari lagi Ray ber-ulang tahun. Kanaya ingin memberi kejutan untuk Ray, selain kue hasil buatannya sendiri, Kanaya juga akan memberikan kejutan lain. Rahasia...
Setidaknya sebagai ungkapan terima kasih, karena Ray sudah menjadi suami dan ayah yang baik juga setia padanya. Tidak pernah sekalipun Ray berlaku kasar, Ray selalu menghujani hari harinya dengan cinta yang tak pernah habis, bahkan Kanaya sampai merasa jika Ray bukan manusia. Entahlah, suaminya itu terlalu manis dalam berucap, dan perlakuan Ray padanya selalu membuat Kanaya jatuh cinta lagi dan lagi.
Cinta dalam rumah tangga tidak akan pernah bosan jika selalu bersyukur, karena tidak ada hubungan yang sempurna. Setiap rumah tangga pasti ada rasa dimana ia akan bosan atau lelah dengan keadaan, tapi percayalah semua akan berlalu dengan kita saling memahami dan saling menerima satu sama lain.
Karena kesempurnaan hanya milik Tuhan.
🍁🍁🍁
Kalo kata Ray...mencinta kamu itu kaya kamera...fokusnya cuma di kamu ..yang lain blurrr. 😂
Jadi gak ada istilah rumput tetangga lebih indah, karena gak jelas 😂
Maaf, ini extra part terakhir. Beneran TAMAT ini...😂
Jangan unfav dulu ya, karena mungkin bakal ada pengumuman tentang story' baru. Mungkin tentang percintaan Evan, atau ,si twins nakal ini.😂😂
Sampai ketemu lagi di work baru . Babay...
twins, Adelion and Anindita
Ray, Hot Daddy
Kanaya setelah menyandang status hot mommy